Keesokan harinya.
“Enghh,” lenguh Naufal
Mata Naufal mengerjap pelan pertanda laki-laki itu akan segera bangun. Ia menatap sekeliling kamar dengan tatapan bingung. Seingatnya, terakhir ia berada di sebuah club, tapi kenapa sekarang berbeda?
Naufal merasakan sebuah tangan melingkar di atas perutnya. Ia menunduk untuk melihat apa yang melilit perutnya. Dan…
Deg
Naufal terkejut melihat sebuah tangan melingkar di atas perutnya. Ia menoleh ke samping dan ternyata ia sedang tidur bersama istrinya, Cahaya. Naufal menegakkan tubuhnya membuat selimut yang ia kenakan terjatuh. Ia melebarkan matanya ketika melihat kondisi tubuh mereka yang hanya tertutupi oleh sebuah selimut.
“Astaga, apa yang telah terjadi?” gumam Naufal
Perlahan mata indah Cahaya mulai terbuka karena terganggu dengan apa yang dilakukan Naufal. “MURAHAN!” bentak Naufal
Cahaya terlonjak kaget tiba-tiba mendengar suara bentakan dari Naufal. Ketika membuka mata pertama kali yang ia lihat adalah kemarahan suaminya. Tatapan Naufal terlihat begitu tajam dan menusuk.
“K-kak!” lirih Cahaya
“Dasar perempuan murahan! Kamu telah menjebakku!” desis Naufal dengan tajam
“Astagfirullah. Apa yang telah Kak Naufal katakan? Cahaya tidak mungkin melakukan hal itu. Untuk apa Cahaya menjebak suami Cahaya sendiri!?”
Cahaya menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan perkataan Naufal. Justru Naufal yang memaksa dirinya untuk melayaninya tadi malam. d**a Cahaya terasa sesak mendengar kata murahan yang keluar dari mulut suaminya.
“Cih,” Naufal berdecih sinis
Naufal memakai bajunya dan setelah itu melangkah keluar dari kamar. “Kak Naufal mau ke mana?” tanya Cahaya
“Bukan urusanmu!”
Tiba-tiba Naufal berhenti berjalan lalu berkata, “Jika suatu hari kamu mengandung aku tidak akan mengakuinya sebagai anakku.”
“Kamu telah menjebakku, dan aku tidak tahu apakah dia benar anakku atau bukan.” ujar Naufal dan setelah itu ia melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.
Deg
Tubuh Cahaya mematung di tempat setelah mendengar perkataan Naufal. Apa maksud perkataan Naufal barusan? Sudah jelas-jelas tadi malam dia yang memaksanya untuk melayaninya, bahkan menganggapnya sebagai perempuan lain.
“Astagfirullah’haladzim.” Cahaya meremas dadanya yang terasa sakit akibat perkataan suaminya.
“Kenapa kamu tega berbuat seperti itu, kak?!”
“Apa salah Cahaya?” lirihnya
Tangan Cahaya terulur mengelus perutnya lalu menunduk. Tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Hatinya terasa sakit. Bahkan di saat buah hati mereka belum tumbuh Naufal sudah tidak mau mengakuinya, lalu bagaimana jika dia benar-benar hadir?
“Hikss,”
“Ya Allah, kuatkan hati Cahaya, berikan Cahaya kesabaran tiada batas, Cahaya harap akan ada hal-hal baik setelah ini.” lirihnya
***
Pukul 06.00
Cahaya mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Naufal, namun sepertinya laki-laki itu tidak ada di Apartemen. Setelah kejadian tadi sampai sekarang ia belum melihat keberadaan suaminya. Naufal benar-benar menghindarinya.
Dengan langkah pelan Cahaya berjalan menuju dapur berniat untuk membuat makanan, namun tiba-tiba…
Brak
“Astagfirullah.” Cahaya terlonjak kaget tiba-tiba pintu Apartemen dibuka dengan kasar.
Untuk ke sekian kalinya Cahaya dibuat terkejut oleh perbuatan Naufal. Naufal pulang bersama kekasihnya. Tatapan Cahaya tertuju pada tangan suaminya yang melingkar di pinggang ramping Zaskiya dengan mesra.
Cahaya mendekat ke arah suaminya, tatapannya terlihat dingin ke arah mereka berdua. “Kak, kamu dari mana?” tanya Cahaya
“Bukan urusanmu!” sarkas Naufal
“Buatkan makanan untuk kita!” perintah Naufal
“Lepasin tangan kamu darinya, kak!” bukannya menjawab perkataan Naufal, Cahaya justru berkata lain.
Zaskiya tersenyum smirk. Mendengar perkataan Cahaya membuat Zaskiya semakin ingin melukai hati perempuan itu. Naufal adalah miliknya! Ia mengenal lebih dulu, bahkan telah menjadi kekasihnya sebelum mereka menikah.
“Akan aku tunjukkan bagaimana rasa sakit itu!” ucap Zaskiya dalam hati
Cup
Deg
Zaskiya mencium ujung bibir Naufal tepat di hadapan Cahaya. Seketika Cahaya langsung memalingkan wajahnya. Matanya berkaca-kacak menahan tangis. Karena tidak sanggup Cahaya langsung pergi meninggalkan tempat itu. Ia memiliki kuasa sepenuhnya atas Naufal, namun rasanya percuma untuk berdebat jika laki-laki itu lebih membela kekasihnya.
Setetes air mata jatuh membasahi pipi Cahaya. Ia mencengkram kuat ujung meja sebagai pelampiasan atas rasa sakit yang ia rasakan. “Ya Allah, kuatkan hati Cahaya!” lirihnya
“Huhh,” Cahaya menghela nafas kasar
“Cahaya, kamu harus kuat! Ini adalah cobaan di awal rumah tangga kamu. Kamu harus yakin akan ada hari di mana kamu adalah pemenangnya.” gumam Cahaya
Cahaya akan menjalani rumah tangganya sampai benar-benar lelah. Ia akan tetap bertahan meskipun terluka, tapi entah sampai kapan ia mampu untuk bertahan. “Bismillah.” gumamnya
Cahaya berkutat dengan peralatan dapur sedangkan Naufal dan Zaskiya sedang bersenang-senang di ruang tamu. Mereka tidak memikirkan perasaan Cahaya, bahkan seolah tidak menganggapnya ada.
Beberapa menit kemudian.
Cahaya menghampiri Naufal dan Zaskiya di ruang tamu. “Kak, makananya sudah siap!”
“Sayang, kita makan, yuk!” ajak Naufal pada kekasihnya
Zaskiya mengangguk sembari tersenyum. Zaskiya tersenyum smrik ketika berjalan melewati Cahaya, hal itu membuat Cahaya muak melihatnya. Ingin sekali Cahaya menarik Zaskiya keluar dari Apartemen ini.
“Astagfirullah. Sabar, Cahaya!” ucapnya dalam hati
Sebelum bergabung duduk di meja makan Cahaya mengambil sayur yang masih berada di atas kompor, ia berniat memindahkannya ke sebuah mangkuk. Melihat hal itu seketika terbesit sebuah ide di kepala Zaskiya. Ia tidak menyukai ketenangan perempuan itu.
Zaskiya menjulurkan kakinya ketika Cahaya berjalan ke arah meja makan. “Kak , sayurnya…”
Pyarr
“Aakkhh,” pekik Cahaya dan Zaskiya bersamaan
“Zaskiya!” pekik Naufal
Justru yang dilakukan Naufal pertama kali adalah menolong kekasihnya, bukan istrinya. Apa yang telah dilakukan Zaskiya menjadi boomerang sendiri baginya, namun Cahaya ikut terkena sayur yang masih panas tersebut.
“Awss, sakit!” ringis Zaskiya
Tanpa banyak bicara Naufal menggendong Zaskiya masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh kakinya dengan air. Kaki Zaskiya terlihat merah akibat tumpahan sayur itu.
“Awss,”
“Ya Allah, panas!” ucap Cahaya sembari meringis kesakitan
Dada Cahaya terasa sesak melihat Naufal lebih peduli dengan Zaskiya, padahal kakinya juga terkena sayur tersebut. Dengan langkah tertatih Cahaya menuju wastafel untuk membasuh kaki serta tangannya.
Tangan Cahaya terlihat melepuh akibat tumpahan sayur tadi. Ia menahan tangis karena rasa sakit di hatinya sekaligus fisiknya. “Ayah, Bunda, Cahaya merindukan kalian! Hikss,”
“Cahaya terluka di sini, Bunda!” batinnya berucap
Bukan hanya batin Cahaya yang tersiksa melainkan fisiknya juga terluka. “Aakhh,” pekik Cahaya
Dengan tiba-tiba Naufal menarik tangan Cahaya dengan kasar, bahkan cengkraman tangannya tepat mengenai luka Cahaya. “Awss,”
“Sakit, kak!” ucap Cahaya sembari meringis kesakitan
“Akkhh, kak!”
“APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN PADA ZASKIYA?” bentak Naufal
Cahaya menggelengkan kepalanya pelan. Ia tidak sengaja melakukannya padahal ia sudah mencoba untuk berhati-hati. “Hikss,”
“Cahaya nggak sengaja, kak. Cahaya…”
“Awss.. sakit, kak!” Naufal semakin menguatkan cengkraman tangannya di lengan Cahaya.
“Kak, tolong lepasin tangan Cahaya! Sakit, kak!” ringisnya
“Sakit? Sakit kamu tidak sebanding dengan luka yang dialami Zaskiya.” desis Naufal dengan tajam
“Tapi Cahaya juga terkena sayur itu, kak.”
“Aku nggak peduli!”
Brugh
“Aakhhh,”
“Astagfirullah.” ucap Cahaya
Naufal mendorong tubuh Cahaya sampai membuat tubuh wanita itu jatuh di bawah kaki Zaskiya. Zaskiya tersenyum puas dengan apa yang dilakukan Naufal. Meskipun kakinya ikut terkena tumpahan sayur itu tidak membuat Zaskiya menyesal, justru karena itu membuat kepuasan tersendiri untuknya.
“Obati luka di kaki Zaskiya!” ujar Naufal
Cahaya menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya. Apa ia tidak salah dengar? Ia tidak akan melakukan hal tersebut. “Nggak! Cahaya nggak mau.”
Cahaya menolak tegas apa yang diperintahkan suaminya. Naufal mengepalkan kedua tangannya melihat penolakan Cahaya. Ia mencengkram rahang Cahaya karena merasa geram dengannya.
“Obati, atau aku akan menumpahkan sisa air panas tersebut ke tanganmu!” desis Naufal dengan tejam
“Hikss,” isak tangis Cahaya
“Ya Allah, kautkan hati Cahaya menghadapi sikap Kak Naufal!” ucapnya dalam hati
...