Lampu neon di langit-langit kamar perawatan kelas VIP itu berpijar putih pucat, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding. Di tengah keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh detak jam dinding dan desis halus pendingin ruangan, jemari Ilona mulai bergerak perlahan di atas sprei putih yang kaku.
Kelopak matanya terasa seberat timah. Saat ia mencoba membukanya, dunia seakan berputar hebat. Rasa pening yang tajam menghantam pangkal tengkoraknya, membuatnya mengerang lirih.
"Eungh..."
Ilona memaksakan diri untuk terjaga. Ingatannya yang terakhir adalah kepulan asap hitam, bau bensin yang menyengat, dan raungan suara mesin yang meledak. Jantungnya langsung berdegup kencang secara tidak beraturan.
"Rendra? Gladys? Galen?" gumamnya dengan suara serak yang hampir tak terdengar.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya untuk duduk, namun rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi. Kamar itu sepi. Tidak ada suaminya yang selalu menemaninya di mana pun ia berada.
"Di mana mereka?" Ilona mulai panik. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa aku sendiri di sini? Rendra... kamu di mana?"
Ia mencengkeram pinggiran ranjang, mencoba menstabilkan penglihatannya yang masih kabur. Pikirannya melayang pada detik-detik mengerikan di persimpangan jalan itu. Ia ingat tubuhnya ditarik keluar dari mobil yang ringsek oleh tangan-tangan asing yang hangat. Ia ingat suara ledakan itu...
"Ya Tuhan... anak-anakku..." isaknya pecah.
"Rendra! Rendra kamu di mana? Astaga... apa yang terjadi pada mereka? Di mana keluargaku? Rendra..."
Ilona terus menggumamkan nama suaminya dengan penuh ketakutan. Ia merasa seperti dilemparkan ke dalam kegelapan tanpa pegangan.
Ia mencoba meraih tombol pemanggil suster, namun tangannya bergetar hebat. Di tengah keputusasaannya, pintu kamar akhirnya terbuka perlahan.
Rendra masuk dengan langkah lunglai. Wajahnya tampak layu, matanya merah karena kelelahan dan beban pikiran yang teramat berat. Begitu melihat istrinya sudah terduduk dan menangis, Rendra tersentak.
"Na? Ilona? Kamu sudah sadar, Sayang?" Rendra berlari kecil mendekati ranjang, langsung menyambar tangan istrinya.
Ilona tidak menjawab dengan kata-kata. Ia langsung menghambur ke pelukan Rendra, terisak di d**a suaminya yang masih berbau rumah sakit. "Rendra! Dari mana saja kamu? Aku takut sekali! Aku pikir... aku pikir kalian..."
"Sshhh... tenang, Sayang. Aku di sini. Aku tidak ke mana-mana," bisik Rendra sembari mengusap punggung Ilona dengan protektif.
"Anak-anak, Ren! Mana Gladys? Mana Galen? Kenapa mereka tidak ada di sini?" Ilona menjauhkan tubuhnya sedikit, menatap mata Rendra dengan tatapan menuntut dan penuh ketakutan.
"Katakan padaku mereka baik-baik saja! Jangan bohong padaku, Rendra!"
"Mereka selamat, Na. Mereka hanya luka lecet dan sekarang sudah ikut pulang sama Mama," ujar Rendra berusaha meyakinkan.
"Benarkah? Tapi kamu tidak bohong, kan? Telepon mereka, Rendra! Aku harus melihat keadaan mereka dengan mata kepalaku sendiri!"
"Ini sudah tengah malam, Ilona. Hampir jam satu pagi. Mereka pasti udah tidur sekarang. Tadi Mama Mira datang. Aku minta Mama membawa mereka pulang. Gladys dan Galen sangat ketakutan, dia butuh suasana rumah untuk bisa tenang."
Ilona menarik napas panjang, mencoba meredakan isakannya meski dadanya masih terasa sesak. "Benarkah? Mereka benar-benar tidak apa-apa?"
"Benar, Sayang. Gladys hanya memar di kaki, dan Galen tidak terluka sama sekali. Mereka berdua anak yang kuat."
Ilona menyandarkan kepalanya di bahu Rendra. Keheningan kembali menyelimuti mereka sejenak. Namun, Ilona menyadari sesuatu. Tubuh Rendra terasa sangat kaku. Suaminya itu seolah-olah membawa beban yang sangat besar di pundaknya.
"Ren..." panggil Ilona lirih. "Kamu dari mana tadi? Kenapa saat aku bangun, kamu tidak ada di sini?"
Rendra terdiam. Ia menatap ke arah jendela yang tertutup tirai rapat, seolah-olah sedang menatap sesuatu yang sangat jauh dan menyakitkan.
"Aku... aku tadi di luar sebentar. Mencari udara segar," jawab Rendra singkat.
Ilona mengernyit. Ia tahu suaminya sedang berbohong. Ia bisa merasakan kegelisahan yang memancar dari setiap tarikan napas Rendra.
"Jangan bohong, Rendra. Kamu tidak sedang mencari udara segar. Matamu tidak bisa menipu. Ada apa? Apa ada hal buruk yang belum kamu katakan padaku?"
Rendra menghela napas panjang, lalu ia melepaskan pelukannya dan duduk di kursi samping tempat tidur. Ia menunduk, menatap lantai dengan pandangan kosong.
"Na... kamu ingat pemuda yang menarikmu keluar dari mobil tadi?"
Jantung Ilona berdesir. Bayangan wajah pemuda yang berteriak menyemangatinya di tengah kepulan asap itu kembali muncul.
"Iya, aku ingat. Dia... dia yang menyelamatkan aku saat sabuk pengamanku macet. Aku berutang nyawa padanya, Ren. Di mana dia sekarang? Aku ingin berterima kasih padanya."
Suara Rendra terdengar pecah saat ia menjawab, "Dia sudah tidak ada, Na."
Kamar itu seketika terasa membeku. Ilona terpaku, mulutnya setengah terbuka. "Maksudmu... meninggal?"
Rendra mengangguk pelan, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. "Dia terjepit, Na. Setelah dia mendorongmu keluar ke arahku, kakinya tersangkut di bawah jok. Aku mencoba kembali untuk menariknya, tapi... tapi mobil itu meledak di depan mataku. Dia... dia tidak sempat keluar."
Ilona menutup mulutnya dengan kedua tangan, tangisnya kembali pecah, kali ini lebih memilukan. "Ya Tuhan... tidak... tidak mungkin... Dia menyelamatkan aku, Ren! Dia memberikan nyawanya untukku!"
"Namanya Fadly. Dia memiliki seorang kakak perempuan. Dia mencari adiknya, berteriak-teriak memanggil nama Fadly dengan histeris sampai dokter harus memberinya penenang. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa."
"Kasihan sekali kakaknya... kita berutang budi begitu besar pada mereka," ucap Ilona.
Rendra mengangguk. "Aku merasa seperti pembunuh, Na. Kenapa bukan aku saja yang terjepit di sana? Kenapa harus anak muda itu? Dia punya masa depan, dia punya orang yang menunggunya pulang. Sedangkan aku... aku malah berdiri di sini karena pengorbanannya," bisik Rendra hancur.
Ilona segera meraih wajah Rendra, memaksa suaminya untuk menatapnya. "Jangan bicara begitu, Rendra! Ini bukan salahmu. Ini musibah. Fadly... dia adalah pahlawan. Dia memilih untuk menyelamatkan kita. Dia orang baik, dan orang baik seperti dia pasti sudah tenang di sana."
"Tapi kakaknya, Na... wajahnya saat menatapku... itu akan menghantuiku seumur hidup."
"Kita akan hadapi ini bersama, Ren," ujar Ilona mantap, meski suaranya masih bergetar.
"Besok, setelah aku merasa lebih kuat, kita temui kakaknya. Kita harus berterima kasih secara langsung. Kita harus bertanggung jawab atas semuanya. Apapun yang kakaknya butuhkan, kita harus memenuhinya. Itu adalah satu-satunya cara kita bisa menghargai pengorbanan Fadly."
Rendra mengangguk lemah. "Iya. Aku sudah minta Rio untuk mencari tahu semuanya tentang mereka."
Malam berlalu dengan sangat lambat. Rendra sama sekali tidak memejamkan mata, ia hanya duduk di samping Ilona yang kembali tertidur karena pengaruh obat. Di kepalanya, ia menyusun ribuan kalimat permintaan maaf yang ia tahu tak akan pernah cukup untuk mengganti sebuah nyawa.
Sekitar pukul lima pagi, saat langit di luar mulai berubah warna menjadi biru gelap yang remang, ponsel Rendra bergetar. Sebuah pesan masuk dari Rio.
“Pak, saya sudah di depan kamar perawatan. Ada informasi penting yang perlu saya sampaikan langsung.”
Rendra segera bangkit, memastikan Ilona tidak terbangun, lalu melangkah keluar kamar. Di koridor yang masih sepi, Rio berdiri dengan wajah serius, memegang sebuah map tipis.
"Katakan, Rio. Apa yang kamu dapatkan?" tanya Rendra langsung tanpa basa-basi.
Rio menarik napas pendek. "Data yang saya dapatkan cukup memprihatinkan, Pak. Pemuda itu bernama Fadly Ardiansyah. Usianya baru dua puluh tiga tahun. Dia baru saja diterima menjadi anggota pemadam kebakaran kontrak sekitar satu tahun yang lalu. Itulah sebabnya dia sangat sigap melakukan pertolongan pertama saat kecelakaan terjadi."
Rendra memejamkan mata sejenak, membayangkan pemuda itu. "Pantas saja dia begitu berani," pikirnya pahit.
"Keluarganya?"
"Dia hanya tinggal berdua dengan kakaknya, Farah. Orang tua mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan juga. Jadi praktis, mereka hanya memiliki satu sama lain," lanjut Rio. "Namun, ada hal yang lebih berat lagi, Pak."
"Apa itu?"
"Ibu Farah, kakaknya itu... dia memiliki kondisi kesehatan yang sangat buruk. Dari catatan rumah sakit yang berhasil saya akses secara terbatas, dia memiliki penyakit jantung bocor bawaan dan gagal ginjal kronis. Dia harus menjalani prosedur cuci darah rutin dua kali seminggu. Fisiknya sangat lemah dan dia tidak bisa bekerja."
Rendra tertegun. Genggamannya pada pinggiran kursi di koridor mengerat. "Jadi selama ini..."
"Benar, Pak. Selama ini Fadly adalah tulang punggung tunggal. Dia bekerja keras untuk membiayai pengobatan kakaknya. Gaji pemadam kebakaran, kerja sampingan sebagai kurir, semuanya dilakukan demi Farah."
"Teman-temannya bilang Fadly sangat menyayangi kakaknya. Dia pernah bilang bahwa satu-satunya alasannya berjuang adalah agar Farah tetap bisa berobat."
Suara Rio merendah, "Sekarang, dengan meninggalnya Fadly, Ibu Farah tidak hanya kehilangan adik, tapi juga kehilangan sandaran hidup dan biaya pengobatannya. Tanpa Fadly, secara praktis Ibu Farah tidak akan bisa bertahan lama jika tidak ada yang menjamin biaya rumah sakitnya."
Dada Rendra terasa seperti dipukul palu godam. Rasa bersalah yang tadi malam sudah menyesakkan, kini terasa seperti mencekiknya hingga sulit bernapas.
"Jadi... saat Fadly menyelamatkan istriku, dia tahu bahwa jika dia mati, tidak akan ada lagi yang menjaga kakaknya?" bisik Rendra dengan suara yang hampir menghilang.
"Sepertinya begitu, Pak. Dia mempertaruhkan segalanya."
Rendra membalikkan badannya, menyandarkan dahi ke dinding rumah sakit yang dingin. Air matanya kembali mengalir tanpa suara. Bayangan wajah Farah yang histeris semalam kini terasa sepuluh kali lebih menyakitkan.
"Dia menyelamatkan keluargaku... tapi dia membiarkan keluarganya sendiri hancur," gumam Rendra nelangsa.
Rio hanya diam, membiarkan atasannya itu memproses kenyataan yang sangat pahit tersebut.
"Rio," panggil Rendra setelah beberapa saat. Suaranya kini terdengar lebih berat, penuh dengan tekad yang lahir dari keputusasaan.
"Iya, Pak?"
"Pastikan semua tagihan rumah sakit atas nama Farah dialihkan ke rekening pribadiku. Pastikan dia mendapat fasilitas yang terbaik. Dan sisanya, akan aku diskusikan bersama Ilona setelah keadaannya membaik."
"Baik, Pak. Akan saya lakukan segera."
"Dan sampai aku memberinya kompensasi sesuai yang dia butuhkan, pastikan hidupnya selalu tercukupi. Semua kebutuhannya akan aku tanggung."
"Tapi melihat kondisi psikis Ibu Farah pasca kepergian adiknya, mungkin akan sedikit sulit, Pak," ujar Rio mengingatkan dengan hati-hati.
"Aku pantas disalahkan, Rio. Aku pantas dibenci. Tapi aku tidak akan membiarkan pengorbanan Fadly menjadi sia-sia dengan membiarkan kakaknya terlantar. Aku akan bertanggung jawab penuh sebagaimana mestinya."
Rendra kembali masuk ke dalam kamar. Ilona rupanya sudah terbangun.
"Ren..." panggil Ilona dengan suara parau.
Rendra menghampirinya, duduk di tepi ranjang dan menggenggam tangan istrinya erat-erat. "Semua akan baik-baik saja. Aku akan membayar apa yang telah Fadly lakukan pada keluarga kita."
Ilona mengangguk sembari tersenyum tipis. Lalu, ia memeluk suaminya. Keduanya sama-sama rapuh. Tenggelam dalam rasa bersalah. Namun, berusaha tetap menguatkan satu sama lain.