Bab 2. Beban Keluarga

1115 Words
Tiga bulan telah berlalu, malam itu, mansion Alister berubah menjadi panggung kemewahan yang sunyi. Vanya duduk di ujung meja makan panjang yang dipenuhi hidangan kelas atas. Ia memakai gaun hitam yang sangat cantik, rambutnya tertata rapi, dan sebuah kue ulang tahun kecil ada di depannya. Lilin di atas kue itu sudah meleleh sampai ke dasarnya. Vanya melirik jam. Pukul 23:30. Papanya berjanji akan datang sebelum hari berganti. Tapi, ponselnya justru berdenting memperlihatkan postingan Melinda—istri baru papanya yang sedang berlibur di Bali bersama sang Papa. Pyarrr! Vanya menyapu vas bunga di atas meja hingga hancur. "Semuanya keluar! Aku bilang keluar!" teriaknya pada para pelayan yang gemetar. Bumi tetap berdiri di pojok ruangan. Dia tidak bergerak satu inci pun. "Kamu budeg? Aku bilang keluar, Bumi!" Vanya melempar serbetnya ke arah Bumi. Wajahnya yang arogan mulai retak, matanya merah menahan tangis. Bumi melangkah mendekat dengan tenang. "Ini sudah larut, Nona. Anda harus istirahat.” "Jangan perintah aku! Kamu cuma pelayan yang dibayar Papa!" Vanya berdiri, menghampiri Bumi dan memukul d**a pria itu dengan tangan terkepal. "Semua orang sama saja! Papaku, kamu... kalian cuma peduli sama uang! Pergi kamu!" Bumi tidak menghindar. Dia membiarkan Vanya meluapkan amarahnya sampai tangan wanita itu lemas. Saat Vanya mulai kehilangan keseimbangan karena emosi dan jantungnya yang berdegup tidak stabil, Bumi menangkap pinggangnya. "Lepas! Jangan sentuh aku!" Vanya meronta, tapi tenaganya habis. Ia berakhir menyandarkan dahinya di d**a Bumi, menangis sesenggukan tanpa suara. "Dia nggak datang lagi, Bumi... Papa nggak pernah datang.” Bumi menghela napas panjang. Ia melepas jas hitamnya, menyampirkannya ke bahu Vanya yang kedinginan, lalu melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan siapa pun pada Vanya. Ia berjongkok, lalu melepas sepatu hak tinggi Vanya. "Kaki Anda pasti sakit," ucap Bumi pelan sambil memijat pergelangan kaki Vanya dengan lembut. "Dunia nggak akan berakhir cuma karena satu orang nggak datang ke pesta Anda." Vanya menunduk, menatap kepala Bumi. Rasa sakit di hatinya sedikit teralihkan oleh sentuhan hangat pria itu. Ia menghapus air matanya dengan cepat, memasang wajah dingin yang mencekam. "Kalau gitu, kasih aku kado," tuntut Vanya parau. Bumi mendongak. "Saya nggak punya uang untuk beli barang mewah seperti yang Anda punya, Nona." "Aku nggak butuh barang mewah," Vanya mencondongkan tubuhnya, menatap Bumi dengan pandangan menantang sekaligus memohon. "Mulai malam ini, kamu bukan cuma pengawalku. Kamu... kamu harus jadi milikku. Nikahi aku." Bumi tertegun. "Nona mabuk?” Vanya menatap Bumi dengan mata yang masih basah namun penuh tantangan. "Nikahi aku, Bumi. Itu kado yang aku mau." Bumi terdiam sejenak, menatap Vanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Perlahan, ia melepaskan tangan Vanya dari bahunya. "Tidak, Nona. Saya di sini untuk menjaga nyawa Anda, bukan untuk menyerahkan nyawa saya dalam permainan gila Anda." Vanya tertegun. Ini pertama kalinya ada orang yang menolaknya secara mentah-mentah. Rasa malu dan marah bercampur menjadi satu. Ia tertawa sumbang, mencoba menutupi luka di hatinya. Ia melangkah maju, memojokkan Bumi ke meja makan yang berantakan. Jemari lentiknya menarik kerah kemeja Bumi, menariknya hingga wajah mereka sejajar. "Kamu nolak aku?" bisik Vanya dengan nada nakal yang provokatif. "Apa kamu perlu aku perkosa dulu supaya aku bisa tanggung jawab dan kita terpaksa menikah, hm?" Bumi tidak mundur. Ia justru mencengkeram kedua pergelangan tangan Vanya, menahannya di atas meja dengan kekuatan yang membuat Vanya terkunci. "Jangan main-main dengan kata-kata itu, Nona," suara Bumi rendah kemudian melepaskan Vanya begitu saja dan berjalan keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan Vanya yang mematung dengan jantung berpacu hebat. Wanita itu tertawa namun matanya perlahan basah. “Tidak ada pria yang benar-benar bisa mencintaiku …” lirih Vanya sebelum akhirnya dipeluk kegelapan yang mencekam. *** Waktu berlalu dengan cepat, Bumi sudah mulai terbiasa dengan sikap Nona muda yang dijaga selalu meledak-ledak. Ia tidak ingin banyak berkomentar, ia hanya ingin bekerja dan mendapatkan gaji. Namum, hari itu ada yang berbeda. Tiba-tiba Tuan Alister—ayah Vanya datang dengan kemarahan yang memuncak. Itu bukan tanpa alasan, dikarenakan Vanya baru saja membatalkan makan malam penting dengan putra kolega ayahnya dengan alasan malas. Vanya sedang duduk di ruang tengah, menyesap tehnya dengan anggun seolah tidak terjadi apa-apa, saat pintu depan terbanting terbuka. Tuan Alister masuk dengan wajah merah padam, diikuti Melinda yang berpura-pura cemas. "VANYA!" Vanya berdiri, memasang wajah arogannya. "Ada apa, Pa? Berisik sekali.” "Kamu sengaja mempermalukan Papa?! Revan menunggu dua jam di restoran dan kamu tidak datang?!" "Aku tidak suka gayanya. Dia membosankan," sahut Vanya santai. PLAK! Tamparan itu begitu keras hingga Vanya tersungkur ke lantai. Sudut bibirnya pecah, mengeluarkan noda merah di atas karpet putih bulu yang mahal. Hening sejenak, sebelum akhirnya tawa pahit keluar dari tenggorokan Vanya. Vanya mendongak, rambutnya yang tertata rapi kini berantakan menutupi sebagian wajahnya. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata penuh kebencian yang menyala. "Hanya karena perempuan itu?!" teriak Vanya histeris, suaranya melengking pecah. Ia menunjuk Melinda yang berdiri di belakang ayahnya dengan wajah berpura-pura sedih. "Papa nampar aku demi harga diri Papa di depan kolega, atau demi menyenangkan jalang ini?!” "Jaga mulutmu, Vanya!" gertak Tuan Alister. "PAPA YANG GILA!" Vanya bangkit berdiri dengan kaki gemetar, ia mulai melempar apa saja yang ada di dekatnya. Vas bunga, bingkai foto keluarga, hingga gelas tehnya. Prang! Prang! "Papa hancurin rumah ini sejak Mama meninggal! Papa bawa perempuan ini masuk ke kamar Mama, dan sekarang Papa mau jual aku juga?!" Vanya berteriak sambil mencengkeram dadanya sendiri. Napasnya mulai pendek, wajahnya yang tadi merah karena marah berubah menjadi pucat pasi seputih kertas. Ia mulai kehilangan kendali, terisak hebat sampai tubuhnya merosot di dinding. "Ambil semua asetnya, Pa! Ambil! Aku nggak butuh uang Papa kalau itu artinya aku harus jadi barang dagangan Papa!" Tuan Alister hendak maju lagi, namun Bumi dengan cepat melangkah, memposisikan tubuh tegapnya di antara mereka. Kali ini, aura Bumi benar-benar gelap. "Cukup, Tuan. Jika Anda maju satu langkah lagi, saya tidak akan melihat Anda sebagai majikan saya, tapi sebagai ancaman," ancam Bumi dengan suara rendah yang menggetarkan ruangan. Tuan Alister yang melihat kemarahan di mata pengawal itu akhirnya mendengus dan pergi menarik Melinda keluar. Begitu pintu terbanting, Vanya ambruk. Ia memukul-mukul lantai dengan tangan kosong, menangis histeris sampai suaranya habis. "Aku benci dia, Bumi... aku benci mereka semua! Kenapa aku nggak mati aja bareng Mama?!” Bumi bergeming sama sekali, sejak tadi ia dibuat kaget dengan sederetan kejadian yang bergerak cepat dan menurutnya cukup mengerikan. Saat ia masuk ke rumah ini, ia pikir Tuan Alister menyayangi putrinya sampai harus mencari pengawal. Tapi ternyata semua itu jauh diluar ekspetasinya sendiri. Di antara Isak tangis Vanya, wanita itu tiba-tiba berteriak sambil mencengkeram dadanya sendiri. Napasnya mulai pendek, wajahnya yang tadi merah karena marah berubah menjadi pucat pasi seputih kertas. Ia mulai kehilangan kendali, terisak hebat sampai tubuhnya merosot di dinding... dan tiba-tiba, darah segar mengalir dari hidungnya. “Nona, Anda mimisan!” Happy Reading TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD