05 - Dihantui Rasa Bersalah

1673 Words
Mobil berhenti tepat di depan gang sempit nomor 14. Rendra menoleh, menatap istrinya dengan gurat kecemasan yang teramat jelas. "Na, kamu benar-benar yakin? Fisikmu masih sangat rapuh. Aku bisa meminta Rio untuk mengatur pertemuan di tempat yang lebih baik saat kamu sudah sembuh," ujar Rendra, suaranya sarat akan kekhawatiran. Ilona menoleh, tersenyum tipis sembari menggenggam balik tangan suaminya. "Aku harus melihatnya sekarang, Ren. Perempuan itu kehilangan satu-satunya keluarganya karena aku. Aku tidak bisa berdiam diri terus." Rendra menghela napas panjang, tahu betul bahwa jika Ilona sudah sekeras ini, tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Pria itu keluar lebih dulu, memutari mobil, lalu membantu Ilona turun. Rio, yang sudah bersiap di belakang, segera membawa beberapa kantong besar berisi buah-buahan segar, makanan, serta beberapa bingkisan untuk orang yang akan mereka temui. "Biar saya saja yang bawa, Pak Rio," ucap Ilona, sambil bersiap menerima beberapa kantong belanjaan itu. "Tapi, Bu-" "Tidak apa-apa. Lagi pula tidak terlalu berat." Dan Rio pun segera memberikan semua barang itu pada Ilona, setelah mendapat anggukan dari Rendra. Langkah kaki mereka terdengar begitu jelas di gang sepi itu. Ketika sampai di depan pintu kayu dengan cat yang telah memudar, Rendra mengetuknya pelan. "Farah... Farah!" panggil Rendra. Hening beberapa saat, sebelum terdengar suara langkah kaki yang seolah terseret dari dalam. Saat pintu terbuka, pemandangan di depan mereka seketika membuat d**a Ilona mencelos. Farah berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasi, matanya sembap kehitaman, dan bibirnya kering pecah-pecah. Ia bersandar pada kusen pintu. Tubuhnya tampak begitu lemah. Tatapannya kosong, dan seketika menajam saat ia mengenali wajah Rendra. "Kamu?!" tatapannya langsung beralih pada sosok wanita di samping Rendra. "Mau apa lagi kamu ke sini?" desis Farah, suaranya serak dan bergetar karena emosi. "Sudah kubilang, bawa pergi uang-uangmu itu! Aku tidak butuh!" Ilona melangkah lebih dekat, menatap Farah dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Farah... perkenalkan, aku Ilona. Aku... aku istri Rendra." Farah menyipitkan matanya, memandang Ilona dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan tidak suka. "Lalu kenapa? Apa urusannya denganku? Kalian mau pamer kebahagiaan di depan aku yang sebatang kara ini?" "Bukan, Farah. Bukan begitu," sela Ilona cepat, air matanya mulai menggenang. "Aku datang ke sini karena aku ingin bertemu langsung denganmu. Kami... kami membawakan beberapa makanan sehat, buah-buahan, dan juga hadiah kecil untukmu. Tolong diterima, ya. Ini bentuk ketulusan kami untuk sedikit meringankan bebanmu." Ia menyodorkan barang-barang itu pada Farah. Namun, di luar dugaan, Farah justru menatap barang-barang itu dengan kilatan amarah yang meledak-ledak. Tubuhnya yang lemas mendadak mendapat pasokan energi dari rasa benci yang membakar batinnya. "Persetan dengan harta benda kalian! Persetan dengan semua ini!" teriak Farah histeris. Plak! Brak! Dengan satu sentakan kasar, Farah menepis kantong-kantong yang dipegang Ilona hingga terlempar ke lantai. Buah-buahan segar menggelinding ke mana-mana, kotak s**u dan obat pecah, berserakan. "Farah! Jaga sikapmu! Kami ke sini dengan niat baik," bentak Rendra, refleks melangkah maju demi melindungi Ilona. Emosinya sebagai pria terpicu melihat kebaikan istrinya dibalas seperti sampah. "Rendra, jangan! Tolong, jangan membentaknya!" lerai Ilona sembari memegangi lengan Rendra, mencegah suaminya melangkah lebih jauh. "Kita yang salah. Kita tidak bisa melimpahkan kesalahan apapun pada Farah. Kita berutang nyawa padanya." Farah tertawa sumbang, tawa yang terdengar begitu menyakitkan dan penuh keputusasaan. Farah kemudian menatap lekat-lekat wajah Ilona. Otaknya yang semula berkabut mendadak merangkai ingatan dari malam kecelakaan tragis itu. Potongan-potongan visual di rumah sakit, laporan polisi, dan bayangan wanita yang terjepit di dalam SUV yang akhirnya membakar tubuh adik kesayangannya itu. "Tunggu..." Farah menunjuk wajah Ilona dengan jari yang bergetar. "Kamu... kamu wanita yang ada di dalam mobil itu, kan? Kamu wanita yang sabuk pengamannya macet waktu itu?" Ilona menggigit bibirnya, air matanya meluncur deras. Ia mengangguk pelan. "Iya, Farah. Akulah orangnya. Aku yang hari itu diselamatkan oleh Fadly. Adikkmu... adikmu yang telah menyelamatkanku." Mendengar pengakuan itu, napas Farah mendadak memburu. Matanya membelalak lebar, dipenuhi oleh rasa murka. Seluruh rasa sakit, kehilangan, dan kesepian yang ia pendam selama beberapa hari ini seolah menemukan muara untuk ditumpahkan. "Jadi kamu... JADI KAMU PEREMPUAN SIALAN ITU?!" jerit Farah berapi-api. Tanpa bisa dicegah, Farah menerjang maju. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia mendorong bahu Ilona dengan sangat keras. "Gara-gara kamu Fadly mati! Gara-gara menyelamatkan wanita sialan sepertimu, adikku harus terbakar hidup-hidup!" "Farah, hentikan!" Rendra berteriak sigap, menangkap tubuh Ilona tepat sebelum tubuh Ilona roboh. "Kamu... kamu yang sudah membuat adikku mati!" teriak Farah kian histeris. Wajahnya tampak sangat kacau. Andai bukan karena Rendra dan Rio yang berusaha melindungi Ilona, mungkin kini Farah sudah berhasil mencelakainya. "Kenapa harus Fadly?! Kenapa bukan kamu saja yang mati di dalam mobil itu, hah?! Kenapa kamu harus hidup dan mengambil satu-satunya orang yang kupunya di dunia ini?!" Ilona memegangi dadanya yang dipenuhi bersalah dan kesedihan melihat penderitaan Farah. Ia melepaskan diri dari dekapan Rendra, lalu mencoba memajukan tubuhnya, menggapai ujung pakaian Farah. "Farah... maafkan aku... hiks... maafkan aku," tangis Ilona pecah, suaranya parau. "Aku tahu aku tidak pantas meminta maaf. Aku tahu nyawa Fadly tidak akan pernah bisa digantikan oleh apa pun. Tapi tolong... tolong jangan sakiti dirimu sendiri seperti ini. Pukul aku, Farah! Salahkan aku! Tapi tolong, jangan seperti ini..." "Jangan berpura-pura baik di depanku!" teriak Farah lagi, namun kali ini suaranya mulai melemah. Dadanya naik turun dengan sangat cepat. Ia mulai merasa pasokan oksigen di sekitarnya menipis. Cengkeraman tangannya pada kusen pintu mengerat, wajahnya yang semula pucat kini mulai membiru. "Kalian... kalian jahat... Kembalikan... kembalikan Fadly-ku..." "Farah?" Ilona menyadari perubahan drastis pada kondisi Farah. "Ren, lihat wajahnya! Dia sesak napas!" "Aku sangat membenci kalian. Kalian sudah merenggut Fadly dariku. Kembalikan adikku..." bisik Farah sangat lirih. Pandangan matanya mulai mengabur, bayangan Ilona dan Rendra di depannya menghilang, digantikan oleh bayangan hitam. Bruk! Tubuh kurus Farah mendadak lunglai, ambruk tak berdaya di atas lantai teras yang berdebu. "Farah!" Ilona menjerit panik. "Na! Jangan! Dia bisa sadar kapan saja. Dan dia bisa melukaimu kalau kita lengah!" larang Rendra. Ilona menatap Rendra dengan tatapan kalut. "Tapi, Ren..." "Biar Rio yang mengurusnya," potong Rendra. "Rio, bawa dia ke mobilmu! Kita antar dia ke rumah sakit." "Baik, Pak!" Rio dengan cekatan menggendong tubuh Farah lalu berlari menuju mobil. Rendra segera berbalik, menuntun Ilona hingga ke mobil meteka. "Ya Tuhan... tolong selamatkan Farah... jangan biarkan terjadi apa-apa lagi padanya," bisik Ilona sepanjang jalan. Air matanya tak henti-hentinya mengalir, membasahi gaun katun yang ia kenakan. *** Suasana koridor Rumah Sakit terasa begitu mencekam. Bau karbol yang menyengat dan deru langkah kaki perawat yang tergesa-gesa seolah menambah sesak di d**a Ilona. Sudah hampir satu jam Farah berada di dalam ruang penanganan darurat, dan selama itu pula Ilona tidak bergeser sedikit pun dari depan pintu, mengabaikan rasa pening yang sesekali masih menghantam kepalanya. Rendra berjalan mendekat, membawa secangkir teh hangat dari kantin rumah sakit. Ia berlutut di depan kursi Ilona, menatap wajah istrinya yang tampak sangat lelah. "Minum dulu, Sayang. Kamu belum makan siang, dan kondisi fisikmu sendiri belum pulih benar," ujar Rendra lembut, menyodorkan cangkir kertas itu ke tangan Ilona. Ilona menggeleng pelan, mendorong pelan cangkir itu menjauh. "Aku tidak selera, Ren. Tenggorokanku rasanya tersumbat. Bagaimana aku bisa minum dengan tenang sementara di dalam sana Farah sedang berjuang hidup dan mati karena aku?" Rendra menghela napas berat, menggenggam kedua tangan Ilona yang terasa sedingin es. "Ini bukan salahmu, Na. Tolong berhenti menghakimi dirimu sendiri. Kecelakaan itu musibah, dan apa yang terjadi pada Farah hari ini adalah akibat dari kondisi medisnya yang memang sudah kronis." "Tapi jika dia tidak melihatku, dia tidak akan sefrustrasi itu, Ren!" sahut Ilona dengan suara bergetar, menatap suaminya dengan mata yang dipenuhi penderitaan. "Kamu lihat sendiri bagaimana dia memandangku tadi? Tatapan matanya... penuh dengan kebencian. Dan dia berhak untuk membenciku, Rendra!" Rendra hendak membalas ucapan Ilona ketika tiba-tiba ponsel di dalam saku jasnya bergetar hebat. Ia merogohnya, melihat nama sekretarisnya tertera di layar. Rendra mendesah frustrasi sebelum mengangkatnya. "Ya, ada apa?" tanya Rendra dengan nada dingin. "Investor dari Jepang yang mendanai proyek mega-resort kita tiba-tiba datang ke kantor tanpa pemberitahuan. Mereka meminta presentasi mengenai amdal dan audit keuangan siang ini juga. Dan mereka minta Bapak untuk hadir." Rendra memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. "Apa tidak bisa diwakilkan yang lain?" "Tidak bisa, Pak. Mereka ingin bertemu langsung dengan Bapak." Rendra terdiam. Matanya beralih menatap pintu IGD yang masih tertutup rapat, lalu beralih pada Ilona yang juga sedang menatapnya. "Baik. Saya akan ke sana segera," ucap Rendra akhirnya, lalu menutup sambungan telepon dengan gusar. Ilona yang mendengar sayup-sayup percakapan itu segera menggenggam tangan Rendra. "Ada masalah di kantor, Ren?" Rendra mengangguk dengan berat hati. "Investor dari Jepang datang mendadak." "Ayo! Aku akan mengantarmu pulang dulu," lanjut Rendra. "Bisakah aku tetap di sini? Aku mau menunggu-" "Fisikmu belum stabil, Na. Dan lagi... aku takut kalau Farah sadar nanti, dia akan menyakitimu lagi." "Ada Rio di sini. Rio bisa menjagaku. Dan aku berjanji tidak akan masuk ke ruangan Farah sendirian sebelum dia benar-benar tenang. Aku masih mau menunggu di sini sampai dokter memberikan kabar." "Nggak, Ilona! Aku bilang nggak ya nggak!" nada suara Rendra mendadak meninggi, memicu perhatian beberapa orang di koridor. Ia segera menurunkan suaranya kembali, namun tetap dengan penekanan yang tegas. "Aku tidak mau mengambil risiko tentang keselamatanmu. Cukup sekali aku hampir kehilanganmu. Aku tidak akan membiarkan ada bahaya lain yang mendekatimu, termasuk Farah!" Ilona menghela napas, ganti menatap Rendra dengan pandangan serba salah. "Tapi aku nggak akan bisa tenang di rumah. Aku khawatir dia kenapa-kenapa." Rendra memegangi kedua bahu Ilona, menatap mata wanita itu teduh. "Setelah urusanku di kantor selesai, aku akan menjemputmu untuk datang ke sini lagi. Oke?" Ilona tak menjawab. Tampak masih sangat berat untuk mengalah. "Na... tolonglah! Aku tidak akan fokus bekerja kalau kamu ada di sini. Aku nggak akan tenang mikirin apa yang bisa saja terjadi sama kamu di sini," bujuk Rendra. Ilona memejamkan mata sesaat. Kepalanya mengangguk singkat. Ia tak boleh egois. Biar bagaimana pun juga, ia tetap harus memikirkan Rendra. "Baiklah. Tapi cepatlah pulang! Nanti kita harus ke sini lagi sebelum Farah pergi tanpa sepengetahuan kita." Rendra mengangguk. "Biar Rio berjaga di sini." Rio mengangguk patuh saat Rendra menatapnya. "Baik, Pak. Bu Ilona tenang saja. Saya sendiri yang akan memantaunya." Ilona sedikit mengembuskan napas lega. "Jadi, sekarang bisa kita pulang?" tanya Rendra pada Ilona.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD