Panggilan keberangkatan terdengar samar di udara Bandara Melbourne. Namun, Joceline Marie Hawthorne tidak langsung bergerak.
Ia duduk dengan koper kecil di samping kakinya, paspor tergeletak di atas tas jinjing, dan pandangannya kosong menembus dinding kaca yang memantulkan langit abu-abu.
Lima tahun. Ia mengulang angka itu di kepalanya, seperti mantra yang seharusnya membuat segalanya terasa jauh, tapi nyatanya tidak pernah benar-benar pergi.
Entah kenapa, di antara ribuan langkah kaki dan pengumuman penerbangan, satu hari itu kembali menyeretnya. Hari di mana semuanya berubah dan membawa Jocé menetap di Melbourne untuk waktu yang lama. Dan, tidak ingin kembali.
Hari itu, lima tahun yang lalu.
Di sudut halaman kampus, sedikit menjauh dari kerumunan mahasiswa bertoga hitam, Joceline berdiri berhadapan dengan Shenina. Adiknya. Dengan mata yang memerah dan napas yang tidak stabil.
“Shen,” ucap Joceline pelan, mencoba menahan kesabaran yang menipis, “dari mana kamu tahu kalau Nathan mau melamar aku?”
Shenina menatapnya seperti pertanyaan itu adalah lelucon paling bodoh yang pernah ia dengar. Ia benci Joceline yang selalu pura-pura tidak tahu, pura-pura polos untuk menarik perhatian setiap orang.
“Semua orang sudah tahu, Kak!” ia menjawab cepat. “Bahkan membicarakannya. Hanya kamu yang belum tahu.”
“Lantas?” Joceline menghela napas.
“Kak?!” pekik Shenina, suaranya naik satu oktaf. Wajahnya mulai kehilangan kendali.
“Kamu tahu aku sangat mencintai Nathaniel sejak SMA dan aku enggak bisa hidup tanpa dia. Aku enggak bisa melihat dia bersanding dengan kamu.”
“Tolong,” lanjut Shenina, suaranya melemah namun justru lebih berbahaya, “jangan egois kali ini demi aku, Kak.”
“Shenina?” Joceline lelah. “dengar—”
“Aku tidak apa jika Nathaniel memang menginginkan kamu,” ujar Joceline, mencoba bersikap tenang. “Tapi dia tidak mencintai kamu. Dia mencintai aku. Dan aku pun sebaliknya.”
“Kak, aku enggak peduli!” Shenina menggeleng keras. “Cinta bisa datang dengan berjalannya waktu. Nathaniel bisa mencintai aku kalau Kakak mau memberi kesempatan.”
“Shen?! Hentikan. Sampai kapan kamu akan terus bersikap seperti ini?” Joceline memandang Adik satu-satunya itu dengan lelah.
“Kak, tolong, jangan rebut Nathaniel dari aku.” Suara Shenina bergetar. “Aku mencintainya. Tolong… berikan Nathaniel buat aku.”
“Stop forcing your will!” Joceline benar-benar muak. “Nggak semua hal bisa kamu dapatkan, Shenina.”
“Ya, memang.” Shenina menyadari itu. Ia menatap Joceline sama muaknya. “Tapi untuk kali ini aja, Kak. Biarkan aku menang. Biarkan aku mendapatkan apa yang aku mau!”
Lalu Shenina menoleh ke belakang Joceline.
Gerakannya cepat, seperti seseorang yang sudah menghitung segalanya sejak awal.
“Kak,” bisiknya panik, “Nathaniel lagi jalan ke sini. Tolong. Kasih keputusan kamu sekarang juga.”
Joceline menoleh sekilas. Di kejauhan, Nathaniel Edmund Whitmore berjalan ke arah mereka bersama Maxime Cavero Danadyaksa. Masih mengenakan toga sama seperti dirinya. Di tangannya, Nathaniel membawa sebuah bouquet bunga lily putih kesukaan Joceline. Ah, pria itu sangat manis, bukan?
Senyum Nathaniel terlihat samar. Senyum seseorang yang sangat percaya diri, membawa niat baik dan harapan besar.
“Shen, kamu—”
“Kak Jocé tahu apa yang bakal terjadi kalau sampai kalian bertunangan dan menikah,” potong Shenina, suaranya kini dingin.
“Kakak enggak akan pernah melihat aku lagi. Untuk selamanya.”
“Shen! Jangan gila kamu!”
“Kakak yang bikin aku gila!”
Nathaniel semakin dekat. “Buruan, Kak,” desak Shenina. “Nathaniel keburu nyamperin kita.”
Joceline memejamkan mata. Lama. Ini bukan pertama kalinya Shenina bersikap demikian. Ia membuka matanya kembali, menatap adiknya lekat-lekat. Apakah ... Shenina memang semenginginkan itu untuk berpasangan dengan Nathaniel? Apakah cintanya lebih besar daripada cinta yang dimilikinya? Apakah sebagai kakak ... benar apa yang dibilang Shenina bahwa ia terlalu egois dan tidak memikirkan satu-satunya keinginan Shenina? Perasaannya? Hingga ...
“Kamu mau Kakak gimana?”
Mata Shenina berbinar. “Kakak cukup bilang kalau…” Shenina membisikkan kalimat demi kalimat yang harus Joceline ucapkan. Tanpa jeda. Tanpa ragu.
Dan saat Nathaniel berada dalam jarak yang menurut Shenina cukup strategis, sebuah kode kecil langsung dia berikan. Joceline menarik napas. Ia tahu ini pasti akan menjadi sesuatu yang tidak mudah bukan hanya untuk dirinya dan Nathaniel, tapi juga seluruh keluarga. Sebuah pernyataan yang akan menciptakan kekecewaan dan rasa sakit yang ... ia tahu tidak akan mungkin termaafkan.
Nath, maafkan aku.
“Ya,” ucapnya lantang, suaranya terdengar asing bahkan di telinganya sendiri. “Benar. Aku tidak pernah mencintai Nathaniel sejak awal. Aku menerima pernyataan cintanya hanya karena aku tidak ingin dia malu di hadapan banyak orang.”
Kerumunan disekitar mereka mendadak terasa hening.
“Bukan Nathaniel orangnya,” lanjut Joceline, setiap kata terasa seperti pecahan kaca yang menyayat tenggorokannya. “Maxime. Aku mencintai Maxime. Dia yang aku inginkan sejak awal.”
Tiba-tiba, sebuah bunyi jatuh terdengar. Bouquet bunga lily putih yang dibawa Nathaniel mendarat di lantai.
Joceline refleks berbalik. Nathaniel terlihat berdiri hanya dua langkah darinya. Wajahnya pucat. Matanya gelap, kosong, dan retak dalam waktu bersamaan. Di sampingnya, Maxime memandang Joceline dengan ekspresi yang tak bisa ia baca.
“Apa yang kamu bilang barusan, Jo?” suara Nathaniel serak. Tapi jelas, ia tidak terima.
“Kamu pasti mendengarnya dengan baik tanpa perlu aku mengulanginya, Nath,” jawab Joceline dingin, atau setidaknya berusaha terdengar dingin. Dan meyakinkan.
“Bohong!” Nathaniel melangkah maju, tangannya mencengkram bahu Joceline. “Ada apa ini sebenarnya? Ucapan sampah apa yang baru saja kamu bilang? Sayang?”
Joceline menggeleng perlahan. Ia melepaskan cengkeraman itu. “Maaf,” ucapnya. Ekor matanya melirik pada Shenina yang sudah berdiri di sampingnya. “Tapi aku mengatakan yang sebenarnya. Bukan kamu orangnya.”
Nathaniel menoleh ke Maxime. Lalu kembali pada Joceline. “Kamu ... Kamu keterlaluan, Jo.”
Dadanya naik turun tak beraturan. Kekecewaannya merayap ke seluruh d**a. “Aku membenci kamu,” katanya, suara itu pecah. “Sangat membenci kamu.”
Pria itu berlalu, meninggalkan Joceline yang masih berdiri mematung di posisinya. Itu menjadi hari terakhir Jocé bertemu dan berbicara dengan Nathaniel. Hingga lima tahun kemudian.
“Final call for passengers to Jakarta…”
Suara itu menarik Joceline kembali ke realita.
Ia berkedip pelan. Jantungnya berdenyut pelan. Joceline berdiri. Menyeret koper dan melangkah menuju penerbangan yang akan membawa dirinya kembali ke Indonesia setelah sekian lama. Kembali bertemu dengan orang-orang yang—setelah kejadian itu—dia berusaha hindari mati-matian. Kembali bertemu dengan seorang Nathaniel.
Lima tahun berlalu, nyatanya hari yang tak pernah berani ia harapkan, tiba-tiba datang seolah menjadi takdir baik dalam perjalanan hidupnya. Ia tahu ini adalah sebuah kesempatan, dan setelah banyaknya pertimbangan, ia memutuskan untuk tidak akan menyia-nyiakannya.
Ia pulang.
Untuk dua tujuan.