Lampu-lampu kota Jakarta berkedip di kejauhan ketika Max memasuki halaman rumah mewah tiga lantai yang berada di pusat kota. Rumah yang diberikan Fernandez ini tidak hanya digunakannya sebagai tempat tinggal, tetapi juga markas operasi untuk misi balas dendamnya. Arsitektur modern dengan kaca-kaca besar memberikan kesan elegan namun misterius, sempurna untuk menyembunyikan rencana-rencana yang tengah ia susun.
Max menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu utama. Pertemuan dengan keluarga Anggara tadi malam telah membuatnya merasa seperti berjalan di atas kawat. Setiap kata yang diucapkan, setiap gerakan yang dilakukan, semuanya harus diperhitungkan dengan matang.
Namun, ketika pintu terbuka, Max terkejut melihat pemandangan yang tidak terduga.
Seorang wanita cantik dan tampak masih muda sedang memeluk Fernandez di ruang tamu. Wanita itu mengenakan dress hitam yang elegan, rambutnya tergerai panjang dengan warna cokelat madu. Wajahnya berseri-seri, seolah-olah baru saja menerima kabar bahagia. Fernandez membalas pelukan itu dengan hangat, senyum puas terpancar dari wajahnya.
"Thank you," kata wanita itu dengan suara yang lembut.
"S i a l," gumam Max.
Max berdiri di ambang pintu, tidak yakin apakah harus masuk atau menunggu di luar. Ia tidak ingin mengganggu momen pribadi Fernandez, tapi ia juga tidak bisa berdiri di sana selamanya.
Wanita itu kemudian mencium pipi Fernandez dengan lembut. "Aku bisa beli mobil itu sekarang?"
"Gunakan uang itu sesukamu," jawab Fernandez sambil mengusap rambut wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Ehem!"
Max berdeham pelan, memberikan sinyal bahwa ia sudah sampai. Wanita itu menoleh dan melihat Max yang berdiri di pintu. Wajahnya sedikit memerah, menyadari bahwa ternyata mereka tidak sendirian.
"Oh, maaf. Aku tidak tahu jika ada yang datang," kata wanita itu sambil melepaskan pelukannya pada Fernandez..
"Tidak apa-apa," jawab Max singkat.
Wanita itu mengambil tas tangannya dan bergegas menuju pintu. "Aku pergi sekarang."
Fernandez sendiri hanya memberikan senyum tipis tanpa berkata apa-apa lagi.
Ketika wanita itu berjalan menuju pintu, Max yang masih berdiri di ambang pintu tidak menggeser tubuhnya sedikit pun. Entah karena terkejut atau karena ingin melihat lebih jelas wajah wanita itu, Max tetap berada di posisinya.
"Menyingkirlah dari jalanku!" usir wanita itu dengan suara yang tegas.
Namun, Max masih belum bergerak. Matanya menatap wanita itu dengan intens, mencoba menebak siapa dia dan apa hubungannya dengan Fernandez.
"Berani sekali dia," batinnya.
Karena Max tidak bergeser, wanita itu terpaksa menerobos celah sempit di samping tubuhnya. Dalam prosesnya, bahu wanita itu bertubrukan dengan d**a Max. Tubrukan kecil itu membuat wanita itu sedikit kehilangan keseimbangan.
"Maaf, maaf," kata wanita itu dengan tergesa-gesa, wajahnya semakin memerah karena malu. Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap mata Max.
Max merasakan aroma parfum lembut yang menenangkan ketika wanita itu melewatinya. Ada sesuatu dalam cara wanita itu bergerak, cara dia berbicara, yang membuatnya terlihat ... berbeda. Tidak seperti wanita-wanita lain yang biasanya berkeliaran di sekitar Fernandez. Dia sungguh berkelas.
"it's ok," jawab Max akhirnya.
Wanita itu cepat-cepat keluar dari rumah tanpa menoleh lagi. Max memperhatikan punggungnya yang menjauh melalui kaca jendela, sebelum akhirnya melangkah masuk dan menutup pintu.
"Kamu sudah datang, Max?" tanya Fernandez dengan nada santai, seolah-olah adegan tadi adalah hal yang biasa.
Max melepas jasnya dan menggantungnya di lemari dekat pintu. "Siapa dia?" tanyanya langsung pada intinya.
Fernandez tersenyum misterius sambil berjalan menuju bar mini di sudut ruangan. "Cantik bukan?"
"Aku tidak bertanya apakah dia cantik atau tidak. Aku bertanya siapa dia," Max mengejar sambil mengikuti Fernandez.
"Whiskey?" tawar Fernandez sambil mengambil botol dan dua gelas yang memang sudah tertata di mini bar.
"Come on," Max memperingatkan dengan nada yang sedikit keras.
Fernandez menuangkan whiskey ke dalam dua gelas dan menyodorkan satu pada Max. "Relax, Max. Tidak semua hal harus berhubungan dengan misi kita."
Max menerima gelas itu tapi tidak langsung meminumnya. "Jadi dia bukan bagian dari rencana?"
"Tidak. Tapi dia spesial," jawab Fenandez lagi.
Max mengerutkan kening. Dalam pikirannya, tentu saja Fernandez bisa membawa wanita manapun yang dia mau untuk menyenangkan dirinya. Pria dengan kekuatan dan kekayaan sebesar Fernandez pasti memiliki banyak pilihan. Tapi ada sesuatu dalam cara Fernandez memperlakukan wanita tadi yang berbeda. Lebih ... protective.
"Baiklah, lupakan saja." Max akhirnya berkata sambil meneguk minumannya.
Fernandez sepertinya puas dengan jawaban itu. Ia duduk di sofa kulit yang menghadap ke jendela besar yang menampilkan pemandangan kota Jakarta di malam hari.
"Lebih baik kita fokus pada hal yang lebih penting," kata Fernandez sambil mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana misimu malam ini? Apakah kamu berhasil bertemu dengan Dani?"
Max duduk di sofa yang berhadapan dengan Fernandez. "Ya, aku bertemu dengannya. Dan juga dengan Nadine."
"Bagaimana reaksi mereka?"
"Tuan Besar Anggara sama sekali tidak mengenaliku," jawab Max dingin.
"Ck, miris. Dan bahkan dia tidak merasakan jika darah dagingnya berdiri tepat di hadapannya," sahut Fernandez seraya menepuk pundak Max.
"Tapi rubah betina itu ...." Max berhenti sejenak, mengingat kembali tatapan tajam yang sempat dilayangkan oleh ibu tirinya. "Nadine merasa seperti pernah melihatku sebelumnya. Dia hampir mengenaliku."
"Hampir?"
"Tuan Besar Anggara memotong pembicaraannya. Mengatakan bahwa Nadine terlalu banyak minum wine," Max menjelaskan. "Tapi aku bisa melihat bahwa dia masih curiga."
Fernandez mengangguk perlahan. "Itu bisa menjadi masalah. Nadine adalah wanita yang cerdas. Jika dia mulai curiga, dia bisa menggali lebih dalam."
"Aku tahu. Itulah mengapa aku harus bergerak lebih cepat," Max meletakkan gelasnya di meja. "Aku sudah memperkenalkan diri sebagai Maxime Leonard, CEO Apex Technology. Aku bahkan menawarkan kerjasama teknologi dengan Anggara Buildings."
"Bagus. Itu akan memberimu alasan untuk bertemu dengan mereka lagi, dengan ayahmu."
"Jangan sebut dia ayahku. Ayahku sudah mati sejak saat itu." Kata-kata itu benar-benar terdengar menusuk.
"Bagaimana dengan Jody?" tanya Fernandez lebih lanjut.
Max tersenyum dingin. "Jody masih sama arogan dan bodohnya seperti dulu. Dia bahkan tidak mengenaliku sama sekali. Terlalu sibuk dengan tunangannya ... Jesica."
"Oh, jadi dia membawa w************n itu ke sana?"
"Ya." Kedua tangan Max mengepal kuat. Max merasakan pahit di lidahnya ketika mengucapkan kata-kata itu.
Fernandez memperhatikan ekspresi Max dengan cermat. "Kamu masih memiliki perasaan padanya?"
Max terdiam sejenak. "Tidak. Tapi itu tidak berarti aku akan membiarkan mereka bahagia setelah apa yang mereka lakukan padaku."
"Bagus. Emosi hanya akan merusak rencana," Fernandez meneguk whiskey-nya perlahan. "Jadi, langkah selanjutnya?"
"Aku akan membangun hubungan bisnis dengan Anggara Buildings dan akan menghancurkannya dengan cepat." Max menatap keluar jendela, melihat gemerlap lampu kota yang tidak pernah tidur.
"Dan kamu sudah menyiapkan rencana untuk itu?"
Max menoleh pada Fernandez dengan senyum yang dingin. "Sudah. Apex Technology akan menjadi trojan horse yang sempurna. Mereka akan menyambut kita dengan tangan terbuka, tidak menyadari bahwa mereka sedang mengundang kehancuran mereka sendiri."
"Aku suka rencanamu," Fernandez tertawa puas. "Tapi ingat, Max. Dalam permainan ini, kamu tidak boleh terlalu percaya pada siapapun. Bahkan pada orang yang kamu anggap sudah mati."
Max mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Tidak ada yang benar-benar mati sampai kamu melihat mayatnya sendiri," Fernandez berkata dengan nada yang penuh makna. "Dan bahkan ketika kamu sudah melihat mayatnya, masih bisa ada kejutan."
"Kamu berbicara dalam teka-teki."
"Karena hidup ini memang penuh dengan teka-teki, Max. Yang penting adalah, kamu harus selalu siap dengan segala kemungkinan."
Max merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Fernandez, meskipun dia sama sekali tak peduli dengan hal itu.
"Baiklah. Aku akan memulai rencana kedua besok," Max berdiri dari sofa. "Saatnya keluarga angkuh itu merasakan apa yang mereka berikan padaku tujuh tahun yang lalu."
"Max," Fernandez memanggilnya sebelum ia naik ke lantai dua. "Hati-hati dengan Nadine!"