- Yudhistira's Main Mansion -
- Author's POV -
Pasangan saji logam saling berkeruncing gemuruhnya. Yang seharusnya dihadir sapa anak dan orang tua, jamuan makan malam mereka kali ini, hanya ditemani oleh aksi saling tegang wajah. Tak ada permusuhan dari mereka. Hanya, untuk mendapatkan kehangatan semata, kata itu memang tak pernah hadir di kamus turun temurun keluarga mereka.
"Samuel. Bagaimana dengan sekolahmu?" Ganta Yudhistira, merapikan letak Serviette yang baru saja dijamu oleh pelayannya. Kumis klimisnya bergerak tipis, menyambut hidangan European Classic.
"Kau harus terus mempertahankan nilai A di semua mata pelajaran. Tidak boleh ada kegagalan di keluarga Yudhistira. Ibumu akan kecewa kalau kau gagal," sambung pria yang masih dalam usia matang itu.
Sang putra, Samuel, menyikapi kebiasaan sang ayah di meja makan dalam tata krama dingin. "Aman. Ayah tidak perlu cemas," dia menjawab seadanya.
Ganta menyampirkan gelas alkohol Old Fitzgerald-nya ke samping. Ditelitinya wajah sang anak, yang belakangan ini jarang dilihatnya.
"Kau belum mau bertemu Christine atau Laura?" tanya pria tiga puluhan itu, mengetukkan ke meja jemari penuh batuan mulia. Gemanya membuat selusin pelayan mereka terpucat dingin. "Cari seseorang. Kau sudah masuk umur pernikahan. Ayah dulu seusiamu, sudah bertunangan. Lulus SMA, langsung menikah. Beberapa saat kemudian, ibumu melahirkanmu. Begitu seharusnya kehidupan seorang pria."
'Ya. Dan karena itu juga kau membuat Ibu nyaris gila. Menjadikannya mesin anak sampai akhirnya bunuh diri.' Batin Samuel tak sabar mencibir. Ia hanya terpaksa, duduk makan malam di sini. Kalau bukan karena Sienna, ogah Ia bernapas satu ruangan dengan Ganta.
Samuel tidak ingin Ganta—yang belakangan ini sibuk dengan memasangkan kesana-kemari untuk perjodohannya—mengganggu Sienna. Lantas, Samuel berpura sok dekat. Demi ayahnya senang.
"Permisi, Tuan Muda. Van dan Timothy ingin berbicara." Kepala Pelayan mereka melipir ke meja makan besar, menyampaikan pesan pada Samuel lewat bisikkan.
Van dan Timothy, petinju profesional yang Samuel sewa untuk mengawasi Sienna, datang ke aula makan keluarganya dalam wajah kacau. Mereka berdua saling lirik gelisah, saat Samuel duduk diam menunggu laporan. Keduanya sudah paham, saat ada Ganta, mereka akan berakting seolah membicarakan urusan bisnis. Diserahkannya selembar amplop pada Samuel. Isinya, foto terkini Sienna di basement vila mereka.
Jemari Samuel, menembus amplop kulit itu hingga berlubang.
"William. Bawa mereka berdua ke ruang hukuman." Samuel membuang amplop itu, lanjut pada hidangan di piringnya. Dingin. "Beri mereka hukuman kelas B."
Van dan Tim mendelik ketakutan. Sebelum William menyeret mereka, keduanya bersujud dan memeluk kaki Samuel. Meminta ampun.
"Demi Tuhan, Tuan Muda! Kami tidak melukainya" Van berderai air mata. "D-dia, dia sendiri yang melakukannya! Kami sama sekali tidak—"
"Lalu apa guna aku membayar mahal kalian?" Samuel menepis kaki, lekuk sinis di wajahnya sarat akan kemurkaan. "Kubilang berkali-kali, aku tidak mau ada secuil luka di tubuhnya. Kutemukan satu goresan saja di kulitnya, jari kalian yang akan kupotong."
"Tidak! Jangan, Tuan! Ampuni kami!"
"Memang ada masalah apa?" Ganta bertanya heran, dari ujung meja makan. Yang pria itu tau, putranya Samuel sedang mengurus bisnis bawah tanah. Sama sekali tak dia ketahui, putranya diam-diam menculik seorang gadis dan mengurungnya di tempat ini.
"Aku selesai." Samuel beranjak pergi dari meja makan.
Ganta tidak dia hiraukan, sejak tadi dinner ini hanyalah formalitas. Ia sedang menunggu kabar dari dua orang itu. Dan sekarang, rencananya berantakan.
Saku celananya bergetar. Ingin ia hiraukan, tapi dering yang mengganggunya sedikit berbeda. Samuel lirik pada kedipan blue screen itu—sudut bibirnya mencibir geram. Laura Adiyanto, gadis satu dari ribuan yang akan dijodohkan dengannya. Tentu saja, Samuel akan dengan sukarela mengacaukan lagi seperti yang sudah-sudah. Begitu tau siapa yang malam-malam begini berani menghubunginya, Samuel langsung membanting ponsel itu ke lantai. Berserakan kemana-mana.
Kakinya menjejaki tangga rahasia yang berlimpah di bawah lantai kayu, bagian paling dalam mansion-nya. Untuk memasukinya, seseorang harus mengombinasikan sederet huruf dan angka, untuk memunculkan lemari penuh dengan lampu lilin. Hanya dengan itu, seseorang bisa berjalan masuk ke labirin yang berada di basement besarnya tanpa tersesat.
"Tuan Muda." Di depan pintu pertama usai badan labirin dihabisi, Cecilia, pelayan Samuel, berdiri menunggu. Cecilia mengeluarkan sebuah kunci mekanik dari seragam maid-nya, diserahkannya pada Samuel.
"Izin menyarankan, Tuan Muda. Lebih baik, saya saja yang mengurus Nona Sienna. Melihat dari kepribadiannya, akan sangat berbahaya jika anda terlalu dekat dengannya," Cecilia, gadis berusia 20 tahun itu, tampak bersikeras menghalangi jalan majikannya.
Dan Samuel tidak menyambut manis sarannya. "Dan kenapaku harus mendengarkan saranmu?" Sang majikan menodong curiga. Cecilia menurunkan pandangannya, hingga rambut ikal panjangnya terjatuh.
"Saya sempat melihat Nona Sienna berusaha melarikan diri dari kamar tamu. Bukan hanya itu, dia merusak seluruh barang antik yang Tuan Muda punya. Tim nyaris terluka karena Nona Sienna diam-diam membawa senjata tajam."
Samuel menerawang lelangit batu marmer Calacatta yang dengan dingin menaungi ketegangan mereka. Sedingin rahangnya yang diam dalam genangan kekesalan.
"Bukan urusanmu Sienna melukai Tim atau tidak. Tugasmu, hanya awasi dia. Bekerja samalah dengan yang lain dan pastikan Sienna tidak kabur lagi," tutur Samuel, sedingin tatapannya. Kendati Cecilia berkali-kali berusaha menggoda Samuel dengan membuat goyang p******a gemuknya.
Samuel menabrak pundak gadis itu cukup kasar. Cecilia terdiam di sudut pintu, tanpa diizinkan berkomplain. Diliriknya dari kejauhan, Samuel yang ekspresi wajahnya berubah drastis begitu berhadapan dengan Sienna Halim. Kecemburuan mulai berkeruh. Jemari lentik pelayan muda itu menghubungi nomor misterius yang dia simpan di ponselnya. Tanpa sepengetahuan Samuel.
Cecilia melenggang pergi tanpa sudi melihat kelembutan sang majikan yang belum pernah ia saksikan. Begitu sampai di ruangan pribadinya, Samuel berhadapan dengan Sienna yang sudah kacau balau.
Rantai dan borgol adalah bagian dari perintahnya. Tapi, tidak dengan sebotol air mineral yang memiliki bau seperti obat.
Samuel berjalan menjejaki ruangan itu. Sienna, di atas kasurnya, telah bermandikan keringat panas. Kulitnya yang terkenal sepucat porselen, tak lagi berbeda dengan daging merah. Melepuh, seakan tubuhnya sedang terbakar.
Samuel memungut botol plastik yang tergeleng ke sudut dinding, mencium sisa cecairnya yang mengerutkan alis. Dia tidak ingat memerintahkan botol ini, siapa yang berani melakukannya?
Saat lelaki itu sedang mengingat-ingat aroma familiarnya, Sienna yang tergeletak di atas ranjang, tiba-tiba melempar kepala Samuel dengan satu loyang Apple Pie. Helai lebat lelaki itu penuh dengan tetes manis s**u di kepalanya.
"Puas kau, sialan?" Sienna—bibir gadis itu gemetar, jelas terlihat dari pompa napasnya, energi sudah sudut dari wajahnya.
Tetapi mengukur dari kencangnya gadis itu melempar Apple Pie ukuran besar, bisa ditebak Sienna sedang begitu marah sekarang.
"Menculikku, dan sekarang meracuniku. Tiga kali. Apalagi yang kurang? Aku tau kau membenciku, wajar. Aku mem-bully-mu tiap hari. Tapi tak kusangka kau memakai cara kotor seperti ini untuk balas dendam," geram Sienna, wajahnya mengerjap lesu. Jauh berbeda dengan iris biru cerahnya, yang berkilat tajam ke lawan bicaranya.