Bab 2. Tuan Muda yang Terbuang

1267 Words
Kedua satpam langsung bergerak cepat, menyeret Rafael keluar dari rumah mewah yang telah menjadi saksi bisu penderitaannya. Hujan masih turun deras, membasahi seluruh tubuh Rafael yang sudah dalam keadaan kacau. "Jangan pernah kembali ke sini!" teriak salah satu satpam sebelum mereka menutup gerbang besar dengan keras. Rafael berdiri sendirian di tengah jalan yang sepi, ditemani oleh derasnya hujan dan cahaya lampu jalan yang redup. Ia menatap rumah yang dulunya adalah istananya, kini tampak seperti benteng yang menolak kehadirannya. Lampu-lampu di dalam rumah masih menyala terang, menandakan kehidupan yang terus berlanjut tanpa dirinya. "Akan kubuat kalian menyesal!" desis Rafael. Selama 28 tahun hidupnya, ia tak pernah membayangkan akan berakhir seperti ini. Diusir dari rumah sendiri, dituduh melakukan kejahatan yang tidak pernah ia lakukan, dan yang paling menyakitkan adalah dibuang oleh ayah yang selama ini ia hormati. "Jody ...," gumamnya pelan, nama itu keluar dengan penuh kebencian. "Kamu sudah melakukan kesalahan besar!" Rafael mulai melangkah, tidak tahu harus pergi ke mana. Kantongnya kosong, tidak ada uang sepeser pun. Ia hanya mengenakan jas basah dan sepatu kulit yang kini becek karena genangan air hujan. Saat melewati sebuah halte bus, Rafael berhenti sejenak. Ia melihat pantulan dirinya di kaca halte yang berembun. Sosok yang menatapnya balik bukanlah Rafael yang dulu. Dulu dia adalah seorang tuan muda pewaris sah keluarga Anggara. Tuan muda yang sukses, percaya diri, dan memiliki segalanya. Namun kini, yang ia lihat adalah seseorang yang hancur, terpuruk, dan terbuang. "Kamu harus hidup, Rafael." Namun, Rafael segera membuang ludah setelah berkata demikian. "s**t, Rafael." Bahkan sekarang, Rafael merasa enggan untuk menyebut namanya sendiri. Malam semakin larut, hujan masih turun deras. Rafael terus berjalan tanpa tujuan, melewati jalan-jalan yang sepi. Ia tidak tahu harus pergi ke mana. Pikiran tentang teman-teman dan kerabatnya yang lain membuatnya semakin tidak tenang. Mereka pasti sudah mendengar kabar tentang apa yang terjadi padanya. Ia tidak ingin terlihat terpuruk di hadapan mereka. Terbuang artinya dia memang harus menghilang. Di ujung jalan, Rafael melihat sebuah warung kecil yang sudah tutup. Ada teras kecil di depannya yang bisa memberikan sedikit perlindungan dari hujan. Ia berjalan mendekat, mengecek apakah ada yang melihatnya. Setelah yakin tidak ada orang di sekitar, Rafael duduk di teras warung itu, bersandar pada dinding yang dingin. Ia memeluk tubuhnya sendiri, berusaha menghangatkan diri. Angin malam terasa menusuk tulang, dan bau tanah basah bercampur dengan aroma sampah dari tempat pembuangan di dekat warung membuat perutnya mual. Tapi Rafael tidak punya pilihan lain. "Kalian yang memberi bara," bisiknya pada dirinya sendiri. "Dan aku akan menyalakannya." Ia mencoba memejamkan mata, berusaha tidur meski tubuhnya masih gemetar. Dalam kegelapan, wajah-wajah Jody dan Nadine terus berputar di benaknya. Mereka pasti sedang tertawa puas melihat kehancurannya. Namun, ketika Rafael hampir tertidur, ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat. Suara sepatu yang menginjak genangan air terdengar semakin jelas. Rafael membuka mata dan mulai waspada. "Siapa yang masih berkeliaran di jam seperti ini?" pikirnya. Ia mencoba mengintip dari sudut matanya tanpa menggerakkan kepala. Seorang pria berjas hujan hitam berjalan perlahan mendekat. Di belakangnya, Rafael bisa melihat siluet sebuah mobil sedan hitam yang parkir tidak jauh dari sana dengan mesin masih menyala. Rafael merasa tidak enak. Instingnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan kedatangan pria ini yang tiba-tiba. Ia bersiap untuk bangkit dan berlari jika perlu. Tapi sebelum Rafael bisa bereaksi, suara langkah kaki itu semakin dekat. Pria itu berhenti tepat di belakang Rafael. "Diam di tempat dan jangan bergerak," bisik suara itu pelan. Rafael terkejut. Jantungnya berdebar kencang. Siapa orang ini? Apa yang dia inginkan darinya? Sebelum Rafael bisa berpikir lebih jauh, sesuatu yang keras menghantam bagian belakang kepalanya dengan kuat. Rasa sakit yang luar biasa menjalari kepalanya sebelum akhirnya pandangannya menjadi gelap. Dari dalam mobil sedan hitam yang terparkir tak jauh dari tempatnya, seorang pria berjas rapi duduk di kursi belakang sambil mengamati kejadian di depannya. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan, hanya ujung cerutu yang menyala di antara bibirnya yang terlihat berpendar dalam kegelapan. "Bagus," gumamnya saat melihat Rafael terkulai lemas. "Sudah selesai, Tuan," lapor pria berjas hujan hitam melalui earpiece. "Bagus! Seret dia!" "Laksanakan, Tuan," jawab pria itu lagi. "Bawa dia ke tempat yang sudah disiapkan. Pastikan dia tidak terluka parah. Kita masih membutuhkannya," balas suara dari dalam mobil dengan nada datar. Pria berjas hujan hitam itu mengangguk, lalu memberi isyarat pada rekannya untuk keluar dari mobil yang lain. Keduanya mengangkat dan menyeret tubuh Rafael yang tidak sadarkan diri dengan hati-hati. "Masukkan dia!" perintah suara dari dalam mobil. Keduanya lantas memasukkan Rafael ke dalam bagasi mobil sedan hitam yang telah terbuka. Setelah memastikan tidak ada saksi di sekitar, mobil itu perlahan meninggalkan lokasi, menghilang dalam kegelapan malam yang masih diwarnai hujan. Di dalam mobil, pria berjas rapi itu menghisap cerutunya dalam-dalam sambil menatap keluar jendela. Senyum tipis tersungging di bibirnya. "Tuan Muda yang terbuang," gumamnya pelan. "Kasihan ...." -- Guyuran air dingin membuat tubuh Rafael tersentak dari gelapnya ketidaksadaran. Tubuhnya menggigil hebat, pakaiannya masih basah, dan kepalanya berdenyut hebat akibat pukulan sebelumnya. Ia terbatuk keras, menggeliat perlahan di lantai dingin yang terasa keras seperti beton. Perlahan-lahan matanya membuka, kabur, berair, dan buram. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan kemeja putih yang rapi, lengan bajunya digulung hingga siku dan kedua tangannya dimasukkan santai ke dalam saku celana. Sosok itu tampak tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru m e n c u l i k seseorang. "Bangun juga akhirnya," ucap pria itu dingin, suaranya pelan namun menusuk. Rafael mencoba mengangkat tubuhnya, tetapi kedua tangannya terikat ke belakang, membuatnya hanya bisa duduk terhuyung. Ia menyipitkan mata, mencoba mengenali wajah di hadapannya. Ruangan itu tampak seperti gudang kosong dengan lampu gantung kuning temaram di atas mereka, serta bau lembap menusuk hidungnya. "Siapa … kamu?" Rafael bertanya, suaranya serak dan parau, lebih mirip bisikan daripada pertanyaan. Pria itu tidak menjawab. Ia malah berjalan mendekat, wajahnya perlahan masuk ke dalam cahaya lampu. Namun, Rafael belum sempat mengenali wajah itu sepenuhnya ketika tiba-tiba saja sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanannya. Rafael tersentak, kepalanya terpelintir ke samping, rasa panas dan nyeri menjalar di wajahnya. "Selemah ini dan berharap jadi tuan muda?" ejek pria itu dengan suara tajam. "Tidak pantas!" Rafael mengerang pelan, menahan rasa sakit. Tapi tamparan itu justru membuat pikirannya mulai jernih. Amarah dalam dirinya yang sempat tenggelam karena ketakutan kini mulai membara lagi. "B a j i n g a n! Katakan siapa kamu?Kenapa kamu bawa aku ke sini?" Rafael bertanya, menatap dengan mata tajam meski tubuhnya tak berdaya. "Apa yang kamu mau dariku?" Pria itu berjongkok di depan Rafael, menatap lurus ke matanya. "Aku? Aku tidak menginginkan apa pun darimu, Rafael Anggara. Tapi seseorang yang sangat penting ingin memastikan bahwa kamu ... tidak akan kembali," jawabnya dengan senyum sinis. "Siapa? Jody? Nadine?" desak Rafael. Namun, pria itu hanya menggeleng pelan. "Sudah kubilang, aku tidak di sini untuk menjelaskan. Tugasku hanya memastikan kamu tetap … hilang dari peta." Ia berdiri kembali, lalu berjalan menjauh dan berbicara melalui earpiece kecil di telinganya, "Dia sudah bangun. Mau langsung sekarang atau tunggu sinyal dari Bos?" Hening sejenak. Rafael hanya bisa mendengar suara napasnya sendiri yang memburu, bercampur degup jantung yang kian cepat. Rasa takut dan penasaran saling berlomba di dadanya. Kemudian pria itu kembali menatap Rafael dan tersenyum kecil. "Tenang saja. Kau tidak akan m a t i. Tapi mulai sekarang, hidupmu bukan milikmu lagi." Rafael mengepalkan tangan, meskipun terikat. Dalam hati ia bersumpah, sekuat apa pun jebakan yang disiapkan untuknya, ia akan keluar. Ia akan kembali. Jody, Nadine, dan siapa pun yang ada di balik ini, akan membayar semuanya. "Cih ...!" Rafael membuang ludah ke arah pria itu. "Aku tidak akan m a t i semudah itu!" Pria itu tertawa kecil. "Lihat saja, Tuan Muda. Lihat saja ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD