02 - Berutang Nyawa

1457 Words
Rendra berdiri di lorong depan ruang Instalasi Gawat Darurat. Ia berjalan mondar-mandir dengan perasaan resah memikirkan nasib keluarga kecilnya yang ada di dalam sana. Kemeja birunya yang tadi pagi rapi, kini koyak di bagian bahu, bercampur noda darah kering. Luka robek di pelipisnya sudah dibersihkan oleh perawat. Namun ia menolak tindakan lebih lanjut sebelum memastikan keadaan istri dan anak-anaknya. Setiap kali pintu geser IGD terbuka, jantungnya mencelos. Bayangan ledakan mobil itu masih menari-nari di pelupuk matanya. "Keluarga Ibu Ilona?" seorang dokter pria paruh baya keluar sembari melepas maskernya. Rendra langsung menyambar bahu dokter itu. "Saya, Dok! Saya suaminya. Bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya? Tolong katakan mereka baik-baik saja!" Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menyalurkan ketenangan. "Tenang, Pak Rendra. Mari ikut saya ke dalam." Begitu tirai disingkap, pemandangan di depannya membuat pertahanan Rendra runtuh. Di atas brankar, Gladys dan Galen duduk berdampingan. "Papa!" Gladys menjerit pilu, air matanya langsung tumpah. "Papaaa... hiks... Galen takut..." si kecil Galen merentangkan tangannya yang gemetar. Rendra menghambur, memeluk kedua buah hatinya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Ia membenamkan wajahnya di antara rambut mereka, menghirup aroma anak-anaknya yang kini bercampur bau asap, namun ia bersyukur mereka masih bernapas. "Papa di sini, Sayang. Papa di sini. Maafkan Papa, ya? Maafkan Papa..." bisik Rendra parau. "Papa, aku takut sekali," isak Gladys sesenggukan di d**a ayahnya. "Kalian aman sekarang. Ada Papa, oke?" Setelah beberapa saat menenangkan anak-anaknya, mata Rendra beralih ke brankar di sebelah kiri. Di sana, Ilona terbaring diam. Wajahnya pucat pasi, kepalanya dibebat perban putih. "Dok, kenapa istri saya belum sadar?" tanya Rendra, suaranya bergetar hebat. "Ibu Ilona mengalami trauma tumpul di bagian kepala akibat benturan keras. Saat proses pembersihan luka dan pemeriksaan tadi, beliau sempat sadar sebentar tapi kemudian pingsan kembali." "Kami sudah melakukan CT Scan. Hasilnya, ada trauma ringan pada jaringan otaknya. Tidak ada pendarahan besar yang mengkhawatirkan. Namun beliau harus diobservasi lebih lanjut. Kami menyarankan untuk opname minimal satu malam agar kami bisa memantau keadaannya." Rendra mengusap wajahnya kasar. "Lakukan yang terbaik, Dok. Pindahkan dia ke kamar terbaik. Saya akan urus administrasinya sekarang." "Tentu, Pak. Untuk Gladys dan Galen, secara medis mereka hanya mengalami luka lecet dan memar ringan. Namun secara psikis, mereka sangat terguncang. Sebaiknya mereka segera dibawa pulang ke lingkungan yang nyaman setelah ini." Baru saja Rendra hendak menanggapi, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah pintu masuk. "RENDRA! YA AMPUN, RENDRA!" Mama Mira berlari masuk dengan wajah yang hampir sama pucatnya dengan Ilona. Di belakangnya, Rio, asisten pribadi Rendra, mengikuti dengan langkah sigap namun tetap menjaga jarak profesional. "Mama..." gumam Rendra. "Ya Tuhan, Rendra! Apa yang terjadi?! Mama hampir serangan jantung dengar kabar dari polisi!" Mama Mira tampak panik melihat ke sekeliling, di mana menantu dan dua cucunya tampak terluka. "Kenapa kamu ceroboh, Ren? Kamu ini sudah punya anak istri, kenapa tidak hati-hati?!" "Ma, sudahlah. Ini musibah. Mobil dari lawan arah yang hilang kendali," bela Rendra lemah. Ia tidak punya energi untuk berdebat. "Tetap saja! Kalau sampai terjadi apa-apa pada cucu-cucu Mama, Mama tidak akan memaafkanmu!" Mama Mira beralih memeluk Gladys dan Galen yang masih sesenggukan. "Cucu-cucu Oma... kalian tidak apa-apa? Mana yang sakit?" "Oma... kaki Gladys perih," keluh Gladys manja dalam tangisnya. Rendra menarik napas panjang, lalu menatap ibunya dengan serius. "Ma, tolong bawa Gladys dan Galen pulang dulu. Mereka butuh istirahat di rumah. Biar Ilona di sini sama Rendra. Rendra mau nunggu Ilona sampai sadar." "Gimana keadaan Ilona? Ada luka dalam? Ini dia tidak sadarkan diri sejak kejadian?" "Nggak, Ma. Tapi dokter masih perlu observasi lebih lanjut. Dia tadi sempat sadar, tapi karena ada trauma di kepalanya, jadi pingsan lagi," terang Rendra. "Ya ampun, Na... kabarin Mama ya kalau Ilona sudah sadar! Mama bawa anak-anak pulang dulu," pamit Mama Mira. Rendra mengangguk. Ia menciumi kening putra-putrinya, sebelum mereka ikut dengan Mama Mira untuk pulang. Suasana di dalam IGD kembali hening. Rendra menoleh pada Rio yang masih berdiri di dekat pintu. "Rio, keluar sebentar. Ada yang harus aku bicarakan." Mereka berdiri di koridor sepi dekat mesin kopi otomatis. Rendra menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. "Rio, aku ingin kamu cari tahu detail kecelakaan tadi. Juga... tentang pemuda yang menyelamatkan keluargaku saat kecelakaan terjadi." "Sudah saya instruksikan tim kita untuk memantau di kantor polisi, Pak. Ada lagi?" Rendra terdiam sejenak. Tenggorokannya terasa tersumbat. "Namanya... Fadly. Dia punya seorang kakak perempuan yang masih terbaring di IGD. Aku perlu tahu latar belakangnya dan semua tentang dia. Aku berhutang nyawa padanya." Rio mengangguk paham. "Saya mengerti, Pak. Saya akan segera mencari informasi tentang Saudara Fadly dan keluarganya. Saya turut berduka atas apa yang terjadi pada keluarga Anda." "Terima kasih. Kalau memungkinkan, aku butuh datanya hari ini juga." "Baik, Pak. Saya permisi sekarang." Rendra kembali masuk ke IGD. Namun, belum sempat ia mencapai brankar Ilona, sebuah suara teriakan histeris membelah udara. Suaranya begitu melengking, penuh nestapa. "DI MANA ADIKKU?! DI MANA FADLY?!" Rendra membeku. Ia mengenali suara itu. Ia berlari menuju bagian belakang IGD, di mana terdapat tirai-tirai tertutup untuk pasien darurat baru. Di sana, ia melihat wanita itu-Farah. Bajunya masih kotor terkena debu jalanan. Ia meronta-ronta di genggaman dua orang suster dan seorang petugas keamanan. "Tenang, Mbak Farah! Mohon tenang, ini rumah sakit!" tegur salah satu suster. "Bagaimana aku bisa tenang?! Adikku ada di sana. Mobil itu meledak. Mana dia? Kenapa kalian diam saja? Jawab!" teriak Farah dengan mata yang merah dan bengkak. Pandangan Farah kemudian bergeser dan terpaku pada sosok Rendra yang berdiri mematung di sana. "Kamu..." bisik Farah. Ia menyentak pegangan suster dan berlari ke arah Rendra. Ia mencengkeram kerah kemeja Rendra dengan tangan gemetar. "Kamu orangnya, kan?! Kamu orang yang ada di mobil itu! Katakan padaku, di mana Fadly?! Kenapa dia tidak ada di sini bersamaku?!" Rendra tidak mampu bersuara. Lidahnya terasa kelu. Ia hanya bisa menatap Farah dengan tatapan penuh penyesalan. "Jawab aku! Kenapa kamu diam saja?! Dia menolongmu, kan? Dia menyelamatkan istri dan anak-anakmu, kan?! Lalu kenapa kamu berdiri di sini sedangkan adikku tidak ada?" Farah menunjuk ke arah pintu dengan jari gemetar. "Maafkan saya..." hanya itu yang sanggup keluar dari mulut Rendra. "Maaf?! Maafmu tidak bisa mengembalikan adikku!" Farah mulai memukul d**a Rendra dengan kepalan tangannya yang lemah. "Aku hanya punya dia! Kami hanya memiliki satu sama lain di dunia ini. Dan sekarang... sekarang di mana dia?" Suara Farah terdengar semakin gemetar. Suster-suster kembali mencoba menarik Farah. "Mbak, tolong, ada pasien lain di sini!" Tiba-tiba, seorang dokter datang membawa suntikan. "Ibu, Anda sangat syok. Ini akan membantu Anda tenang." "Nggak! Jangan suntik aku! Aku mau Fadly! Fadlyyyyy!" Cairan penenang itu masuk ke dalam pembuluh darahnya. Perlahan, kekuatan rontaan Farah melemah. Tubuhnya yang mungil itu meluncur jatuh. Namun ia masih sempat menangkap pergelangan tangan Rendra dengan cengkeraman yang kuat, seolah Rendra adalah harapan terakhirnya. Wajah Farah mulai sayu, matanya setengah terpejam. Namun air matanya terus mengalir deras membasahi pipinya. "Fadly... jangan pergi..." racunya dalam kondisi setengah sadar. "Jangan tinggalkan Mbak... kamu janji mau nemenin Mbak selamanya..." Rendra berlutut di sampingnya, membiarkan tangannya tetap digenggam oleh wanita yang hancur itu. "Mbak nggak punya siapa-siapa lagi selain kamu... mbak takut sendirian..." suara Farah mengecil, menjadi bisikan yang sangat nelangsa, seolah jiwanya sedang meratap di ambang kegelapan. "Tolong... jangan tinggalin Mbak..." Genggamannya di tangan Rendra semakin erat, seolah-olah ia mengira tangan Rendra adalah tangan adiknya yang sudah menjadi abu. "Jangan pergi... Fadly..." Lalu, tubuhnya lemas sepenuhnya. Ia pingsan dalam pelukan kesedihan dan duka. Rendra masih berlutut di sana, menatap tangan wanita itu yang masih menempel di lengannya. Ia merasa seperti seorang kriminal. Ia selamat. Istrinya selamat. Anak-anaknya selamat. Namun, harga dari keselamatan itu adalah nyawa dari satu-satunya keluarga yang dimiliki wanita malang ini. Ia merasakan dadanya sesak, seolah-olah asap dari mobil yang meledak itu kini memenuhi paru-parunya sendiri, mencekiknya pelan-pelan dengan rasa bersalah yang tak akan pernah bisa ia bayar dengan apa pun. "Dokter..." panggil Rendra dengan suara pecah. "Tolong... tolong jaga dia. Pastikan dia mendapatkan perawatan terbaik. Saya yang akan menanggung semua biayanya." Dokter itu mengangguk prihatin. "Kami akan memindahkannya ke ruang perawatan, Pak. Beliau mengalami syok neurogenik yang cukup berat. Kami juga akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Karena sepertinya beliau memiliki penyakit bawaan." Rendra berdiri dengan kaki gemetar. Ia menatap ke arah kamar tempat Ilona berada, lalu menatap Farah yang sedang diangkat ke atas brankar. Rendra berjalan gontai ke arah Ilona. Ia menggenggam tangan wanita yang paling dicintainya itu. "Na... bangun! Aku butuh kamu. Aku tidak bisa menghadapi semua ini sendirian. Aku berutang nyawa pada pemuda itu. Aku tidak tahu harus membayarnya dengan cara seperti apa." "Na... Maafkan aku yang tidak berguna. Maaf, aku tidak bisa melindungi kamu dan anak-anak kita sehingga kita harus melibatkan orang lain." Rendra menunduk dalam. Sesekali ia menciumi punggung tangan istrinya, seolah sedang mencari kekuatan di sana. Ia butuh kehadiran Ilona. Hanya suara lembut wanita itu yang bisa menjadi kekuataannya di saat-saat paling rapuh hidupnya seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD