01 - Sebuah Tragedi

1079 Words
Suasana terasa begitu tenteram, sebuah gambaran keluarga kecil yang sempurna dan jauh dari badai yang pernah menghantam mereka tujuh tahun silam. "Galen, jangan ditarik taplaknya, Sayang! Nanti susunya tumpah ke seragam Kakak," tegur Ilona dengan nada lembut menyelamatkan gelas s**u di meja makan. "Maa... mau cucu!" celoteh Galen, si kecil berusia tiga tahun yang wajahnya cetakan sempurna dari Rendra. Rendra, yang kini berusia 34 tahun dan tampak semakin matang, menyesap kopinya sembari tersenyum menatap istrinya yang masih tetap cantik meski telah melahirkan dua buah hati untuknya. "Biarkan saja, Na. Galen hanya ingin mencari perhatian kita. Wajar anak umur segitu ngambek kalau ucapannya nggak langsung diturutin." "Tapi nanti Kakak yang kena, Pa," sahut Gladys, putri sulung mereka yang kini berusia 8 tahun, dengan nada centil khas anak SD. "Papa, jangan lupa ya, hari ini ada pentas seni di sekolah Gladys. Papa janji mau datang sama Mama." Rendra mengacak rambut Gladys sayang. "Tentu saja, Tuan Putri. Papa sudah mengosongkan jadwal kantor sampai siang ini khusus untuk melihat penampilan menari Tuan Putri. Sudah siap semua?" "Siap!" seru Gladys dan Galen kompak. Keluarga kecil itu berangkat dengan penuh tawa. Rendra mengemudikan SUV miliknya dengan tenang, sementara Ilona di sampingnya tak henti-hentinya bercerita tentang rencana liburan mereka bulan depan. Tak ada yang menyangka, bahwa tawa itu akan menjadi suara terakhir yang terdengar normal sebelum segalanya berubah menjadi neraka. Saat tiba di sebuah persimpangan yang tak jauh dari sekolah Gladys, sebuah mobil dari arah berlawanan tiba-tiba kehilangan kendali. Suara decitan ban yang beradu dengan aspal memekakkan telinga. "RENDRA! AWAS!" teriak Ilona histeris. Rendra membanting setir dengan liar untuk menghindari hantaman. Namun malangnya, dari arah kiri sebuah mobil sedan meluncur kencang dan menghantam bagian samping mobil mereka dengan sangat keras. DUAARRR! Mobil SUV itu terpental, terguling beberapa kali hingga akhirnya mendarat dalam posisi terbalik di pinggir jalan. Asap hitam mulai mengepul dari kap mesin. Bau bensin yang menyengat menyeruak masuk ke kabin yang kini ringsek parah. "Na... Ilona... Gladys... Galen..." suara Rendra parau, kepalanya mengeluarkan darah. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya dan melihat ke kursi belakang. "Gladys! Galen!" "Papa... sakit..." Gladys merintih, kakinya terjepit di antara kursi. Galen menangis kencang, namun suaranya terdengar makin melemah karena sesak. Tiba-tiba, seorang pemuda muncul dari luar. Wajahnya panik, tapi gerakannya sangat sigap. "Pak! Keluar lewat sini! Cepat, mobilnya sudah bocor bensin!" Pemuda itu membantu Rendra yang setengah sadar untuk keluar melalui jendela yang pecah. Dengan sisa tenaga yang ada, mereka berdua menarik Gladys dan Galen dari kursi belakang. "Bawa anak-anak menjauh, Pak! Cepat! Mobil ini bisa meledak kapan saja!" teriak pemuda itu sembari mendorong Rendra agar menjauh. "Istriku! Ilona masih di dalam! Dia terjepit!" raung Rendra dengan napas tersengal. Ia hendak kembali masuk ke kabin, namun kakinya lemas dan tubuhnya gemetar hebat. "Biar saya! Bapak jaga anak-anak saja!" Pemuda itu tanpa ragu merangkak masuk ke dalam kabin yang sudah mulai dijilat api kecil di bagian mesin. Di dalam, Ilona berada dalam posisi yang sangat sulit. Sabuk pengamannya macet dan pintu di sisinya ringsek parah, menekan tubuhnya. "Mbak, pegang tangan saya! Saya potong sabuknya sekarang!" teriak pemuda itu. Dengan pisau lipat kecil, ia berjuang membebaskan Ilona di tengah kepulan asap yang mulai menyesakkan d**a. "Ayo, Mbak! Sedikit lagi! Jangan menyerah!" "Sakit... kaki saya nggak bisa gerak... tolong anak-anak saya..." rintih Ilona dengan kesadaran yang mulai menipis. "Anak-anak Mbak sudah aman! Suami Mbak sudah membawa mereka. Sekarang ayo keluar!" Pemuda itu menarik tubuh Ilona dengan sekuat tenaga, mengabaikan hawa panas yang mulai membakar kulit lengannya. Di saat yang bersamaan, Rendra kembali mendekat untuk menjemput Ilona setelah memastikan anak-anaknya di tempat aman. Pemuda itu berhasil mendorong tubuh Ilona keluar melalui celah pintu ke arah Rendra. "Bawa dia, Pak! Cepat lari!" teriak pemuda itu dari dalam kabin. Rendra menyambar tubuh Ilona yang lemas dan membawanya menjauh secepat mungkin. Namun, malapetaka terjadi. Saat pemuda itu hendak menarik kakinya sendiri keluar dari kabin, sebuah besi dari jok mobil yang ringsek menusuk dan menjepit pergelangan kakinya dengan kuat. "Argh!" teriak pemuda itu kesakitan. Ia mencoba meronta, namun jepitannya terlalu kuat. Rendra menidurkan Ilona yang pingsan di trotoar yang cukup jauh, lalu ia berbalik dan berlari kembali sekuat tenaga. "Tunggu! Bertahanlah! Saya tarik kamu!" "Jangan mendekat, Pak! Apinya sudah sampai ke tangki! Lari!" teriak pemuda itu. Matanya menatap Rendra dengan tatapan yang sangat dalam, sebuah tatapan perpisahan yang begitu jernih di tengah kekacauan. "Nggak! Kamu sudah nolong istriku! Ayo cepat, ulurkan tanganmu!" Rendra mencoba menggapai tangan pemuda itu, namun percikan api sudah menyambar tumpahan bensin di bawah mobil. Orang-orang yang berdatangan segera menyeret Rendra menjauh. "Mobilnya akan meledak! Kita harus menjauh!" "Tidak! Di sana masih ada orang. Dia sudah menyelamatkan keluarga saya. Saya harus menyelamatkannya," ucap Rendra, berusaha melawan orang-orang yang menahannya. "Tidak bisa. Tidak ada waktu, Pak." "Tapi dia-" "FADLY! FADLYYYYY!" Sebuah jeritan melengking dari arah belakang kerumunan warga memecah suasana. Seorang wanita muda berlari histeris. Namun, sebelum wanita itu sampai, dan sebelum Rendra bisa menyentuh tangan pemuda bernama Fadly itu... BOOOOOOMMMM!!! Ledakan dahsyat menghancurkan mobil itu menjadi bola api raksasa. Kekuatan ledakan melempar tubuh Rendra hingga terpental beberapa meter ke aspal. "TIDAK!" Rendra meraung, mencoba bangkit meski telinganya berdenging hebat dan matanya perih karena asap. Di depan matanya, mobil itu sudah tertutup kobaran api yang membubung tinggi. Tak ada lagi suara rintihan. Tak ada lagi gerakan. Pemuda pemberani yang baru saja memberikan kehidupan kedua bagi istri dan anak-anak Rendra itu kini lenyap ditelan api di dalam sana. "FADLYYYY! TIDAK MUNGKIN! ADIKKUUUU!" Wanita yang tadi menjerit-Farah-kini meronta-ronta di pelukan beberapa warga yang menahannya agar tidak menerjang api. "Lepaskan! Adikku di dalam! Fadly masih di dalam!" teriak Farah histeris. Suaranya pecah, begitu menyayat hati siapa pun yang mendengarnya. "Kalian jahat! Kenapa kalian membiarkan dia di sana?! Fadly!" Farah menatap kobaran api itu dengan tatapan hancur, lalu pandangannya yang tajam namun kosong beralih pada Rendra, Ilona yang baru mulai tersadar, dan kedua anak mereka yang terduduk lemas dengan luka-luka di trotoar. "Kenapa...?" bisik Farah dengan suara serak yang penuh penderitaan. "Kenapa dia yang harus mati? Kenapa kalian semua selamat, tapi adikku tidak?!" Farah menjerit sekali lagi dengan suara yang sangat memilukan, sebelum akhirnya matanya memutar ke atas dan tubuhnya ambruk. Ia kehilangan kesadaran tepat di samping puing-puing kematian tragis adiknya. Dengan langkah tertatih, Ilona mendekat ke arah Rendra. Sedangkan Rendra masih menatap kobaran api di depan matanya. Mengabaikan keramaian di sekelilingnya, ketika orang-orang berusaha untuk memadamkan api itu, meski tahu mustahil untuk menyelamatkan orang yang sudah terlanjur ikut dalam ledakan dahsyat beberapa detik yang lalu. "Ren..." "Kita sudah merampas dunianya, Na," bisik Rendra hancur. "Kita benar-benar sudah merampas dunianya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD