Bumi berdiri kaku, mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih. Ucapan yang baru saja keluar dari mulutnya terasa seperti belati yang ia tancapkan ke jantungnya sendiri.
Vanya yang baru saja selesai mengeringkan rambut, terdiam sejenak sebelum tawa remehnya pecah. Ia berjalan mendekat, menatap Bumi dari ujung kaki hingga kepala dengan tatapan menghina yang paling tajam.
"Oh, jadi begini cara kerja harga dirimu?" ledek Vanya sambil melipat tangan di d**a. "Bukannya kemarin kamu bilang aku ini wanita menjijikkan karena ingin membeli benih pria?”
Bumi terdiam, rahangnya mengeras tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya.
"Kenapa diam? Ternyata benar kata orang... orang miskin itu prinsipnya hanya sebatas tebalnya uang," lanjut Vanya dengan nada binal yang menyakitkan. "Jadi, berapa harga untuk harga dirimu hari ini? Sepuluh juta? Seratus juta?"
"Tutup mulut Anda, Nona," desis Bumi rendah. "Saya butuh uangnya sekarang. Adik saya sedang sekarat."
Vanya tertegun sejenak mendengar kata sekarat, namun egonya tetap memegang kendali. "Aku tidak sebodoh itu. Bagaimana kalau ini cuma trikmu? Siapa tahu uang itu mau kamu pakai untuk foya-foya dengan kekasihmu?"
Bumi menatap mata Vanya dengan tatapan yang sangat gelap. "Saya tidak punya waktu untuk drama Anda. Kalau tidak percaya, ikut saya ke rumah sakit sekarang. Lihat sendiri kondisi keluarga saya."
Vanya mengangkat alis. "Rumah sakit umum yang kumuh itu?” Bumi membalasnya dengan anggukan.
“Hah baiklah, karena aku memang majikan yang baik hati. Aku akan datang ke tempat kumuh itu,” sahut Vanya begitu pedasnya tanpa memikirkan perasaan Bumi sama sekali.
Meski emosi kian merajalela, Bumi tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mau tidak mau ia harus mengakui saat ini ia memang sangat membutuhkan Vanya.
1 jam kemudian mereka telah sampai di Rumah Sakit Umum Pusat itu sangat bising dan berbau karbol yang tajam. Vanya melangkah dengan sangat hati-hati, memegangi tas branded-nya seolah-olah udara di sana bisa mengotori kulitnya. Di ujung lorong ruang operasi, ia melihat sekelompok orang duduk di lantai dan kursi besi yang keras.
Bumi berjalan mendahului. Begitu ia sampai, seorang remaja laki-laki berseragam SMP dan anak perempuan kelas 6 SD langsung berlari memeluknya.
"Kak Bumi! Gaby sudah di dalam lama sekali, Kak..." tangis sang adik perempuan pecah.
Bumi mengelus kepala mereka, matanya berkaca-kaca. "Ssst, Kakak sudah di sini. Biayanya sudah ada. Gaby pasti selamat."
Vanya berdiri beberapa meter di belakang, menyaksikan pemandangan itu. Ia melihat seorang wanita tua dengan rambut memutih dan wajah yang penuh keriput kesedihan. Itu ibu Bumi. Wanita itu gemetar saat menyentuh tangan Bumi.
Penampilan mereka jangan ditanya, pastinya sangat kumal untuk seorang Vanya Alister. Ia menelan ludah, tidak ingin menyapa atau sekedar basa-basi. Tetapi memantau satu per satu wajah di depannya, terutama Bumi.
“Aku rasa, gen dia memang paling bagus. Dari wajah dan tubuhnya sangat sempurna,” batin Vanya masih cukup bingung kenapa Bumi bisa berbeda dengan saudaranya yang lain.
“Oh, dia kan memang sudah berbulan-bulan ikut denganku. Gara-gara mandi air mahal makanya jadi seperti ini.” Vanya kembali membatin, menyangkal semua pujian yang barusan diakui oleh hatinya.
Bumi tiba-tiba menoleh ke arah Vanya.
"Ibu... ini Nona Vanya. Atasan Bumi. Beliau yang membantu biaya operasi Gaby," ucap Bumi lirih.
Laysa, Ibu Bumi langsung berdiri, hendak bersujud di depan Vanya, namun Bumi menahannya. Vanya terpaku dengan mata yang terus menilai. Selama ini, orang-orang bersujud padanya karena takut atau menginginkan proyek. Tapi wanita tua ini menatapnya dengan rasa syukur yang tulus hingga matanya yang berair membuat Vanya mendadak merasa sangat kecil.
"Terima kasih, Nona... terima kasih banyak. Semoga Tuhan membalas kebaikan Nona," bisik Laysa parau.
Vanya yang biasanya sombong hanya mampu mengangguk kaku. Ia melihat adik-adik Bumi yang tampak lelah dan lapar. Ada rasa sesak yang aneh di dadanya. Di balik sosok Bumi yang kasar dan kaku, ternyata ada beban seberat ini yang ia pikul sendirian.
Hati Vanya pun tergerak, ia menarik ujung baju Bumi dan memberikan gestur agar menjauh dari keluarga.
“Segera urus administrasi adikmu. Jangan membuatku malu seolah aku tidak tanggungjawab kepada pegawai,” titahnya dengan nada arogan yang khas.
Bumi menghela napas berat seraya mengangguk kaku. “Mengenai persyaratan Anda, nanti—”
“Kenapa kau menjadi bodoh?” tukas Vanya menatap Bumi penuh kekesalan. “Kita akan bahas itu nanti. Sekarang yang penting nyawa adikmu!” serunya kemudian dengan nada memerintahkan yang kental.
Bumi mengiyakan, ia segera mengurus administrasi adiknya dengan ditemani Vanya sebagai donasi satu-satunya. Saat Bumi ingin meminta keringanan, Vanya justru marah. Wanita itu ingin semua prosedur dilakukan cepat, tidak peduli biayanya berapa.
Namun, semua tidak ada yang instan. Beberapa data mengenai adik Bumi belum ada sehingga sulit untuk diproses. Tetapi Vanya tidak membiarkan itu sebagai halangan, ia mengatakan akan mengurus semua persyaratan yang penting uangnya sudah dibayar dan adik Bumi segera ditangani.
Setelah hampir 4 jam tersiksa akhirnya Gaby dimasukkan ke dalam ruang operasi, sementara Bumi masih pontang-panting ingin mengurus data adiknya.
“Udah, kamu di sini aja temani Ibumu. Ini biar pengacaraku yang ngurus,” sergah Vanya geram sendiri dengan pelayanan rumah sakit pusat ini. “Kau tidak akan mendapatkan apa pun jika hanya dengan modal ngemis. Biarkan uangku berbicara hari ini,” lanjutnya begitu pongah.
Kata-kata itu memang menyakitkan namun benar sekali, orang miskin seperti Bumi jelas bukan prioritas. Vanya segera berlalu, mengambil ponsel agar mengurus data adik Bumi ini di Dukcapil. Vanya benar-benar heran, kenapa bisa sampai data sepenting itu tidak ada?
“Akta lahir Gaby digadaikan Ibu.” Tiba-tiba celetukan itu terdengar dari Gelia—adik kedua Bumi yang saat ini duduk di kelas 4 SD. “Buat bayar sekolah Kak Fajar,” lanjutnya begitu lirih.
Vanya terhenyak, menatap Bumi yang hanya memaku dengan tatapan kosong. Jantung Vanya berdenyut nyeri secara tiba-tiba, batinnya pun menjerit. Benarkah ada kehidupan seperti ini? Ia pikir hidup di sangkar emas sepertinya sudah sangat menyedihkan, lantas bagaimana mereka yang hidup di atas kemiskinan yang kelaparan bisa menjemput kapan saja.
Dua jam berlalu. Operasi masih berjalan. Vanya tidak pergi. Ia justru duduk di kursi besi yang dingin, sedikit jauh dari keluarga Bumi. Ia memperhatikan Bumi yang terus mondar-mandir, sesekali membelikan air mineral untuk adik-adiknya, namun ia sendiri tidak makan apa-apa.
Vanya bangkit perlahan. Ia berjalan menuju kantin rumah sakit yang sederhana. Ia membeli beberapa kotak nasi dan roti, lalu kembali ke lorong itu.
"Makan," ucap Vanya singkat, menyodorkan kantong plastik ke arah Bumi.
Bumi menatapnya heran. "Nona..."
"Jangan biarkan adik-adikmu pingsan karena lapar. Aku tidak mau dituduh majikan kejam," potong Vanya cepat, menyembunyikan rasa empatinya di balik nada ketus.
Bumi menerima plastik itu, tangan mereka bersentuhan sesaat. Kali ini, Bumi tidak menarik tangannya dengan kasar. Ia melihat mata Vanya yang tampak sedikit lebih manusiawi hari ini.
"Terima kasih," bisik Bumi tulus.
Vanya tidak menyahut, untuk pertama kalinya ia rela meninggalkan pekerjaannya demi bisa menemani Bumi di rumah sakit. Pria itu beberapa kali mengatakan agar dirinya bekerja saja setelah operasi Gaby berhasil, namun Vanya enggan untuk beranjak. Ia justru meminta Bumi mengantarkan adik-adiknya saja yang sepertinya sudah lelah.
“Antar mereka dulu, aku yang akan menjaga ibu dan adikmu,” titahnya dengan suara rendah.
“Saya akan memesankan ojek—”
“Antar pakai mobil, jangan seperti orang bodoh!” makinya disertai tatapan yang tajam. Kemudian ia mengeluarkan 5 lembar uang pecahan 100 ribuan dan memberikannya pada Bumi. “Jangan lupa belikan makanan, anggap ini bonus karena aku memang baik hati,” lanjutnya buru-buru membuang muka sebelum ditatap mata Bumi yang selalu menghanyutkan.
Bumi pun hanya diam dengan hati yang tersenyum, entah kenapa kali ini pemikirannya pada Vanya mulai berubah.
“Terima kasih,” ucapnya sekali lagi dengan nada yang jauh lebih tulus namun tak digubris oleh Vanya. Wanita itu malah pura-pura sibuk di samping Laysa.
***
Malam semakin larut. Gaby, adik terkecil Bumi yang berusia 8 tahun, akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan dan dinyatakan stabil. Bumi pun merasa sangat lega sekali. Setelah mengantarkan adik-adiknya pulang, Bumi dan Vanya pulang ke Mansion sesuai permintaan Vanya.
Namun, selama perjalanan Bumi resah dengan janjinya. Ia melirik Vanya secara diam-diam, entah karena cuaca sedang dingin atau bagaimana wajah wanita itu sangat pucat.
“Mengenai apa yang saya katakan, saya—”
“Kau tetap harus menjalankannya,” potong Vanya cepat sebelum Bumi menyelesaikan ucapannya. Raut wajahnya sangat datar, namun matanya melirik Bumi dengan tatapan yang tak biasa.
“Kau harus tetap memberikan benihmu sesuai janjimu.”
Bumi mencengkeram setir mobil lebih erat. Malam ini, hujan mulai turun membasahi kaca depan, mengaburkan pandangannya sama seperti ia yang mulai kabur melihat batasan antara benci dan hutang budi pada wanita di sampingnya. Ia tahu, begitu pintu penthouse terkunci malam ini, ia bukan lagi pengawal yang menjaga nyawa Vanya, melainkan pria yang akan menyerahkan sisa harga dirinya demi sebuah kehidupan baru.
“Saya pasti akan melakukannya."
Happy Reading
TBC.