Sembilan Puluh Satu

1431 Words

Xavier terbangun. Anak itu memegangi k*********a, merasakan jika air seninya akan keluar sebentar lagi. Kepalanya yang kecil bergerak ke kanan dan kiri, melihat pada ranjang kosong yang seharusnya ditempati oleh kedua orang tuanya. “Temana eka?” Monolognya mempertanyakan keberadaan orang tuanya. Keningnya berkerut dalam. Dirinya lagi-lagi ditinggalkan sendirian ditengah lampu tidur yang remang-remang. “Ih!” Xavier ber-ih-ria. Pipisnya terasa mendekati ujung. “Api au piiiih!” gumamnya sembari mendudukan diri lalu berteriak memanggil papanya keras-keras. “PAPAAA!!!” Satu menit kemudian Niel terlihat. Pria itu keluar dari kamar mandi. Raut wajahnya keruh, seperti tengah menahan kesal. Celana boksernya tak terpasang sempurna, sedikit miring melawan bentuk tubuhnya. “Bocil, kenapa bangu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD