“Apa tidak akan kelihatan dari luar?” bisik Orin setelah mereka menyudahi. “Tidak. Kacanya sangat gelap.” Osman merapikan pakaiannya. Ia kembali duduk ke tempat semula. "Kamu akan langsung pergi ke kantor?" tanya Orin dengan tatapan lebar. "Ya. Aku akan mandi di kantor nanti. Kau turunlah!" ucap Osman sambil merapikan dasinya. "Ya, aku akan turun. Thanks. Kamu sudah kasih ganti untuk jadwal tadi malam." Orin memonyongkan bibir sebagai isyarat mencium Osman meski hanya udara yang dia cium. Mereka bertukar pandang. Duh, disaat bersitatap begini, Orin bahagia sekali. Matanya yang ditatap, tapi hatinya yang tersengat. Denyut ke jantung. Haduh. "Osman, I love you!" Orin mengecup singkat pipi Osman. Pria itu mengusap pucuk kepala istrinya. Orin memungut tisu kotor dan mengumpulka