BAB 2

1911 Words
​”Aku harus cari uang ... sekarang juga.” ​Kalimat itu lolos begitu saja dari sela bibir Elsha yang memucat. Ia berdiri mematung di ujung koridor rumah sakit yang berbau pekat antiseptik, menatap lembar tagihan dalam cengkeraman jemarinya yang gemetar. Angka yang tertera di sana mendadak terasa seperti tamparan yang bertubi-tubi menghantam wajahnya. Ibunya, Wirdhani, baru saja dipindahkan ke ruang ICU karena kondisinya kritis. Biaya pengobatan melesat tak terkendali, tunggakan menumpuk, dan pihak administrasi baru saja memberinya tenggat waktu yang kejam. ​”Bu ... bertahan dulu, ya,” bisik Elsha lirih pada keheningan di depannya, berharap untaian doa itu sanggup menembus pintu kaca ICU yang tertutup rapat. ​Tepat saat itu, ponsel usang di saku celemeknya bergetar kasar. Elsha menarik napas dalam-dalam sebelum menekan tombol hijau. “Halo?” ​”Elsha Wirandani?” ​Suara berat di seberang sana menyapa tanpa basa-basi, begitu dingin dan sarat ancaman. Elsha menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan. “Iya, Pak.” ​”Kamu pasti tahu alasan saya menelepon. Utang mendiang ayahmu sudah lewat jatuh tempo terlalu lama. Kalau tidak ada pelunasan minggu ini, rumah kecil kalian di kampung akan kami sita.” ​Elsha memejamkan mata rapat-rapat, bersandar pada dinding koridor yang dingin. “Pak, saya mohon ... beri saya waktu sedikit lagi. Ibu saya sedang kritis di rumah sakit. Saya sedang mengusahakan uangnya.” ​”Kami sudah memberikan terlalu banyak kelonggaran, Elsha. Minggu ini adalah batas terakhir. Kalau tidak ada uang, rumah itu masuk daftar lelang.” ​”Pak, tolong jangan lakukan itu ...” suara Elsha mulai pecah, air mata yang sejak tadi ditahannya kini mendesak keluar. “Itu satu-satunya tempat tinggal yang kami miliki.” ​”Cari uangnya atau kehilangan rumah itu. Pilihannya cuma itu.” ​Sambungan telepon diputus sepihak. Elsha menatap layar ponselnya yang menggelap dengan pandangan kosong. Dunia di sekelilingnya seolah menyempit secara drastis, menghimpit d**a hingga ia sulit bernapas. Pihak rumah sakit menuntut pembayaran, penagih utang mengejarnya tanpa ampun, sementara ibunya bertaruh nyawa di dalam sana. Di tengah pusaran badai ini, ia benar-benar sendirian. ​Sena-satunya tumpuan yang tersisa hanyalah upah bulanannya sebagai pelayan di kediaman keluarga Wahyudono. ​Sore harinya, Elsha kembali ke rumah megah itu dengan langkah yang terasa seberat timah. Istana aristokrat di kawasan elite Jakarta itu berdiri kukuh dan angkuh, menyuarakan jurang pemisah yang teramat lebar bagi nasibnya yang terlunta-lunta. ​Setelah mengganti pakaian, ia bergegas menuju kamar utama untuk mengantarkan nampan. Di atas ranjang besar berdesain klasik, Safiya sedang berbaring telentang. Tatapan matanya kosong menatap langit-langit, wajah cantiknya pucat seolah seluruh gairah hidupnya telah runtuh dalam semalam. ​”Bu Safiya,” panggil Elsha dengan suara selembut mungkin, melangkah mendekat dengan hati-hati. “Saya bawakan sup hangat. Dokter bilang Ibu harus mengisi perut sedikit.” ​Safiya tidak bergeming, bahkan tidak menoleh. “Aku tidak mau makan, Elsha. Bawa keluar lagi.” ​”Tapi Ibu harus makan sedikit,” bujuk Elsha tetap bertahan di sisi ranjang, rasa ibanya terusik melihat kondisi sang majikan. “Kalau Ibu terus menolak makanan, kondisi fisik Ibu bisa semakin drop.” ​Safiya perlahan memutar kepalanya. Sepasang matanya nampak kuyu—ada keletihan batin yang mendalam di sana, bercampur dengan kilat emosi yang sulit diartikan. “Kamu selalu perhatian, Elsha.” ​”Saya hanya menjalankan tugas saya di rumah ini, Bu.” ​”Tidak, kamu berbeda dari pelayan yang lain.” Safiya mendudukkan tubuhnya perlahan, menyandarkan punggung pada tumpukan bantal sutra. “Kamu tulus melakukan segalanya. Kamu tidak pernah mengeluh, kamu memiliki paras yang cantik tapi tidak pernah bertingkah genit, dan kamu ... bersih dari intrik.” ​Elsha menundukkan kepala, mendadak merasa kikuk dan tidak nyaman di bawah tatapan intens yang menghujamnya. “Saya hanya berusaha membantu meringankan beban di rumah ini, Bu.” ​Safiya mengamati garis wajah pelayan mudanya itu dalam diam yang cukup lama, seolah sedang menimbang sebuah keputusan besar. “Kamu tinggal bersama ibumu di kota ini, kan?” ​Elsha agak terkejut mendengar pertanyaan pribadi itu, namun ia tetap mengangguk. “Benar, Bu.” ​”Ibumu sedang sakit?” ​Elsha terdiam sejenak, meremas jemarinya di balik celemek. “Iya, Bu.” ​”Sakitnya parah?” ​” ...Iya, sekarang sedang di ICU.” ​Safiya mengangguk-angguk pelan, seolah potongan informasi itu adalah kepingan puzzle terakhir yang sedang ia cari. “Kamu pasti sedang membutuhkan uang dalam jumlah yang sangat besar, Elsha.” ​Elsha menelan ludah, merasa harga dirinya sedikit terusik, namun kenyataan hidup tidak memberinya ruang untuk berbohong. “Semua orang di posisi saya pasti butuh uang, Bu.” ​”Tapi kamu membutuhkannya jauh lebih mendesak daripada orang lain.” ​Elsha memilih untuk membisu. Ia menunduk dalam-dalam, memegang tepian nampan dengan cengkeraman yang bergetar. ​Safiya menyunggingkan senyum tipis yang tampak janggal. “Letakkan sup itu di atas meja konsol. Aku ingin bicara serius denganmu.” ​Elsha menurut tanpa suara, menaruh nampan lalu berdiri dengan sikap hormat. “Ada hal lain yang bisa saya bantu, Bu?” ​”Ada. Sesuatu yang besar.” Safiya turun dari ranjangnya. Langkah kakinya yang anggun berayun menuju pintu kamar, menutupnya rapat-rapat, lalu memutar anak kunci dari dalam untuk memastikan privasi mereka tidak terganggu. ​Jantung Elsha berdegup kencang melihat tindakan itu. “Bu Safiya? Kenapa pintunya dikunci?” ​”Duduk dulu, Elsha. Tenang saja.” Safiya berjalan menuju sebuah lemari kayu ukir di sudut ruangan, membuka laci rahasia di dalamnya, lalu mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang tampak berat. ​Ia kembali melangkah mendekati Elsha, lalu tanpa ragu menjatuhkan amplop itu tepat di atas pangkuan pelayan mudanya. ​Elsha menatap benda itu dengan kening berkerut. “Apa ini, Bu?” ​”Buka saja. Itu cek tunai atas namamu.” Safiya mengambil tempat duduk tepat di hadapan Elsha, melipat kakinya dengan anggun namun tatapannya mengunci pergerakan Elsha. “Nominal di dalam sana lebih dari cukup untuk melunasi seluruh biaya ICU ibumu sampai sembuh total. Utang peninggalan almarhum ayahmu di kampung juga bisa bersih hari ini, dan kamu bahkan punya sisa uang untuk membelikan ibumu rumah yang lebih layak.” ​Sepasang mata Elsha membelalak sempurna saat melihat deretan angka nol yang tertera pada lembaran cek di dalam amplop. Tubuhnya gemetar hebat. “Bu ... ini ... ini terlalu banyak. Saya tidak bisa menerima uang sebanyak ini.” ​”Tidak ada kata terlalu banyak jika itu menyangkut nyawa ibumu, Elsha.” ​”Tapi saya tidak mungkin mengambilnya,” tangkis Elsha, meletakkan kembali amplop itu ke atas meja dengan tangan gemetar. “Saya tidak bisa menerima uang yang bukan hak saya tanpa alasan yang jelas.” ​”Tentu saja ada alasannya.” Safiya mendadak memajukan tubuhnya, meraih kedua tangan Elsha dan menggenggamnya dengan cengkeraman yang teramat erat. “Aku ingin kamu melakukan sebuah tugas khusus untukku.” ​Elsha merasakan firasat buruk mulai merayap di tengkuknya. “Tugas apa, Bu?” ​Safiya menarik napas panjang, menatap lurus ke dalam manik mata Elsha dengan sorot keputusasaan yang gila. “Aku ingin kamu memberikan sesuatu yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh tubuhku sendiri.” ​Elsha mengerutkan kening, kebingungan menyelimuti benaknya. “Saya benar-benar tidak mengerti maksud Ibu.” ​Safiya semakin mendekatkan wajahnya, memangkas jarak di antara mereka hingga suaranya terdengar seperti bisikan gaib yang mencekam. “Aku ingin kamu mengandung anak suamiku, Elsha.” ​Dunia seolah berhenti berputar bagi Elsha. Tubuhnya kaku, matanya menatap Safiya dengan tatapan tidak percaya. “Bu Safiya ... tolong jangan bercanda. Saya tidak bisa melakukan hal gila seperti itu.” ​”Kamu bisa, Elsha!” Genggaman tangan Safiya semakin mengetat, nyaris mencengkeram kulit pelayannya. “Dan dalam situasi seperti ini, kamu harus melakukannya.” ​”Tidak, Bu! Ini tidak benar!” Elsha mencoba menarik tangannya, namun Safiya menolak untuk melepaskannya. “Ini salah secara moral. Ini dosa.” ​”Benar atau salah, aku sudah tidak peduli lagi dengan semua omong kosong itu!” Suara Safiya meninggi, dipenuhi oleh rasa frustrasi yang telah membusuk di dalam dadanya selama bertahun-tahun. “Aku sudah mencoba selama lima tahun, Elsha! Lima tahun pernikahan ini terasa seperti neraka karena rahimku mandul! Ibu mertuaku menekan dan menghinaku setiap hari! Jika aku tidak memberikan seorang pewaris tahun ini, posisiku akan digantikan oleh wanita lain. Aku tidak punya jalan keluar lagi!” ​Elsha menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai menetes perlahan. “Tapi saya hanya seorang pelayan di rumah ini, Bu. Saya tidak pantas masuk ke dalam urusan rumah tangga Ibu dan Tuan Sena.” ​”Justru karena kamu seorang pelayan, kamu menjadi sangat pantas!” potong Safiya cepat tanpa memikirkan perasaan Elsha. “Kamu masih muda, tubuhmu sehat, rahimmu berfungsi dengan sempurna untuk mengandung benih suamiku. Dan yang paling penting, kamu sedang berada di ujung tanduk karena membutuhkan uang.” ​Elsha menundukkan wajahnya, membiarkan air matanya jatuh membasahi celemek kerjanya. Kata-kata sang majikan terasa begitu menelanjangi kemiskinannya. “Bu ... saya memang miskin, tapi saya tidak bisa menjual tubuh saya sendiri.” ​”Siapa yang bilang kamu menjual tubuhmu?” Safiya melembutkan intonasi suaranya, mengubah taktik menjadi bujukan manipulatif yang halus namun mematikan. Ia mengusap punggung tangan Elsha dengan ibu jarinya. “Kamu tidak sedang melacurkan diri, Elsha. Kamu sedang melakukan misi mulia untuk menyelamatkan nyawa ibumu sendiri. Pikirkan hal itu.” ​Elsha tertegun. Isak tangisnya tertahan di d**a. ​Melihat pertahanan Elsha yang mulai goyah, Safiya menekan lebih dalam tanpa memberi jeda. “Bayangkan saja, sore ini juga ibumu bisa mendapatkan perawatan medis terbaik tanpa kamu harus memikirkan biaya lagi. Bayangkan utang-utang yang mengejarmu hangus seketika. Rumah peninggalan ayahmu di kampung halaman tidak akan pernah disita oleh siapa pun. Hidupmu tidak akan lagi dihantui ketakutan.” ​”Bu Safiya ... tolong jangan paksa saya ...” ​”Pikirkan, Elsha. Hidupmu dan ibumu bisa berubah seratus delapan puluh derajat hanya dalam waktu semalam. Hanya dengan satu keputusan.” ​Elsha menarik tangannya dari genggaman Safiya, lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kepalanya terasa mau pecah. Di satu sisi, moralitasnya menjerit menolak tindakan ini, namun di sisi lain, bayangan wajah ibunya yang pucat di ruang ICU terus membayangi pikirannya. ​Safiya mengulurkan tangan, menyentuh pundak Elsha yang berguncang pelan. “Aku sama sekali tidak meminta kamu untuk merebut suamiku atau menjadi istrinya. Pernikahan kami akan tetap berjalan seperti biasa. Tugasmu hanya meminjamkan rahimmu untuk mengandung anaknya sampai melahirkan. Begitu bayi itu lahir dan diserahkan kepadaku, kamu bebas. Kamu bisa mengambil seluruh uangmu, pergi dari rumah ini, dan memulai lembaran hidup yang baru bersama ibumu di tempat lain.” ​”Tapi Bu ... kesepakatan ini ... terlalu besar dan menakutkan bagi saya.” ​”Tidak ada yang lebih besar daripada rasa cintamu pada ibumu, Elsha. Apakah kamu tega melihat ibumu meninggal hanya karena kamu terlalu egois mempertahankan ego?” ​Kalimat terakhir Safiya menghujam tepat ke ulu hati Elsha. Ruangan luas itu mendadak hening seketika, seolah waktu sengaja berhenti untuk menunggu jawaban dari bibir sang pelayan. ​Safiya kembali meraih jemari Elsha yang terkulai lemas di atas pangkuannya, menggenggamnya dengan tatapan mata yang memancarkan perpaduan antara harapan mutlak dan keputusasaan yang mendalam. “Selamatkan ibumu, Elsha. Hanya kamu yang bisa melakukannya saat ini.” ​Elsha perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, menatap sang majikan dengan pandangan yang telah kehilangan arah. ​Safiya berbisik lirih, meyakinkan umpan terakhirnya. “Cukup berikan aku satu anak dari benih suamiku ... dan seluruh penderitaan finansialmu akan berakhir hari ini juga.” ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD