Bab 5. Ayo Membuat Anak

1251 Words
Setelah kejadian di butik, suasana di apartemen berubah drastis. Bumi tidak lagi banyak bicara. Ia menyadari satu hal, setiap kali ia membentak atau menekan Vanya, kondisi fisik wanita itu langsung merosot. Ada rasa bersalah yang tidak bisa ia jelaskan, meski logikanya tetap berkata bahwa Vanya hanyalah wanita manja yang pandai bersandiwara. Kini, Bumi mulai memasang mata lebih jeli. Ia tidak lagi sekadar berdiri di pojok ruangan. Ia mulai mencatat jam makan Vanya, memastikan wanita itu tidak hanya meminum kopi hitam sepanjang hari. "Makan, Nona. Ini sudah jam tujuh malam," ucap Bumi sambil meletakkan sepiring nasi hangat dan sayur di meja kerja Vanya. Vanya hanya melirik tanpa minat. "Aku nggak lapar." "Saya tidak tanya Anda lapar atau tidak. Saya bilang makan," balas Bumi datar namun tegas. Tatapannya tidak terbantah. "Atau saya harus menyuapi Anda di depan para pelayan agar mereka punya bahan gosip baru?" Vanya mendengus, namun ia mulai menyuap makanannya. Ada rasa hangat yang aneh di hatinya melihat Bumi, si pria kaku itu kini lebih cerewet soal urusan perutnya daripada ayahnya sendiri. *** Malam semakin larut. Bumi baru saja menyelesaikan patroli terakhirnya di sekitar apartemen. Saat melewati lorong kamar utama, langkahnya terhenti. Pintu kamar Vanya sedikit terbuka, hanya menyisakan celah kecil yang mengeluarkan cahaya remang dari lampu tidur. Bumi ragu sejenak. Namun, rasa tanggung jawabnya mengalahkan rasa sungkannya. Ia mendorong pintu itu perlahan, hampir tanpa suara. Vanya tertidur di atas ranjang besarnya, namun posisinya sangat tidak nyaman. Ia masih mengenakan gaun sutra tipis, meringkuk seperti janin, dan selimutnya tertendang hingga ke ujung kaki ranjang. AC kamar terasa sangat dingin, membuat kulit pucat Vanya tampak sedikit membiru. Bumi menghela napas pelan. “Wanita ini... di depan orang bersikap seperti singa, tapi saat tidur terlihat begitu tak berdaya,” batinnya. Bumi melangkah mendekat. Ia meraih ujung selimut bulu yang tebal, lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia menariknya ke atas tubuh Vanya. Ia memastikan selimut itu menutupi hingga ke bahu Vanya yang terbuka. Saat Bumi hendak menarik tangannya, tiba-tiba sebuah tangan yang dingin mencengkeram pergelangan tangannya. Bumi tersentak, mengira Vanya bangun. Namun, mata wanita itu masih terpejam rapat. Vanya sedang mengigau. "Jangan pergi... dingin..." bisik Vanya parau. Suaranya terdengar sangat ketakutan, jauh dari kesan arogan yang biasa ia tunjukkan. Bumi mencoba melepaskan tangannya pelan-pelan, tapi Vanya justru menariknya lebih kuat, memeluk lengan Bumi dan menempelkannya ke pipinya yang dingin. "Mama... jangan tinggalin Vanya sendiri. Sakit, Ma..." rintihnya lagi. Bulir air mata jatuh dari sudut matanya yang tertutup. Bumi terpaku di tempat. Jantungnya berdenyut nyeri melihat pemandangan itu. Inilah Vanya Alister yang sebenarnya. Seorang gadis kecil yang ketakutan, yang ditinggal pergi dunianya, dan harus bertahan hidup di antara orang-orang yang hanya mengincar hartanya. Bumi tidak lagi mencoba melepaskan tangannya. Ia justru duduk di tepi ranjang, membiarkan lengannya dipeluk oleh Vanya. Tangan satunya yang bebas bergerak ragu, sebelum akhirnya ia memberanikan diri mengusap air mata di pipi Vanya dengan ibu jarinya. "Saya di sini," bisik Bumi lembut, sebuah kalimat yang bahkan ia sendiri tidak sadar telah ia ucapkan. "Tidurlah. Tidak ada yang akan menyakitimu." Vanya seolah mendengar suara itu. Napasnya yang tadi tersengal mulai tenang. Ia mengeratkan pelukannya pada lengan Bumi, mencari kenyamanan dari satu-satunya sumber panas di ruangan yang dingin itu. Bumi menatap wajah tidur Vanya dalam diam. Ia menyadari satu hal yang berbahaya, bahwa pernikahan kontrak ini sudah bukan lagi sekadar soal rumah ibunya yang mau digusur. Ada sesuatu yang mulai tumbuh di hatinya, sesuatu yang ia tahu akan sangat sulit untuk ia kendalikan nantinya. Tiba-tiba, mata Vanya terbuka perlahan. Ia berkedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya di kegelapan. Ia menyadari dirinya sedang memeluk sesuatu yang hangat... lengan seorang pria. Vanya mendongak dan matanya langsung bertemu dengan tatapan gelap Bumi yang sedang menatapnya dengan sangat intens. "Bumi?" panggil Vanya parau, masih setengah sadar. Bumi tidak langsung menarik diri. Ia tetap di sana, menatap Vanya dalam jarak yang sangat dekat. "Anda mimpi buruk, Nona." Vanya terdiam sejenak, menatap lengannya yang masih memeluk Bumi. Bukannya malu dan melepaskan, Vanya justru menarik Bumi lebih dekat hingga wajah mereka sejajar. "Tadi kamu bilang nggak akan pergi, kan?" tanya Vanya dengan suara rendah yang provokatif sekaligus memohon. Bumi menelan ludah. "Saya hanya menjalankan tugas." "Kalau begitu... lakukan tugasmu malam ini," bisik Vanya. Ia menarik kerah kemeja Bumi, membuat pria itu terpaksa membungkuk di atasnya. "Dekap aku sampai pagi, Bumi. Itu perintah." * Cahaya matahari pagi mulai menembus gorden penthouse, tapi suasana di kamar itu masih terasa berat. Bumi sudah terjaga sejak tadi, namun ia tetap diam, membiarkan lengannya dipeluk oleh Vanya yang masih terlelap. Matanya tidak lepas memperhatikan wajah Vanya. Pucatnya wanita ini di pagi hari tidak terlihat seperti orang yang habis berpesta, melainkan seperti orang yang energinya baru saja habis terkuras. Nakal, jari lentik Vanya mulai bergerak. Ia menelusuri rahang Bumi, lalu berhenti di leher pria itu, menekannya pelan dengan kuku-kukunya seolah ingin memastikan bahwa pria ini nyata. Bumi membuka mata. Tatapannya langsung tajam, tidak ada kehangatan di sana. Hanya ada kewaspadaan seorang pengawal yang merasa ruang pribadinya baru saja dilanggar. "Sudah puas mainnya?" suara Bumi berat dan dingin. Ia menyibakkan selimut dan bangkit dengan kaku. "Saya harus menyiapkan sarapan. Pakai baju Anda dan segera keluar." "Bumi..." Vanya merengek, suaranya parau tapi masih ada nada manja yang dibuat-buat. "Lemes. Gendong sampai kamar mandi. Kalau nggak, aku nggak mau mandi." Bumi berhenti di dekat pintu. Ia berbalik, menatap Vanya dengan kerutan dalam di dahi. Tatapannya menyelidik, seolah sedang memindai kebohongan di mata Vanya. "Gendong," tuntut Vanya lagi, menjulurkan tangannya ke atas. "Anda punya kaki. Pakai itu." "Gendong atau aku pecat kamu sekarang juga!" ancam Vanya, kembali ke mode majikan manjanya. Bumi mendengus. Ia melangkah kembali ke ranjang, membungkuk, dan mengangkat tubuh Vanya dengan satu gerakan kasar namun tetap hati-hati. Saat tubuh Vanya berada di pelukannya, Bumi bisa merasakan betapa ringkihnya tulang-tulang wanita itu. Berat badannya terasa menyusut dibanding sebulan lalu. "Anda berat karena banyak mau," sindir Bumi dingin. Vanya tertawa kecil namun tidak mengatakan apa pun. Ia justru terus memandang wajah pengawal pribadinya yang tampak sangat tampan setelah bangun tidur. Rahang tegas dengan mata yang indah, itu menjadi penarik bagi Vanya. Bumi menyadari tatapan mata itu tetapi tidak mengatakan apa pun. Ia segera membawa Vanya ke kamar mandi kemudian berpamitan pergi sebelum wanita itu mengerjainya seperti hari-hari biasa. Ia tentu harus menyiapkan sarapan karena sudah 1 bulan terakhir Vanya tinggal di Penthouse tanpa pelayan. Jadi semua dikerjakan oleh Bumi kecuali bersih-bersih karena pelayan akan datang seminggu 1 kali. Namun, aktivitas Bumi harus terjeda tatkala ada telepon mendesak dari nomor tetangga yang biasanya mengabari tentang keadaan rumah. Bumi sudah menyiapkan kabar buruk yang biasa ia dengar, namun kabar kali ini berhasil membuat lututnya lemas. “Tadi main di pinggir gang, tiba-tiba ditabrak orang. Bumi, kartu BPJS adikmu belum aktif. Sekarang harus dioperasi, aku sedang Galang dana untuk bantuan tapi jika kau bisa tolong pinjam ke bosmu dulu.” “Akan aku usahakan,” ucap Bumi dengan hembusan napas berat. Pikiran Bumi begitu kacau, ia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Meskipun adiknya banyak tetapi ia sangat menyayangi mereka, ia tak ingin masa depan adiknya pupus karena terlambat pertolongan. Dan akhirnya ia memutuskan untuk berdiri menunggu Vanya keluar kamar mandi. Sekitar 20 menit akhirnya wanita itu keluar dengan rambut yang masih setengah basah. Ia hanya mengernyit melirik Bumi yang berdiri layaknya patung. “Kenapa kau disini? Sarapanku sudah siap atau belum.” Vanya bertanya dengan nada acuh tak acuhnya. “Saya setuju, Nona.” Vanya kian mengernyit mendengar ucapan Bumi, ia menunggu apa yang akan pria itu katakan lagi. “Saya setuju memberikan Anda anak.” Happy Reading TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD