Bab 16. Secuil Kenangan

1644 Words
ELANG  Kembali kutarik nafas dalam, lalu kuhembuskan dengan keras. Entah sudah berapa kali aku melakukannya. Bayangan kejadian tadi pagi, sangat menggangguku. Aku terlambat. Orang lain datang terlebih dahulu menghampiri wanita itu. Dia benar-benar Sean. Seanku—dulu. Kugelengkan kepala, mencoba mengusir wajah dengan senyum lebar itu. Aku benci. Benar-benar benci dengan diriku sendiri. Aku yang sudah menciptakan jurang di antara kami, namun setelah sekian lama waktu terlewat, justru aku sendiri yang tidak bisa melanjutkan langkah. Berlembar-lembar dokumen yang ada di depanku—tidak bisa mengusir wajah cantik itu. Senyum manis itu. Kubanting dengan kasar tumpukan file yang seharusnya aku pelajari, sebelum kutorehkan tanda tangan. Kehembus kasar nafasku. Aku beranjak. Memilih membawa langkahku menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan jalanan kota Semarang. Kuhembuskan nafas panjang, sembari menatap ke bawah. Melihat riuhnya kendaraan bermotor, yang sedang berusaha menakhlukkan jalanan. Berdesakan, saling mendahului seakan hidup mereka akan berakhir, jika sampai terlambat tiba di tujuan. Kumasukkan kedua tangan ke dalam saku celana. Pemandangan sepasang anak muda dengan seragam putih abu yang sedang berboncengan—menarik perhatianku. Mereka pasti terlambat tiba di sekolah—batinku. Tanpa sadar, kedua sudut bibirku tertarik ke atas. Pertemuan pertama ku dengan Sean—terlintas begitu saja. Siapa yang mengira, aku akan jatuh hati pada gadis itu. Bahkan rela memohon pada orang tua ku, untuk pindah sekolah. Hanya agar bisa berada di gedung yang sama dengan Asean ku. Aku masih mengingat bagaimana terkejuatnya Sean, ketika mendapatiku sebagai murid baru di sekolahnya. *** Belum pernah aku merasa lebih bersemangat dari hari ini. Memakai seragam batik sekolah sebelah. Setelah merayu kedua orang tuaku—dengan janji akan mendapatkan nilai tertinggi, serta bersedia mengambil jurusan bisnis seperti yang papa kehendaki. Melupakan keinginan untuk masuk ke teknik sipil. Kulangkahkan kaki ku memasuki gerbang sekolah yang selama ini aku sambangi hanya di saat jam istirahat. Kuhela langkah kakiku menuju kelas IIB—tempat Sean berada. Bibirku menyungging senyum—membayangkan apa yang akan terjadi setelah Sean melihatku—nanti. Tak kuhiraukan berpasang-pasang mata yang menatapku heran. Mungkin, karena seragam yang kini kukenakan—sama seperti seragam yang membalut tubuh mereka. Tiba di depan ruang kelas IIB, kuhirup oksigen banyak-banyak, lalu perlahan kukeluarkan melalu sela mulut. Jantungku berdebar semakin cepat. Rasanya terlalu senang membayangkan wajah kekasihku ketika nanti melihatku ada di depannya—dengan seragam yang sama. Kutarik nafas panjang sekali lagi, lalu kuhela langkah memasuki ambang pintu kelas yang terbuka lebar. Suara riuh para siswa yang sebelumnya terdengar sedang bercanda—perlahan surut. Kuliarkan tatapan mataku. Berpasang-pasang mata itu menatapku—bingung. Kutarik kedua sudut bibirku semakin lebar, kemudian kembali kusapu ruangan tersebut untuk mencari keberadaan kekasihku. Dia ada di sana. Di deret ke dua, meja ke tiga. Dia duduk bersama sahabatnya—Ruri. Si mulut combreng yang tidak mau repot berpikir sebelum berucap. Sean beranjak dari tempat duduknya. Menatapku dengan sepasang mata cantik yang kali ini membulat sempurna. Kubalas tatapan terkejut gadis itu dengan senyum. Kembali kulanjutkan langkah kakiku. Kali ini menuju meja tempat Sean berada. Tatapan kami tertaut. Tak terlepas sedetik pun, bahkan hingga aku bisa benar-benar berdiri di depannya. “Hai ….“ Sepasang mata Sean mengerjap. Mulutnya terbuka. Masih terlihat begitu terkejut, mendapati aku ada di hadapannya—persis seperti dugaanku. “Tidak mau menyapa murid baru???” tanyaku dengan senyum lebar. Sean melotot. Benar-benar melotot, sebelum kemudian sepasang bibir itu terkatup sesaat, lalu kembali terbuka. “Murid baru???” tanyanya kaget. Kuanggukkan kepalaku. Mulut Sean kembali terbuka, lalu sepasang mata itu mengerjap. Sepertinya, Sean masih tidak mempercayai keberadaanku di sini sebagai murid baru. “Astaga … apa cinta memang seperti ini?? Ah … kapan dong gue punya pacar yang rela pindah biar bisa satu sekolahan sama gue???” Suara merajuk Ruri, membuatku menoleh. Sahabat kekasihku itu mengerling genit ke arahku. “Begitu, kan??” tanyanya dengan wajah jahil. Kelas yang hening selama beberapa saat, langsung berubah riuh, dengan segala macam cuitan teman-teman sekelas Sean, yang menggoda kami berdua. Bukan bulian yang membuatku marah. Sebaliknya, apa yang mereka katakan justru membuatku tertawa. Apa pun yang mereka katakan … itu memang benar. Aku melakukan semua memang demi Sean. Senyumku bertambah lebar, kala aku melihat sepasang pipi Sean memerah. *** Aku menoleh, ketika mendengar suara ketukan yang cukup keras. “Sedang melamun?? Sampai tidak mendengar aku mengetuk pintu berkali-kali.” Kuputar tubuh, hingga bisa menghadap ke arah Maya yang sedang menghela kaki ke arahku. “Ada apa?” Maya menghela nafas. “Aku baru dari sekolah Lowry.” Aku memicing saat mendengar Maya menyebut putri kami. Kukedikkan kepala, lalu melangkah menuju sofa yang ada di ruanganku. Maya mengikutiku. Kami duduk berdekatan. Aku di sofa single, dan Maya di sofa panjang—sisi terdekat dengan sofa yang aku tempati. “Ada masalah??” tanyaku, melihat wajah tak biasa istriku. Maya menghela nafas. “Belakangan ini, kata Sani—Lowry selalu minta mandi sendiri. Tidak mau dimandiin,” ujar Maya mulai bercerita. Keningku mengernyit. Aku tahu, selama ini putri kami masih harus dibantu dalam semua hal. Bahkan makan-pun, masih sering kali disuapi. Dia memang sudah berusia delapan tahun. Tapi … dia berbeda. “Lalu??” tanyaku semakin penasaran. “Makanya aku ke sekolah. Ketemu sama bunda Reta—wali kelas Lowry.” Kuanggukkan kepala. Aku mengenal wanita muda yang anak-anak panggil dengan bunda Reta tersebut. Aku sempat beberapa kali bertemu, ketika menjemput putriku. “Katanya, beberapa waktu lalu ada rombongan dokter yang datang ke sekolah, lalu mengajarkan anak-anak cara mencuci tangan, dan mandi yang bersih.” Aku semakin penasaran dengan cerita Maya. “Okey … trus??” tanyaku tidak sabar. “Mungkin karena itu Lowry jadi ingin mandi sendiri.” “Oh … bukankah itu bagus??” tanyaku dengan alis yang pasti sudah berkerut-kerut. Putriku bukan anak yang mudah mendengar orang lain. Dan ini hal yang bagus, ketika dia bisa menerima informasi positif dari orang lain, lalu mencoba menjalaninya. Maya mengangguk setuju. “Beberapa hari ini, dia juga selalu menyebut kakak dokter. Mungkin dokter itu yang datang ke sekolahnya waktu itu,” lanjut Maya bercerita. Aku masih mendengarkan. “Aku minta Vania untuk coba menghubungi dokter itu. Kalau memang dia bisa—mungkin datang ke sekolah sepekan atau dua pekan sekali.” Vania adalah sahabat Maya yang menjadi kepala sekolah tempat Lowry belajar. Sebenarnya, sudah ada seorang dokter yang bertugas di klinik sekolah. Tapi, menurutku juga tidak masalah jika ada kunjungan dokter-dokter lain, untuk memberikan informasi-informasi sederhana pada anak-anak luar biasa di sekolah itu. Ya … putri kecilku Lowry—memang tumbuh tidak senormal anak-anak seusianya. Usianya mungkin saat ini sudah delapan tahun, tapi cara berpikir serta tingkahnya tidak lebih dari anak usia lima tahun. Itu sebabnya, Lowry tidak bersekolah di sekolah umum biasa. Dia membutuhkan lingkungan berbeda yang tidak akan membuat mentalnya jatuh—karena perbedaan yang ada. Di sekolahnya sekarang, Lowry bertemu dengan teman-teman yang memiliki nasib serupa dengannya. Guru-guru yang mengajar pun, bukan guru biasa. Mereka adalah orang-orang terdidik, dan terlatih dengan tingkat kesabaran di atas rata-rata. “Bagaimana menurutmu??” Aku sedikit kaget, ketika mendengar suara Maya bertanya padaku. “Oh … bagus. Aku setuju.” Maya mengangguk dengan senyum lebar. “Syukurlah. Aku berharap Lowry bisa tumbuh seperti anak-anak lain.” “Jangan memaksa. Dia jelas berbeda,” sahutku cepat. Aku tahu, ada penyesalan di hati Maya—saat mengetahui putrinya berbeda. Dia bahkan sempat histeris, dan tidak bersedia mengurus anak itu. Sungguh malang nasib Lowry kecil ketika itu. Maya berdecak. “Kenapa dia harus terlahir tidak normal,” keluhnya, yang membuatku menatap tajam ke arahnya. Aku tidak suka setiap kali dia mengeluhkan kondisi Lowry yang berbeda dengan anak normal lainnya. Anak itu tidak meminta dilahirkan. Anak itu juga tidak berharap terlahir berbeda. Tidak ada yang salah dengan kondiri Lowry yang berbeda. Semua sudah ada yang mengatur. Mungkin Tuhan memang sengaja memberikan Lowry untuk menguji kesabaran kami. Aku tidak ingin berpikir dia adalah karma yang harus orang tuanya tanggung—setelah kesalahan yang dilakukan. “Berapa kali harus aku ingatkan untuk tidak mengeluh tentang kondisi Lowry!” Aku berucap tajam. Kulihat Maya membuang muka. Selalu saja seperti ini. “Dia putrimu. Seperti apapun kondisinya. Bukan dia yang minta untuk dilahirkan,” tambahku dengan rasa kesal yang sudah menggunung. “Kamu yang minta dia dilahirkan!” Maya berucap keras. Wajah wanita itu sudah memerah, dengan sepasang mata yang membalas tajam tepat ke manik mataku. “Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari dosa yang akan kamu sesali seumur hidup,” ujarku. Kutatap datar wajah marah Maya. Kugelengkan kepala. Entah apa yang Maya pikirkan hingga sempat ingin menggugurkan kandungannya waktu itu. Setelah hamil di luar nikah, lalu ingin membunuh bayinya sendiri—ibu macam apa itu? Maya menatapku tajam. “Kamu tahu aku melakukannya karena kamu, Lang. kamu!” Aku mendesah. “Dan kamu juga tahu apa yang sudah kukorbankan sampai sejauh ini. Semua yang kulakukan juga demi kamu. Kalau saja kamu lupa,” sahutku tidak terima dia menyalahkanku atas apa yang sudah terjadi. Aku tidak bisa memaksakan perasaanku. “Ya, aku tahu. Tapi kamu … masih belum berubah.” Kugelengkan kepala. Kutarik panjang nafasku, untuk kuhembuskan perlahan. Berharap emosi yang mulai mengulung-gulung di dalam sana, bisa kembali tenang. Aku tahu kami hanya akan berakhir bertengkar, jika aku tidak mengalah, dan menyudahi obrolan kami ini. Kuangkat lengan kiriku. “Sebentar lagi aku ada meeting. Aku setuju dengan ide kamu meminta dokter itu mengunjungi sekolah sekali-sekali. Aku berharap kehadirannya bisa memberi dampak positif untuk anak-anak.” Aku beranjak. Bisa kudengar dengusan Maya. Tapi tidak kuhiraukan. Kuhela langkah kaki menuju meja kayu tak jauh dari satu set sofa yang baru saja kutinggalkan. “Aku pulang dulu.” Kuputar kepalaku. Kuberikan senyum kecil pada istriku yang sedang cemberut. Kuperhatikan tubuh itu menjauh, lalu hilang tertelan daun pintu. Kuhembuskan nafas keras. Kutarik kursi, lalu kujatuhkan tubuhku dengan kasar. Kuusap wajahku, berharap penat di kepala segera pergi. Lebih dari sembilan tahun aku hidup seperti ini. Dan masih banyak hari-hari lagi yang harus kujalani. Entah akan seperti apa nantinya. Tapi, semua kulakukan demi Lowry.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD