"Sudahlah, Jes. Tidak usah kamu memulai mencari masalah. Kamu tahu 'kan, sedang bicara dengan siapa? Kita sudah mau menikah, dan kamu justru membicarakan lelaki lain!" protes Jody yang pada akhirnya membuat Jesica terdiam.
Max yang sedikit mendengar percakapan mereka hanya bisa menyimpan senyum sinis di ujung bibirnya. Kini, dia berdiri di sisi lain ruangan dengan menyesap wine yang masih tersisa.
"Ah, di sana kalian rupanya," gumamnya saat sepasang mata coklatnya melihat Nadine yang berdiri di samping Dani Anggara. Ayah kandungnya.
Max meneguk wine-nya perlahan sambil memperhatikan pria yang dulu dia sebut sebagai ayah itu dari kejauhan. Pria berusia lebih dari setengah abad itu terlihat sedikit lebih tua dari yang Max ingat terakhir kalinya. Dani tampak lebih kurus dengan rambut yang mulai beruban di bagian samping. Nadine berdiri di sampingnya, mengenakan gaun biru navy yang elegan. Wanita yang dulu menjadi ibu tirinya itu masih terlihat cantik meskipun Max tahu jika usianya sudah tidak muda lagi.
"Mereka," bisik Max pada dirinya sendiri, merasakan campuran amarah dan kepedihan yang mengalir dalam darahnya.
Dani Anggara, dia adalah ayah kandung yang telah membuangnya seperti sampah tujuh tahun yang lalu. Pria yang seharusnya melindunginya, justru memilih untuk percaya pada kebohongan-kebohongan yang dikarang oleh istrinya. Dan Nadine, wanita yang dengan licik memanipulasi seluruh situasi demi kepentingan anaknya sendiri.
Max mengambil napas dalam-dalam dan berusaha untuk mengendalikan emosinya. Ini bukan waktunya untuk kehilangan kendali. Ia sudah menunggu tujuh tahun untuk momen ini, dan ia tidak akan menyia-nyiakannya karena amarah yang tidak terkendali.
"Mr. Maxime?" suara Vero mengagetkan Max dari lamunannya.
"Ya?"
"Saya ingin memperkenalkan Anda dengan beberapa orang penting lainnya. Mereka mungkin tertarik dengan bisnis Anda."
Max tersenyum. "Tentu saja."
Vero membimbingnya melintasi ruangan, dan Max dengan sengaja memilih rute yang akan membawa mereka melewati tempat Dani dan Nadine berdiri. Ketika mereka semakin mendekat, Max bisa mendengar percakapan mereka.
"... proyek pembangunan di kawasan Pantai Indah Kapuk sudah 80% selesai. Ini akan menjadi proyek terbesar kita tahun ini," Dani sedang berbicara dengan seorang pria berjas abu-abu.
"Luar biasa, Pak Dani. Anggara Buildings memang selalu bisa diandalkan. Perusahaan Anda memang selalu memberikan hasil yang memuaskan," jawab pria itu.
"Tentu saja ... kami selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk klien," sahut Nadine dengan senyum yang dibuat-buat. "Itulah komitmen Anggara Buildings."
Max hampir muntah mendengar kata-kata manis Nadine. Wanita yang sama, yang dulu dengan dingin menuduhnya melakukan hal-hal yang tidak pernah ia lakukan. Wanita yang sama, yang telah menghancurkan hidupnya dengan kebohongan-kebohongan yang dirangkai dengan sangat rapi.
"Oh, permisi, Pak Dani!" sapa Vero dengan ceria ketika mereka sampai di dekat kelompok itu. "Saya ingin memperkenalkan Anda dengan seorang pengusaha muda yang sangat menjanjikan. Beliau adalah Mr. Maxime Leonard, CEO dari Apex Technology."
Dani menoleh dan matanya bertemu dengan mata Max untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun. Max merasakan jantungnya berdebar kencang, tapi ia berhasil mempertahankan ekspresi yang tenang dan professional.
"Senang bertemu dengan Anda, Mr. Leonard," Dani mengulurkan tangannya.
Max menjabat tangan ayahnya dengan genggaman yang kuat. "Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan Anggara. Saya sudah banyak mendengar tentang Anggara Buildings. Perusahaan besar yang sangat menginspirasi."
"Terima kasih. Bisnis apa yang Anda jalani, Mr ...?"
"Max, panggil saya Max."
"Iya, Max," ulang Dani.
"Apex memberikan solusi teknologi untuk perusahaan besar. Kami membantu perusahaan-perusahaan untuk melakukan transformasi digital," Max menjawab dengan suara yang sma sekali berbeda dari suara Rafael yang dulu. "Mungkin Anggara Buildings tertarik untuk mengeksplorasi teknologi terbaru dalam industri konstruksi?"
Dani tertawa. "Kami memang selalu terbuka untuk inovasi. Tapi saya harus jujur, saya tidak terlalu memahami teknologi modern."
"Itu bukan masalah. Justru itulah tugas kami, untuk menerjemahkan teknologi kompleks menjadi solusi yang sederhana dan efektif," Max tersenyum. "Saya yakin dengan bantuan teknologi yang tepat, Anggara Buildings bisa menjadi pemimpin industri konstruksi di Asia Tenggara."
Mata Dani berbinar mendengar kata-kata itu. "Menarik."
Nadine yang selama ini diam, tiba-tiba bersuara. "Maaf, tapi saya merasa seperti pernah melihat Anda sebelumnya. Apakah kita pernah bertemu?"
Max merasakan darahnya berdesir. Dari semua orang, Nadine adalah yang paling berbahaya. Wanita ini memiliki mata yang tajam dan intuisi yang kuat. Sepertinya ia harus lebih berhati-hati.
"Saya tidak yakin, Nyonya ...?"
"Nadine Anggara," jawab Nadine sambil mengamati wajah Max dengan cermat. "Saya yakin kita pernah bertemu. Mungkin dalam acara bisnis lainnya?"
"Mungkin saja. Saya menghadiri cukup banyak acara bisnis selama beberapa tahun terakhir," Max menjawab dengan santai. "Tapi saya pasti akan ingat bertemu dengan seorang wanita secantik Anda."
Nadine tersenyum, tapi matanya masih memindai Max dari atas ke bawah. "Anda berlebihan."
"Dani, apakah kamu melihat Max seperti ...."
"Nadine," Dani memotong kata-kata istrinya. "Kamu terlalu banyak minum wine malam ini."
"Mungkin," jawab Nadine singkat.
Max memutuskan untuk mengalihkan perhatian. "Tuan Dani Anggara, saya dengar putra Anda baru saja memegang kendali perusahaan. Pasti kebanggaan tersendiri melihat generasi muda melanjutkan warisan keluarga." ucap Max sambil menoleh, mengarahkan pandangan pada Jody.
Wajah Dani berubah sedikit muram. "Ya, Jody memang anak yang berbakat. Dia telah membuktikan kemampuannya sebagai seorang yang bisa diandalkan."
"Saya sempat berbicara dengannya tadi. Dia terlihat sangat kompeten," Max menambahkan, sambil memperhatikan reaksi Dani.
"Terima kasih. Kami bangga padanya," jawab Dani, tapi ada sesuatu dalam suaranya yang menyiratkan penyesalan.
Max tahu apa yang dipikirkan ayahnya. Dani pasti sedang memikirkan tentang Rafael, putra sulungnya yang telah 'menghilang' tujuh tahun yang lalu. Mungkin dalam hati kecilnya, Dani menyesal dengan keputusan yang telah diambilnya.
"Saya yakin Anda pasti sangat bangga dengan semua pencapaian keluarga Anda," Max berkata dengan nada yang sedikit menekan.
Dani terdiam sejenak, dan Max bisa melihat bayangan kepedihan di matanya. "Tidak semua keputusan dalam hidup ini mudah, Max. Terkadang kita harus membuat pilihan yang sulit demi kebaikan yang lebih besar."
"Saya mengerti," jawab Max. "Tapi apakah Anda tidak pernah menyesali keputusan-keputusan tersebut?"
"Menyesal?" Dani terlihat terkejut dengan pertanyaan langsung itu. "Tentu saja. Setiap orang pasti memiliki penyesalan dalam hidupnya."
Nadine yang menyadari arah pembicaraan mulai tidak nyaman. "Sudahlah, Dani. Ini bukan waktu untuk membahas hal-hal yang berat."
"Kamu benar, Nadine." Dani mengangguk. "Maaf, Max. Saya tidak bermaksud untuk membuat suasana menjadi berat."
"Tidak apa-apa. Saya memahami bahwa setiap keputusan memiliki konsekuensi," Max tersenyum dingin.
"Tepat sekali," jawab Dani.
Percakapan berlanjut selama beberapa menit lagi, dengan Max yang terus berhati-hati mempertahankan penampilannya sebagai Maxime Leonard. Ia melihat bagaimana Dani dan Nadine berinteraksi, bagaimana mereka berbicara tentang bisnis dan keluarga, dan bagaimana mereka terlihat bahagia dengan kehidupan mereka sekarang.
Tapi Max tahu bahwa kebahagiaan itu akan segera berakhir. Ia telah kembali, dan ia akan memastikan bahwa mereka semua membayar untuk apa yang telah mereka lakukan padanya.
"Baiklah, saya tidak ingin mengganggu waktu Anda lebih lama lagi," Max akhirnya berkata. "Terima kasih untuk pertemuan ini."
"Senang bertemu dengan Anda, Max," Dani mengulurkan tangannya lagi. "Saya berharap kita bisa bertemu lagi."
"Saya yakin kita akan bertemu lagi," jawab Max dengan senyum yang memiliki arti tersembunyi.
Ketika Max berjalan menjauh, Nadine berbisik pada Dani. "Pria yang aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Aku tidak tahu. Tapi aku sangat yakin jika pernah melihat dia sebelumnya."
Dani mengerutkan kening. "Kamu terlalu paranoid, Nadine. Dia hanya pengusaha muda yang ambisius."
"Mungkin," jawab Nadine, tapi hatinya masih dipenuhi keraguan.
Di sisi lain ruangan, Max berdiri sendiri sambil memandangi gelas wine-nya. Pertemuan pertama telah berhasil. Ia telah berhasil menempatkan dirinya di radar keluarga Anggara tanpa membangkitkan kecurigaan yang berlebihan.
"Fase pertama selesai," gumamnya pada dirinya sendiri. "Sekarang, mari kita mulai permainan yang sesungguhnya."