BAB 4

1817 Words
​”Apa saya sudah merusak semuanya ... hanya karena saya ada di sini?” ​Pertanyaan lirih itu lolos dari bibir Elsha yang bergetar. Ia duduk meringkuk di sudut dapur yang remang-remang, memeluk lututnya di atas lantai porselen yang dingin. Malam telah larut, meninggalkan keheningan yang mencekam di seluruh sudut kediaman Wahyudono, namun Elsha sama sekali tak berniat beranjak. Air matanya mengalir deras tanpa suara, membasahi kain celemek yang ia gunakan untuk menyembunyikan wajahnya yang sembap. Ingatan tentang tubuh Nyonya Safiya yang ambruk di ruang kerja, berpadu dengan teriakan panik Tuan Sena memanggil dokter, terus berputar layaknya mimpi buruk yang menghantam dadanya. ​”Kalau saja saya tidak ikut masuk ke ruangan itu tadi ... kalau saja saya menolak sejak awal ...” Elsha menggigit bibir bawahnya erat-erat, sekuat tenaga menahan isak tangis agar tidak memecah kesunyian malam. ​Dapur luas itu terasa begitu asing dan menakutkan, hanya diterangi seberkas pendar kuning dari lampu sudut meja. Bau seduhan teh yang telah mendingin di dekatnya seolah mempertegas betapa sunyi dan terasingnya posisi Elsha di dalam istana megah ini. Rumah ini tak ubahnya labirin yang siap menelan kewarasannya hidup-hidup. ​Pintu geser dapur mendadak bergeser pelan. ​”Elsha? Kamu belum tidur?” ​Pertanyaan dari kepala perawat rumah tangga itu mengejutkan Elsha. Ia buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan, berusaha menguasai diri. “Iya, Mbak. Belum.” ​Wanita paruh baya itu melangkah mendekat, lalu mengambil tempat duduk di samping Elsha, menatapnya dengan sorot iba. “Baru saja dokter keluar dari kamar Bu Safiya. Kondisinya sudah berhasil distabilkan, tapi ... detak jantungnya semakin melemah. Efek stres kronisnya benar-benar parah kali ini.” ​Elsha menunduk, meremas jemarinya sendiri dengan perasaan bersalah yang kian menggunung. “Ini semua karena kesalahan saya, Mbak.” ​”Jangan memikul beban sendirian, Elsha. Kamu hanya menuruti apa yang diperintahkan oleh Bu Safiya.” ​”Tapi saya tetap melangkah masuk ke ruangan itu,” suara Elsha melemah, nyaris menyerupai bisikan penuh sesal. “Saya tetap membiarkan diri saya menjadi penyebab Tuan Sena murka.” ​Perawat itu menghela napas panjang, menepuk pelan bahu Elsha. “Tuan Sena tidak marah kepadamu, Elsha. Beliau hanya marah pada keadaan yang mengimpitnya.” ​Elsha memilih bungkam. Ia merapatkan pelukannya pada lutut, mencoba menulikan telinga dari rasa bersalah yang terus-menerus menuntut pertanggungjawaban di dalam batinnya. ​Keesokan paginya, suasana di kamar utama keluarga Wahyudono tak kalah mencekam. Dokter spesialis yang merawat Safiya berdiri di samping ranjang besar dengan rahang mengeras, menyampaikan laporan medis kepada Sena dengan gurat wajah yang teramat serius. ​”Jantung Ibu Safiya mengalami penurunan fungsi yang cukup signifikan. Tekanan psikologis yang berkelanjutan memperburuk gejalanya. Jika beliau terus menolak mengonsumsi obat-obatan penunjang, saya khawatir kondisinya akan merosot tajam dalam beberapa hari ke depan.” ​Dari balik tumpukan bantal sutra, Safiya menatap lurus ke arah Sena yang berdiri kaku di tepi ranjang. Wajah wanita itu sepucat kain kafan, namun sepasang matanya memancarkan kilat ketetapan hati yang berbahaya. “Aku tidak akan menyentuh obat-obatan itu satu butir pun sebelum kamu menyetujuinya, Sena.” ​Sena mengerutkan keningnya, gurat kelelahan dan amarah berpadu di wajah tampannya. “Safiya, jangan menggunakan nyawamu sendiri sebagai alat taruhan seperti ini.” ​”Aku tidak sedang bercanda, Sena.” Safiya mencengkeram bagian kiri dadanya, napasnya terdengar pendek-pendek dan berat. “Kalau kamu tidak bersedia menandatangani dokumen pernikahan siri itu ... aku akan membiarkan tubuhku berhenti berjuang.” ​”Tindakan gila ini bisa membunuhmu, Safiya!” ​”Aku tahu.” ​Sena mematung, menatap wanita yang telah mendampinginya selama lima tahun itu dengan pandangan yang sarat akan rasa frustrasi. “Jangan gunakan kesehatanmu untuk menjebakku dalam sudut yang mustahil.” ​”Aku tidak berniat menjebakmu,” air mata Safiya mulai mengalir melewati pipinya yang tirus, membasahi bantal tempatnya bersandar. “Aku hanya ... sudah kehabisan cara untuk mempertahankan suamiku sendiri.” ​Dokter keluarga di samping mereka melirik Sena dengan ekspresi cemas yang amat kentara. “Tuan Sena, dari sudut pandang medis, kondisi Ibu Safiya benar-benar berada di ambang batas. Jika beliau melakukan aksi mogok obat, saya tidak bisa menjamin keselamatannya lagi.” ​Safiya terus mengunci pandangannya pada Sena tanpa berkedip. “Sekarang, kelangsungan hidupku berada sepenuhnya di bawah keputusanmu.” ​Sena merasa seolah oksigen di dalam kamar itu mendadak menguap habis. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya—wanita yang selama ini ia lindungi dari kerasnya dunia luar, wanita yang rapuh sekaligus keras kepala, yang kini justru menggunakan kerapuhannya untuk menghantam benteng pertahanannya sendiri. ​”Safiya ...” Suara Sena terdengar parau. ​”Ya, Sena?” ​”Kenapa kamu harus memaksaku memilih antara kelangsungan hidupmu dan harga diri pernikahan kita?” ​Safiya memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan sisa air matanya tumpah. “Karena aku tidak memiliki senjata lain untuk menghadapi ketakutan akan kehilangan dirimu.” ​Sena menundukkan kepalanya dalam-dalam, menumpu keningnya dengan telapak tangan yang gemetar. Rasa bersalah dan kewajiban moral sebagai seorang suami mencabik-cabik logikanya. “Aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu, Safiya.” ​”Kalau begitu ...” Safiya perlahan mengulurkan tangannya yang kurus ke arah Sena. “Tolong, tanda tangani kontrak pernikahan siri itu.” ​Sena menatap jemari istrinya dalam keheningan yang panjang dan mencekik. Cukup lama ia bergeming, sebelum akhirnya menurunkan tubuhnya untuk duduk di tepi ranjang, menyambut genggaman tangan Safiya dengan jemari yang terasa sedingin es. ​”Aku ...” Sena menarik napasnya dengan amat berat, seolah udara yang masuk ke paru-parunya berubah menjadi serpihan kaca. “Aku akan menyetujuinya.” ​Safiya mengembuskan napas lega yang teramat panjang, seolah batu besar yang selama ini menghimpit dadanya lenyap seketika. “Terima kasih, Sena. Terima kasih banyak.” ​Sena tidak membalas ucapan itu. Ia hanya menatap lantai marmer di bawahnya dengan pandangan mata yang kosong melongpong. Pada detik itu, Sena merasakan sebagian dari prinsip hidup dan kehormatannya mati rasa—tercerabut paksa oleh takdir yang tidak pernah ia inginkan. ​Sore harinya, kondisi di kediaman Wahyudono kian mendingin saat Elsha diminta menghadap ke ruang kerja pribadi sang tuan muda. ​Untuk pertama kalinya sepanjang bekerja di rumah itu, Elsha melangkah melewati ambang pintu ruang kerja mewah tersebut seorang diri, tanpa ada Nyonya Safiya yang mendampinginya. Begitu pintu jati di belakangnya merapat, detak jantung Elsha berdentum begitu keras hingga ia khawatir suaranya bisa memenuhi ruangan. Ruang kerja itu terasa teramat luas, dikelilingi rak-rak buku setinggi langit-langit, aroma kayu mahoni yang pekat, dan aura intimidasi mutlak yang memancar dari balik meja besar. ​”Tuan Sena ... Anda memanggil saya?” tanya Elsha dengan suara yang nyaris tenggelam oleh rasa takut. ​Sena duduk tegak di balik meja kerjanya. Wajahnya begitu datar dan dingin, menyerupai pahatan patung marmer tanpa ekspresi. Tidak ada lagi gurat keraguan atau kemarahan yang meluap seperti malam sebelumnya—yang tersisa hanyalah ketegasan absolut yang siap menghancurkan siapa saja. ​”Duduk.” ​Elsha mengambil tempat di kursi kulit di hadapan Sena dengan gerakan yang teramat pelan, menjaga agar kepalanya tetap tertunduk dalam-dalam. ​Di atas permukaan meja yang mengilap, selembar dokumen tebal telah terbentang rapi. Kertas putih bersih dengan barisan ketikan hitam itu tampak seperti vonis mati bagi Elsha. ​Sena mengunci pandangannya pada pelayan muda di depannya tanpa sedetik pun beralih. “Kamu pasti sudah memahami alasan penuh kenapa kamu berada di ruangan ini sekarang.” ​Elsha menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak sekering padang pasir. “Bu Safiya ... sudah menceritakan garis besarnya kepada saya, Tuan.” ​”Garis besar?” Sena mengangkat sebelah alisnya dengan tatapan meremehkan. “Dia menginginkanmu untuk meminjamkan rahimmu guna mengandung anak dari garis keturunanku.” ​Elsha semakin menenggelamkan wajahnya, meremas ujung rok seragamnya. “Saya ... saya benar-benar tidak tahu harus melangkah bagaimana, Tuan.” ​”Kamu tidak perlu tahu dan tidak perlu berpikir terlalu jauh,” sahut Sena dingin, seraya menggeser dokumen tebal tersebut ke hadapan Elsha. “Tugasmu di sini sangat sederhana. Baca seluruh klausulnya, lalu bubuhkan tanda tanganmu di atas meterai.” ​Elsha menatap lembaran kertas itu dengan tangan yang gemetar hebat, matanya buru-buru menyapu deretan pasal hukum yang tertera di sana. “Tuan Sena ... kesepakatan ini terlalu besar dan menakutkan bagi orang seperti saya.” ​”Nilainya tidak akan pernah lebih besar daripada nominal uang yang kamu butuhkan untuk menyelamatkan nyawa ibumu di rumah sakit, Elsha.” ​Kalimat Sena seketika membungkam Elsha. Kenyataan pelit itu menghantamnya tanpa ampun. ​Sena kembali melanjutkan dengan nada suara yang datar namun sarat akan penekanan yang tak bisa dibantah. “Kontrak ini mengatur segalanya secara legal. Kamu akan dinikahi secara siri oleh saya di bawah hukum agama, tanpa ada resepsi atau publikasi apa pun. Kamu bertugas mengandung anak kami hingga melahirkan. Begitu bayi itu lahir, kamu akan menerima pembayaran penuh dalam jumlah yang sudah disepakati, dan setelah itu kamu bebas melangkah pergi dari rumah ini tanpa beban.” ​Elsha menggigit bibir bawahnya, air mata yang sejak tadi ia bendung akhirnya menetes, jatuh tepat di atas permukaan kertas kontrak. “Tuan ... saya benar-benar takut jika kehadiran saya akan merusak kebahagiaan rumah tangga Anda dan Ibu Safiya.” ​”Kamu tidak memiliki kekuatan apa pun untuk merusak atau mengubah apa yang sudah ada di rumah ini,” Sena bersandar pada kursi kerjanya, melipat kedua tangannya di depan d**a dengan sikap acuh tak acuh. “Pernikahan siri ini tidak lebih dari sekadar formalitas hitam di atas putih untuk melegalkan status anak tersebut di mata hukum agama. Kamu tidak akan pernah menjadi istriku dalam arti yang sesungguhnya. Kamu tidak akan pernah diakui sebagai bagian dari silsilah keluarga besar Wahyudono.” ​Elsha mengangguk pelan, meski setiap patah kata yang keluar dari bibir Sena terasa seperti sembilu yang menyayat dalam-dalam harga dirinya yang paling mendasar. ​Sena mengambil sebuah pena berujung emas dari tempatnya, lalu meletakkannya tepat di atas dokumen tersebut. “Tanda tangani sekarang.” ​Elsha menatap pena itu dalam diam yang cukup lama. Jemarinya bergetar hebat saat perlahan-lahan meraih benda tersebut, merasakan dinginnya logam yang seolah ikut membekukan masa depannya. ​Tepat sebelum ujung pena itu menyentuh kertas, Sena mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak di antara mereka hingga suaranya terdengar begitu tajam dan mengintimidasi di telinga Elsha. “Ingat satu hal ini baik-baik di dalam kepalamu, Elsha.” ​Elsha perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata, memberanikan diri menatap sepasang mata elang milik sang tuan muda. ​”Bagi saya, kamu tidak lebih dari sekadar wadah sewaan,” tatapan mata Sena menghujam lurus, begitu menusuk dan tanpa ampun. “Jadi, jangan pernah sekalipun kamu bermimpi untuk memiliki hatiku ... atau menumbuhkan rasa kepemilikan atas anak yang nantinya akan lahir dari rahimmu.” ​Kata-kata dingin itu menghantam Elsha layaknya badai salju yang seketika membekukan seluruh sisa harapannya. Di bawah pendar lampu ruang kerja yang sunyi, dengan goresan tinta di atas kertas kontrak, takdir hidup pelayan muda itu kini telah terkunci rapat dalam lingkaran obsesi penguasa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD