03. Welcome Home

1300 Words
Pintu otomatis Bandara Soekarno–Hatta terbuka, membiarkan udara Jakarta yang lembap dan hangat menyambut Joceline. Bagaimana rasanya kembali? Bagi sebagian orang, definisi pulang kembali ke tanah air tempat di mana kamu dilahirkan dan tumbuh besar adalah sebuah kelegaan, kerinduan, atau bahkan seperti menemukan kembali rumah yang penuh kehangatan. Disambut oleh uluran tangan, pelukan, dan binar mata yang penuh rasa haru. Namun, bagi Joceline, berbeda. Ia jelas takkan temukan definisi lega, rindu, atau pun kehangatan sebuah rumah yang ... akan menyambutnya selayaknya orang tua yang sudah lama tidak bertemu dengan bayi kecilnya. Itu ... merupakan sesuatu yang sangat tidak mungkin sehingga, Jo membuang jauh-jauh semua itu. Pernyataan yang di pahatnya dulu, telah membuat kekecewaan banyak pihak dan akan terus terpatri selamanya. Sekalipun dunia telah berubah. Sekalipun Jo menggadaikan seluruh hidupnya, hal itu tidak lantas membuat mereka berbalik arah dan berhenti membencinya. Tidak semudah itu. Cukup jauh berjalan, pandangan Joceline menangkap satu sosok yang berdiri tak jauh dari pintu keluar. Tinggi, rapi, dengan postur yang selalu tampak siap menghadapi dunia. Maxime Cavero Danadyaksa. Senyum Joceline terbit tanpa perlu dipaksa. Ia menghampiri Maxime dan membiarkan dirinya masuk ke dalam pelukan pria itu untuk beberapa saat sebelum kembali terlepas. “Untunglah,” ujar Maxime ketika mereka berjarak satu langkah, “aku tepat waktu menjemputmu.” Joceline membalas dengan senyuman dan mulai berjalan berdampingan menuju area parkir. Roda koper Joceline yang kini dibawa oleh Max berderak pelan, mengikuti langkah mereka. “Maaf ya.” Joceline berkata kemudian. “Jadi harus repot-repot menjemputku. Padahal aku sudah bilang bisa sendiri. Kamu pasti sangat sibuk, Max.” Maxime menoleh, menatap mata Joceline lekat. “Apakah aku terlihat kerepotan, Jo?” “Aku tidak ingin merepotkanmu,” sela Joceline. “Aku selalu merecoki hidupmu, Max. Dan ya, juga selalu merepotkanmu.” “Tapi itu tidak akan terulang lagi,” tambahnya. Ia mengedipkan satu matanya. “Bersabarlah sedikit lagi. Ok?” Max memandang Joceline dengan tatapan yang ... paling ia benci, kemudian menghela napas dalam. Berbicara dengan Joceline selalu membuatnya kehilangan kata. Bukan itu yang aku inginkan, bodoh! Tidak ingin menanggapi lebih jauh, Maxime berjalan lebih dulu menuju mobil, membuka pintu kemudi, lalu masuk ke dalam. Joceline menyusul, duduk di kursi sebelahnya. Pintu mobil tertutup dengan bunyi pelan, memisahkan mereka dari hiruk-pikuk bandara. Mesin menyala dan perlahan mobil hitam itu mulai melaju membelah jalanan ibu kota. “My Mom wanna see you, Jo. Dia sudah sibuk sejak pagi saat aku memberitahunya bahwa kamu akan pulang. Ia menyiapkan banyak makanan untuk menyambutmu,” turur Maxime. “Mama Arcelia? How is she?” tanya Joceline. “Aku terakhir berbicara dengannya satu minggu yang lalu.” “She’s fine. As always. So how?” Maxime memastikan. “Tentu saja aku mau, Max,” sahut Joceline tanpa ragu. “Aku sangat merindukannya.” “Oh, jadi kamu hanya merindukan Mommy dan aku tidak?” Lihatlah bagaimana pertanyaan itu terdengar seperti anak kecil yang merajuk. Joceline terkekeh. “Tidak,” jawabnya santai. “Kita berkomunikasi hampir dua puluh empat jam sehari, Max. Dan selalu berulang. Apakah aku masih harus merindukanmu?” Maxime mendengus pelan. Tidak membalas. Tangannya mengencang di setir, lalu kembali longgar. Mobil melaju menyusuri jalanan Jakarta yang masih basah sisa hujan. Lampu-lampu kota memantul di aspal, menciptakan kilau yang samar. Joceline memandang keluar jendela. Jakarta terasa asing, padahal kota ini pernah menjadi rumah. Atau mungkin, ia yang telah berubah. Lima tahun terlalu lama untuk berpura-pura semuanya tetap sama, bukan? Di balik kaca jendela, bayangan wajahnya memantul. Tenang. Terkendali. Tidak ada yang bisa menebak bahwa di balik ketenangan itu, ada satu nama yang sejak tadi berusaha keras ia kubur dalam-dalam. Nathaniel. Ah, bagaimana kabar pria itu? *** Mobil Maxime berhenti di halaman rumah bercat krem yang Joceline kenal bahkan tanpa perlu melihat alamatnya. Rumah itu tidak banyak berubah seperti pagar besi yang masih hitam, pot-pot bunga di sisi teras, dan taman bunga yang terawat berkat tangan seorang wanita yang sangat terampil. Hangat. Seperti dulu. Joceline menelan ludah kecil tanpa sadar. Pintu utama terbuka bahkan sebelum Maxime sempat mengetuk. Aroma masakan langsung menyambut. Rempah, bawang tumis, dan sesuatu yang mengingatkannya pada sore-sore panjang sepulang sekolah. Perutnya berkontraksi, bukan karena lapar melainkan karena rindu yang tiba-tiba terasa menjalar. Arcelia, wanita cantik nan elegan yang masih sangat terlihat muda walau usianya menginjak awal lima puluhan itu berdiri di ambang pintu dengan celemek masih terikat di pinggang, wajahnya cerah seolah tidak ada lima tahun yang memisahkan mereka. “Hi, sayang. Welcome home,” katanya dengan suara yang lembut. Sebuah sambutan kecil yang terasa begitu besar dan berarti untuknya. “Ma—” suara Joceline pecah di suku kata pertama. Belum sempat ia menyelesaikan sapaan, Arcelia sudah menariknya masuk ke dalam pelukan. Pelukan hangat nan lembut yang tidak menuntut penjelasan atau penghakiman apa pun. “Kamu kurus,” komentar wanita itu cepat. “Jangan terlalu keras pada pekerjaan, Jo. Jangan melupakan makan dan istirahat.” Joceline terkekeh kecil, membalas pelukan itu lebih erat dari yang ia rencanakan. “Aku baik-baik saja, Ma.” “Ah, semua anak selalu bilang begitu,” sahut Arcelia sambil menepuk punggung Joceline, lalu menjauh sedikit untuk menatap wajahnya. “Kamu kelihatan… lebih dewasa.” Atau lebih menyedihkan, pikir Joceline. Tapi ia hanya tersenyum. “Kamu masih suka sup jagung, kan? Mama membuat banyak hari ini. Khusus untuk kamu,” tuturnya sambil membawa Joceline menuju ruang makan. Rumah itu tetap sama. Ruang tamu dengan sofa abu-abu yang empuk, rak buku yang sedikit berantakan, dan foto-foto lama yang masih bertengger rapi di dinding. Joceline mengenali hampir semuanya. Foto kelulusan SMP, SMA, dan satu foto lama yang membuat langkahnya tertahan sepersekian detik. Tiga remaja berseragam SMP. Dirinya. Maxime. Dan Nathaniel. Bahunya saling bersentuhan. Senyum mereka lebar, ceroboh, dan belum tahu apa-apa tentang kehilangan dan kejamnya kehidupan. “Merindukannya, eh?” tanya Maxime tiba-tiba. Hanya ada mereka berdua di sana karena Arcelia sudah lebih dulu berjalan ke arah dapur saat mencium aroma gosong dari oven. Joceline refleks menoleh. “Tidak,” sangkalnya. “Aku cukup tahu diri untuk tidak merindukan calon suami adikku sendiri, Max.” “Tapi aku tahu matamu jelas berbohong.” Joceline tidak menanggapi. Dia kembali berjalan menyusul Arcelia menuju ruang makan. Mereka duduk di meja makan seperti dulu. Suasana yang tak pernah Jocé kenali hampir lima tahun terakhir. Ia pikir, ia sudah mati rasa. Namun, dihadapkan kembali pada kebersamaan meja makan, ternyata tetap meremas dadanya. “Kamu ingat?” Arcelia tersenyum pada Joceline. “Kamu paling suka sup ini. Dulu selalu nambah.” Joceline mengangguk pelan. “Masih, Ma.” “Oh, anyway ... aku tidak melihat Shaquila dan Shaquina. Apakah mereka tidak di rumah?” Joceline mencoba mengalihkan topik pembicaraan. “Mereka sedang mengikuti kelas baked di Séjour Doux,” Arcelia menjawab sambil meletakkan ayam panggang yang baru saja selesai dipanggang pada piring besar dan membawanya ke atas meja. “Wow, sound great.” “Oh, tentu saja tidak. Kamu tahu betul mereka tidak serajin itu untuk mengikuti kelas baked. Itu hanya alasan. Tujuan utamanya agar bisa bertemu dengan anak tertua pemilik Séjour Doux. Aku sudah sangat hafal tabiat busuk mereka,” tutur Maxime, membuat Joceline tertawa. Makan siang kali itu berjalan dengan cerita-cerita ringan. Tentang Melbourne, pekerjaan Joceline, dan hal-hal kecil yang aman untuk dibicarakan. Tidak ada yang menyebut lima tahun lalu. Tidak ada yang menyebut perpisahan, kemarahan, atau nama yang terus berputar di kepala Joceline sejak di bandara. Namun saat Joceline bangkit membantu membereskan meja, Arcelia menyentuh tangannya pelan. “Kamu pulang lama kali ini, Jo?” Joceline menatap wanita itu. Senyum hangat yang sama. Mata yang selalu terlalu jeli. “Iya, Ma,” jawabnya jujur. “Aku ingin… menetap sebentar.” Atau mungkin selamanya. Arcelia mengangguk. Tidak bertanya lebih jauh. “Rumah ini selalu terbuka buat kamu,” katanya lembut. “Selalu sama, sejak dulu.” Namun, Joceline tidak ingin mempercayainya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD