Jarum jam di dinding kamar VIP berlapis cat putih gading itu menunjuk tepat ke angka satu dini hari. Suasana begitu sunyi, hanya menyisakan deru mesin pendingin ruangan.
Rendra perlahan membuka matanya. Tenggorokannya terasa sangat kering.
Pria itu mencoba menegakkan punggungnya yang terasa kaku. Saat hendak beranjak dari sofa, pandangannya terjatuh pada sosok wanita yang meringkuk di kursi kayu persis di sebelah brankar pasien. Itu Ilona. Istrinya tampak begitu pulas dengan posisi tidur tidak nyaman, menyandarkan kepala di atas lipatan tangannya sendiri.
Rendra menghela napas panjang, dirayapi rasa bersalah sekaligus haru. Ia melangkah mendekat tanpa suara, lalu membenarkan letak selimut tebal yang membungkus tubuh Ilona agar sang istri tidak kedinginan.
"Benar-benar keras kepala," batin Rendra sembari mengusap lembut pucuk kepala Ilona. "Fisikmu sendiri bahkan belum pulih, tapi kamu bersikeras mau bermalam di sini."
Rendra kemudian membalikkan badannya, melangkah menuju meja nakas di sudut ruangan untuk mengambil segelas air putih. Namun, baru saja jemarinya menyentuh teko kaca, sebuah gerakan halus dari arah brankar menangkap perhatiannya.
Di bawah pendar lampu tidur yang temaram, Rendra melihat jari-jari tangan Farah mulai bergerak. Kelopak mata wanita itu bergetar, sebelum akhirnya perlahan terbuka. Farah mengerjapkan matanya beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan langit-langit kamar rumah sakit yang asing.
Rendra segera meletakkan kembali gelasnya dan melangkah mendekati sisi ranjang. "Kamu sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Ada bagian yang terasa sakit atau sesak?"
Farah menolehkan kepalanya perlahan. Begitu netranya menangkap sosok Rendra yang berdiri di sampingnya, gurat kebingungan di wajah pucat itu seketika sirna, digantikan oleh sorot matanya yang langsung menajam penuh kekesalan.
"Kamu..." desis Farah, suaranya sangat lemah, nyaris seperti bisikan yang tercekik di tenggorokan. "Kamu lagi... Mau apa lagi kamu di sini?"
"Farah, tolong tenang dulu. Jangan emosi!" bujuk Rendra. "Perhatikan kesehatanmu!"
Farah tertawa sumbang. Air mata perlahan mulai menggenang di sudut matanya yang sembap. "Untuk apa aku sehat? Untuk apa aku hidup jika Fadly sudah tidak ada di dunia ini? Aku cuma memilikinya. Dan bahkan sekarang dia sudah pergi. Hidupku sudah tidak ada artinya lagi."
"Aku tahu... aku tahu betapa hancurnya perasaanmu. Aku tidak akan pernah bisa memungkiri fakta bahwa keluargaku berutang satu nyawa padamu," ujar Rendra, kepalanya tertunduk dalam, menahan beban rasa bersalah yang menghimpit dadanya. "Tapi kami pasti akan membalasnya. Kami tidak akan membiarkan Fadly di atas sana menyesal karena telah menolong kami."
Farah mengerutkan keningnya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memutar lehernya ke arah sisi lain ranjang. Matanya membelalak saat mendapati sosok Ilona yang sedang tertidur lelap di atas kursi kayu.
"Kenapa perempuan sialan itu ada di sini?" tanya Farah, suaranya bergetar karena amarah yang kembali tersulut. "Suruh dia pergi! Aku tidak sudi bertukar udara di ruangan yang sama dengan wanita yang sudah merenggut nyawa adikku!"
"Dia bersikeras untuk tinggal di sini untuk kamu. Dia tidak mau beranjak sedikit pun sejak sore tadi," jelas Rendra sembari menatap Ilona dengan pandangan teduh.
"Kondisinya sendiri belum pulih pasca kecelakaan, tapi dia bersi keras untuk menunggumu sadar agar bisa meminta maaf langsung padamu. Ia takut kamu sendirian saat kamu membuka mata."
Farah terdiam. Namun air matanya kini mulai meluncur deras melewati pipinya. Ia mencengkeram sprei rumah sakit dengan erat.
"Apapun yang kalian lakukan tida akan membuat Fadly kembali hidup! Semua percuma. Karena yang aku mau hanya dia," isak Farah.
"Fadly itu duniaku,... hiks... dia adik yang baik. Dia satu-satunya keluarga yang aku punya di dunia ini," ratap Farah, tangisnya kini pecah menjadi sebuah keputusasaan
"Dia yang membuatku terus bertahan meski harus menahan semua rasa sakit ini. Dia yang membuatku terus ingin hidup. Dan sekarang, kalian telah merenggutnya dariku."
Mendengar ratapan pilu yang keluar dari bibir Farah, Rendra merasa hatinya seperti disayat. Ia melangkah lebih dekat, menatap Farah dengan tekad yang kuat.
Farah menoleh dengan mata yang basah dan merah, menatap Rendra dengan sisa-sisa kebenciannya.
"Aku tahu... aku dan Ilona tidak akan pernah bisa mengembalikan Fadly padamu. Kami tidak punya kuasa untuk itu," ucap Rendra, menjeda kalimatnya sejenak untuk meyakinkan wanita di depannya.
"Tetapi, tolong beri kami kesempatan untuk menebus kesalahan ini. Tolong beri kami ruang untuk meringankan beban di pundakmu. Aku bersumpah... aku dan Ilona akan berusaha sekuat tenaga untuk menggantikan peran dan tanggung jawab Fadly terhadapmu."
Farah menghentikan tangisnya sesaat, menatap Rendra dengan pandangan tidak percaya. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu hidup susah lagi. Kami akan jadi layaknya keluarga untukmu. Seluruh biaya hidupmu, rumah yang layak, sandang, pangan, dan semua kebutuhanmu akan menjadi tanggung jawabku. Aku sudah meminta Rio untuk mencarikan dokter spesialis jantung dan ginjal terbaik di negeri ini, bahkan jika harus membawamu berobat ke luar negeri, akan kulakukan."
"Apapun dan kapan pun kamu butuh, aku dan Ilona akan selalu ada untukmu."
Farah terpaku. Kata-kata Rendra barusan menggema di dalam kepalanya yang mendadak terasa kosong. Isak tangisnya mereda, menyisakan napas yang masih tersengal. Netranya yang sembap perlahan beralih, kembali menatap sosok Ilona yang masih tertidur pulas dalam posisi tidak nyaman di atas kursi kayu.
Sebuah keheningan yang panjang kembali merayap dikamar itu. Namun di dalam kepala Farah, sebuah pergolakan batin yang sangat hebat baru saja dimulai.
"Keluarga?" batin Farah, matanya menatap tanpa kedip ke arah wajah lembut Ilona yang tampak begitu damai di bawah cahaya temaram. "Mereka menawarkan diri untuk menjadi keluargaku? Mereka berjanji tidak akan membiarkan aku hidup susah dan sebatang kara?"
Lalu ia membayangkan kehidupan yang Ilona miliki. Wanita itu tampak sempurna. Memiliki suami yang sangat mencintainya dan dua anak yang lucu. Hidupnya juga serba berkecukupan. Tampak tak ada celah baginya untuk merasa sepi.
"Aku... aku juga mau memiliki sebuah keluarga yang utuh seperti itu. Aku mau merasakan bagaimana rasanya ada orang yang selalu mengkhawatirkanku, orang yang rela melakukan apa saja untukku. Aku ingin merasakan kehangatan itu..."
Farah membasahi bibirnya yang kering, lalu menoleh kembali ke arah Rendra. Suaranya kini terdengar sangat parau, bergetar di antara rasa ragu dan tuntutan yang mulai tersirat.
"Benarkah kalian akan menganggapku sebagai keluarga? Benarkah aku akan selalu bisa mengandalkanmu seperti aku mengandalkan Fadly?"
Rendra mengangguk. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Aku bersumpah demi ketenangan Fadly di atas sana. Apapun yang kamu butuhkan untuk kelangsungan hidupmu, apapun yang bisa membuatmu merasa aman dan nyaman, katakan padaku. Aku akan mewujudkannya."
"Dan kalian... benar-benar akan memberiku kehangatan sebuah keluarga yang baru? Menjadi pelindungku seperti yang Fadly lakukan selama ini?" kejar Farah lagi, suaranya kian menuntut kepastian.
"Iya, Farah. Kami akan selalu ada di sini untukmu. Kamu adalah bagian dari hidup kami mulai sekarang," jawab Rendra dengan ketulusan yang murni.
Farah tidak lagi mengeluarkan suara. Ia perlahan memalingkan kembali wajahnya ke arah Ilona. Matanya menyipit, menatap lekuk wajah istri Rendra itu dengan tatapan penuh keserakahan dan kecemburuan yang mendalam.
"Hidup yang kamu miliki saat ini adalah pemberian dari Fadly. Setiap embusan napasmu adalah rasa sakit untukku dan Fadly. Kamu sudah benar-benar merenggut kehidupan kami... kamu telah menghancurkan kami. Membuatku harus merasakan pedihnya hidup sendiri dalam kondisi kesehatanku yang seperti ini."
Genggaman tangan Farah pada sprei kasur semakin mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jadi... jangan salahkan aku kalau aku akan menuntutnya kembali. Sudah seharusnya kamu membayar apa yang telah adikku korbankan. Aku akan mengambil apa yang layak aku miliki."
Farah kemudian memejamkan matanya kembali, berpura-pura tidur saat mendengar langkah kaki Rendra yang mulai bergerak menjauh.