Setibanya di dalam kelas, Gresa langsung bertanya kepada Aurora tentang apa yang sudah terjadi pada dirinya. Gresa masih tetap bertanya dengan cara baik-baik. Walaupun bisa saja Gresa marah kepadanya. Karena Aurora, Gresa jadi menggeluarkan uang untuk bertanggung jawab yang jelas-jelas itu bukan kesalahannya.
"Lu kenapa sih? Lu mau makan itu tapi ga ada uang atau gimana? Kenapa ga bilang gue aja? Gue kan bisa bantu lu. Daripada kaya tadi kan."
"Gue ada uang kok. Gue punya uang. Gue mampu bayar itu semua. Tapi ga tahu kenapa uang gue tiba-tiba hilang. Seingat gue uangnya gue taruh di sini," jawab Aurora sambil menunjuk ke laci meja miliknya yang ada di dalam kelas.
Ternyata hasilnya nihil. Tidak ada selembar uang pun di dalam sana. Gresa menatap Aurora dengan tatapan yang sedikit tajam.
"Mana? Ga ada kan?"
"Kok ga ada ya. Gue ingat banget kok uangnya gue taruh sini. Gue juga di sana makan bareng sama Callista, Aurum dan Denisa."
"Apa? Callista, Aurum dan Denisa?"
"Iyaa. Kalau lu ga percaya, lu bisa tanya aja ke mereka."
”Ra, mereka aja tadi ketawain lu. Gimana ceritanya kalau mereka makan bareng lu?”
”Benar Gres. Gue makan bareng sama mereka.”
Gresa benar-benar merasa bingung dengan jawaban yang dilontarkan oleh Aurora. Gresa pun memiliki banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Tetapi Gresa hanya memendamnya. Dia takut jawaban Aurora semakin tidak masuk akal. Atau juga bisa melukai hati Aurora jika ia terus membantah ucapannya.
"Masa iya sih Aurora makan bareng mereka? Mana mau mereka makan bareng sama Aurora. Gue tahu banget gimana mereka. Ada yang ga beres sepertinya," pikir Gresa di dalam hatinya.
"Ya sudah kalau gitu. Sebentar lagi juga kelas dimulai."
"Iya."
Benar saja, tidak lama kemudian jam kedua mata kuliah pun dimulai. Aurora, Gresa dan teman-teman yang lainnya mengikuti kelas pada siang hari ini dengan baik. Hingga tidak terasa 2 jam telah berlalu. Hari ini kegiatan belajar mengajar di kampus sudah selesai. Bagi mahasiswa dan mahasiswi yang sudah tidak ada kelas lagi diperbolehkan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Tin... Tin...
Gresa terkejut mendengar suara klakson yang sangat kencang dari arah belakangnya.
"Astaga. Siapa sih itu. Main klakson aja. Dia pikir jalanan punya Nenek moyangnya apa," ucap Gresa dengan nada yang sangat kesal. Aurora pun yang sedang berjalan di sampingnya menengok ke sumber suara tersebut.
"Mamah," panggil Aurora.
"Halo sayang. Kamu udah selesai kelasnya hari ini? Kebetulan banget Mamah baru aja selesai meeting di restaurant yang ada di depan kampus kamu," teriak Mamah Aurora dari jendela depan mobil.
"Itu Mamah lu?" tanya Gresa terheran-heran.
"Iya itu Mamah gue. Mamah gue cantik, pekerja keras, dan sukses kan. Seperti yang pernah gue ceritain ke lu."
"Tapi gue masih belum percaya."
"Ya sudah kalau lu ga percaya. Ayo lu pulang bareng gue aja. Lu juga ga ada yang jemput kan sekarang?"
"Tapi..."
"Udah ga usah kebanyakan tapi."
Aurora langsung menarik tangan Gresa dan mengajaknya naik ke dalam mobil yang dikendarai oleh Mamahnya.
"Halo. Kamu pasti sahabatnya Aurora ya? Siapa nama kamu?" sapa Mamah Aurora dengan sangat lembutnya.
"Halo Tante. Iya Tante, aku teman kelasnya Aurora. Nama Aku Gresa, Tante," jawab Gresa sambil tersenyum.
”Halo Gresa. Namanya cantik seperti orangnya.”
”Ah bisa aja Tante. Terima kasih.”
"Mah, Gresa main ke rumah boleh kan?" tanya Aurora yang memotong percakapan antara Mamahnya dan Gresa.
"Ya boleh dong... Masa ga boleh sih. Ya sudah kalau gitu let's gooo"
Gresa akhirnya main ke rumah Aurora. Gresa memang belum pernah bertemu dengan kedua orangtua Aurora apalagi pergi main ke rumahnya. Karena mereka berdua baru saja saling berkenalan ketika mereka berdua masuk ke dalam kelompok masa orientasi mahasiswa di kampus. Mungkin dengan ini pertemanan mereka bisa lebih dekat lagi.
Membutuhkan waktu setengah jam lebih untuk tiba di rumah Aurora. Setibanya di rumah, mereka semua sudah disambut hangat oleh satpam yang berjaga tepat di depan rumah Aurora.
"Selamat siang Nyonya, Nona," sapa satpam tersebut dengan senyuman sambil membukakan pintu gerbang rumah.
"Siang, Pak," jawab Aurora dan Mamahnya.
Mamah Aurora memarkirkan mobilnya di dalam garasi. Setelah itu mereka semua pun turun dari salam mobil.
"Ayo Gresa, masuk. Jangan sungkan sungkan," ajak Mamah Aurora.
"I... Iya Tante. Makasih,” jawab Gresa malu-malu.
Mamah Aurora masuk ke dalam rumah lebih dahulu. Kemudian disusul oleh Aurora dan Gresa.
"Ayo Gres," ajak Aurora kembali.
Aurora menarik tangan Gresa dan mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Rumah itu berdiri megah. Dengan pepohonan rapih dan lampu taman yang berkelip lembut saat senja tiba. Dari kejauhan saja kemewahannya sudah terasa. Dindingnya berwarna krem elegan berpadu dengan pilar tinggi bergaya klasik yang menambah kesan anggun dan berwibawa. Pintu utamanya besar. Terbuat dari kayu mahoni mengilap dengan ukiran halus di setiap sisinya. Begitu melangkah masuk, aroma lembut bunga segar menyambut dari vas kristal yang menggantung di langit-langit tinggi. Menciptakan kilau mewah di setiap sudut ruangan. Ruang tamunya luas, dihiasi sofa empuk berwarna putih, karpet lembut, dan jendela-jendela besar yang membiarkan cahaya alami menembus masuk. Di dinding tergantung lukisan-lukisan berbungkus emas. Sementara dari arah tangga melengkung tampak pegangan besi yang berkilau.
"Rumah lu bagus banget ya," ucap Gresa.
"Ah biasa aja kok. Udah ah, yuk ke kamar gue aja. Kita main di sana," jawab Aurora dengan sangat rendah hati.
Gresa pun mengikuti langkah Aurora tepat di belakangnya menuju ke kamar Aurora yang berada di lantai dua. Kamar itu luas dan menawan. Sebuah ruang yang memancarkan kehangatan sekaligus kemewahan khas seorang remaja perempuan yang berkelas. Dindingnya berwarna perpaduan antara lilac pastel dan putih mutiara. Menciptakan suasana tenang namun tetap feminim. Tirai tebal dari bahan satin menjuntai anggun di sisi jendela besar. Membiarkan cahaya matahari pagi menembus lembut dan menari di atas lantai marmer mengilap. Di sisi kanan terdapat meja rias elegan dengan cermin besar berbingkai emas muda dipenuhi botol parfum, perhiasan kecil dan sisir perak yang berkilau. Di sisi kiri terdapat rak-rak buku dan lemari yang dipenuhi barang-barang pribadi.
"Sorry ya kalau kamar gue berantakan," ucap Aurora.
"Ga apa-apa. Santai aja"
Aurora dan Gresa memilih untuk berdiam diri di dalam kamar. Seperti remaja wanita pada umumnya yang mereka lakukan ketika bermain di rumah temannya. Mereka hanya berbaring di atas kasur sambil bercerita, main handphone sambil makan makanan ringan atau menonton film bersama.
Kring... Kring... Kring....
Suara telpon itu terdengar dari dalam tas Aurora.
"Aurora, Aurora," panggil Gresa yang tidak dihiraukan oleh Aurora.
"Aurora astaga. Itu handphone lu berbunyi," teriak Gresa lebih keras. Hingga akhirnya Aurora terbangun.
"Hah? I... Iya," jawab Aurora yang masih setengah sadar.
Aurora langsung mencari keberadaan handphonenya yang dia taruh di dalam tas. Sambil mengerenyitkan keningnya Aurora membaca nama yang ada di handphone tersebut.
"Bibi. Halo Bi, iya kenapa?"
Ternyata yang menelpon Aurora adalah Bibinya yang tinggal dekat dari rumahnya.
"Kamu dimana? Masih di kampus? Cepat pulang ke rumah ya. Bibi mau pergi. Bibi titip anak-anak Bibi dulu sama kamu. Sebentar aja."
"Iya, Bi. Ini aku baru mau pulang."
"Ya sudah kalau gitu."
Tut... Tut...
Telepon dimatikan begitu saja. Aurora menarik nafasnya panjang.
"Jadi gue masih di kampus?" tanya Aurora kepada Gresa dengan kebingungan.
Bukannya menjawa pertanyaan Aurora, Gresa dengan entengnya mendaratkan tangannya di atas kepala Aurora.
"Aw," lirih Aurora.
"Ya iyalah. Lu pikir? Dari tadi lu tidur terus. Untung aja Dosennya ga masuk. Jadi ga disuruh keluar kelas lagi lu."
"Bukannya tadi kita udah pulang ya? Lu lagi main di rumah gue," tanya Aurora kembali.
"Mimpi. Udah ah, gue mau pulang."
"Gresa, nanti dulu. Lu ga mau main ke rumah gue?"
"Nanti aja ya. Gue mau ada acara keluarga soalnya. Kayanya gue juga udah dijemput sama sopir gue. Gue duluan ya. Lu juga pulang. Kalau mau tidur di rumah aja."
Gresa pun pergi meninggalkan Aurora begitu saja. Aurora hanya bisa melihat punggung Gresa yang semakin lama semakin menghilang pergi meninggalkannya.