Bab 07 - Malam Keakraban

1097 Words
Gresa pergi begitu saja tanpa memperdulikan Aurora. Aurora yang introvert itu hanya terdiam seperti patung tanpa melakukan apapun. ”Gue harus gimana nih?” pikir Aurora di dalam hatinya. Aurora melihat ke arah kanan dan kiri. Dia mendapati banyak minuman segar di atas meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Karena merasa haus, Aurora pun mengambil segelas minuman tersebut. Setelah mengambil minuman, Aurora memutuskan untuk kembali ke tempat awal. Sambil tertunduk, Aurora menabrak seseorang yang ada di depannya. ”Punya mata ga lu?” teriak seseorang itu. ”Ma.. Maaf, maaf. Ga sengaja,” jawab Aurora ketakutan dengan wajahnya yang masih tertunduk. ”Maaf, maaf. Baju gue jadi basah gini. Acaranya juga belum mulai. Kalau ngomong matanya lihat gue. Jangan nunduk kaya gitu.” “I.. Iya kak.” Aurora yang ketakutan akhirnya memberanikan diri untuk menaikkan wajahnya dan menatap mata orang itu. Tatapan seseorang itu pun terpukau sejenak. Seolah waktu berhenti hanya untuknya. Dia melihat Aurora yang terlihat sangat cantik pada malam ini dengan rasa kagum yang sulit dijelaskan. Tatapan mata Aurora memantulkan cahaya yang seolah mampu menembus hati. Dalam diam, orang itu merasa kekaguman yang halus namun mendalam. Antara terpesona dan sedikit kehilangan kata. Dunia di sekelilingnya terasa redup. Hanya menyisakan sosok Aurora sebagai pusat segalanya. Tiba-tiba saja Gresa datang dan menyadarkan orang itu dari lamunannya. ”Ya ampun kak Bima. Kakak ga kenapa-kenapa? Ini ada apa, Ra?” ”Tadi gue ga sengaja tumpahin minuman ke baju gue. Dia kayanya marah banget deh sama gue. Gue harus gimana dong?” jawab Aurora sambil berbisik-bisi di dekat telingan Gresa. ”Kak, gue sebagai temannya Aurora minta maaf banget ya atas apa yang udah Aurora lakukan ke kakak. Sebagai gantinya gue beliin baju baru aja ya? Gimana? Gue cari Mall terdekat dulu.” ”Engga, ga usah. Gue ga kenapa-kenapa. Lain kali hati-hati. Kalau jalan pakai mata.” ”Iya kak. Terima kasih kak.” Ternyata orang yang ditabrak oleh Aurora adalah kakak tingkat yang ada di kampusnya. Laki-laki itu bernama Bima. Mahasiswa jurusan ekononomi. Aurora sebenarnya sudah kenal dengan Bima. Siapa yang tidak kenal dengannya. Dia tampan dengan cara yang sulit dijelaskan. Tatapannya tajam, rahangnya tegas, dan senyum tipisnya mampu membuat siapa pun kehilangan arah. Namun sayang sikapnya dingin terhadap dunia. Seolah tak ada yang benar-benar layak menyentuh sisi rapuh dalam dirinya. Ucapannya selalu tenang, namun dinginnya mampu menusuk. Ia sering bermain dengan hati orang lain. Bukan karena cinta, tapi karena ia terbiasa menang. Baginya, hubungan hanyalah permainan singkat untuk mengisi kekosongan. Namun di balik tatapan tajam dan sikap acuhnya, ada luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Membuatnya terus berlari dari ketenangan yang sebenarnya ia rindukan. ”Aurora ya ampun. Lu gimana sih? Untung aja kak Bima ga marah sama lu,” ucap Gresa kesal dengan sikap Aurora. ”Gue ga sengaja Gres. Dan tadi dia juga sempat marah banget sama gue.” ”Iyalah. Ya sudah lu ikut gue aja. Bahaya kalau ditinggal sendiri.” Akhirnya Aurora pun ikut bergabung dengan Gresa dan teman-teman yang lainnya. Acara pun dimulai. Aurora, Gresa dan seluruh undangan menikmati acara malam keakraban kali ini. ”Kamu sadar ga dari tadi kamu terus lihat ke arah perempuan itu?” tanya seseorang kepada Bima. ”Hah? Oh, yang berdiri di sana? Aku Cuma lihat aja kok sayang.” “Cuma lihat aja? Kamu bilang gitu tiap kali aku nangkep kamu lagi liatin cewek itu.” Bima mengangkat alisnya. Dengan nada yang tenang tapi dingin itu menjawab pertanyataan dari sang kekasih. ”Engga sayang. Aku Cuma masih kesal aja sama cewek itu. Lihat, dia udah buat baju aku basah kaya gini.” ”Aku tahu kamu emang suka ganti-ganti perumpuan gitu aja. Tapi aku ga sudi ya kalau kamu jatuh cinta sama dia. Dia itu Cuma mahasiswi beasiswa di kampus kita. Dia ga mampu kuliah di sini kalau bukan karena beasiswa. Dia tuh aneh. Ga level sama kita.” ”Iya sayang. Ya sudah kita ke sana aja kalau gitu.” Tidak mau bertengkar dengan kekasihnya, Bima pun mengajaknya pergi menjauh dari Aurora. Bima juga tidak tahu perasaan apa yang sedang dia rasakan kali ini. Perasaan benar-benar jatuh cinta atau hanya penasaran semata. ”Aurora... Aurora...” Tiba-tiba saja ada yang berteriak memanggil namanya. Aurora pun langsung menengok ke arah tersebut. Tiba-tiba saja orang itu menyiram air ke tubuhnya. ”Nenek ya ampun. Kenapa aku di siram sih?” ”Kamu dari tadi Nenek bangunin ga bangun-bangun. Ya sudah Nenek siram aja pakai air.” ”Nyebelin banget deh Nenek.” ”Iya Nenek minta maaf. Nenek bangunin kamu karena udah jam enam sore. Kamu jadi ga datang ke acara kampus kamu?” ”Oh iya aku sampai lupa. Kayanya aku ga ikut deh Nek.” ”Kenapa? Kan ada baju bagus. Walaupun itu warisan dari Mamah kamu.” ”Ga apa-apa Nek. Aku capek aja seharian habis bersih-bersih. Aku mau istirahat lagi aja ya Nek.” ”Ya sudah kalau gitu. Nenek tinggal ya.” ”Iya, Nek.” Aurora terdiam. Nafasnya masih terasa hangat. Seperti baru saja meninggalkan dunia lain yang begitu lembut dan indah. Di dadanya masih terasa gema dari tawa, warna, dan rasa hangat yang tadi menemaninya dalam mimpi. Sesuatu yang nyaris terasa nyata. Ada senyum tipis di bibirnya. Campuran antara bahagia dan rindu pada sesuatu yang tak benar-benar ada. Dunia nyata terasa lebih dingin, lebih sunyi, dan ia hanya bisa menatap langit-langit kamarnya sambil bergumam pelan, ”andai aku bisa sedikit lebih lama di sana.” ***** ”Aurora... Lu semalam kenapa ga datang ke acara kampus?” tanya Gresa sambil sedikit berteriak dan menghampiri Aurora yang sudah duduk di kursinya. Kali ini Aurora tidak terlambat. ”Gue ga tega ninggalin Nenek gue sendiri di rumah. Apalagi acaranya pasti sampai larut malam kan? Lu aja sampai terlambat datang ke kampus,” jawab Aurora dengan sangat lemas. ”Yehh biasa aja dong. Gue baru sekali terlambat dan belum ada Dosen di kelas. Emangnya lu.” Aurora hanya terdiam. Dia duduk di bangkunya. Tatapannya kosong menembus jendela kelas yang dipenuhi cahaya pagi. Pikirannya melayang jauh. Dunia di sekitarnya sekan meredup. Suaranya berganti menjadi gema sama yang tak lagi jelas. Ia melamun. Seakan terjebak dalam bayangan mimpi semalam yang masih terasa nyata di benaknya. Tiba-tiba saja terdapat seorang laki-laki yang melewati depan kelasnya. Cahaya matari jatuh di wajahnya. Dan untuk sesaat, nafas Aurora tertahan. ”Itu... Dia...” Sosok yang sama. Tatapan yang sama. Darahnya terasa berhenti mengalir. Ia tidak tahu apakah ini kebetulan, atau apakah mimpi itu bukan sekedar mimpi. Di detik itu, sesuatu di dalam dirinya berbisik pelan. Bahwa dunia ini menyimpan rahasia yang tidak ia mengerti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD