04. Dia, Nathaniel

1097 Words
Pukul delapan pagi, cahaya matahari menembus tirai tipis apartemen lama Joceline. Apartemen itu masih sama. Dinding abu-abu pucat, rak buku minimalis, dan jendela besar yang menghadap jalan utama. Tidak ada yang berubah. Atau mungkin, seseorang terlalu piawai menyimpan semuanya agar terlihat utuh saat dirinya kembali. Jika ditanya kenapa ia lebih memilih kembali ke apartemen lamanya saat masa kuliah daripada menyewa unit baru, jawabannya sederhana. Karena hanya apartemen itu yang ia merasa memilikinya. Apartemen yang akan selalu menyanbut Jocé setelah hari panjang selama di jakarta dengan hangat yang sama. Setidaknya, hal itu tidak terdengar menyedihkan, bukan? Setelah menyiapkan roti panggang dan segelas s**u, ia duduk di meja bar, bersiap melahap sarapannya sebelum sebuah panggilan masuk pada ponselnya lebih dulu bergetar di atas meja marmer. Nama Shenina tertera di layar. Joceline menatapnya selama dua detik sebelum akhirnya mengangkat panggilan itu. “Kak Jocé,” suara Shenina terdengar cerah, penuh semangat yang nyaris meluap. “Apakah hari ini kita jadi bertemu dan mulai membicarakan konsep pelaminan secara langsung?” Joceline menghela napas pelan, nyaris tak terdengar. Pandangannya jatuh pada menu sarapan sederhana yang ... sepertinya akan telat ia makan atau tidak ia sentuh sama sekali. “Ya,” jawabnya akhirnya. “Kamu bisa datang langsung ke Pelataran SÉVARA LUMIÉRE dan bertemu dengan Max. Dia yang mengatur segalanya. Aku akan menyusul nanti.” Di seberang sana, Shenina terdiam sejenak. Seperti sedang menimbang sesuatu yang tak diucapkan. “Kamu yakin, Kak?” tanyanya kemudian, lebih pelan. “Kamu tidak sedang berusaha menghindari kami dan lari dari janjimu, kan?” Joceline menutup matanya sejenak. “Apa aku pernah mengingkari janjiku, Shen?” Joceline balik bertanya, suaranya tetap lembut, tapi jelas lelah. “Tidak,” jawab Shenina cepat. Lalu ia melanjutkan, kali ini lebih terdengar berani. “Aku hanya khawatir kamu masih menghindari aku dan Nathaniel. Padahal seharusnya itu sudah tidak perlu, kan, Kak?” “It’s been five years,” lanjut Shenina. “Kamu sudah tidak mencintainya. Benar?” Ada jeda yang cukup lama sebelum akhirnya Joceline menjawab. “Ya.” Dan Joceline bisa mendengar dengan jelas helaan Shenina di ujung telepon. “Syukurkah. Aku akan sangat marah jika sampai Kak Jocé masih mencintai Nathaniel. Dia sudah tidak mencintaimu, Kak,” suaranya pelan, namun terasa seperti sebuah peringatan. “Kalau begitu, sampai bertemu di sana, Kak. Aku tidak sabar untuk segera merealisasikan wedding dream-ku bersama Nathaniel.” “Ya. Sampai bertemu, Shen.” Telepon itu terputus. Apartemen tersebut kembali tenang seperti sebelumnya. Joceline menjatuhkan pandangannya lagi pada roti panggang di hadapannya. Ia memutuskan untuk tidak menyentuhnya karena perutnya mendadak kenyang. Terisi oleh percakapan antara dirinya dengan Shenina barusan. Joceline bangkit perlahan dan berjalan menuju jendela. Jalanan di bawah mulai ramai. Orang-orang bergerak, menjalani hidup mereka masing-masing. Sedangkan di atas sini, kalimat Shenina terus teriang di telinganya. Kamu sudah tidak mencintainya. Benar? Ia tersenyum kecil. Jocé, apakah kamu sudah tidak mencintai Nathaniel? Benarkah? Ia kembali menghela napasnya pelan. Jika cinta adalah sesuatu yang bisa ditinggalkan begitu saja, mungkin hidupnya akan jauh lebih sederhana. Lalu bagaimana dengan kisah Anne Elliot dan Captain Wentworth dalam Persuasion? Ketika cinta dikorbankan demi akal sehat, demi martabat, dan demi waktu namun justru kembali menemukan jalannya setelah bertahun-tahun diam dan salah paham? Entahlah. Lagipula itu hanya sebuah kisah. Sekitar tiga puluh menit kemudian, Joceline berdiri di depan cermin kamar apartemennya. Rambutnya tergerai rapi, dibiarkan lurus dengan belahan tengah sederhana. Ia mengenakan blus sutra warna gading dengan potongan clean, dipadukan celana bahan hitam berpotongan lurus yang menegaskan siluet tubuhnya tanpa berlebihan. Di bahunya, tas kerja cokelat tua tergantung rapi. Sepatu hak rendah warna nude melengkapi penampilannya. Tenang, dewasa, dan tidak berusaha menarik perhatian siapa pun. Telepon masih menempel di telinganya sejak beberapa saat lalu. “Ya,” ucap Joceline. “Aku sudah selesai bersiap dan akan segera ke sana.” “Apa aku perlu menjemputmu, Jo?” “Tidak perlu, Max. Aku akan memesan taksi online saja,” lanjutnya. “Tidak enak kalau Shenina sampai duluan dan kita berdua belum ada di sana. Setidaknya kalau ada kamu, diskusi bisa langsung dimulai.” “Kamu yakin?” Joceline tersenyum kecil pada pantulan dirinya sendiri. “Ya. Aku yakin. Berhentilah mengkhawatirkanku seperti aku ini adalah bayi yang baru saja bisa berjalan, Max.” Tawa kecil Maxime terdengar di ujung sambungan. “Baiklah kalau begitu. Take care on your drive, Bayi Kecil.” Jocé mendengus ketika telepon itu terputus. Bayi kecil, katanya? Yang benar saja. Ia meletakkan ponselnya, mengambil iPad yang tergeletak di atas kasur, lalu memasukkannya ke dalam tas. Ia menarik napas dalam, satu kali, sebelum melangkah keluar dari unit apartemennya. Pintu tertutup dan terkunci sempurna ketika kartu akses digesek. Bunyi klik terdengar pelan. Dan saat ia berbalik, dunia seperti berhenti bergerak. Ia tahu Tuhan sedang meracik takdirnya namun, haruskah secepat ini? Sepasang mata hitam legam menatapnya dari jarak yang terlalu dekat untuk dihindari. Wajah itu, garis rahang tegas itu, hidung mancungnya, tatapan yang masih sama seperti lima tahun lalu, namun kini jauh lebih dingin, Nathaniel. Benar. Dia orangnya. Ia terlihat lebih tinggi. Lebih tegap. Tubuhnya proporsional dibalut jas hitam dengan potongan presisi dan celana senada. Rambutnya tertata rapi, gaya yang nyaris tidak berubah sejak terakhir kali mereka berdiri saling berhadapan sebagai dua orang yang saling mencintai. Bedanya, kini ia tampak… sempurna. Dan sepenuhnya asing. Joceline segera menarik dirinya kembali pada realita. “Maaf.” Adalah kata pertama yang ia ucapkan setelah lima tahun lamanya. “Aku tidak tahu kalau kamu masih menempati unit lama apartemenmu,” ujarnya, berusaha agar pria itu tidak salah paham. Ia sungguh tidak ingin Nathaniel berpikir bahwa dirinya sengaja ingin berada di sekitar pria itu dengan menempati unit apartemen lamanya yang bersebrangan dengan milik Nathaniel. Ia benar-benar tidak tahu jika pria itu masih menempati apartemen tersebut. Meski entah untuk alasan apa, Joceline tidak ingin mengetahuinya. Yang jelas, ini harus di luruskan. Nathaniel memandang Jo dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Lalu, “Aku juga tidak tahu bahwa kamu ternyata begitu tidak tahu diri masih berani muncul di hadapanku,” katanya dengan begitu kejam. “Shenina—” “Kamu bisa menolak permintaan gilanya, jika kamu mau,” potong pria itu cepat. Ia melangkah lebih dulu, namun baru lima langkah berjalan, ia berbalik. Kembali dia tatap Joceline dengan bara kebencian yang kini tercetak jelas di kedua matanya. “Harusnya kamu tetap berada di Melbourne dan tidak pernah kembali, Jo,” ucapan itu dingin dan kejam. “Karena akibat keputusan bodoh kamu itu, membuat kami semua harus kembali berurusan dengan kamu, dan itu merepotkan!” Pria itu kembali melangkah. Kali ini benar-benar pergi. Joceline memandang kepergian Nathaniel hingga pria itu menghilang di tikungan. Joceline tersenyum samar. Nath, berbahagialah ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD