SEAN-
Lamunanku buyar, saat bus yang kutunggu selama beberapa menit—akhirnya muncul. Aku segera naik, lalu mengedarkan mata—mencari tempat duduk. Kuhela nafas panjang, ketika kenangan masa lalu itu kembali menguasai benakku. Reuni itu memicu semua memori kembali. Pertemuan dengan Elang, dan juga Istrinya—mengganggu pikiranku.
Aku paling suka duduk di dekat jendela saat menaiki bus—seperti saat ini. Pertama, karena tidak perlu berdesakan dengan mereka yang terpaksa berdiri, dan berpegangan di sandaran kursi yang kita tempati. Serta kadang harus membuat kita rela mencium bau tidak sedap dari bagian tubuh mereka yang berkeringat.
Trus, yang kedua, kalau duduk di dekat jendela, kita bisa melihat jalanan, kadang bisa melihat cowok cakep yang sedang mengendarai motor, atau mobil--saat lampu merah menyala. Lumayan kan, bisa buat tambahan vitamin mata sebelum kita berkutat dengan aktivitas yang mungkin akan terasa menjemukan. Apalagi kalau keberuntungan sedang bersama kita. Tuh cowok yang mungkin merasa ada yang sedang memperhatikan--menoleh, trus kita sempat tatap-tatapan gitu. Ih … rasanya deg-deg ser. Belum lagi, kalau diberi bonus senyum. Ah … hari kita akan terasa begitu menyenangkan, karena kita mendapat tambahan semangat. Mood kita membaik, semua akan berjalan dengan baik.
Trus yang ketiga, harus kuakui aku sering memilih tempat duduk di dekat jendela karena pada saat bus penuh, lalu ada manula, atau ibu hamil, atau ibu dengan balita naik, lalu berdiri di dekat tempat duduk yang kita tempati, otomatis--mereka yang duduk di samping jalan masuk yang akan berdiri, merelakan tempat duduk mereka untuk yang lebih membutuhkan. Jahat?? mungkin, tapi kadang saat tubuh benar-benar lelah dan butuh tempat duduk, rasanya berat sekali kalau harus merelakan tempat yang menampung tubuh kita untuk orang lain.
Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan--sekalipun kita sudah duduk di dekat jendela, kita tetap harus mengalah untuk berdiri, ketika teman satu bangku kita, alias yang duduk di dekat jalan masuk dengan songongnya tidak mau berdiri. Sedang kita tetap tidak tega.
Seperti saat ini, aku tetap harus merelakan tempat duduk favoritku di sebelah jendela, saat anak SMA yang duduk di sebelahku pura-pura tidur. Cowok lho ini padahal. Bisa-bisanya dia pura-pura tidur, sementara sebelumnya sibuk dengan ponsel. Aku mendengkus, mengawasi kedua mata tertutup itu--karena sekarang aku yang berdiri di samping anak laki-laki itu. Heran anak jaman now … rasa empati dari kebanyakan mereka ikut tergerus arus millenial.
“Duduk sini, Mbak.” Aku menoleh, saat merasakan tepukan ringan di bahuku. Kedua mataku terbuka, dengan mulut setengah terbuka. Alamak … cakep pisan ini cowok yak. Dia pake senyum lagi.
“Silahkan.” Dia menggeser tubuh, memberiku jalan untuk menempati kursi yang sebelumnya ia duduki. Aku mengangguk, sembari tersenyum.
“Terima kasih, Mas.”
Aku berjalan menyamping karena kondisi bus memang penuh. Ya Tuhan, sepertinya hariku setelah ini akan menyenangkan. Otakku berpikir cepat. Haruskah aku mengajaknya kenalan terlebih dahulu? Atau tunggu dia yang memulai? Aku mendongak untuk menatapnya yang masih menunjukkan senyum. Kubalas senyumnya dengan sedikit malu-malu. Tidak ada percakapan, hanya senyum yang selalu membingkai wajah tampannya setiap kali aku meliriknya.
Tiga puluh menit perjalanan, aku sudah harus bersiap turun. Aku beranjak, kembali tersenyum saat bertatap mata dengan cowok ganteng baik hati itu.
“Terima kasih. Silahkan di tempati kembali, saya sudah harus turun,” pamitku yang mendapat anggukan kepala darinya.
Susah payah aku melipir menuju pintu keluar. Hari ini bus benar-benar penuh sesak. Karena si matik yang tiba-tiba kempes ban depannya, aku terpaksa harus berangkat lebih pagi, dan rela berdesak-desakan bersama mereka yang semuanya ingin mengais rezeki. Sama sepertiku.
“Depan … kiri, Pak,” pintaku, pada sang kernet yang dengan santainya bersandar di pintu tanpa takut jatuh, padahal kedua tangan pria itu sedang sibuk menghitung berlembar-lembar uang receh, hingga tidak bisa berpegangan.
Kalau aku yang diposisinya, mungkin sudah terlempar keluar bus dari tadi. Kugelengkan kepala takjub, dengan kemampuan menjaga keseimbangan pria gondrong yang sekarang sudah meneriakkan kata ‘Depan kiri!!’ sembari mengetukkan uang logam receh ke pintu sehingga menimbulkan bunyi nyaring. Sang pengemudi bus dengan tanggap langsung mengurangi kecepatan, lalu menepi, hingga aku bisa turun dari bus.
Setelah ini, aku masih harus berganti bus untuk bisa mencapai rumah sakit tempat aku bekerja. Dengan sedikit tergesa, aku berjalan menyeberang, menuju jalur tempat bis selanjutnya lewat. Sembari melangkah, seperti biasa aku akan menyiapkan uang pas, supaya tidak perlu repot membuka tas, dan dompet ketika sudah berada di dalam bus. Suka ribet, apalagi kalau suasana ramai, penuh dengan manusia-manusia pengguna jasa angkutan umum sepertiku.
“Wassalam …” Aku tersentak kaget, saat mendapati resleting tasku sudah terbuka setengah.
Langkahku seketika langsung terhenti. Panik, segera kubuka sepenuhnya tasku, tanganku mengacak isi yang tidak seberapa itu. Rasanya, aku pengin nangis saat ini juga. Dompet orenku yang segede dompet yang ibu bawa ke pasar saat berbelanja sayuran--raib. Bodoh banget nggak, sih. Itu bukan dompet kecil hadiah belanja cincin 3 gram, lho. Bagaimana bisa aku tidak menyadari saat seseorang meloloskan benda yang cukup besar itu dari dalam tas yang kuapit? Lututku serasa lemas seketika.
“Ponsel!” pekikku seperti orang gila--saat menyadari ponselku juga ada di dalam tas. Buru-buru kuacak kembali isi tasku. Mampus, kalau ponselku juga ikut raib. Tak ada ponsel, tak ada uang … bagaimana caraku sampai ke rumah sakit? cari tumpangan? Dan benar … ponsel pun ikut raib. Aku menggeram kesal. Bagaimana bisa hari yang kupikir akan kujalani dengan suka cita—setelah mendapatkan vitamin mata, malah harus kumulai dengan kesialan.
Ishhh!!! Aku menoleh ke kanan, dan kiri. Bingung harus melakukan apa. Ingin segera memblokir kartu ATM—tapi tidak ada ponsel. Astaga—bagaimana bisa nasibku sesial ini. Arghhh!!! Rasanya, aku sudah ingin menangis sekencang-kencangnya. Apa yang harus aku lakukan … Tuhan.
****
ERLANG DIRGANTARA
Hari ini aku berangkat lebih pagi. Putriku sudah berangkat bersama Mamanya. Kukendarai mobil dengan kecepatan sedang, sembari mendengarkan berita yang disampaikan penyiar radio lokal, seputar kondisi jalan di kotaku pagi ini.
Informasi itu penting, untuk memutuskan jalur mana yang akan aku ambil untuk menghindari titik-titik padat kendaraan. Ya … kota Semarang saat ini sudah jauh lebih maju. Banyak pabrik-pabrik yang bermunculan. Hal bagus, karena bisa meningkatkan pendapatan pemerintah kota, juga mengurangi pengangguran.
Namun, kemajuan itu juga berbanding lurus dengan kesibukan jalanan di pagi hari—saat orang berbondong-bondong pergi bekerja, dan sore hari—waktu para pekerja pulang kembali ke rumah masing-masing. Seperti pagi ini, aku harus mengambil jalur lain, saat mendengar berita terjadi kemacetan di ruas jalan yang biasa kulalui menuju kantor.
Dulu—aku sering melalui ruas jalan ini, saat mengantarkan kekasihku pulang—setelah berkencan. Kencan kami hanya sekedar jalan ke mall, kadang nonton, kadang benar-benar hanya jalan—lalu membeli es krim.
Dia bukan gadis yang suka memanfaatkan hubungan pacaran untuk mendapat keuntungan. Dia, bahkan terkadang membayar makanan kami. Tidak ingin kutolak, saat dia sudah berkeinginan membayar. Biasanya, dia akan bilang. “Kali ini aku yang bayar. Mumpung baru saja dapat saweran dari Bapak.” Lalu, kekasihku itu akan tertawa keras.
Sean, dia gadis yang menyenangkan. Selalu tertawa, dan bisa membuatku ikut tertawa. Setengah tahun mengenalnya, lalu satu tahun berpacaran dengannya. Satu setengah tahun terindah masa putih abu yang tidak akan pernah sanggup aku lupakan. Namun, harus kututup dengan kenangan buruk—yang ingin kuhapus dari memoriku. Seandainya saja bisa.
Aku mendengkus. Bagaimana caraku menghapus memori buruk itu, jika setiap hari aku melihat wajah Maya. Seseorang yang secara tidak langsung membuatku masuk ke dalam neraka saat itu. Ya … kehilangan Sean adalah neraka untukku.
Beruntung, aku masih bisa lulus dengan nilai yang tidak hancur. Cukup hubunganku dengan Sean yang hancur—tidak dengan masa depanku. Itu yang dulu kupikirkan. Namun, ternyata aku salah … karena ternyata hidupku tak lagi utuh. Sekalipun aku bahagia dengan keluargaku. Putri kecilku—namun, di dalam hatiku … aku sadar, bahwa bahagiaku tidak sempurna.
Kukurangi kecepatan, saat kulihat rambu lalu lintas di depan sana-berwarna merah. Kuedarkan mata, sembari menunggu lampu merah yang baru akan berubah hijau setelah 50 detik terlewat. Saat itulah aku seperti melihat sosok yang tidak asing, ada di ujung jalan. Berdiri—terlihat seperti orang bingung sembari mengaduk-aduk tasnya.
Mataku memicing—kutajamkan penglihatannya. Memastikan aku tidak salah mengenali sosok yang baru satu bulan lalu kulihat--setelah sekian lama. Benar … tidak salah!! Itu memang dia. Apa yang terjadi dengannya??? Tak sadar, kedua tanganku meremas kuat kemudi. Kulirik rambu lalu lintas yang masih belum berubah warna. Entah mengapa, aku merasa dia sedang dalam masalah.
Kembali kularikan pandangan ke ujung jalan. Dia masih kebingungan. Berjalan mondar-mandir. Sungguh, aku ingin segera berlari ke sana. Menanyakan apa yang terjadi apanya? Apa dia membutuhkan bantuan?
Kembali kuremas kemudi, sembari menghitung mundur hitungan ke sepuluh. Segera kularikan mobil, begitu lampu berubah hijau.
***
ASEAN
Aku masih menoleh ke kanan—beharap melihat seseorang yang kukenal, lewat. Sebenarnya, harapanku ini memiliki peluang kecil, mengingat aku sudah lama meninggalkan kota ini, dan baru kembali beberapa bulan lalu. Aku juga belum bertemu banyak teman—kecuali sahabat-sabahatku, serta beberapa teman satu angkatan ketika reuni satu bulan lalu. Meski begitu, aku berharap ada keajaiban.
Kalian tahu seperti apa rasanya setelah berlari marathon sepuluh kilo meter, lalu satu botol air mineral dingin terulur di depanmu??? Seperti itulah yang aku rasakan, saat mendengar seseorang memanggil namaku. Saat aku sudah merasa putus asa. Bahkan sudah memutuskan akan menggunakan ibu jari kananku—untuk meminta tumpangan pada siapa saja yang lewat, agar aku … paling tidak, bisa sampai di rumah sakit.
Aku tidak bisa menahan bibirku untuk melebar, ketika melihat seseorang yang kukenal turun dari mobil, lalu setengah berlari—dengan wajah khawatir, menghampiriku.