Aku kira… atau aku berharap... itu hanya candaan. Tapi ternyata... logikaku mengalahkan prasangka. Mengenal baik ketiganya, diasuh hangat oleh mereka membuatku, tak lagi heran jika diksi ‘ikut’ tidak dilontarkan untuk menakut-nakuti, namun dengan maksud sebenarnya. “Nda?” bisik Kang Iyal. Aku mencengir kaku. “Beliau-beliau itu emang doyan bercanda, Kang. Tapi dalam arti harfiah.” “Hah?” “Nda naik taksi aja? Tapi Papi, Papa, dan Ayah bakalan tetep ngikut di mobil Akang sih.” Kang Iyal mengerjap. “Soalnya mereka lagi kepo sama Akang. Nanti kalau sudah bosan juga pergi sendiri,” lanjutku. Pacarku itu menggaruk pelipisnya sambil terkekeh menyedihkan. “Ya kalau gitu ngapain Nda naik taksi?” “Biar suasana horror-comedy-nya berasa aja,” jawabku enteng. Mau bagaimana? Menangis? Marah? T

