07 - Serigala Berbulu Domba

1442 Words
Ilona dan Rendra baru saja kembali setelah membeli sarapan. Sepanjang jalan kembali ke kamar rawat Farah, jantung Ilona bergetar tidak karuan. Ada kekhawatiran di dalam hatinya, membuat langkah kakinya terasa berat dan ragu. "Ren..." panggil Ilona lirih, menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan pintu kayu kokoh bercat gading tersebut. "Aku... entah kenapa aku takut." Rendra menghentikan langkahnya, memutar tubuh menghadap sang istri lalu mengusap lembut kedua bahu Ilona. "Takut kenapa, Na?" Matanya menatap pintu kamar rawat Farah dengan gurat kecemasan. "Aku takut kalau Farah sudah bangun sekarang. Aku takut dia akan kembali histeris dan emosi seperti kemarin. Aku tidak mau dia drop lagi." Rendra tersenyum teduh, jemarinya beralih mengusap pipi Ilona dengan penuh kasih sayang. "Percaya sama aku. Semua akan baik-baik aja. Kita berusaha yakinkan Farah bersama, ya. Cepat atau lambat, dia pasti bisa merasakan ketulusan kamu." Ilona mengembuskan napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa keberaniannya sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Baiklah, ayo masuk." Rendra mendorong pintu kamar dengan perlahan. Begitu pintu terbuka, pandangan Ilona langsung tertuju pada brankar di tengah ruangan. Dugaannya benar. Farah sudah terbangun. Wanita itu sedang menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal, menatap lurus ke arah jendela yang menampilkan pemandangan luar rumah sakit. Wajahnya masih tampak sangat pucat, dengan selang oksigen yang masih terpasang rapi di hidungnya. Mendengar suara decitan pintu, Farah menolehkan kepalanya perlahan. Netranya seketika beradu tepat dengan manik mata Ilona. Ilona seketika mematung di ambang pintu. Tubuhnya menegang, bersiap untuk menerima semburan amarah atau makian kasar yang mungkin saja akan kembali dilontarkan oleh wanita di depan sana. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan. Bibir Farah yang kering dan pecah-pecah itu perlahan bergerak, membentuk sebuah senyum tipis. Ilona tertegun di tempatnya. "Kalian?" sapa Farah, suaranya terdengar sangat parau dan lemah. Namun, tak ada nada amarah di dalamnya. Farah kemudian bergerak, mencoba menegakkan tubuhnya. Namun, tubuhnya yang baru saja melewati masa kritis terasa begitu lemas, membuatnya meringis pelan sambil memegangi dadanya. Melihat hal itu, naluri Ilona bekerja. Ia refleks menoleh ke arah Rendra, menyodorkan kantong plastik berisi sarapan di tangannya dengan terburu-buru. Lalu ia segera mengulurkan tangan, membantu menahan punggung Farah dengan sangat hati-hati, lalu membenarkan letak bantal di belakang tubuh wanita itu. "Jangan terlalu banyak bergerak dulu, Farah. Kondisimu masih sangat lemah," ujar Ilona. Mata indahnya meneliti setiap jengkal wajah Farah. "Ada yang sakit? Atau dadamu masih terasa sesak? Perlu kupanggilkan dokter?" Farah memperhatikan kepanikan yang tergambar jelas di wajah Ilona. Bukannya menjawab, wanita itu justru terkekeh lirih. "Aku tidak apa-apa, Ilona. Sungguh," ucap Farah pelan sembari menatap Ilona yang kini berdiri di samping ranjangnya dengan wajah kebingungan. "Kamu tidak perlu sepanik itu. Aku hanya sedikit lelah karena terlalu lama berbaring." Ilona mengerjapkan matanya beberapa kali, benar-benar merasa bingung dengan perubahan drastis pada sikap Farah. "Farah... kamu... kamu tidak apa-apa?" Farah menghela napas panjang, sorot matanya perlahan meredup, dipenuhi oleh gurat penyesalan yang tampak begitu nyata. Ia meraih tangan Ilona yang bebas, menggenggam jemari istri Rendra itu dengan perlahan. "Ilona... aku mau meminta maaf kepadamu," bisik Farah lirih, air matanya tiba-tiba saja mulai menggenang di sudut mata. "Aku benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin siang. Aku tahu aku sudah sangat keterlaluan. Aku bertindak terlalu impulsif, padahal kalian berniat baik." Ilona tertegun, lidahnya mendadak kelu mendengarkan kalimat yang keluar dari bibir Farah. "Gara-gara keegoisanku, aku malah membuat kalian semua repot," lanjut Farah dengan suara yang mulai tersendat menahan tangis. "Aku... aku benar-benar minta maaf, Ilona. Aku tidak tahu apa yang merasuki pikiranku kemarin. Aku hanya... aku hanya terlalu hancur saat mengingat Fadly." Mendengar untaian kalimat maaf itu, air mata Ilona yang sejak kemarin tertahan di pelupuk mata kini tidak dapat dibendung lagi. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat, membalas cengkeraman tangan Farah tidak kalah erat. "Tidak, Farah... jangan berkata seperti itu! Kamu tidak salah. Kami bisa memahamimu. Mungkin, kalau berada di posisimu, kami juga akan bereaksi sama denganmu." Ilona menjeda kalimatnya sejenak, mengusap air mata di pipinya. "Farah, kamu benar-benar sudah tidak marah lagi denganku?" Farah tidak langsung menjawab pertanyaan Ilona. Wanita itu terdiam sesaat, lalu memutar pandangannya, menatap Rendra di belakang Ilona. Ilona yang menyadari arah pandang Farah pun ikut menoleh, menatap suaminya. Merasa diperhatikan, pria itu menghentikan aktivitasnya, lalu membalas tatapan Ilona dan Farah secara bergantian. "Ada apa? Kenapa kalian berdua mendadak menatapku seperti itu?" Farah tersenyum tipis, memecah keheningan yang sempat merayap di antara mereka. Ia kembali memfokuskan netranya pada Ilona yang masih menanti jawaban. "Semalam, suamimu sudah menjelaskan semuanya padaku. Dia menceritakan betapa kamu sangat mengkhawatirkanku. Dia bilang kamu bersikeras untuk tetap tinggal di rumah sakit semalaman hanya agar aku tidak merasa sendiri." "Rendra juga mengatakan... bahwa kalian akan merawatku. Kalian tidak akan membiarkan aku kesepian lagi." Farah menarik napasnya dalam-dalam melalui selang oksigen, menatap lurus ke dalam manik mata Ilona. "Apakah semua ucapan suamimu semalam itu benar, Ilona? Apakah kalian benar-benar mau menerimaku dan menganggapku seperti keluarga?" Hati Ilona seketika membuncah. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Farah akan membuka hatinya untuk memaafkan dirinya dan Rendra. "Iya, Farah. Semua yang dikatakan Rendra benar!" Ilona mengangguk penuh semangat. "Aku berjanji akan menganggapmu sebagai bagian dari keluargaku sendiri," lanjut Ilona dengan tulus. "Aku akan menjagamu, merawatmu, dan memastikan kalau kamu tidak akan merasa kesepian. Kita adalah keluarga sekarang." Farah menatap Ilona dalam diam. "Bagus, Ilona... memang itulah yang harus kamu lakukan. Kamu harus mengembalikan apa yang telah kamu renggut dariku," batinnya. "Terima kasih, Ilona. Aku tidak tahu harus membalas kebaikan kalian dengan cara apa," ucap Farah dengan suara yang dibuat tersendak, menyembunyikan senyum kemenangan yang nyaris terbit di sudut bibirnya. Setelah momen penuh air mata itu mereda. Suasana di dalam kamar rawat tersebut berubah menjadi lebih hangat. Mereka bertiga mulai mengobrol ringan. Ilona dengan penuh ketelatenan mulai membuka bungkusan bubur ayam yang dibelinya tadi, menuangkannya ke dalam mangkuk kecil yang sudah disediakan pihak rumah sakit. "Ayo, kamu harus makan. Perutmu tidak boleh kosong agar obatnya bisa bekerja dengan baik," ujar Ilona lembut sembari mengaduk bubur tersebut perlahan, lalu menyodorkan sesuap bubur ke depan bibir Farah. "Terima kasih, Ilona. Maaf ya, aku malah jadi merepotkanmu seperti ini," balas Farah dengan nada sungkan yang dibuat-buat, menerima suapan itu dengan patuh. "Sama sekali tidak merepotkan. Lagi pula, kamu adalah keluargaku," sahut Ilona hangat, tersenyum manis sembari menyeka sedikit sisa bubur di sudut bibir Farah menggunakan tisu. Rendra yang berdiri di dekat sofa tersenyum lega melihat kedekatan kedua wanita itu. Ia melirik jam tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul delapan pagi lewat beberapa menit. Pria itu berdehem pelan, menarik perhatian Ilona. "Na," panggil Rendra lembut. Ilona menoleh. "Iya? Ada apa?" "Aku harus pulang ke rumah sebentar untuk membersihkan diri dan bersiap-siap ke kantor," ujar Rendra sembari merapikan letak jas yang tersampir di lengannya. "Ada beberapa berkas penting yang harus kutunda pagi ini. Tidak apa-apa kan kalau kutinggal sebentar?" Sebelum Ilona sempat menjawab, Farah sudah lebih dulu menyela kalimat Rendra. Ia menatap Ilona dengan pandangan penuh perhatian. "Ilona, lebih baik kamu juga ikut pulang bersama suamimu," ucap Farah dengan nada membujuk yang terdengar sangat tulus. "Fisikmu belum pulih benar. Pulanglah! Kamu juga perlu istirahat." Namun, Ilona langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, menolak usulan Farah. "Tidak, Farah. Aku tidak mau pulang sekarang. Biar aku menemanimu di sini." "Tapi, Na..." Rendra mencoba ikut membujuk. "Nggak, Rendra. Aku mau tetap di sini," potong Ilona cepat, menatap suaminya dan Farah bergantian. "Aku mau menemani Farah sampai dokter datang melakukan visit. Aku harus mendengar bagaimana perkembangan kondisi jantung dan ginjal Farah. Aku juga baru akan pulang setelah Rio datang menggantikanku menjaga Farah. Aku nggak mau Farah sendirian." Farah kembali menatap Ilona, sebuah binar aneh melintas cepat di matanya sebelum ia kembali memasang wajah pasrah. Rendra yang tahu betul bagaimana watak keras kepala istrinya jika sudah mengambil keputusan, hanya bisa mengembuskan napas pasrah. Ia berjalan mendekati Ilona, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di kening sang istri. "Baiklah, aku mengalah. Tapi kamu harus berjanji padaku, setelah dokter selesai visit dan Rio sampai di sini, kamu harus langsung pulang untuk istirahat. Jangan menawar lagi, oke?" tutur Rendra dengan nada tegas. Ilona tersenyum manis, mengangguk patuh. "Iya, Ren. Aku janji. Setelah Rio datang, aku langsung pulang dan tidur." Rendra kemudian membalikkan badannya menghadap brankar pasien. "Farah, aku pamit ke kantor dulu ya. Kalau ada apa-apa atau kamu butuh sesuatu, langsung minta Ilona untuk menghubungiku. Mengerti?" Farah mengangguk pelan dengan senyuman lembut di wajahnya. "Iya, Rendra. Terima kasih banyak. Hati-hati di jalan." "Aku berangkat ya, Na," pamit Rendra sekali lagi pada istrinya sebelum akhirnya melangkah lebar keluar dari kamar rawat, menutup pintu kamar VIP itu dengan rapat. Kini, di dalam ruangan yang luas itu kembali menyisakan Ilona dan Farah. Ilona kembali menyendokkan bubur dengan senyuman hangat, sepenuhnya tidak menyadari bahwa di balik wajah rapuh dan senyuman manis wanita yang sedang disuapinya itu, tersimpan racun yang mungkin akan menghancurkan keluarganya secara perlahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD