Arielle duduk di kursi belakang mobil dengan tenang. Tangannya memegang ponsel, namun layar tak menampilkan apapun. Matanya memandangi jalanan luar jendela yang mulai basah oleh gerimis tipis. Suara wiper mobil yang menggesek kaca terdengar ritmis, seperti detak jantung yang menahan sesuatu. "Madame, kita hampir sampai," ucap sopir pelan dari kursi depan. "Berhenti dua blok sebelum tujuan. Aku ingin jalan kaki sisanya." Sopir tidak bertanya. Ia hanya mengangguk dan membelokkan mobil ke gang kecil yang sepi. Arielle turun dengan langkah mantap, payung hitam terbuka di tangannya. Ia melangkah cepat, melewati kios-kios yang sudah tutup dan beberapa orang tua yang duduk di depan rumahnya. Tujuannya bukan tempat biasa. Ia menuju kawasan lama yang dulunya digunakan sebagai markas distribusi