BAB 38

2338 Words

“Mau nitip beli makan nggak, Dok?” tanya Susi sambil memastikan ruang praktik siap dipakai lagi selepas magrib. “Nggak. Saya mau pulang. Kepingin tidur cepat,” jawabku. “Nggak nge-date, Dok?” “Virtual dating dulu. Sama-sama teler.” Susi terkekeh. Ia keluar sambil membawa beberapa map medical record. Aku menurunkan masker ke leher. Bahuku pegal. Punggungku juga. Dua minggu lalu aku masih duduk di tepi Issyk-Kul bersama Amanda. Udaranya dingin. Airnya tenang. Langitnya bersih. Sekarang aku kembali di Jakarta. Kota ini tak pernah menyambut orang dengan pelan-pelan. Selalu ramai. Selalu panas. Selalu berisik. Seolah hidup harus terus jalan meski salah satu penduduknya sedang lelah. Di balik dinding kaca buram ruang praktik, suara dari resepsionis masih terdengar samar. Ada pasien yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD