Bab 15. Sang Penyelamat

1575 Words
SEAN- “Lo ngapain di sini, kayak gembel lontang lantung!!” Aku seketika mendelik. Senyum lebar yang sedari beberapa detik kusungging untuk menyambut kedatangan orang yang aku anggap pahlawanku kali ini—sudah lenyap seketika. Yang ada, kuayunkan tas ku untuk memukul tubuh salah satu sahabatku ini. “Ponsel lo.” Kuulurkan tangan kanan ke depan—dengan telapak tangan di atas. Pipin menatapku kebingunan. “Ponsel lo, Pin … mana???” ulangku sekali lagi. “Ngapain minta ponsel gue?? Lo kehabisan duit?? Mau jual hape gue??” Pipin sudah melotot ke arahku. Aku berdecak kesal. “Ya … mau gue jual, buat beli hape second, sama dompet baru,” kesalku, sembari membalas pelototan sahabatku. Kening piping mengernyit. Sebelah tangannya merogoh saku celana bagian kanan. “Lo lagi bercanda kan, Sean??? Ngapain lo mau beli hape second??” tanya Pipin, dengan wajah penasaran. Aku mencebik ke arahnya. “Udah … siniin dulu hape lo. Gue mesti cepet-cepet telepon bank. Kalau enggak, hape elo beneren bakal gue jual.” Dengan wajah tertekuk, tangan kanan Pipin terulur. Sempat ragu, sebelum akhirnya meletakkan ponsel keluaran terbaru dari samsung—ke atas telapak tanganku yang masih berbuka. Dengan cepat kucari nomor telepon bank untuk mengadukan masalah ATM ku yang hilang. kubiarkan Pipin berdiri, dengan kening yang sudah berlipat-lipat, persis seperti buah apel yang sudah terlalu lama berada di dalam kulkas. Setelah telepon tersambung, aku berjalan ke tepi terjauh jalan raya. Suara bising kendaraan bermotor, mengganggu komunikasiku dengan pihak bank. Kujawab beberapa pertanyaan dari petugas bank, sebelum akhirnya aku mendapatkan konfirmasi jika ATM ku sudah diblokir. Kuucapkan terima kasih, sebelum kuakhiri panggilan. Lega … satu masalah terselesaikan. “Apa yang terjadi??” Aku nyaris melonjak kaget, ketika mendengar suara yang begitu dekat di telingaku. Baru saja kuturunkan ponsel dari telinga, setelah menyelesaikan percakapan dengan pihak bank. “Astaga!! Lo hobi banget bikin orang kaget!” Kuusap dadaku, ketika aku merasakan detak di dalam sana meningkat. Pipin menatapku dengan sorot khawatir. Kuhembuskan nafasku. “Gue kecopetan, tadi di bus,” jawabku jujur. Kulihat bola mata Pipin membesar, dengan mulut setengah menganga. Sebelum dua detik setelahnya, pria satu ini justru tertawa terpingkal. Aku takjub melihat sahabatku. Bukannya prihatin saat mendengar temannya kecopetan, dia justru tertawa keras. Wow!!! Kalau saja aku bisa meraih ujung atas kepalanya—tanpa kesusahan, sudah langsung kugetok kepalanya. Bisa saja otaknya sedang sedikit bergeser, hingga dia tertawa di atas penderitaan sahabatnya sendiri. Kugelengkan kepala, dengan mulut terbuka. Sementara sahabatku, masih belum bisa menghentikan tawanya. Dia bahkan sampai memegangi perutnya. Aku berdecak. “Lo kayaknya suka banget mendengar penderitaan gue.” Lagi, kugelengkan kepala, sembari memperhatikan wajah Pipin yang masih memerah, meski tawa pria itu sudah mereda. “Sorry … sorry … gue beneran geli.” Aku langsung mendelik. “Gue kecopetan. Lo kira lagi ngelawak??!!” kesalku. Bisa-bisanya dia geli, saat mendengar aku kecopetan. Hellowww … ini aku sedang kena musibah loh. Dompet beserta isinya, plus ponsel—raib dalam sekejap. Oh Tuhan … aku miskin saat ini. Bahkan untuk naik angkot menuju rumah sakit saja, aku tidak lagi punya uang! “Astaga … gue harus cepetan ke rumah sakit.” Kuangkat lengan kiri. “Gue bisa telat nih, Pin.” Sekarang aku mulai panik. “Ini … ponsel lo gue balikin. Gue nggak sampai hati buat jual.” Kutarik sebelah telapak tangan Pipin, lalu kuletakkan ponsel ke atasnya. “Tapi gue pinjam uang lo ya, Pin. Gue miskin nih,” tambahku, sembari menatap sahabat ku dengan wajah memelas. Kupelototkan mata, saat melihat bibir sahabatku itu akan bergerak membuat seringai. “Cepetan!! kerjaan gue berhubungan dengan nyawa orang, kampret!!” kesal, aku sampai tidak bisa mengerem mulutku untuk berkata kasar. Tidak! Pipin sama sekali tidak tersinggung. Persahabatan kami memang seperti itu—dari dulu. Tidak ada yang akan tersinggung dengan apa pun yang terlontar dari mulut kami masing-masing, karena kami tahu—kami saling menyayangi. Persahabat kami sudah cukup teruji. Pipin tidak menyahutiku. Cowok itu justru langsung meraih pergelangan sebelah tanganku—lalu menarikku. Membawaku mendekati mobil yang terparkir di pinggir jalan. Aku sedikit mendongak—menatap sahabatku. Seperti sadar sedang kutatap—Pipin menoleh. “Gue antar … sampai depan ruang kerja elo kalau perlu … Dokter Asean Sofi,” ujarnya, lalu dengan cepat membawaku ke bagian kiri mobil. Membuka pintu untukku. Aku mengerjap beberapa kali, sebelum kemudian membawa sebelah kakiku menjejak lantai mobil. Pipin menutup pintu pelan, setelah aku benar-benar duduk di kursi samping pengemudi. Kuamati sahabatku yang setengah berlari memutari kepala mobil, lalu membuka pintu pengemudi. “Nggak apa-apa elo telat???” tanyaku sungkan. Aku tahu Pipin itu pengusaha. Bukankah seorang pengusaha punya motto bahwa waktu adalah uang?? Pipin menoleh ke arahku, setelah duduk dan menutup pintu. Sebelah tangan pria itu menarik tali sabuk pengaman. “Gue ini bos. Gue yang atur jam kerja gue sendiri.” Aku mencebik. “Sombong!!” Bukan tersinggung, dia malah tergelak. Pipin segera menghidupkan mesin mobil, dan tak lama, kami sudah melaju di jalan--bergabung dengan banyak pengguna jalan lainnya. Jalanan kota semarang—di pagi hari, cukup padat. Kami berbincang ringan, sembari mengisi waktu. Perbincangan kami tentu saja tidak jauh dari sahabat-sahabat kami sendiri. “Minggu … maen ke pemancingan. Gue kasih diskon,” ujar Pipin sembari melirikku. “Ogah kalau cuma diskon. Lo kan tahu gue lagi miskin. Sama teman jangan tanggung-tanggung. Gratisi gitu loh,” sahutku. Kulihat kepala temanku manggut-manggut. “Kalian makannya masih banyak, nggak?” Pertanyaan yang keluar dari mulut Pipin, membuat sebelah tanganku refleks mengayun. Menyambangi lengannya yang lumayan berotot. Hanya sedikit berotot. Tidak seperti si robot. “Dulu lo nggak perhitungan kayak gini deh, seingat gue,” keluhku. Ya … Pipin ini salah satu teman yang sering aku, Dian, dan Ruri—palak di jam istrirahat. Setiap kali dia akan pergi ke kantin, kami akan memesan beberapa macam camilan. Tentu saja hanya memesan—tanpa memberikan seperser pun uang. Waktu itu, sabahat kami ini akan selalu kembali dari kantin dengan pesanan kami—tanpa meminta ganti uang. “Dulu, gue uang tinggal menengadahkan tangan. Nih … gini … ke orang tua gue.” Pipin mempraktekkan. Tangan kiri pria itu terangkat, dengan posisi telapak tangan berada di atas. Posisi meminta. “Jadi gue nggak mikir,” tambahnya, sembari kembali menurunkan tangan. “Kalau sekarang, gue harus mikir untung rugi, kalau ngasih kalian yang makannya banyak itu—semua gratis!” Aku tahu sebenarnya dia hanya bercanda. Aku … ah, bukan hanya aku. Kami semua tahu seperti apa sifat teman kami ini. Sekalipun aku mengiyakan tawaran diskon yang dia katakan di awal, aku yakin—saat nanti kami benar-benar datang ke tempat pemancingannya, dia tidak akan memungut bayaran dari kami. Tapi, mengerjai dia itu selalu saja menyenangan. Tak terasa, perjalanan kami akhirnya sampai ke tempat tujuan. Rumah sakit tempatku bekerja. Aku buru-buru melepaskan sabuk pengaman. “Sean ….“ Aku menoleh saat Pipin memanggilku. Mengernyit, ketika melihat salah satu sahabatku ini sedang merogoh kantong celananya. “Ini …. “ Pipin mengulurkan satu lebar uang kertas warna merah—setelah mengeluarkan dompet dari saku kanan celana yang ia kenakan. Aku tersenyum lebar. Nyaris saja aku lupa, kalau hari ini aku benar-benar miskin. Tidak punya uang sepeser pun. Yah … meskipun kalau sudah tiba di rumah sakit, banyak teman yang nantinya bisa kupinjami uang. Tapi, mendapati kepedulian sahabatku—tentu saja membuatku senang. “Ini ….“ Pipin menarik sebelah tanganku, lalu memaksaku menerima uang seratus ribu rupiah tersebut. “Buat lo makan siang. Gue nggak mau lo pingsan, karena nggak bisa beli makan siang.” Tetep saja mulutnya pedas, melebihi mie level paling pedas sekalipun. Namun, lagi-lagi aku tahu—itu hanya di luar saja. Karena sebenarnya, ia melakukannya karena menyayangiku. “Nanti, kalau mau pulang … telepon saja. Gue jemput.” Aku tertawa, mencipta kernyitan pada kening Pipin. “Kayak lo pacar gue aja.” Kuangkat sepasang alisku—tinggi. “Ini sudah cukup, bahkan sisa buat makan siang, sama ngangkot sampai ke rumah,” tambahku, sambil kuangkat satu lembar uang yang ada di tanganku. “Thank you, Pak Bos. Gue turun dulu. Pasien gue sudah menunggu,” ujarku sembari membuka pintu, lalu turun. Masih bisa kudengar gelak tawa sahabatku. Kulambaikan tangan sekilas, sebelum berlari masuk ke dalam rumah sakit. Sedikit lagi aku pasti terlambat. *** Aku selalu suka dengan kesibukan yang terlihat di rumah sakit. Dulu, aku tidak suka rumah sakit. Karena setiap kali masuk ke dalam rumah sakit, yang tercium pertama kali adalah bau obat-obatan. Aku benci minum obat. Adikku bahkan sering mengejek setiap kali aku sakit, dan harus mengkonsumsi obat. Untuk bisa memasukkan satu tablet, atau kapsul—aku harus menggunakan pisang. Mengunyaknya dulu hingga halus, lalu meletakkan butir obat tersebut ke atasnya. Baru setelah itu, menelannya dengan bantuan air putih. Yang lebih menyebalkan adalah saat harus menelan obat dalam bentuk cairan, atau serbuk. Aku benar-benar tersiksa. Namun, kini aku justru menyukai rumah sakit. Karena di tempat inilah … ada harapan para pasien untuk sembuh dari penyakitnya. “Baru sampai, Dok??” Aku menoleh sembari tersenyum. Kuanggukkan kepala. “Hehehe … iya, Dok. Kena musibah tadi di jalan.” Dokter Riva mengernyit. “Musibah apa??” tanyanya dengan sepasang alis yang sudah berkerut. Aku kembali menoleh ketika mendengar suara suster Ari memanggilku. “Maaf Dok, saya tinggal dulu. Saya cerita besok kalau Dokter sudah ada waktu makan siang bareng saya.” Sekali lagi aku tersenyum. Aku langsung melanjutkan langkah begitu melihat anggukan kepala Dokter Riva. Ya … aku masih punya hutang makan siang dengan dokter Riva. Aku tidak melupakan kebaikan pria itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD