BAB 3

1615 Words
”Safiya, apa yang kamu lakukan membawa dia ke sini?” ​Suara Sena memecah keheningan ruang kerja yang luas itu dengan intonasi yang begitu menusuk. Pria itu tengah menyandarkan punggungnya di kursi kerja, jemarinya memijat pelipis demi meredakan sakit kepala hebat setelah terjebak rapat direksi yang melelahkan. Namun, ketenangannya buyar seketika saat daun pintu jati itu terbuka, menampilkan Safiya yang melangkah masuk bersama Elsha yang berjalan mengekor di belakang dengan kepala tertunduk dalam balutan seragam pelayan. ​Elsha berdiri mematung di dekat pintu yang baru saja tertutup, meremas kedua telapak tangannya yang mendadak dingin dan basah. Aroma kayu cendana dan buku-buku tua di dalam ruangan ini terasa begitu mengintimidasi, berbaur dengan aura dominan dari pria yang duduk di balik meja mahoni besar di ujung sana. ​Safiya melangkah maju, memperlihatkan ketenangan yang terkesan dipaksakan. “Sena, kita perlu bicara serius malam ini.” ​Sena menurunkan tangannya dari pelipis, menatap lurus pada sang istri sebelum mengalihkan pandangannya pada sosok pelayan muda di dekat pintu. “Kenapa dia harus ikut masuk ke ruangan ini?” ​”Karena aku ingin kamu melihat secara langsung wanita yang sudah kupilih.” ​”Wanita pilihanmu?” Sena mengulang frasa itu dengan tawa hambar yang terdengar mengerikan. “Safiya, aku minta jangan mulai kegilaan ini lagi.” ​Safiya tidak bergeming setapak pun. Ia justru melangkah mantap mendekati meja kerja suaminya, menumpukan kedua telapak tangannya di atas permukaan kayu yang mengilap demi menyalurkan gelisah. “Kamu bilang kamu menolak menyentuh wanita lain karena tidak ingin mengkhianati pernikahan kita. Aku hargai itu, Sena. Tapi aku juga tidak bisa terus-menerus hidup seperti mayat berjalan di bawah tekanan Mama.” ​Sena menghela napas panjang, mencoba meredam amarahnya yang mulai tersulut. “Safiya, aku sudah menegaskan kalau aku tidak akan—” ​”Dengarkan aku dulu, Sena!” potong Safiya cepat, tidak memberi ruang bagi suaminya untuk mendominasi percakapan. “Aku tidak asal memilih. Aku sudah menyeleksi gadis yang paling tepat untuk posisi ini.” ​Sena menatap istrinya dengan sorot mata yang sulit diartikan—perpaduan antara kecewa, marah, dan rasa tidak percaya. “Kamu sengaja membawa pelayan rumah kita ke ruang kerjaku hanya untuk mempermalukan harga diriku?” ​Safiya tidak menjawab suaminya secara langsung, melainkan memutar tubuhnya menghadap pintu. “Angkat wajahmu, Elsha. Sampaikan apa yang sudah kita sepakati.” ​Elsha tersentak, perlahan ia mendongak meski sepasang matanya yang bergetar tidak berani menatap lurus ke arah sang tuan muda. “Tuan Sena ... saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kehadiran saya di sini lancang dan mengganggu waktu Tuan.” ​Sena hanya melirik Elsha sekilas dengan tatapan dingin, lalu kembali mengunci fokusnya pada Safiya. “Safiya, permainan apa lagi ini? Semua ini sama sekali tidak masuk akal.” ​”Ini sangat masuk akal, Sena!” Safiya menyahut dengan intonasi yang bergetar oleh keputusasaan. “Elsha ini gadis yang bersih, dia penurut, dan tulus. Dia tidak akan pernah berani bertingkah macam-macam atau memeras kita di masa depan karena status sosialnya yang rendah. Dia sangat membutuhkan uang tunai saat ini, dan dia bersedia patuh sepenuhnya pada kontrak tanpa menuntut hak apa pun atas anak itu nanti.” ​”Safiya.” Sena menahan napasnya sejenak, suaranya mendadak turun beberapa oktaf menjadi begitu rendah dan mencekam. “Kamu benar-benar sudah kehilangan akal sehat jika mengira bisa mengeksploitasi kemiskinan seseorang untuk urusan seperti ini.” ​”Aku melakukannya karena dia adalah opsi yang paling aman bagi kita berdua!” Safiya bergerak mengitari meja, mencoba mengikis jarak dengan suaminya. “Dia tidak akan pernah mengusik kehidupan domestik kita setelah tugasnya selesai. Keberadaannya tidak akan mengancam posisiku sebagai istri sah di rumah ini. Dia hanya meminjamkan rahimnya untuk mengandung anak kita, Sena. Hanya itu.” ​Sena mencengkeram tepi meja, lalu berdiri dari kursinya hingga menciptakan bayangan yang tinggi dan mengintimidasi. “Keluar.” ​Safiya mengerutkan kening, langkahnya terhenti. “Apa?” ​”Aku bilang keluar dari ruangan saya.” Sena mengalihkan pandangan tajamnya langsung pada Elsha, seolah tatapan itu sanggup menembus kulit pelayan muda tersebut. “Kamu juga, Elsha. Keluar dari ruangan ini sekarang.” ​Elsha tersentak hebat, gertakan halus itu terasa menghantam dadanya. “Tuan Sena, saya—” ​”Keluar, Elsha. Jangan membuat saya mengulanginya untuk ketiga kali.” ​Nada bicara Sena yang sarat akan otoritas mutlak membuat lutut Elsha seketika lemas. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, berbalik dengan tergesa-gesa untuk menggapai gagang pintu. Namun, tepat sebelum ia berhasil meloloskan diri, Safiya sempat menahan pergelangan tangannya. ​”Tunggu aku di lorong depan,” bisik Safiya dengan suara parau yang nyaris tak terdengar. ​Elsha mengangguk cepat, lalu bergegas keluar dan merapatkan kembali pintu jati tersebut. Di koridor yang sunyi, ia menyandarkan punggungnya ke dinding, meraba dadanya yang bergemuruh hebat akibat detak jantung yang tak karuan. ​Tepat setelah pintu tertutup rapat, benteng pertahanan di dalam ruang kerja itu runtuh total. Pertengkaran hebat meledak di antara sepasang suami istri tersebut. ​”Sena! Kamu tidak berhak mengusirnya seolah dia adalah sampah!” Safiya menatap suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca oleh luapan emosi. “Kamu harus tahu kalau aku menanggung semua kehinaan ini demi mempertahankan kelangsungan hubungan kita!” ​”Demi kita?” Sena tertawa pendek, sebuah tawa getir yang penuh dengan rasa frustrasi yang memuncak. “Safiya, kamu membawa seorang pelayan rumah tangga ke meja kerjaku, menawarkannya seolah dia barang sewaan, lalu menyuruhnya mengandung anakku. Kamu masih berani menyebut tindakan menjijikkan ini demi kebaikan kita?” ​”Karena aku memang sudah tidak memiliki pilihan lain, Sena!” Safiya memukul dadanya sendiri berulang kali dengan tangan yang gemetar hebat. “Ibormu mencaci makiku setiap hari! Kamu tidak pernah ada di rumah saat beliau datang dan menginjak-injak harga diriku!” ​”Aku tahu Mama bersikap keras kepadamu. Tapi mengorbankan moralitas bukan jalan keluar yang bisa kuterima.” ​”Lalu apa solusinya?!” Suara Safiya pecah menjadi jeritan histeris yang memantul di dinding ruangan. “Aku tidak bisa hamil! Aku sudah mengonsumsi ribuan obat, menjalani terapi hormon yang menyiksa, tapi rahimku tetap mati! Kamu tahu betapa hancurnya aku setiap kali melihat hasil tes yang selalu negatif?” ​Sena memejamkan matanya, merasakan tusukan rasa bersalah yang teramat dalam mulai merayap di dadanya. Ia menghela napas, melunakkan sedikit suaranya. “Safiya, aku tidak pernah sekalipun menuntut atau menyalahkan kondisimu.” ​”Tapi seluruh keluarga besar Wahyudono menudingku sebagai wanita pembawa sial!” Safiya menatap Sena dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh ketakutan purba yang amat pekat. “Dan aku tidak akan pernah sanggup jika harus kehilangan posisiku di sampingmu, Sena.” ​”Aku sudah berjanji, kamu tidak akan kehilangan apa pun.” ​”Kalau begitu, wujudkan janjimu dengan menyetujui rencana ini.” Safiya kembali mendekat, meraih jemari Sena dan menggenggamnya dengan sisa tenaga yang ia miliki. “Lakukan ini demi pernikahan kita, aku mohon.” ​Sena menarik tangannya dari genggaman Safiya dengan gerakan perlahan namun sarat penolakan. “Aku tidak akan pernah menyentuh wanita lain, Safiya. Tolong camkan itu.” ​”Kita bisa menggunakan jalur medis di luar negeri tanpa melibatkan persentuhan fisik, Sena! Kita bisa merekayasanya!” ​”Tetap tidak.” Sena menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Aku tidak akan membiarkan pernikahan yang kita bangun didasarkan pada transaksi bisnis yang kotor.” ​Safiya menelan ludahnya yang terasa kelat, suaranya mendadak turun menjadi parau dan lirih, nyaris menyerupai rintihan. “Sena ... aku memohon kepadamu ... kali ini saja.” ​”Cukup, Safiya. Berhenti bertingkah seperti wanita yang kehilangan martabat.” Sena memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang menampilkan pekatnya malam. “Aku tidak akan membiarkanmu menjatuhkan harga diri lebih dalam dari ini.” ​”Aku sudah tidak peduli lagi dengan harga diri sialan itu!” Safiya berteriak histeris, namun tepat setelah kalimat itu lolos, langkah kakinya mendadak goyah. “Aku ... aku hanya peduli ... tentang posisi kita ...” ​Sena menoleh cepat, menangkap gurat keanehan pada gestur istrinya. “Safiya? Ada apa denganmu?” ​Safiya mencengkeram bagian depan gaun tidurnya tepat di area d**a, napasnya mendadak memburu pendek dan tersengal-sengal. “Sena ... aku ... pasokkan udaraku ... aku tidak bisa bernapas ...” ​”Safiya!” Rasa panik seketika merayap di wajah Sena. Ia melangkah lebar memutari meja kerja, menghampiri istrinya yang mulai limbung. “Safiya, tatap mataku. Tenangkan dirimu.” ​”Aku ... dadaku terasa sangat sesak ...” Safiya berusaha meraup oksigen di sekitarnya, namun seluruh tubuhnya justru mulai bergetar hebat sebelum akhirnya kesadarannya menipis. “Sena ... tolong aku ...” ​”Safiya!” ​Sena bergerak cepat menyergap tubuh istrinya tepat sebelum wanita itu ambruk sepenuhnya ke atas lantai marmer. Tubuh Safiya yang terkulai lemas bersandar pada lengan kokoh Sena, menciptakan suara pergeseran kain dan kepanikan yang teredam hingga ke luar ruangan. ​Di luar koridor, Elsha yang sejak tadi berjalan mondar-mandir dengan cemas langsung menghentikan langkahnya. Pikirannya dipenuhi tanda tanya besar saat mendengar sayup-sayup kegaduhan yang mendadak senyap dari dalam kerja. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. ​”Bu Safiya?” bisik Elsha pelan pada daun pintu yang tertutup, berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk di dalam sana. ​Namun, detik berikutnya, bentakan panik dari suara Sena terdengar menggema begitu keras, menembus sekat pintu jati yang tebal. ​”Panggil dokter keluarga sekarang juga! Cepat ke ruang kerja saya!” ​Elsha spontan membekap mulutnya dengan kedua telapak tangan, tubuhnya bergetar hebat di tempatnya berdiri. Meski ia tidak mengetahui secara pasti apa yang terjadi di dalam ruangan itu, satu hal yang ia pahami dengan jelas rencana nekat yang digagas oleh Safiya sore tadi telah menyulut sumbu ledak yang jauh lebih besar dan berbahaya dari sekadar transaksi rahim. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD