LIMA PULUH DELAPAN

1235 Words

“Habisin susunya ya, Ay. Aku berangkat dulu.” Niel meninggalkan kecupan di kening Zeusyu. Pemuda itu bangkit, meninggalkan kursi makannya. “Nggak perlu dianter ke depan. Kamu lanjutin aja sarapannya,” ucapnya melarang Zeusyu. “Hati-Hati ya..” Niel tahu dirinya egois. Karena ketakutannya, ia menahan Zeusyu di rumah. Hatinya pun tak goyah meski kehilangan pendar binar di mata sang istri. Ia masih belum mampu melupakan keteledorannya dalam menjaga Zeusyu. Kejahatan berada dimana-mana. Sebagai manusia yang tahu kapasitasnya, ia takut kembali lengah dan hal buruk menimpa kesayangannya lagi. Cukup calon buah hati mereka saja yang menjadi korban. Ia mungkin bisa mati jika kehilangan Zeusyu. “Kalau pengen sesuatu, bilang aja ya. Nanti aku pesenin,” ucapnya sembari membelai puncak kepala Zeusyu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD