Bab 4. Transaksi Detak Jantung

1108 Words
"Aku mau anak. Dari kamu." Bumi tertegun. Kali ini dia benar-benar berbalik, menatap Vanya dengan kerutan dalam di dahi. "Apa Anda bilang? Anak?" Vanya menatapnya lurus, tidak ada keraguan di sana. "Papa makin nekan aku. Dia curiga kita nggak beneran nikah karena kita nggak pernah terlihat mesra. Dia bakal sita semuanya kalau dalam setahun nggak ada pewaris." "Jadi ini cuma soal aset lagi? Anda mau saya menghamili Anda supaya posisi Anda di perusahaan aman? Begitu?” Vanya mendekat, jemarinya yang dingin menyentuh d**a Bumi yang naik turun. "Anggap saja ini bonus dari kontrak kita. Kamu dapat uang, aku dapat pewaris." Bumi mencengkeram pergelangan tangan Vanya, menjauhkannya dari dadanya dengan kasar namun terkontrol. "Anda benar-benar tidak punya harga diri, ya? Setelah semua drama mimisan dan lemas yang Anda buat supaya saya kasihan, sekarang Anda mau memakai tubuh saya untuk ambisi Anda?" "Cari pria lain, Nona. Saya tidak berminat memproduksi anak untuk wanita yang bahkan tidak tahu cara menghargai dirinya sendiri.” Bumi berbalik dan melangkah keluar kamar dengan bantingan pintu yang keras, meninggalkan Vanya yang berdiri mematung di tengah ruangan yang dingin. Vanya memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Ia tersenyum getir, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya jatuh. "Kamu nggak tahu, Bumi... anak itu satu-satunya alasanku untuk tetap ingin hidup sedikit lebih lama.” *** Setelah ketegangan soal minta anak semalam, pagi ini Vanya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menyeret Bumi ke butik mewahnya di pusat kota. Vanya sedang dalam mode rebel tingkat tinggi sengaja membuat Bumi kesal hari ini. "Bumi, aku pengen asinan buah di gang dekat rumah ibumu. Sekarang," ucap Vanya tanpa menoleh dari sketsa bajunya. "Ini jam makan siang, Nona. Macetnya gila." "Tiga puluh menit. Atau aku lapor Papa kalau kamu nggak becus jaga aku," ancam Vanya enteng. Bumi mendengus, rahangnya mengeras. Ia pergi juga. Menembus kemacetan Jakarta hanya demi asinan buah. Namun, satu jam kemudian saat Bumi kembali dengan napas sedikit memburu dan kantong plastik di tangan, Vanya hanya melirik asinan itu dengan jijik. "Lama banget. Aku udah nggak nafsu. Baunya bikin aku mual. Buang aja," ucap Vanya datar. “Nona sengaja melakukan ini?” Bumi membeku. Ia menaruh plastik itu di meja kaca dengan dentuman yang cukup keras. "Kalau iya kenapa?" Vanya berdiri, menantang tatapan tajam Bumi. "Kamu kan dibayar mahal buat nurutin mauku." Bumi melangkah maju, memojokkan Vanya ke meja kerjanya. Matanya berkilat marah. "Saya punya batas kesabaran, Vanya. Jangan pikir karena kita sudah menikah, Anda bisa seenaknya memperlakukan saya seperti—" Tiba-tiba, pintu butik terbuka membuat ucapan Bumi terpotong sempurna. Di sana, Melinda ibu tiri Vanya, masuk dengan gaya glamornya. Vanya yang melihat itu langsung merubah ekspresinya dalam sedetik. Sebelum Bumi sempat memaki, Vanya tiba-tiba melingkarkan tangannya di leher Bumi. Ia menarik kepala Bumi mendekat hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Sayang... kamu kok marah-marah terus sih?" bisik Vanya dengan suara yang sengaja dibuat semanis madu. Jari-jari lentik Vanya mulai mengelus tengkuk Bumi, lalu turun ke rahang tegas suaminya itu. Jemarinya bermain lembut di sana, memberikan sensasi hangat yang membuat bulu kuduk Bumi meremang. Bumi mematung. Kemarahan yang tadi sudah di ubun-ubun mendadak macet. Ia bisa merasakan napas Vanya yang harum peppermint dan lembutnya sentuhan tangan wanita itu di lehernya. "Vanya, apa-apaan—" Bumi berbisik kaku. "Sttt... ada si ular," bisik Vanya tepat di telinga Bumi, lalu ia mencium pipi Bumi dengan bunyi cup yang cukup nyaring. Vanya menoleh ke arah Melinda dengan senyum kemenangan. "Eh, Tante Melinda. Maaf ya, suamiku ini lagi manja banget kalau lagi berdua. Dia marah kalau aku kerja terus." Melinda melongo, menatap pemandangan itu dengan sinis. "Oh, jadi pengawal ini sudah berani naik ranjang sekarang?" Bumi yang tadinya mau melepaskan diri, tiba-tiba merasa egonya tertantang oleh hinaan Melinda. Alih-alih menjauh, Bumi justru melingkarkan tangannya di pinggang Vanya, menarik tubuh mungil itu hingga menempel erat di dadanya. "Bukan cuma naik ranjang, Nyonya Melinda," sahut Bumi dengan suara bariton yang dalam dan protektif. "Saya sedang memastikan istri saya nggak kelelahan karena urusan yang nggak penting." Vanya tertegun. Ia tidak menyangka Bumi akan seberani itu membalas. Jantungnya berdegup tidak keruan saat merasakan tangan besar Bumi yang hangat di pinggangnya. “Kurang ajar! Lihat saja, aku akan membuat hidupmu tidak mudah, Vanya!” maki Melinda jengkel sekali, merasa usahanya gagal karena ada Bumi. Padahal siang itu ia ingin memperbaiki Vanya. Saat Melinda pergi dengan wajah kesal, Bumi tidak langsung melepas pelukannya. Ia menunduk, menatap Vanya yang kini terlihat sedikit salah tingkah. "Sudah puas aktingnya?" bisik Bumi, suaranya kini melunak, tidak sedingin tadi. Tangannya masih menetap di pinggang Vanya, seolah enggan melepas. Vanya berdeham, mencoba mengembalikan kewarasan. "L-lepas. Dia udah pergi." Bumi justru semakin mendekatkan wajahnya. "Tadi Anda yang mulai. Anda yang ngelus-ngelus saya. Kenapa sekarang gemeteran? Takut jatuh cinta beneran sama pengawal miskin ini?" Vanya hendak membalas dengan kalimat pedas, tapi tiba-tiba jantungnya seolah diremas tangan tak kasat mata. Wajahnya yang tadi kemerahan karena menantang Bumi, mendadak berubah pucat pasi dalam hitungan detik. Tangan Vanya yang tadinya ingin mendorong d**a Bumi, justru mencengkeram kemeja pria itu dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Nona Vanya?" Bumi menyipitkan mata, masih curiga. "Jangan mulai lagi sandiwaranya. Ini nggak lucu.” Tapi Vanya tidak menjawab. Tubuhnya mulai gemetar hebat. Ia mencoba menarik napas, tapi paru-parunya terasa menyempit. Pandangannya mengabur. Karena tak kuat lagi menahan beban tubuhnya, kepalanya jatuh menubruk d**a bidang Bumi. Bumi membeku. Ia baru saja ingin melepaskan diri, tapi saat tangannya menyentuh kulit lengan Vanya yang terbuka, ia tersentak. Kulit itu sedingin mayat. "Vanya! Hei!" Nada suara Bumi berubah dari marah menjadi panik. Ia segera menangkap pinggang Vanya agar wanita itu tidak merosot ke lantai. "Dingin..." bisik Vanya parau, suaranya sangat kecil, jauh dari kesan angkuh yang biasanya ia tunjukkan. Ia justru menyurukkan wajahnya lebih dalam ke ceruk leher Bumi, mencari setitik kehangatan dari tubuh pria yang selalu ia hina itu. "Bumi... d**a kamu... hangat. Sebentar aja…” Bumi terpaku. Kemarahan yang tadi meluap-luap mendadak sirna, digantikan oleh rasa asing yang menyesakkan dadanya. Ia bisa merasakan detak jantung Vanya yang tidak beraturan menempel pada dadanya sendiri. Perlahan, tangan besar Bumi yang kasar naik mengelus rambut Vanya, lalu turun mengelus punggungnya dengan gerakan yang kaku namun sangat lembut. "Anda... kenapa sebenarnya?" bisik Bumi tepat di telinga Vanya. Vanya sedikit tersadar karena dekapan hangat itu. Di tengah sisa sesaknya, ia justru mendongak sedikit, menatap bibir Bumi yang hanya berjarak seujung kuku dari wajahnya. Dengan tatapan yang sayu dan bibir yang pucat, ia tersenyum tipis. "Makanya... aku mau anak, Bumi," lirih Vanya yang berhasil membuat mata Bumi terpaku. "Supaya kalau tubuh dingin ini benar-benar berhenti suatu saat nanti... setidaknya aku pernah merasakan ada detak jantung hangat yang hidup di rahimku. Detak jantung yang berasal dari kamu.” Happy Reading TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD