"Bangun! Makan ini!"
Keesokan harinya, Romi masuk ke ruangan tahanan dengan membawa hanya segelas air dan sepotong roti kering yang mengeras. Dia menendang tubuh Rafael yang masih tertidur dengan mata membengkak akibat kesulitan tidur di lantai beton.
Rafael menatap makanan yang jauh berbeda dari kemarin. "Hanya ini?"
"Kamu pikir ini hotel bintang lima?" Romi tersenyum sinis. "Mulai hari ini, kamu akan belajar cara hidup."
Tanpa menunggu jawaban, Romi keluar dan menutup pintu dengan keras. Rafael menatap roti kering di hadapannya, perutnya sudah berbunyi lapar meski baru beberapa jam sejak makan terakhir.
"Sial, bagaimana bisa aku makan ini?" gumamnya. Namun sayangnya, tak ada pilihan baginya kecuali hanya menerima.
Hari-hari berikutnya menjadi neraka bagi Rafael. Porsi makanan yang semakin berkurang membuat tubuhnya melemah. Hanya air dan roti kering, kadang-kadang ditambah dengan sup encer yang hampir tidak berasa. Berat badannya turun drastis, tulang pipinya mulai menonjol, dan matanya cekung.
Pada hari ketiga, Romi datang dengan informasi yang menusuk hati Rafael.
"Tahu tidak? Kemarin Jody dan Nadine mengadakan pesta di rumah yang seharusnya menjadi milikmu," kata Romi sambil duduk di kursi kayu yang dibawanya. "Betapa bodohnya kamu yang bisa disingkirkan begitu mudah."
Rafael yang sedang duduk bersandar pada dinding tiba-tiba menegakkan tubuhnya. "Aku tidak peduli!"
"Benarkah?" Romi tersenyum mengejek.
"Mereka ... mereka akan merasakan pembalasanku!" desis Rafael.
"Dengan kondisimu sekarang? Kamu bahkan tidak bisa berdiri dengan tegak," ejek Romi sebelum meninggalkan ruangan.
"Sesungguhnya ... siapa kamu yang tidak membiarkanku m a t i, tapi tak juga membuatku hidup layaknya manusia?" tanya Rafael.
"Sebut aku sesukamu, tapi aku akan menjadikanmu macan untuk membalas mereka," jawab Romi.
"Kenapa?"
Romi tidak menjawab pertanyaan Rafael, dia hanya tersenyum dan menepuk pundak Rafael sebelum beranjak pergi. "Siapkan dirimu, Max!"
Setelah sebulan dalam kondisi yang memprihatinkan, dan membuat api di dalam diri Rafael menggelegak, Romi mulai membawa Rafael keluar dari ruangan tahanan. Ia dibawa ke sebuah ruangan yang lebih besar, dengan beberapa peralatan olahraga sederhana dan satu karung tinju yang sudah lusuh.
"Mulai hari ini, kamu akan berlatih," kata Romi sambil melempar sarung tinju ke arah Rafael. "Jika kamu ingin balas dendam, kamu harus kuat. Jika kamu ingin membalas Jody dan Nadine, kamu harus mampu."
Rafael menatap sarung tinju di tangannya. Tubuhnya sudah sangat kurus, tenaganya hampir tidak tersisa. Tapi api kebencian dalam dadanya membuatnya bangkit.
"Dari sekarang, kamu berlatih setiap hari. Push up, sit up, lari di tempat, dan memukul karung tinju. Tidak ada istirahat sampai kamu bisa melakukan 100 push up tanpa henti," lanjut Romi.
Rafael mulai berlatih dengan kondisi yang sangat lemah untuk memulai semua itu. Ia hanya bisa melakukan 10 push up sebelum ambruk. Karung tinju terasa seperti tembok beton yang tidak bisa ditembus. Tapi setiap kali ia ingin menyerah, wajah-wajah yang begitu dibencinya mulai muncul.
"Bangun!" seru Romi setiap kali melihat Rafael tersungkur.
Latihan yang keras dan makanan yang terbatas membuat tubuh Rafael berubah secara dramatis. Lemak di tubuhnya hilang sepenuhnya, digantikan oleh otot-otot yang mulai terbentuk. Tangannya yang dulu lembut kini penuh dengan kapalan akibat memukul karung tinju berjam-jam setiap hari.
Romi mulai memperkenalkan latihan yang lebih berat. Beban angkat, latihan kardio intensif, dan yang paling menyiksa adalah latihan mental. Setiap malam, Rafael dipaksa untuk mendengarkan rekaman suara yang menceritakan kebahagian Jody dan Nadine, bagaimana mereka menghabiskan uang keluarga Anggara untuk berfoya-foya. Bagaimana Doni Anggara seolah tak pernah mengingatnya kembali sebagai seorang putra mahkota yang hilang.
"Dengarkan baik-baik," kata Romi sambil menyalakan rekaman. "Perusahaan yang dulu kamu kelola, kini sudah diambil alih oleh Jody–adik tirimu!"
Rafael mengepalkan tangan dengan keras. Kuku-kukunya menancap ke telapak tangan hingga berdarah. "Aku pastikan dia akan menyesal!"
"Bagus," bisik Romi. "Biarkan kebencian itu mengalir. Biarkan itu menjadi tenagamu."
Pada tahun ketiga, Rafael sudah berubah menjadi sosok yang sama sekali berbeda. Tinggi badannya yang 178 cm kini dipenuhi dengan otot-otot yang terlatih. Wajahnya yang dulu tampan dan lembut kini terlihat keras dengan rahang yang tegas dan mata yang tajam seperti.
Romi mulai mengajarkan berbagai seni bela diri. Muay Thai, Krav Maga, dan teknik bertarung jalanan. Rafael menyerap semua ilmu dengan cepat, seolah-olah ia terlahir kembali hanya untuk berkelahi.
"Jangan hanya mengandalkan kekuatan," nasihat Romi sambil menghindar dari pukulan Rafael. "Gunakan kepala. Cari titik lemah lawan. Serang dengan efisien dan mematikan."
Rafael mengangguk dan menyerang lagi. Kali ini ia menggunakan strategi, menyerang bagian rusuk Romi dengan siku, dilanjutkan dengan lutut ke arah perut. Romi terpaksa mundur beberapa langkah.
"Bagus! Sekarang kamu mulai berpikir seperti petarung sejati," puji Romi.
Selain latihan fisik, Rafael juga mulai mempelajari strategi bisnis, politik, dan cara memanipulasi orang. Ia diberi buku-buku tentang psikologi, negosiasi, dan taktik perang. Pikirannya yang dulu hanya terisi dengan kemewahan kini berkembang menjadi mesin yang haus akan kekuasaan dan pembalasan.
Pada tahun kelima, Rafael sudah menjadi sosok yang menakutkan. Tubuhnya penuh dengan luka-luka bekas latihan, matanya selalu waspada, dan aura yang dipancarkannya membuat siapa pun yang melihatnya merasa tidak nyaman.
"Hari ini kamu akan menghadapi ujian pertama," kata Romi sambil membawa Rafael ke ruangan yang berbeda.
Di ruangan itu, ada tiga orang pria berbadan besar yang sudah menunggu. Mereka adalah mantan tentara yang dipekerjakan khusus untuk menguji kemampuan Rafael.
"Kalahkan mereka bertiga sekaligus," perintah Romi. "Jika kamu gagal, tidak ada makan selama tiga hari."
Rafael menatap ketiga pria itu tanpa rasa takut. Ia sudah terlalu lama dilatih untuk merasa takut pada siapa pun. Tanpa menunggu aba-aba, ia menyerang.
Pertarungan berlangsung cepat. Rafael menggunakan semua teknik yang dipelajarinya. Ia bergerak dengan lincah, menyerang dengan presisi, dan tidak memberikan kesempatan pada lawannya untuk bernafas. Dalam waktu sepuluh menit, ketiga pria itu sudah tergeletak tak sadarkan diri.
"Sempurna," gumam Romi sambil tersenyum puas.
Tujuh tahun telah berlalu sejak Rafael pertama kali masuk ke dalam ruangan tahanan itu. Sosok yang kini berdiri di hadapan cermin bukanlah Rafael Anggara yang dulu. Tubuhnya kini kekar, wajahnya keras dan dingin dengan mata tajam.
Rambut hitamnya yang dulu rapi kini dibiarkan agak panjang dan berantakan. Janggut tipis menghiasi rahangnya yang keras. Bekas luka di wajah dan tubuhnya menceritakan kisah latihan yang tak pernah berhenti selama bertahun-tahun. Namun, yang paling mencolok adalah matanya. Mata yang dulu hangat dan penuh harapan kini berubah menjadi dingin dan kosong. Tidak ada lagi jejak Rafael yang lembut dan percaya pada orang lain. Yang tersisa hanya kebencian yang membara dan nafsu untuk membalas dendam.
Pada hari itu, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, pintu ruangan latihan terbuka dan masuklah sosok yang tidak pernah Rafael lihat sebelumnya. Seorang pria bertopi dengan cerutu di mulutnya, berjas rapi dan bersikap tenang.
"Selamat datang, Rafael," kata pria itu sambil tersenyum. "Atau haruskah aku memanggilmu dengan nama yang baru?"
Rafael menatap pria itu dengan waspada. Selama tujuh tahun, ia tidak pernah bertemu dengan orang lain selain Romi dan beberapa lawan sparring. "Siapa kamu?"
"Aku adalah Fernandez. Orang yang telah membuatmu bertransformasi selama tujuh tahun terakhir," jawab pria itu sambil mengeluarkan cerutu dari mulutnya.
"Transformasi?" Rafael mengerutkan kening.
"Lihat dirimu sekarang. Apakah kamu masih merasa seperti putra Anggara yang lemah itu?" tanya Fernandez sambil berjalan mengelilingi Rafael. "Atau kamu sudah menjadi sosok yang berbeda?"
Rafael menatap pantulan dirinya di cermin. Memang benar, ia sudah berubah total. Tidak ada lagi yang mengingatkan pada Rafael yang dulu.
"Kamu sudah lama m a t i, Rafael," lanjut Fernandez. "Yang berdiri di hadapanku sekarang adalah sosok yang baru. Sosok yang aku ciptakan. Sosok yang akan menjadi senjata pamungkasku."
"Apa maksudmu?"
Fernandez tersenyum lebar. "Mulai hari ini, namamu bukan lagi Rafael Anggara. Namamu adalah Maxi. Dan kamu akan menjadi tangan kananku untuk menghancurkan semua orang yang telah mengkhianatimu."
Rafael, atau yang saat ini telah berubah menjadi Maxi, menatap Fernandez dengan mata yang berkilat. "Jody dan Nadine?"
"Apa kamu pikir hanya mereka," jawab Fernandez. "Ada banyak orang lain yang harus membayar. Termasuk ayahmu yang telah membuangmu begitu saja."
Maxi mengepalkan tangannya. Selama tujuh tahun, ia telah dilatih untuk menjadi manusia yng berbeda. Ia telah kehilangan semua rasa kemanusiaan dan hanya tersisa kebencian yang mendalam.
"Apa yang harus kulakukan?" tanya Maxi dengan suara yang dingin.
"Pertama, kamu akan kembali ke dunia luar. Tapi bukan sebagai keluarga Anggara. Kamu akan menjadi Maxi, seorang pebisnis muda yang sukses dan misterius. Kamu akan membangun kerajaan bisnis yang akan menjadi saingan keluarga Anggara."
Fernandez menyerahkan sebuah dokumen kepada Maxi. "Identitas barumu, rekening bank yang berisi miliaran rupiah, dan rencana detail untuk memulai misimu."
Maxi membaca dokumen itu dengan seksama. Setelah tujuh tahun dalam kegelapan, ia akan kembali ke dunia yang telah menghianatinya. Tapi kali ini, ia akan kembali untuk memburu mangsanya.
"Kenapa kamu melakukan ini?" tanya Maxi akhirnya.
"Belum saatnya kamu tahu," jawab Fernandez sambil menghisap cerutunya.
"Ingat, Maxi. Kamu tidak memiliki masa lalu. Kamu tidak memiliki keluarga. Yang kamu miliki hanyalah membalas dendam. Dan aku akan membantumu mencapainya."
"Aku siap!"