9. Pria Penolongku

1061 Words

Lampu ruang operasi akhirnya meredup. Pintu geser terbuka perlahan, disertai suara langkah seorang dokter yang melepas masker dari wajahnya. Maxim segera mendongak. “Bagaimana?” tanyanya singkat. Dokter itu menatapnya dengan ekspresi profesional, tapi ada kehati-hatian di sana. “Dia stabil. Kehilangan darah cukup banyak, tapi kami berhasil menghentikannya. Ada trauma fisik dan … tekanan hebat. Dia akan sadar, tapi tidak sekarang. Mungkin beberapa jam.” “Dan kandungannya?” Rahang Maxim mengeras saat mengucapkan kata itu. Dokter terdiam sepersekian detik cukup lama untuk membuat udara di sekitar mereka menegang. “Masih bertahan. Sangat tipis. Kami tidak bisa menjamin apa pun, tapi untuk saat ini …, mereka berdua hidup.” Maxim mengangguk pelan. Itu satu-satunya respons yang ia berikan. “

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD