Bab 3. Rencana di Balik Layar

1102 Words
Pria berkemeja putih dengan sedikit jambang di wajahnya itu berjongkok di depan Rafael. Tangannya bergerak perlahan menuju ikatan di belakang tubuhnya, dan dengan gerakan yang terampil, ia membuka ikatan yang mengikat kedua tangan Rafael, membiarkan aliran darah kembali mengalir normal ke pergelangan tangannya yang sudah mati rasa. Rafael sedikit terkejut dengan apa yang baru saja pria itu lakukan. "Apa maumu?" Rafael menggerakkan kedua tangannya dengan hati-hati, menggosok pergelangan yang lecet akibat tali yang mengikat terlalu kencang. "Jangan berpikir untuk kabur," ujar pria itu sambil berdiri. "Pintu sudah terkunci dari luar, dan ada dua orang yang berjaga di sana." Pria itu kemudian mengangkat tangannya dengan gerakan seperti memanggil seseorang. "Bawa kemari!" perintahnya dengan suara yang cukup keras. Tidak lama kemudian, pintu besi yang berat terbuka dengan suara berderit. Seorang pria lain masuk sambil membawa sebuah piring berisi nasi putih dan potongan ayam goreng. Aromanya menguar ke seluruh ruangan, membuat perut Rafael yang kosong sejak sore tadi berbunyi keras. Pria yang membawa makanan itu meletakkan piring di lantai beton, tepat di depan Rafael. Kemudian ia mundur beberapa langkah, berdiri di samping pria berkemeja putih sambil menunggu instruksi selanjutnya. "Makanlah, kamu pasti lapar!" ucap pria berkemeja putih dengan nada yang terdengar seperti sedang memberikan kemurahan hati. Rafael menatap piring di hadapannya dengan pandangan tajam. Meskipun perutnya terasa perih karena lapar, harga dirinya sebagai seorang tuan muda tidak bisa ditukar dengan sepiring nasi dari orang yang telah menculiknya. "Bunuh saja aku, aku tidak sudi memakannya!" tolak Rafael dengan tegas, suaranya bergetar antara amarah rasa lelah yang begitu kentara. Penolakan itu membuat pria itu geram. Wajahnya memerah, rahangnya mengencang, dan napasnya menjadi berat. Dengan gerakan kasar, ia mengambil segenggam nasi dari piring dengan tangan kosongnya, tidak peduli dengan butiran nasi yang berceceran di lantai. "Kamu pikir kamu masih punya pilihan?" bentaknya sambil mencengkeram rahang Rafael dengan tangan kirinya. "Aku menyuruh, buka menyuruhmu untuk memilih!" Rafael berusaha meronta, tetapi cengkeraman pria itu sangat kuat. Dengan paksa, pria itu membuka mulut Rafael dan memasukkan nasi ke dalam mulutnya. Rafael tersedak, batuk-batuk, sebagian nasi keluar dari mulutnya, tetapi sebagian lagi terpaksa tertelan. "Ingat ini baik-baik!" desis pria itu tepat di telinga Rafael. "Di sini, kamu bukan siapa-siapa. Kamu bukan lagi tuan muda! Apalagi pemegang tahta!" Setelah mengatakan itu, pria tersebut berdiri dan melangkah keluar ruangan bersama anak buahnya. Pintu besi tertutup dengan suara keras, meninggalkan Rafael sendirian dengan piring makanan yang masih tersisa. Rafael meludah berkali-kali, berusaha mengeluarkan sisa nasi yang dipaksakan untuk masuk ke dalam mulutnya. Rasa pahit bercampur dengan kemarahan memenuhi rongga mulutnya. Ia menggosok wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menghilangkan jejak perlakuan kasar yang baru saja diterimanya. Awalnya Rafael ragu untuk menyentuh makanan yang ada di depannya. Pandangannya bergantian antara piring dan pintu yang terkunci rapat. Namun, setelah mengingat jika dia harus kembali dan membalas dendam, Rafael mulai menyadari bahwa ia membutuhkan kekuatan untuk bertahan hidup. "Mereka membuatku hidup," gumamnya pelan, "berarti aku punya kesempatan." Dengan perlahan, Rafael mengambil sepotong ayam dan menyuapkannya ke mulutnya. Rasa asin dan gurih menyebar di lidahnya, membuat air liur mengalir deras. Tubuhnya bereaksi otomatis terhadap makanan pertama yang masuk setelah berjam-jam dirinya kelaparan. -- Dari ruangan lain yang jauh lebih luas, seseorang dengan cerutu besar di tangannya tersenyum lebar melihat Rafael dari sebuah layar monitor. Ruangan Rafael ternyata dipantau melalui kamera CCTV yang terpasang di sudut atas ruangan, merekam setiap gerakan dan ekspresi yang ditampilkan. "Makanlah," bisik pria itu sambil menghisap cerutunya dalam-dalam, "karena kamu harus tetap hidup." Asap cerutu mengepul perlahan di udara, bercampur dengan cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit ruangan mewah tersebut. Sofa kulit coklat tua yang ia duduki tampak kontras dengan lantai marmer hitam yang mengkilap. Di layar monitor, Rafael terlihat mulai makan dengan lahap, meskipun masih sesekali menoleh ke arah pintu dengan sikap waspada. Setiap gerakan, setiap ekspresi wajah, setiap detik kehidupan Rafael kini berada dalam pengawasan ketat. Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka. Pria berkemeja putih yang selalu membersamai Rafael di dalam ruangan tahanan, melangkah masuk dengan langkah hati-hati. Ia berdiri tegak di depan sofa besar, menunggu untuk diberi perintah. "Tuan Fernandez, saya menunggu perintah," ucapnya dengan hormat. Pria bertopi yang diketahui bernama Fernandez itu sejenak menghela napas sebelum membuang asap lewat mulutnya. Matanya masih tertuju pada layar monitor yang menampilkan Rafael sedang menghabiskan makanannya. "Bangkitkan macan dalam diri Rafael!" perintahnya dengan suara rendah namun penuh otoritas. Pria berkemeja putih mengangguk, meskipun raut wajahnya menunjukkan sedikit kebingungan. "Maksud Tuan?" Fernandez memutar kursinya hingga menghadap langsung pada anak buahnya. Cerutu masih mengepul di antara jari-jarinya, dan senyum tipis tersungging di bibirnya. "Selama ini Rafael hidup dalam kemewahan. Ia tidak pernah merasakan penderitaan yang sesungguhnya. Kelaparan, kedinginan, penghinaan – semua itu baru saja ia rasakan," jelasnya sambil berdiri dari sofa. "Tapi itu belum cukup. Seorang Anggara yang lemah tidak berguna bagiku. Aku butuh Rafael yang kuat, yang haus akan kekuasaan, yang siap melakukan apa saja untuk kembali ke puncak." Fernandez berjalan mendekat ke layar monitor, memperhatikan Rafael yang kini duduk bersandar pada dinding dengan perut yang sudah terisi. "Kamu tahu apa yang membuat macan berbahaya, Rom?" tanyanya tanpa menoleh pada anak buahnya yang bernama Romi. "Tidak, Tuan." "Ketika ia terdesak, ketika ia lapar, ketika ia harus bertarung untuk bertahan hidup. Saat itulah naluri pembunuh dalam dirinya bangkit," Fernandez menghisap cerutunya lagi. "Rafael sudah merasakan pengkhianatan, pengusiran, dan penghinaan. Sekarang saatnya ia merasakan penderitaan yang akan mengubahnya menjadi senjata yang sempurna." Kini, Romi mulai memahami maksud atasannya. "Apa yang harus saya lakukan, Tuan?" "Mulai besok, kurangi porsi makanannya. Berikan hanya air dan roti kering. Biarkan ia merasakan lapar yang sesungguhnya. Lalu, setiap tiga hari, berikan informasi tentang Jody dan Nadine. Katakan bahwa mereka sedang menikmati kekayaan yang seharusnya menjadi miliknya." Fernandez kembali ke sofa dan duduk dengan santai. "Biarkan kebencian dalam dirinya tumbuh seperti api yang menjilat-jilat. Semakin ia menderita, semakin ia akan haus akan pembalasan. Dan saat itulah, ia akan siap melakukan apa pun yang kuminta." "Berapa lama proses ini akan berlangsung, Tuan?" "Sampai matanya berubah. Sampai mata seorang tuan muda yang manja berubah menjadi mata seorang predator yang lapar," Fernandez tersenyum dingin. "Aku ... akan membinasakan Rafael, dengan melahirkan Rafael yang baru. Rafael yang akan menjadi tangan kananku untuk menghancurkan Anggara." Romi segera mengangguk dengan mantap. "Saya mengerti, Tuan. Akan saya laksanakan." "Bagus. Dan ingat, jangan sampai ia tahu siapa yang sesungguhnya berada di balik semua ini. Biarkan ia berpikir bahwa Jody dan Nadine adalah dalang dari penderitaannya. Kebencian yang salah arah akan membuatnya lebih mudah dikendalikan." Saat Romi mulai meninggalkan ruangan, Fernandez kembali memfokuskan perhatiannya pada layar monitor. Rafael kini terlihat sedang memejamkan mata, berusaha beristirahat di lantai beton yang keras. "Nikmati tidur nyenyakmu, Maxi," bisiknya pelan. "Karena mulai besok, mimpi burukmu akan dimulai."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD