Beberapa menit kemudian terasa seperti berjam-jam. Akhirnya pintu ruang operasi terbuka sedikit. Seorang dokter keluar, masker masih tergantung di wajahnya.
“Kami sudah menghentikan perdarahannya,” kata dokter itu. “Tapi kondisinya serius. Dia kehilangan banyak darah. Kami harus menahan pasien di ICU untuk observasi.”
Maxim berdiri. “Apakah dia akan hidup?”
Dokter menatapnya sejenak sebelum menjawab. “Jika tidak ada komplikasi dalam 24 jam ke depan, ya.”
Maxim mengangguk perlahan. “Lakukan apa pun yang diperlukan.”
Dokter itu berhenti sejenak sebelum melangkah kembali ke ruang operasi, lalu menoleh ke arah Maxim. Tatapannya lebih tajam, seolah menimbang sesuatu.
“Maaf, Tuan,” katanya pelan namun tegas. “Untuk tindakan lanjutan dan keputusan medis, kami membutuhkan persetujuan keluarga inti. Apakah Anda..., suaminya?”
Maxim tidak langsung menjawab. Sepersekian detik berlalu cukup lama untuk mengingat betapa berbahayanya satu kata itu jika terucap. Namun ia melangkah maju, suaranya rendah, mantap, tanpa keraguan.
“Ya,” katanya. “Saya suaminya.”
Dokter itu menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk dan memberi isyarat agar Maxim ikut menjauh sedikit dari lorong ramai.
“Ada hal penting yang harus Anda ketahui,” ujar dokter itu. Nada suaranya berubah lebih hati-hati.
“Istri Anda sedang hamil. Sekitar tiga minggu.”
Kata-kata itu menghantam Maxim jauh lebih keras dari peluru mana pun.
Hamil.
Dokter melanjutkan, “Perdarahan yang terjadi sangat berbahaya bagi ibunya. Secara medis..., kehamilan biasanya tidak akan bertahan dalam kondisi seperti ini.” Ia berhenti sejenak. “Namun, ini kasus yang tidak biasa. Janinnya sangat kuat. Detak jantungnya stabil. Ia bertahan.”
Maxim mengepalkan tangannya perlahan. Wajahnya tetap dingin, tapi dadanya terasa sesak. Gwen lemah, berdarah, sendirian dan seorang bayi yang bahkan belum sempat melihat dunia, namun sudah bertarung untuk hidupnya.
“Masalahnya,” dokter itu melanjutkan jujur, “tubuh ibunya sangat lemah. Kami mungkin akan berada di situasi di mana kami harus memilih.”
Lorong terasa menyempit.
“Jika kondisinya memburuk,” kata dokter itu hati-hati, “kami mungkin harus mengutamakan salah satu.”
Maxim mengangkat kepalanya. Tatapannya tajam, penuh otoritas, tidak menyisakan ruang untuk tawar-menawar.
“Tidak,” katanya tegas. Satu kata, tapi penuh tekanan.
“Selamatkan keduanya.”
Dokter itu terdiam. “Tuan, secara medis_”
“Apa pun yang dibutuhkan,” Maxim memotongnya.
"Darah, alat, dokter terbaik, risiko apa pun.” Suaranya turun, namun semakin berbahaya. “Anda akan menyelamatkan istri dan anak saya.”
Ada sesuatu dalam nada itu bukan ancaman kosong, melainkan janji yang tidak ingin diuji siapa pun.
Dokter itu menarik napas panjang, lalu mengangguk perlahan.
“Kami akan melakukan yang terbaik."
Pintu ruang operasi kembali tertutup.
Maxim berdiri sendirian di lorong itu, lampu putih memantulkan bayangan tubuhnya yang kaku. Tangannya perlahan turun ke sisi tubuh, gemetar nyaris tak terlihat.
Seorang wanita yang seharusnya menjadi musuh.
Seorang bayi yang seharusnya tidak pernah ada dalam hidupnya.
Namun kini, tanpa ia sadari sepenuhnya, dua nyawa itu telah berada dalam perlindungannya.
Dan di malam yang sunyi itu, Maxim Romano menyadari satu hal yang berbahaya jauh lebih berbahaya daripada perang antar keluarga.
Jika Gwen De Luca selamat,
ia akan membunuh siapa pun yang mencoba menyentuhnya lagi.
****
Maxim berdiri mematung di lorong rumah sakit, punggungnya bersandar pada dinding dingin. Suara mesin medis dari balik pintu ruang operasi berdengung pelan, seperti detak waktu yang berjalan terlalu lambat.
Hamil.
Tiga minggu.
Kata-kata dokter itu terus berulang di kepalanya, memaksa ingatan yang selama ini terkunci rapat muncul ke permukaan.
Malam itu.
Ia mengingatnya dengan sangat jelas terlalu jelas untuk diabaikan. Gwen berada di bawahnya, tubuhnya kaku, napasnya gemetar, matanya menyimpan ketakutan yang belum pernah ia lihat pada wanita mana pun. Bukan kepura-puraan. Bukan permainan. Tidak ada kepalsuan.
Gwen masih perawan.
Maxim mengepalkan rahangnya. Ingatan itu datang bersamaan dengan satu kepastian yang membuat dadanya mengeras.
Berarti anak itu bukan milik Nicolas.
Bukan milik Falcone.
Anak itu..., anaknya.
Tangannya perlahan menutup wajahnya, napasnya tertahan beberapa detik. Ini bukan sekadar urusan darah atau garis keturunan. Ini adalah perang yang kini berubah bentuk.
Maxim menurunkan tangannya. Tatapannya kini berbeda, tajam, dingin, dan penuh keputusan. Keraguan yang tadi sempat menyentuhnya menghilang sepenuhnya.
“Aku tidak akan menyerahkanmu,” gumamnya pelan, entah ditujukan pada Gwen, pada bayi itu, atau pada keduanya. “Tidak sekarang. Tidak pernah.”
Ia meluruskan tubuhnya, menarik napas dalam, seolah mengambil sumpah pada dirinya sendiri.
Gwen De Luca akan hidup.
Anaknya akan lahir.
Dan mulai detik ini, siapa pun yang mencoba menyentuh mereka Falcone, De Luca, atau siapa pun akan berhadapan langsung dengannya.
Pintu ruang operasi masih tertutup, tapi keputusan Maxim sudah final.
Ia akan melindungi Gwen.
Ia akan menariknya keluar dari dunia yang ingin menghancurkannya.
Dan ketika saatnya tiba, ia tidak akan lagi menyebut Gwen sebagai “wanita De Luca”.
Ia akan menjadikannya istrinya.
Bukan sebagai sandera.
Bukan sebagai alat.
Melainkan sebagai miliknya
dan sebagai perlindungan yang tak akan bisa ditembus oleh siapa pun.
****
Maxim merogoh saku jasnya, jari-jarinya menutup erat ponsel sebelum akhirnya menekannya. Layar menyala. Satu nama.
Jack.
Panggilan tersambung hanya dalam satu dering.
“Bos.”
“Aku tidak punya waktu,” kata Maxim datar, suaranya rendah tapi mengandung tekanan yang tak terbantahkan. “Aku butuh laporan lengkap. Gwen De Luca. Dari detik terakhir dia meninggalkan mansion sampai dia ditemukan dan dibawa ke gudang tua milikku.”
Ada jeda singkat di seberang sana. Jack langsung menangkap keseriusan nada itu.
“Dimengerti! Ada indikasi pengkhianatan?”
“Tidak ada indikasi,” jawab Maxim dingin. “Aku ingin fakta. Siapa yang menyentuhnya. Siapa yang mengawasinya. Siapa yang mengejarnya atau sengaja membawanya ke sana.”
“Baik, Bos.”
Maxim melangkah menjauh dari pintu ruang operasi, berdiri di sudut lorong yang sepi. Rahangnya mengeras.
“Satu lagi,” lanjutnya. “Cari Nicolas.”
Nada Jack berubah lebih waspada. “Falcone?”
“Ya. Dan aku juga ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di mansion Falcone dan De Luca malam itu. Semua pergerakan. Semua tamu. Semua kamera. Bahkan yang sudah dihapus.”
“Kalau ini menyangkut kedua keluarga_”
“Justru karena itu,” potong Maxim tajam. “Aku tidak mau asumsi. Aku mau kronologi.”
“Dimengerti, Bos. Saya mulai dari kronologi malam itu?”
“Betul,” jawab Maxim, matanya menatap ke ujung lorong. “Aku ingin semua fakta. Tidak ada asumsi. Tidak ada rumor. Kau akan laporkan kepadaku secara langsung.”
Jack menghela napas. “Ini akan memakan waktu. Orang-orang Falcone menutup rapat segala pergerakan mereka. Tidak mudah mendapatkan informasi. Tapi saya punya mata-mata orang dalam Bos."
Maxim menatap dinding dingin di belakangnya, rahangnya mengeras. “Kalau mereka menutup rapat, berarti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Dan kita akan menemukannya.”
“Saya mengerti, Bos. Semua akan di telusuri. Dari mansion hingga setiap orang yang terkait,” kata Jack, suaranya tegas.
“Bagus,” kata Maxim. “Dan Jack..., jangan sampai ada yang tahu soal penyelidikan ini. Tidak Falcone. Tidak De Luca. Kalau bocor, aku akan bertindak.”
“Pesan diterima, Bos,” jawab Jack.
Panggilan terputus. Maxim menurunkan ponselnya, tatapannya kembali ke lorong yang sunyi. Ia tidak tahu apakah Gwen dalam bahaya saat ini atau tidak. Yang ia tahu hanyalah satu hal, sesuatu terjadi malam itu di mansion, dan ia harus mengetahui kebenarannya.
Dan ketika saat itu tiba, siapa pun yang mencoba mengganggu Gwen atau anak itu akan langsung berhadapan dengannya.