Max mengangguk pada peringatan Fernandez sebelum menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Namun, langkahnya terhenti di tengah tangga ketika ia mendengar suara notifikasi dari ponselnya. Pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Aku tahu siapa kamu sebenarnya. Kita perlu bicara. Besok jam 2 siang di Café Luna, Mall Grand Indonesia. Datang sendirian. - N"
Max menatap layar ponselnya dengan intens. Huruf "N" di akhir pesan tidak meninggalkan ruang untuk spekulasi. Nadine. Wanita yang ia sebut "rubah betina" itu ternyata benar-benar mengenalinya. Peringatan Fernandez barusan terasa semakin relevan.
"Sial," gumamnya pelan.
Max turun kembali ke ruang tamu dimana Fernandez masih duduk santai dengan whiskey di tangannya, seolah-olah sudah menduga bahwa Max akan kembali.
"Ada masalah?" tanya Fernandez tanpa menoleh.
Max menunjukkan ponselnya. "Nadine mengirim pesan. Dia ingin bertemu besok."
Fernandez meletakkan gelasnya dan menatap Max dengan serius. "Cepat sekali. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi."
"Maksudmu kamu sudah tahu?"
"Tidak tahu pasti, tapi aku sudah memperkirakan kemungkinan ini," Fernandez berdiri dan berjalan ke jendela. "Nadine bukan wanita sembarangan, Max. Dia punya insting yang tajam dan jaringan informasi yang luas. Jika dia sudah curiga, dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban."
Max merasakan kemarahan mulai memenuhi dadanya. "Jadi kamu sudah tahu tapi tidak memberitahuku?"
"Aku memberitahumu untuk berhati-hati dengannya. Itu sudah cukup." Fernandez berbalik menghadap Max. "Yang penting sekarang adalah bagaimana kamu akan menangani situasi ini."
Max membaca ulang pesan itu. "Dia meminta bertemu di tempat umum. Itu berarti dia tidak ingin membuat masalah ... setidaknya untuk saat ini."
"Atau dia ingin memastikan kamu tidak bisa melakukan sesuatu yang merugikannya," Fernandez menambahkan. "Nadine bukan tipe wanita yang akan bertindak tanpa rencana."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu harus datang. Menghindari pertemuan hanya akan membuat dia lebih curiga dan mungkin akan membuat dia mengambil langkah yang lebih drastis," Fernandez kembali ke sofa. "Tapi kamu harus siap dengan segala kemungkinan."
Max merenung sejenak. "Apa yang kamu ketahui tentang Nadine yang tidak pernah kamu ceritakan padaku?"
Fernandez tersenyum misterius. "Banyak hal, Max. Tapi yang perlu kamu ketahui adalah bahwa Nadine punya masa lalu yang ... rumit. Dia bukan hanya sekedar istri kedua dari Dani Anggara."
"Maksudmu?"
"Sebelum menikah dengan ayahmu, Nadine pernah terlibat dalam bisnis yang ... katakanlah, tidak sepenuhnya legal. Dia punya koneksi dengan orang-orang yang bergerak di dunia bawah Jakarta," Fernandez meminum whiskey-nya perlahan. "Pernikahannya dengan Dani Anggara adalah langkah strategis untuk membersihkan reputasinya dan mendapatkan perlindungan hukum."
Max terkejut. "Kamu tidak pernah memberitahuku hal ini."
"Karena aku tidak yakin apakah kamu sudah siap mendengar kebenaran yang sebenarnya," Fernandez menatap Max dengan serius. "Kematian ibumu bukan kecelakaan, Max."
Dunia Max seolah-olah berhenti berputar. "Apa maksudmu?"
"Ibumu menemukan sesuatu tentang bisnis gelap Nadine. Dia mengancam akan membongkar semuanya jika Nadine tidak meninggalkan keluarga kalian," Fernandez berdiri dan berjalan mendekat. "Dua hari kemudian, mobil ibumu menabrak pohon di jalan yang sepi."
Max merasakan darahnya mendidih. Tangannya mengepal begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. "Kamu bilang ibuku meninggal karena kecelakaan!"
"Aku bilang ibumu meninggal. Aku tidak pernah bilang itu kecelakaan," koreksi Fernandez dengan tenang. "Aku hanya tidak memberitahumu detail lengkapnya karena kamu masih terlalu muda dan terlalu emosional untuk menangani kebenaran itu."
"Jadi selama ini ... selama lebih dari sepuluh tahun, aku hidup dengan kebohongan?!" Max berteriak.
"Aku memberitahumu kebenaran yang kamu butuhkan untuk bertahan hidup," Fernandez menjawab dengan nada dingin. "Jika aku memberitahumu semuanya sejak awal, kamu akan bertindak gegabah dan mungkin sudah mati sekarang."
Max berjalan mondar-mandir di ruang tamu, mencoba mencerna informasi yang baru saja dia terima. "Jadi Nadine bukan hanya merebut ayahku ... dia juga membunuh ibuku?"
"Secara teknis, Nadine tidak melakukannya sendiri. Tapi dia yang memerintahkan," Fernandez duduk kembali. "Itulah mengapa aku selalu memperingatkanmu untuk berhati-hati dengannya. Dia jauh lebih berbahaya daripada yang kamu kira."
"Dan sekarang dia ingin bertemu denganku." Max berhenti berjalan dan menatap Fernandez. "Apa yang sebenarnya dia inginkan?"
"Itu yang harus kamu cari tahu besok," Fernandez menjawab. "Tapi ingat, Max. Jangan pernah meremehkan Nadine. Dia bukan wanita yang akan segan untuk menghilangkan orang yang mengancam posisinya."
Max merasakan campuran kemarahan, kebencian, dan ketakutan memenuhi hatinya. Selama ini dia mengira bahwa misi balas dendamnya hanya terhadap keluarga yang telah mengkhianatinya. Ternyata ada dimensi yang jauh lebih gelap dari yang dia bayangkan.
"Kamu punya rencana?" tanya Max.
"Rencana sudah ada sejak awal. Yang berubah hanya timeline-nya," Fernandez bangkit dan berjalan ke lemari buku di sudut ruangan. Dia menekan sesuatu dan sebuah panel tersembunyi terbuka, menampilkan berbagai macam peralatan elektronik dan dokumen. "Ini saatnya kamu mengetahui kebenaran yang sebenarnya."
Fernandez mengambil sebuah folder tebal dan menyerahkannya pada Max. "Di dalam folder ini ada semua bukti tentang keterlibatan Nadine dalam kematian ibumu. Foto-foto, rekaman percakapan, bukti transfer uang, semuanya ada."
Max membuka folder itu dengan tangan yang gemetar. Di dalamnya, dia menemukan foto-foto yang menunjukkan Nadine bertemu dengan beberapa pria yang terlihat seperti preman. Ada juga rekaman percakapan yang menunjukkan Nadine sedang memerintahkan "kecelakaan" yang harus dialami ibunya.
"Darimana kamu mendapatkan semua ini?" tanya Max dengan suara yang bergetar.
"Aku punya mata dan telinga di mana-mana, Max. Termasuk di dalam lingkaran dalam Nadine," Fernandez menjawab. "Tapi bukti-bukti ini tidak bisa digunakan secara legal. Terlalu banyak yang terlibat dan terlalu banyak yang harus dilindungi."
Max menutup folder itu dan menatap Fernandez dengan mata yang berapi-api. "Jadi kita harus menghancurkan mereka dengan cara kita sendiri."
"Tepat sekali," Fernandez tersenyum puas. "Dan pertemuan besok dengan Nadine akan menjadi langkah pertama dalam fase baru dari rencana kita."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu akan pergi menemui Nadine. Dengarkan apa yang dia katakan. Pelajari apa yang dia inginkan. Tapi yang paling penting, kamu harus membuat dia percaya bahwa kamu tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya," Fernandez menjelaskan. "Jika dia menyadari bahwa kamu sudah tahu tentang keterlibatannya dalam kematian ibumu, dia akan mengambil tindakan drastis."
Max mengangguk. "Aku mengerti."
"Satu hal lagi, Max," Fernandez menatapnya dengan serius. "Mulai besok, kamu akan melihat wajah asli dari orang-orang yang kamu kira sudah kamu kenal. Bersiaplah untuk menghadapi kenyataan yang mungkin akan mengubah segalanya."
Max merasakan adrenalin mulai memompa dalam tubuhnya. Misi balas dendamnya telah berubah dari sekedar permainan kekuasaan menjadi sesuatu yang jauh lebih personal dan berbahaya. Tapi dia siap. Dia sudah menunggu kesempatan ini selama tujuh tahun.
"Aku siap," katanya dengan suara yang penuh tekad.
Fernandez tersenyum dengan puas. "Selamat datang di dunia yang sebenarnya, Max. Dunia dimana tidak ada yang benar-benar hitam atau putih. Semuanya abu-abu, dan hanya yang paling kuat yang bisa bertahan."