BAB 49

1604 Words

“Ayo bangun, sayang. Buruan mandi ih.” “Lima menit lagi, Mi.” “Nggak. Mandi sekarang. Belum siap-siapnya, belum dandan, belum sarapan. Mami pusing lihat orang terburu-buru pagi-pagi.” “Hmm.” “Amanda Zhafira Dewantara!” Aku langsung duduk, mengerjap-ngerjap. Di rumah ini, kalau Mami sudah menyebut nama lengkap kami, mode sigap kami pasti auto aktif. Percayalah, Mami kalau sudah ngambek bisa bikin hawa rumah ini bener-bener nggak nyaman. “Mami masak apa?” tanyaku kemudian. “Nasi goreng, rolade sapi, tempe goreng, lalapan, sambal. Kenapa? Nda mau yang lain?” “Itu buat bekal Nda aja ya, Mi?” “Masih nggak nyaman perutnya?” Aku mengangguk. “Mami bikinin roti hangat pakai selai kacang?” Senyumku seketika terbit. Beliau terkekeh, tangannya terulur merapikan suraiku. “Sana mandi buruan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD