Bab 7. Penghangat Ranjang

1302 Words
Lampu sensor di lorong penthouse menyala otomatis saat Bumi mendorong pintu berat itu. Keheningan mewah apartemen itu menyambut mereka dengan dingin, sangat kontras dengan hiruk pikuk rumah sakit yang baru saja mereka tinggalkan. Bumi melangkah masuk, namun ia segera menyadari langkah di belakangnya terhenti. Vanya berdiri mematung di ambang pintu. Wajahnya yang tadi di rumah sakit masih terlihat tegak, kini tampak seperti porselen yang siap pecah. Pucatnya tidak wajar, bibirnya yang biasanya merah menyala kini tampak keunguan. "Nona?" Bumi berbalik, alisnya bertaut cemas. Vanya mencoba melangkah, namun lututnya gemetar hebat. Tas di tangannya jatuh begitu saja ke lantai marmer bersamaan dengan tubuhnya limbung ke depan. Bumi yang melihat itu reflek menerjang maju. Ia menangkap tubuh ringkih Vanya tepat sebelum wajahnya membentur lantai. Saat lengan kekar Bumi melingkar di pinggang Vanya, ia tersentak saat merasakan tubuh Vanya begitu dingin. “Tubuh Anda sangat dingin, Nona.” Bumi memandang Vanya sangat cemas. "Bawa aku ke kamar saja," bisik Vanya parau, jemarinya mencengkeram kemeja Bumi dengan sisa tenaga yang ada. Tanpa membantah, Bumi menyusupkan lengannya di bawah lutut Vanya dan menggendongnya. Ia merasakan betapa ringkihnya wanita ini, berat badannya seolah menyusut hanya dalam waktu satu hari. Bumi langsung melesat cepat, berlutut di depan kaki Vanya. Ia melepaskan sepatu hak tinggi yang telah menyiksa kaki wanita itu seharian. Pergelangan kaki Vanya sedikit bengkak. Bumi menghela napas pendek, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh Vanya hingga ke leher. "Kenapa Anda memaksakan diri? Saya sudah bilang tadi, Anda bisa pulang duluan," ucap Bumi, suaranya rendah, tak lagi mengandung nada konfrontasi. Vanya menyandarkan kepalanya, matanya terpejam rapat. "Kalau aku pulang, siapa yang akan memarahi birokrasi rumah sakit itu agar adikmu bisa dioperasi? Kamu? Yang ada kamu malah masuk penjara karena memukul petugasnya." Bumi terdiam, ia tahu itu benar. Vanya dengan segala arogansinya, telah menggunakan uang dan kuasa sebagai tameng pelindung bagi keluarganya. "Saya buatkan teh hangat. Tunggu di sini," Bumi beranjak ke dapur. Vanya hanya bergumam rendah, ia segera mencari-cari obatnya yang ada di laci dan meminumnya dengan cepat. Tadi pagi karena terburu-buru ia tidak sempat minum, untuk itulah penyakitnya kembali kambuh dalam waktu cepat. “s**t! Sampai kapan dia menyiksaku, kenapa tidak mati saja,” ucapnya dengan rasa frustasi yang kental. Beberapa menit kemudian, Bumi kembali membawa secangkir teh jahe hangat. Vanya sudah sedikit lebih terjaga. Ia menerima cangkir itu dengan tangan yang masih gemetar. Bumi pun berinisiatif membantu, menyangga kepala Vanya agar lebih nyaman. "Kenapa Anda melakukannya, Nona?" tanya Bumi tiba-tiba, duduk di tepi ranjang, menjaga jarak namun tetap cukup dekat untuk menjangkau Vanya jika ia pingsan lagi. "Maksud saya... soal pengacara, soal mengurus akta lahir Gaby yang digadaikan... Anda tidak perlu melakukan sejauh itu hanya untuk sebuah kesepakatan." Vanya menyesap tehnya perlahan, uap panasnya sedikit memberi warna pada pipinya. Ia menatap kosong ke arah jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. "Entahlah," sahut Vanya getir. "Mungkin karena aku iri." Bumi mengernyit. "Iri? Pada orang miskin seperti saya?" Vanya terkekeh, suara tawa yang terdengar sangat menyedihkan. "Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya orang yang mau menangis di lantai rumah sakit untukku jika aku mati besok pagi." Vanya menoleh, menatap Bumi dengan tatapan yang sangat jujur. "Melihat ibumu... melihat bagaimana dia ingin bersujud demi kamu dan adikmu... itu sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan kartu kreditku.” “Jangan seperti itu, Nona. Tuan Alister masih peduli dan sayang pada Anda.” “Papaku?” Vanya kembali tertawa sumbang. “Jika aku sedang sekarat, dia mungkin hanya akan bertanya berapa biaya pemakamannya agar tidak merusak laporan keuangan tahunan." Bumi tertegun. Untuk pertama kalinya, ia melihat lubang hitam yang besar di dalam hidup Vanya Alister. "Keluarga saya memang miskin, Nona. Tapi kami tidak punya pilihan selain saling memiliki," ucap Bumi lirih. "Itu sebabnya aku mau anak darimu," potong Vanya cepat, suaranya kembali mengeras meski masih lemah. "Aku mau sesuatu yang benar-benar milikku. Yang punya hati seperti kamu. Bukan seperti monster-monster di keluargaku." Bumi menunduk, menatap lantai. Kenangan saat Vanya membagikan roti di lorong rumah sakit kembali terlintas. Caranya memarahi petugas administrasi demi nyawa Gaby bukan sekadar perintah majikan, tapi ada kemarahan tulus di sana. "Mengenai janji saya..." Bumi menggantung kalimatnya. Ia menoleh ke arah Vanya. "Anda sedang sakit, Nona. Wajah Anda pucat sekali. Kita bisa melakukannya lain kali." Vanya meletakkan cangkirnya di nakas dengan gerakan yang tajam. Ia menatap Bumi, kilat tantangan kembali muncul di matanya. "Siapa yang bilang aku sakit? Aku cuma lelah. Dan aku tidak suka menunda pekerjaan." Vanya bangkit berdiri dengan perlahan. Ia sedikit goyah, namun tetap tegak. Ia melepaskan jubah sutra luarnya, menyisakan gaun tidur tipis berbahan satin yang melekat pas di tubuhnya. "Bumi," panggilnya rendah. Bumi ikut berdiri. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang berbeda dari kemarahan. Ia melihat Vanya mendekatkan, wangi vanilla dan sisa aroma rumah sakit bercampur di udara. Vanya mengulurkan tangan, menyentuh rahang tegas Bumi yang kasar karena tidak sempat bercukur. "Jangan menatapku dengan rasa kasihan. Aku benci itu. Tatap aku sebagai pria yang sedang memenuhi janjinya." Bumi menahan napas saat jemari dingin Vanya mulai bergerak ke lehernya, menarik kerah kemejanya perlahan. "Nona, Anda yakin?" "Panggil namaku," bisik Vanya. "Malam ini, lepaskan semua jabatan itu. Aku cuma Vanya. Dan kamu adalah pria yang baru saja menyelamatkan hidupku... atau mungkin aku yang menyelamatkanmu." Bumi tidak bisa lagi menahan diri. Emosi yang ia pendam seharian, rasa takut kehilangan adiknya, rasa terima kasih yang meluap, dan ketertarikan yang ia sangkal meledak menjadi satu. Ia meraih pinggang Vanya, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka. Vanya sedikit tersentak saat merasakan kekuatan di lengan Bumi, namun ia tidak menghindar. Ia justru menyandarkan kepalanya di bahu Bumi, mencari kehangatan yang tadi ia rindukan di rumah sakit. "Aku kedinginan, Bumi," bisiknya di d**a pria itu. "Tolong... buat aku merasa hidup." Bumi yang biasanya benci dengan sentuhan seperti ini memberanikan diri membenamkan wajahnya di ceruk leher Vanya, menghirup aroma wanita itu dalam-dalam. Ia merasakan denyut nadi Vanya yang cepat di bawah kulit lehernya yang tipis. Ada kerapuhan yang nyata di sana, namun juga gairah yang menuntut. Bumi menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya yang kian tidak beraturan. Namun, aroma parfum Vanya yang bercampur dengan suhu tubuh wanita itu justru kian mengaburkan logikanya. Ia melepaskan wajahnya dari ceruk leher Vanya, lalu menatap lurus ke dalam bola mata kecokelatan yang tampak berkaca-kaca itu. Vanya tidak memalingkan wajah. Sebaliknya, ia menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. "Kenapa diam?" bisik Vanya, suaranya kini terdengar lebih berani, meski napasnya masih terasa pendek. "Apa tubuh wanita sekarat ini tidak cukup menarik untuk pria perkasa sepertimu?" Rahang Bumi mengeras. "Jangan bicara sembarangan, Nona, ehm maksud saya, Vanya." "Lalu apa? Apa kamu sedang menghitung berapa nominal yang akan masuk ke rekeningmu setelah malam ini?" Vanya sengaja menekan dadanya ke d**a Bumi, memprovokasi pria itu dengan jarak yang nyaris hilang. "Atau kamu sedang meratapi harga dirimu yang akhirnya terbeli oleh wanita yang paling kamu benci?" Bumi mencengkeram pinggang Vanya lebih erat, hingga wanita itu sedikit memekik pelan. Sorot mata Bumi kian gelap, penuh dengan gejolak yang tertahan. "Anda tahu benar bukan itu alasannya," desis Bumi, suaranya serak dan dalam. "Kalau begitu tunjukkan padaku," tantang Vanya lagi. Jemarinya merayap naik, mencengkeram rambut di tengkuk Bumi, menarik kepala pria itu agar lebih dekat ke wajahnya. "Jangan lakukan ini karena uang. Jangan lakukan ini karena adikmu. Malam ini, lakukan karena kamu menginginkanku. Buktikan kalau pengawal berdarah dingin ini juga punya gairah yang bisa membakar, bukan cuma otot yang bisa memukul." Vanya menatap bibir Bumi dengan tatapan lapar yang provokatif. "Lakukan, Bumi. Sebelum jantungku berhenti berdetak karena kedinginan." Kata-kata itu menjadi pemantik terakhir yang menghancurkan sisa pertahanan Bumi. Tidak ada lagi keraguan. Bumi membalas tatapan itu dengan intensitas yang seolah bisa menembus raga Vanya. "Anda yang meminta ini, Vanya," ucap Bumi rendah, sebuah peringatan sekaligus janji. Tanpa melepaskan pandangannya, Bumi menyapu tubuh Vanya sebelum mendorongnya ke ranjang dengan gerakan keras yang membuat bibir Vanya memekik kaget. Happy Reading TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD