BAB 29

1660 Words

“Noura, Amanda... breakfast!” Aku terbangun. Bukan karena alarm, namun karena suara ketukan pelan di pintu yang disambung suara Mas Beni barusan. “Oke, Mas. Aku bangunin Amanda, habis itu nyusul,” jawab Noura. Dan selanjutnya yang kudengar adalah bunyi pintu yang menutup pelan. “Ya Allah, ngantuk banget,” lirihku. Aku mengerjap, menatap langit-langit kamar yang masih terasa asing. Butuh beberapa detik sampai aku benar-benar sadar kalau aku tak sedang di Jakarta. Tapi di Bishkek, hari kedua. “Bangun woy…” gumamku lirih ke diri sendiri. Tubuhku masih berat, tapi pikiranku sudah ke mana-mana. Ke SoeTa. Ke pesawat. Ke tangan yang tanpa diminta menggenggamku. Dan ke seseorang yang terus saja muncul di kepalaku. Aku menghela napas, lalu bangkit duduk. “Ya Allah… baru juga hari kedua.”

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD