Bab 9. Di Luar Dugaan

1465 Words
Max tiba di Café Luna tepat pukul 1:45 siang. Dia sengaja datang lebih awal untuk mengamati situasi dan mempersiapkan diri secara mental. Café yang terletak di lantai 3 Mall Grand Indonesia ini cukup ramai dengan pengunjung yang sebagian besar adalah pekerja kantoran dan mahasiswa. Posisi strategis ini memang cocok untuk pertemuan bagi mereka yang tidak ingin menarik perhatian. Dia memilih meja di sudut dengan pandangan yang baik ke seluruh ruangan. Sambil menunggu, Max mengulang-ulang dalam hati strategi yang telah dia dan Fernandez rencanakan semalam. Dia harus berpura-pura tidak mengenal Nadine kecuali dari pertemuan singkat di acara kemarin malam. Yang paling penting, dia tidak boleh menunjukkan sedikitpun bahwa dia tahu tentang identitas asli Nadine atau keterlibatannya dalam kematian ibunya. Benar saja, tepat pukul 2 siang, Max melihat sosok yang familiar memasuki café. Nadine terlihat elegan dengan balutan blazer hitam dan celana panjang berwarna krem. Rambutnya sedikit bergelombang, tetapi tetap ditata rapi, dan auranya memancarkan kepercayaan diri yang tinggi. Mata mereka bertemu, dan Nadine tersenyum sambil berjalan menghampiri meja Max. "Rupanya memang benar kamu," suara-suara sudah berisik di dalm telinganya. "Selamat siang, Max," sapa Nadine yang kemudian membuyarkan semuanya. "Selamat siang ... Nyonya ...." Max berdiri dan sedikit ragu. "Maaf, tadi malam kita bertemu hnya sebentar 'kan? Tapi saya tidak sempat menanyakan nama lengkap Anda." "Nadine Anggara," jawab Nadine sambil mengulurkan tangan. "Terima kasih sudah mau datang." Max berjabat tangan dengan Nadine, merasakan kehangatan telapak tangannya yang kontras dengan tatapan mata yang dingin dan menyelidik. "Terus terang, saya agak penasaran dengan pesan Anda. Bagaimana Anda bisa mendapatkan nomor saya?" Nadine tersenyum misterius sambil duduk. "Dalam dunia bisnis, informasi bukanlah hal yang sulit didapat jika Anda tahu cara mencarinya. Saya harap Anda tidak keberatan." Max memang dengan sengaja meninggalkan nomor yang bisa dihubungi pada Vero, berharap agar suatu saat ada salah satu dari mereka yang menghubungi. Hanya saja ... ia juga tidak menyangka jika akan secepat ini salah satu dari mereka memanggil. "Tidak juga, Nyonya. Hhanya saja agak ... mengejutkan," Max duduk kembali, mencoba mempertahankan ekspresinya agar tetap terlihat tenang. "Pesan Anda cukup intens. 'Aku tahu siapa kamu sebenarnya' - itu terdengar seperti dialog film thriller," lanjut Max. Nadine tertawa pelan. "Maaf jika terkesan dramatis. Saya hanya ingin memastikan Anda datang. Dan .. rupa-rupanya cara itu berhasil." Seorang pelayan menghampiri meja mereka. Nadine memesan latte, sementara Max memilih espresso. Setelah pelayan pergi, suasana menjadi sedikit canggung. Max merasakan jantungnya berdebar kencang, khawatir penyamarannya akan segera terbongkar. "Jadi ...," Nadine memulai percakapan sambil melipat tangannya di atas meja. "Saya sudah melakukan riset tentang Anda dan perusahaan Apex Technology. Cukup mengesankan untuk seorang CEO yang masih muda seperti Anda,." "Terima kasih," Max menjawab hati-hati. "Tapi saya yakin Anda tidak mengajak saya bertemu hanya untuk memberikan pujian, bukan?" "Tentu saja, tidak." Nadine tersenyum. "Saya tertarik dengan visi Anda tentang masa depan industri teknologi di Indonesia. Terutama bagaimana teknologi dapat mengubah sektor konstruksi dan properti. Iya, properti seperti yang kami geluti." Max merasakan ada yang aneh. Pembicaraan ini terasa terlalu formal dan mengalir, seolah-olah Nadine sedang mengarahkan percakapan ke suatu tujuan tertentu. "Itu memang salah satu fokus utama kami. Tapi saya masih tidak paham, kenapa hal ini menarik bagi Anda?" Pelayan datang dengan pesanan mereka. Nadine mengambil latte-nya dan menghirup aromanya sejenak sebelum menjawab. "Karena saya percaya bahwa industri konstruksi juga perlu sedikit ... 'Diguncang'. Perlu ada pemain baru yang bisa menantang d******i perusahaan-perusahaan besar yang sudah mapan." "Maksud Anda?" Max bertanya, meskipun dalam hati dia mulai menduga ke mana arah pembicaraan ini. "Anggara Buildings, misalnya," Nadine menyebutkan nama perusahaan itu dengan nada yang terkesan santai, tapi Max bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam. "Perusahaan konstruksi terbesar di Indonesia. Mereka menguasai hampir 60% pasar konstruksi premium di Jakarta." Max hampir tersedak oleh espresso-nya. Dia tidak menyangka jika Nadine akan langsung menyebutkan perusahaan ayahnya. "Anggara Buildings ... ya, saya tahu tentang mereka. Perusahaan yang sangat besar dan berpengaruh di pangsa pasar Indonesia." "Terlalu besar dan terlalu berpengaruh," Nadine menambahkan dengan nada yang lebih serius. "Mereka telah menciptakan monopoli. Banyak perusahaan kecil yang tidak bisa berkembang karena d******i mereka." Max mencoba mempertahankan senyumnya agar tidak goyah, meskipun dalam hati dia semakin penasaran dengan maksud Nadine. "Itu memang tantangan dalam industri apapun. Tapi saya tidak yakin Apex Technology bisa secara langsung bersaing dengan perusahaan sekaliber Anggara Buildings." "Tentu saja bisa," Nadine memandang Max dengan intens. "Dengan teknologi yang tepat, perusahaan seperti Apex bisa mengubah seluruh landscape industri konstruksi. Bayangkan jika Anda bisa menawarkan solusi yang lebih efisien, lebih murah, dan lebih cepat daripada metode konvensional yang digunakan Anggara Buildings." "Itu ..." Max berhenti sejenak, pura-pura berpikir. "Itu adalah visi yang menarik. Tapi juga sangat berisiko. Sebagai pemilik perusahaan Anggara, Tuan Dani pasti tidak akan tinggal diam jika ada pesaing yang mengancam posisi mereka." "Justru itulah yang saya harapkan," Nadine tersenyum, dan setelah sekian lama, Max kembali melihat kilatan yang berbahaya di mata wanita yang selalu ia sebut sebagai rubah betina itu. "Aku ingin melihat mereka ... TERGUNCANG." Max merasakan dadanya sesak. Ada sesuatu dalam cara Nadine mengucapkan kata 'terguncang' yang membuatnya yakin bahwa wanita ini memiliki agenda yang jauh lebih gelap. "Anda terdengar sangat ... tertarik dengan kemungkinan ini. Kenapa, nyonya?" "Oh, saya lebih dari sekedar tertarik," Nadine minum latte-nya perlahan. "Saya ingin menjadi bagian dari proses itu. Saya ingin membantu Anda menghancurkan d******i mereka." Kata 'menghancurkan' terasa seperti tamparan bagi Max. Dia tidak menyangka akan mendengar kata itu dari mulut ibu tirinya sendiri, apalagi ditujukan kepada perusahaan milik suaminya sendiri. "Menghancurkan? Bukankah itu terdengar ... ekstrem?" "Max, dalam bisnis, tidak ada yang namanya setengah-setengah," Nadine menjawab dengan nada yang dingin. "Anda hanya bisa menjadi predator atau mangsa. Dan saya yakin Anda bukan tipe yang suka menjadi mangsa." Max mencoba mencerna semua yang dia dengar. Rencana balas dendamnya yang sudah dia susun selama bertahun-tahun terasa seperti permainan anak-anak dibandingkan dengan apa yang ditawarkan Nadine. Wanita yang telah membunuh ibunya ini sekarang meminta bantuannya untuk menghancurkan perusahaan ayahnya sendiri. "Saya masih belum paham," Max berkata hati-hati. "Kenapa Anda begitu ingin melihat Anggara ... terguncang? Apakah ada sesuatu yang lebih pribadi?" Nadine tertawa, tapi suaranya terdengar pahit. "Pribadi? Bisa dibilang begitu. Tapi yang penting sekarang adalah apakah Anda tertarik dengan proposal yang saya tawarkan ini?" "Proposal seperti apa tepatnya?" Max bertanya, meskipun dia sudah bisa menebak jawabannya. "Saya akan memberikan Anda akses ke informasi internal Anggara. Titik lemah mereka, proyek-proyek besar, bahkan detail tentang tender-tender yang akan datang," Nadine menjelaskan dengan suara yang rendah namun penuh keyakinan. "Dengan informasi itu, Apex Technology bisa mengambil alih kontrak-kontrak besar mereka dan secara perlahan menggerus market share mereka." Max merasakan darahnya berdesir. Ini adalah kesempatan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. "Dan sebagai imbalannya?" "Sebagai imbalannya, saya ingin melihat Anggara Buildings jatuh. Saya ingin melihat mereka kehilangan segalanya, sama seperti yang pernah mereka lakukan kepada orang lain," Nadine menjawab dengan mata yang berkilat-kilat penuh kebencian. "Anda berbicara seolah-olah Anda mengenal mereka secara personal," Max mencoba menggali lebih dalam. "Saya memang mengenal mereka," Nadine menjawab singkat. "Tapi itu bukan hal yang perlu Anda ketahui sekarang. Yang penting adalah apakah Anda tertarik dengan tawaran saya atau tidak." Max diam sejenak, pura-pura mempertimbangkan. Dalam hati, dia merasa seperti sedang bermimpi. Rencana balas dendamnya yang telah dia susun selama bertahun-tahun ternyata bisa dipercepat dengan bantuan dari orang yang paling dia benci. Sungguh ironi yang sempurna. "Ini adalah tawaran yang... menarik," Max akhirnya berkata. "Tapi saya perlu waktu untuk memikirkannya. Keputusan seperti ini tidak bisa diambil secara spontan." "Tentu saja," Nadine mengangguk. "Saya mengerti. Tapi jangan terlalu lama. Kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali." "Berapa lama waktu yang Anda berikan?" Max bertanya. "Satu minggu," Nadine menjawab tegas. "Saya akan menunggu jawaban Anda selama satu minggu. Setelah itu, saya akan mencari cara lain untuk mencapai tujuan saya." Nadine menghabiskan latte-nya dan bersiap untuk pergi. "Oh, satu hal lagi, Max. Jika Anda memutuskan untuk bekerja sama dengan saya, ingatlah bahwa ini adalah permainan yang serius. Tidak ada ruang untuk keraguan atau penyesalan." "Saya mengerti," Max mengangguk. "Bagus," Nadine berdiri dan mengambil tas tangannya. "Saya akan menunggu kabar dari Anda. Jangan mengecewakan saya." Setelah Nadine pergi, Max duduk sendirian di café, otaknya bekerja dengan kecepatan maksimal. Pertemuan ini telah mengubah segalanya. Rencana balas dendamnya yang sudah dia susun selama bertahun-tahun ternyata bisa dipercepat dengan bantuan dari musuh terbesarnya. Tapi yang membuatnya paling terkejut adalah kebencian yang begitu mendalam yang dia lihat di mata Nadine ketika membicarakan Anggara. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar ambisi bisnis di sana. Ada dendam pribadi yang mungkin bahkan lebih dalam dari dendamnya sendiri. Max mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Fernandez: [Pertemuan selesai. Hasil di luar dugaan. Kita perlu bicara malam ini.] Sambil menunggu balasan, Max merenungkan ironi situasi ini. Ternyata apa yang menjadi ketakutannya salah. Nadine belum mengenalinya. Ibu tiri yang telah membunuh ibunya sekarang menawarkan bantuan untuk menghancurkan ayahnya. Dunia memang penuh dengan kejutan yang tak terduga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD