Napas Vanya mulai pendek, wajahnya yang tadi merah karena marah berubah menjadi pucat pasi seputih kertas. Ia mulai kehilangan kendali, terisak hebat sampai tubuhnya merosot di dinding... dan tiba-tiba, darah segar mengalir dari hidungnya.
“Nona, Anda mimisan!”
Bumi segera menyambar tisu, mencoba menyumbat hidung Vanya, tapi wanita itu menepisnya.
"Jangan panggil dokter," bisik Vanya parau, darah masih mengalir di bibirnya. "Kalau Papa tahu aku sekarat, dia bakal ambil semua asetku sekarang juga sebelum aku mati."
"Nona, nyawa Anda lebih penting dari sekadar harta!"
Vanya tertawa getir, matanya sayu. "Bagi Papa, aku nggak punya nyawa, Bumi. Aku cuma angka di laporan keuangannya."
Bumi menghembuskan napas kasar kemudian meraih Vanya ke dalam gendongan, ia membawanya melangkah lebar menaiki tangga marmer menuju kamar utama, mengabaikan tatapan kaget para pelayan yang berpapasan dengannya. Di dalam gendongannya tubuh Vanya terasa sangat ringan, terlalu ringan untuk seseorang yang selalu berlagak paling berkuasa di rumah ini.
Begitu sampai di kamar, Bumi menendang pintu hingga tertutup rapat. Ia meletakkan Vanya di atas ranjang dengan sangat berhati-hati.
Vanya memejamkan mata, kepalanya terasa berputar. "Obatnya... di laci kedua," bisiknya nyaris tak terdengar.
Bumi segera bergerak. Ia menemukan botol obat itu, mengambilkan segelas air, dan membantu Vanya meminumnya. Ia menyangga punggung Vanya dengan lengannya yang kokoh agar wanita itu bisa menelan dengan mudah.
Setelah Vanya kembali berbaring, Bumi tidak langsung pergi. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Vanya yang kini tampak sangat kecil di tengah ranjang mewahnya. Darah sudah berhenti mengalir, tapi bekas merah di bibirnya masih ada, begitu juga dengan bekas tamparan ayahnya yang mulai membiru.
"Kenapa Anda melakukan ini?" suara Bumi memecah kesunyian, suaranya rendah namun penuh tuntutan.
Vanya membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar yang tinggi. "Melakukan apa? Menjadi anak yang tidak berguna?"
"Menyembunyikan ini semua sendirian. Rasa sakit ini, rahasia ini," Bumi menunjuk botol obat di atas nakas. "Anda membuang ribuan dolar untuk gaun dan pesta, tapi Anda membiarkan diri Anda hancur dari dalam. Kenapa?"
Vanya tertawa kecil. "Hancur? Jangan bicara soal kehancuran, tutup saja mulutmu sekarang. Kalau orang tahu Vanya Alister sekarat, mereka nggak akan kasihan. Mereka bakal berebut mencabik-cabik apa yang aku punya."
Vanya menoleh, menatap Bumi dengan pandangan yang sangat rapuh namun masih tersisa kilat keangkuhan.
"Dan kamu... kamu cuma pengawal. Jangan bertingkah seolah kamu mengerti rasanya jadi aku."
Bumi mengepalkan tangan di samping tubuhnya. "Saya memang tidak mengerti rasanya punya uang miliaran. Tapi saya mengerti rasanya berjuang untuk tetap hidup demi orang-orang yang saya sayangi."
Vanya terdiam, napasnya mulai stabil meski dadanya masih terasa berat. Kehadiran Bumi di kamar itu memberikan tekanan yang asing, tapi entah kenapa, rasa takut yang biasanya menghantuinya setiap kali serangan itu datang, kini terasa sedikit berkurang.
Tiba-tiba, ponsel di saku celana Bumi bergetar hebat. Bumi merogohnya, membaca sebuah pesan singkat yang membuat rahangnya seketika mengeras.
"Bumi, preman-preman itu datang lagi ke rumah Ibu. Mereka bawa alat berat. Ibu pingsan. Cepat pulang, Nak!"
Vanya memperhatikan perubahan ekspresi Bumi. "Ada apa?"
Bumi tidak langsung menjawab. Ia menatap Vanya, lalu menatap pesan itu kembali. Sebuah ide gila muncul di kepalanya. Sebuah kesepakatan yang mungkin akan mengubah hidup mereka selamanya.
"Nona," ucap Bumi, suaranya kini terdengar sangat profesional namun ada nada urgensi di sana. "Anda butuh perlindungan untuk rahasia Anda agar tidak jatuh ke tangan Papa Anda. Saya... saya butuh sesuatu yang hanya bisa diberikan oleh uang Anda."
Vanya menyipitkan mata, kembali ke mode bisnisnya meskipun sedang terbaring lemah.
"Kamu mau memeras aku setelah tahu aku sakit? Ck, jangan konyol. Ini hanya penyakit biasa, aku diet terlalu ketat makanya jadi seperti ini," dusta Vanya, tak ingin membuat drama apa pun lagi karena dadanya cukup sakit sekarang.
"Bukan memeras. Tapi bertukar nyawa," Bumi membungkuk, menatap lurus ke mata Vanya. "Saya akan melindungi Anda dari desakan Tuan Alister. Sebagai imbalannya... saya butuh dana untuk menyelamatkan rumah Ibu saya sekarang juga."
Vanya tertegun. Jantungnya berpacu, tapi kali ini bukan karena penyakitnya. "Kamu gila, Bumi," desis Vanya.
"Dunia ini yang gila, Nona Vanya," balas Bumi tanpa ragu. "Jadi, bagaimana? Apakah tanah ini cukup layak untuk melindungi langit yang sedang runtuh?"
***
Akhirnya kesepakatan pun telah dibuat, Vanya yang membutuhkan tameng agar Ayahnya berhenti menjodohkan dengan orang tidak penting memilih Bumi sebagai suami pura-pura. Meskipun begitu mereka tetap menikah sah untuk jaga-jaga jika Tuan Alister akan bertanya.
Namun, apakah ada yang berubah? Tentu saja tidak, Vanya tidak akan merendahkan dirinya dengan bersinggungan lebih dalam bersama pengawal pribadinya itu.
Malam itu, mereka baru saja pulang dari acara galeri seni. Vanya melangkah masuk ke ruang tamu dengan wajah jenuh. Tanpa memedulikan estetika, ia menendang high heels mahalnya hingga terlempar ke sudut ruangan.
Bumi yang berjalan di belakangnya hanya bisa mendengus pelan. Ia meletakkan kunci mobil, lalu membungkuk untuk memungut sepatu-sepatu itu dengan wajah datar.
"Nona bisa langsung istirahat, sebaiknya malam ini jangan keluar ke mana-mana karena hujan,” ucap Bumi dingin, suaranya bariton dan penuh penekanan.
Vanya berhenti melangkah. Ia berbalik, bersandar pada pilar marmer sambil memperhatikan Bumi yang sedang berjongkok merapikan sepatunya. Tatapan Vanya meredup, ada keinginan nakal yang muncul saat melihat punggung lebar Bumi yang terbalut kemeja hitam yang ketat.
"Kenapa aku tidak boleh pergi?"
Bumi berdiri, menatap Vanya dengan tatapan tidak suka. "Ini demi kebaikan Anda, saya perhatikan wajah Anda sangat pucat,” jawab Bumi jujur.
Vanya kembali melirik Bumi kemudian terkekeh rendah, ia justru mencibir karena dinilai Bumi sangat kaku. Malam itu rasanya ia ingin bermain-main sebentar dengan suami di atas kertasnya.
"Gerah sekali malam ini."
Sret...
Tanpa peringatan, Vanya menurunkan resleting dress-nya. Kain mahal itu meluncur jatuh begitu saja ke lantai, meninggalkan Vanya yang hanya mengenakan lingerie sutra tipis yang mengekspos lekuk tubuh dan kulit putih pucatnya.
Bumi yang disuguhkan pemandangan seperti itu seketika membulatkan matanya, ia buru-buru membuang muka dan menghembuskan napas kasar.
"Pakai baju Anda, Nona Vanya. Jangan konyol," desis Bumi, suaranya memberat.
"Kenapa? Kamu takut?" Vanya melangkah mendekat, sengaja mengikis jarak hingga aroma parfum lily-nya menusuk indra penciuman Bumi. "Atau kamu sadar kalau pengawal miskin sepertimu nggak akan sanggup menyentuhku?"
“Terserah Anda!” sergah Bumi yang langsung berbalik untuk pergi, tidak mau meladeni kegilaan Vanya yang ia anggap hanya sekadar haus perhatian.
Namun, langkah Bumi terhenti saat suara parau Vanya memecah keheningan ruangan.
"Bumi.”
Bumi tidak menoleh, tapi dia berhenti.
"Aku mau anak. Dari kamu.”
Happy Reading
TBC