Bab 08 - Keterkaitan

1062 Words
”Ini masih mimpi? Perasaan kemarin aku udah terbangun karena Nenek,” pikir Aurora di dalam hatinya. Untuk memastikan semua itu, Aurora bertanya kepada Gresa. ”Gres, lu lihat orang itu ga?” tanya Aurora sambil menunjuk ke arah orang itu. Dengan cepatnya Gresa menengok ke arah yang dimaksud oleh Aurora. ”Lihat lah. Emangnya gue buta.” “Namanya siapa? Kak Bima bukan?” ”Iya namanya Bima. Kok lu kenal? Mohon maaf nih, lu kan kurang bergaul selama ini di kampus. Dan dia bukan kakak tingkat yang mimpin di masa orientasi kita kemarin.” ”Gue berarti semalam ikut ke acara makrab ya?” ”Engga, Ra. Lu ga ikut ke acara makrab. Aneh banget deh pertanyaan lu.” ”Terus gue kenal dia dari mana? Seingat gue, gue kenal dia di acara makrab semalem.” Gresa mengerutkan kening, matanya menatap Aurora dengan ekspresi penuh tanda tanya. Bibirnya sedikit terbuka, seolah ingin bertanya tapi ragu harus mulai dari mana. Ia mencoba mencerna setiap kata yang baru saja diucapkan Aurora. Namun semakin dipikir, semakin tidak masuk akal di kepalanya. “Maksud lu? Ga tau ah, Ra. Gue bingung sama pertanyaan-pertanyaan dari lu. Makin hari makin aneh aja.” Gresa lalu memutar tubuhnya dengan cepat. Langkah kakinya terdengar tegas menghentak lantai. Aurora hanya terdiam. Sementara Gresa berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun meninggalkan suasana hening yang dipenuhi sisa amarah. ”Kenapa semua orang selalu ninggalin gue di saat gue merasa bingung kaya gini? Gue juga bingung ga bisa membedakan mana itu yang nyata atau cuma sekedar mimpi,” ucap Aurora di dalam hatinya. ***** Siang hari di kantin kampus terasa ramai dan hidup. Suara percakapan mahasiswa bercampur dengan dentingan sendok dan piring. Menciptakan suasana riuh yang khas. Aroma makanan dari berbagai sudut memenuhi udara. Mulai dari nasi goreng yang gurih hingga kopi yang baru diseduh. Semua mahasiswa sudah dengan pesanannya masing-masing di atas mejanya. Berbeda dengan Aurora. Aurora memang berada di kantin kampus sekarang bersama dengan Gresa. Tetapi dia tidak memesan apapun seperti Gresa dan teman-teman yang lainnya. Aurora memilih untuk membawa bekal kali ini. Baginya, membawa bekal mampu untuk mengurangi pengeluarannya. Seorang laki-laki idaman satu kampus sedang melangkah melewati kantin, dan seketika suasana berubah. Suara obrolan mereda, tatapan-tatapan mulai mengikuti tiap langkahnya. Ia mengenakan kemeja putih yang digulung rapi di bagian lengan, celana chino warna krem, dan sneakers putih yang tampak bersih meski hari sudah hampir sore. “Laki-laki itu?” pikir Aurora. Di tengah hiruk pikuk kantin yang sempat hening karena kemunculan si laki-laki idaman kampus, tiba-tiba Aurora menghampiri laki-laki itu dengan tenang, seolah tak terganggu oleh tatapan yang mulai mengarah padanya. Dengan penampilannya yang sederhana, rambut dikuncir rendah, kaos polos dipadukan dengan jaket jeans longgar, dan sneakers yang sudah sedikit lusuh, menandakan dia bukan tipe yang sibuk tampil sempurna untuk dilihat. Saat ia berhenti di hadapan laki-laki itu, suasana kantin berubah drastis. Denting sendok dan suara tawa mendadak meredup, digantikan oleh bisik-bisik tajam dan sorot mata penuh tanya, bahkan tak sedikit yang terang-terangan menatap dengan pandangan tidak suka. ”Kamu yang di malam akrab itu kan?” tanya Aurora dengan yakinnya. “Siapa dia?” Bima kepada kedua temannya. ”Gue juga ga kenal.” ”Aku Aurora kak. Kita emang ga sempat kenalan malam itu. Tapi kita pernah ketemu kak. Kamu ga ingat?” ucap Aurora kembali untuk meyakinkan. Dari kejauhan Gresa hanya bisa menghela nafas dalam-dalam sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Gresa yang sebagai teman dekatnya merasa sangat malu dengan tingkah Aurora kali ini. ”Aduh, ngapain lagi sih Aurora ya ampun,” gumam Gresa di dalam hatinya. Bukan hanya Gresa, beberapa mata lainnya pun memandangnya dengan tidak senang. mungkin iri, mungkin merasa tak seharusnya. Aurora bukan bagian dari lingkaran populer di kampus, bukan tipe yang biasanya terlihat di dekat laki-laki itu. Tapi Aurora itu tetap berdiri di sana, tak tergoyahkan oleh tekanan yang ada di sekelilingnya. ”Gue ga kenal lu dan gue ga peduli,”jawab Bima dengan tegasnya dan langsung meninggalkan Aurora sendiri begitu saja. Semua orang yang melihatnya tertawa puas melihat Aurora dicampakkan begitu saja oleh Bima. Aurora terdiam bingung di tempat. Dari arah belakangnya tiba-tiba saja terdapat seseorang yang menghampirinya. ”Jangan mimpi deh lu bisa dekat-dekat sama Bima. Lu tuh ga level sama Bima,” ucap orang itu yang ternyata dia adala Callista. Orang yang sangat tidak menyukai Aurora karena keanehannya itu. ***** Suasana ruang kuliah sore itu terasa cukup tenang namun sangat konsentrasi. Cahaya matahari mulai condong masuk dari jendela besar di sisi kiri ruangan, menyorot sebagian meja dan catatan yang mulai penuh coretan. Seorang Dosen berdiri di depan kelas, menjelaskan dengan nada tegas tapi tenang, sesekali menuliskan poin penting di papan tulis. Mata kuliah hari itu adalah membahas berbagai jenis hukum di beberapa bidang. Materi yang menuntut pemikiran kritis, pemahaman konteks sosial, dan empati lintas latar belakang. Beberapa mahasiswa duduk tegak sambil mencatat serius, yang lain mulai terlihat gelisah, sesekali melirik jam tangan atau layar ponsel yang diselipkan di bawah meja. Udara ruangan tidak terlalu dingin, tapi cukup untuk membuat beberapa orang melipat tangan di d**a sambil berusaha tetap fokus. “Oke, cukup untuk hari ini. Silahkan dikumpulkan tugas ringkasannya minggu depan, dan… kalian boleh pulang.” Seperti aba-aba yang telah ditunggu-tunggu, suasana kelas langsung berubah. Suara ritsleting tas terbuka, kursi yang bergeser, dan langkah-langkah kecil mulai terdengar bersahut-sahutan. Lorong di luar kelas mulai dipenuhi suara obrolan dan langkah kaki, tanda sore di kampus mulai beranjak tenang. Sebuah mata kuliah telah selesai. Aurora pergi meninggalkan ruang dengan jejak-jejak diskusi dan pikiran yang bekerja keras. Di tengah keramaian kampus yang mulai lengang sore itu, Bima memilih untuk duduk sendiri di bangku taman dekat gedung fakultas ekonimi. Suasana sepi, hanya terdengar daun-daun kering yang berdesir diterpa angin pelan. Pandangannya kosong menatap ke depan, tapi jelas pikirannya sedang tidak di sana. Bima sedang memikirkan seseorang. Seorang wanita yang baru saja dikenalnya beberapa jam lalu. Ada sesuatu tentang wanita itu yang tertinggal di pikirannya. Bukan karena penampilannya yang mencolok, bukan juga karena cara bicaranya yang lembut. Meskipun itu semua ikut membekas. Tapi lebih karena caranya hadir. Tiba-tiba, tidak dibuat-buat, dan jujur dalam setiap ucapan. Bima masih bisa mengingat jelas senyum kecil wanita itu, tatapan matanya yang tulus saat berbicara, dan ekspresi datarnya yang dianggap aneh oleh banyak orang. "Aneh, ya," gumamnya pelan. Bima mampu teringat dengan Aurora mungkin karena dia berbeda. Atau mungkin, karena dia datang di waktu yang tak terduga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD