Sienna Halim POV
- Beberapa menit lalu -
Sengatannya mirip dengan Africanized Honey Bee kesayangan nenek di rumah kacanya. Bisanya perlahan membuat pori-porimu terbuka, racunnya melumpuhkanmu lewat sumsum tulang belakang. Kalau tidak hati-hati, kau bisa mati. Kendati begitu, rasanya aku lebih memilih disengat lebah Africanized Honey Bee, daripada harus meneguk sebotol penuh obat perangsang Bremelanotide ini.
Daun telingaku terkinjat, suara familiar dalam sekali dengar, menyentuh ubun-ubun kepala. Begitu tidak percayanya, aku sampai lupa mengedipkan mata. Di balik pintu tertutup itu, suara berat yang kukenal sedang beradu cakap bersama seorang wanita.
Rantai di tanganku mulai gemerencing. Kali ini, bukan karena aku melepasnya, melainkan, karena betapa gemetar tubuhku sekarang.
Mendengar suara Samuel Yudhistira, cowok culun itu, berbicara dengan menyebut namaku di sana.
Aku merangkak mundur, sejauh kakiku bisa menyeret rantai besi sempit ini. Efek obat per*ang*sang di tubuhku, tidak sebanding dengan betapa takut aku. Sekarang, semuanya mulai masuk akal. Bagaimana dua bodyguards bertato itu bisa masuk ke sekolah, bagaimana mereka bisa menculikku dengan mudah, dan bagaimana mereka memanggil 'Tuan Muda'. Aku paham semuanya.
Samuel Yudhistira, dia lah yang menculikku.
Denyit pintu kayu terdorong, berbunyi melengking. Aku tidak salah liat lagi. Samuel, dia sungguhan Samuel. Dari jarak beberapa meter memisahkan kami, Samuel melirikku dingin. Di tangannya, terdapat serangkai kunci mekanik. Aku yakin itu adalah kunci seluruh pintu di vila ini. Dia lah pemilik seluruh properti di sini.
Bagai melihat satu manusia dalam wujud yang berbeda. Samuel masih mengenakan seragam sekolah sama denganku, tapi dari cara jalannya saja, aku sudah tau dia bukan orang yang sama. Dia berubah, tiga ratus enam puluh derajat dari cowok yang biasa aku bully.
Aku jadi ingat, namanya, Yudhistira—
—jangan bilang, dia pewaris tunggal keluarga konglomerat Yudhistira yang terkenal itu?
Kujambak rambutku, frustasi dalam diam. Kenapa baru sadar!? Kupikir kebetulan saja, nama belakangnya Yudhistira. Maksudku, tak mungkin cowok secupu itu adalah anak konglomerat. Ternyata aku yang salah? f*****g hell!
Setelah menyadari identitas asli Samuel, pandanganku padanya mulai berubah. Kalau dia anak Griss Yudhistira yang 'itu', wajar Angel sampai berlutut padanya. Dan wajar, kalau dia adalah seorang player. Wajar juga, kalau Samuel punya koleksi BD*SM tools selengkap ini.
Masalahnya, kalau Samuel ternyata se-berpengaruh itu, kenapa selama ini dia diam saja saat aku bully? There's something doesn't sit right with me.
"Ugh." Kepalaku sakit. Mau marah pun, terlambat. Ada batas tubuhku bisa mengelak efek obat per*ang*sang ini. Sekarang, aku mulai hilang kendali. Samuel sialan, dia sibuk berkeliling ruangan dan malah mengabaikanku. Sengaja atau apa, supaya aku semakin menderita?
Rasa kesal membuat kulitku semakin membara. Aku jengkel, Samuel tidak kunjung memperhatikanku. Kuambil asal sesuatu—apapun itu—dari kereta makanan, dan kulempar mengenai kepalanya.
Akhirnya, setelah rambut hitam legamnya basah oleh lelehan kue manis, Samuel finally melihatku.
"Tantrum di hari pertama?" Deretan giginya yang mengusung rapi, berjejer menyeringai. Seraya berjalan mendekati ranjang. "Kau tau sedang diculik, bukankah baiknya kau nurut padaku sekarang? Mana tau, aku akan melepaskanmu?"
"Ptuh."
Aku meludahi wajahnya. Tepat di samping matanya.
Entah apa yang kupikirkan sekarang, begitu banyak pertanyaan di kepalaku sampai tidak bisa berpikir. Begitu mendengar Samuel mengejekku, mulutku refleks meludahinya.
Responnya, Samuel—dia, marah besar.
Rahangku tiba-tiba dicengkeram. Bisa kudengar suara geramnya, tertahan, saat tangannya menarik wajahku secara kasar.
"Dengar," dia memburu. Rambutku tersibak, terhembus napas emosinya. "Kalau aku mau, aku bisa mematahkan kakimu, sekarang. Atau, mencongkel kedua matamu until you can't see anything but me. Kalau kau mau selamat, saranku, jangan bertingkah."
Sakit. Cengkeramannya terasa sakit sampai aku sulit menggerakkan rahang. Tapi, bukan itu yang membuatku terdiam sekarang.
"Siapa kau, sebenarnya?"
Pertanyaan itu spontan terlontar. Samuel yang berdiri di depanku ini, benar-benar tidak aku kenal. Kalau Samuel Yudhistira ternyata sekuat, dan dominant seperti ini, mustahil rasanya aku berani mem-bully-nya 4 tahun penuh.
Siapa dia sebenarnya? Aku merasa, ada yang dia sembunyikan dariku.
"Siapa aku?" Samuel berbalik tertawa. Suara yang tidak pernah kudengar. Dingin yang membingkai wajahnya, perlahan mengeras oleh kemarahan.
Dia menatapku sangat intens, seperti matanya berubah menjadi taring. Dan bukannya aku bertanya kurang ajar, aku bertanya normal. Tapi pandangannya itu, menikamku seperti aku habis melakukan kesalahan besar.
"Mengapa tidak kau gunakan otak bodohmu itu? Coba. Apa kau bisa mengingatku?" balasnya, tawa sarkas. Samuel menarik rambutku kasar hingga dahi kami berdua berbentur. Setelah melihat aku mengaduh kesakitan, Samuel baru melepasnya. Lebih tepat, membantingku ke ranjang.
Tubuhku meringkuk bingung, ditinggal olehnya. Obat Bremelanotide membuatku terangsang, tapi di satu sisi aku ingin pergi dari sini. Samuel juga, dia sudah meracuniku, mengapa tidak kunjung melakukan sesuatu? Apa dia sengaja membuatku tersiksa dengan obat ini?
"Kalau ada Jonathan di sini, dia pasti langsung menyentuhku."
"Apa kau bilang?"
Bodoh kuadrat, Sienna.
Tanganku langsung membungkam mulut. Salahkan otakku yang sedang korsleting, tapi bagaimana bisa aku keceplosan!? Lihat. Samuel, sekarang, dari balik celah rambutnya yang basah, dia menatapku dengan rahang menggertak marah.
Padahal baru saja Samuel hendak melepaskanku!
"Aku bilang, kau ngomong apa, barusan?" Samuel, mengulangi pertanyaan. Rantai di kakiku seberat itu, ditariknya dengan tangan kosong begitu mudah. Tubuhku terpelanting ke da*danya. Belum sempat bernapas, Samuel sudah kembali menjambak rambutku. Kali ini, dia memaksa wajahku untuk menatapnya.
"Siapa yang kau sebut tadi, Jonathan?" giginya menyentak. Wajah kami terlalu dekat, asap panas mengepul dari mulutnya. Matanya—
—lapar. Dan, marah. Jika Samuel adalah singa, yakin aku sekarang sudah dimakannya.
"Sienna-ku ingin bertemu kekasihnya, ya."
Samuel, tiba-tiba membuka kunci borgol di tanganku.
Bersamaan dengan itu, dia mengambil salah satu koleksi se*x to*ys-nya, dari rak kaca paling atas. Aku melihatnya seperti anak kelinci, menunggu dimangsa seekor rubah raksasa. Menyaksikan tubuh pria itu menyeret barang asing berkabel panjang, tubuhku sontak melarikan diri.
"Where do you think you are going?" Sebelum aku bisa kemana-mana, tangannya lebih dulu menarik rantai di kakiku.
Tubuhku terhuyung ke tepi ranjang. Dahiku berbenturan dengan sebuah alat—mirip sebuah kacang, berwarna bening—terhubung dengan sebuah remote control. Hanya dengan melihatnya saja, aku sudah bergidik ngeri. Itu vi*br*at*or. Se*x to*ys yang paling kubenci.
Menyorot wajahku berubah pucat di hadapan alat terkutuk itu, Samuel justru semakin menyeringai puas. "Oh? Sepertinya tamu kita mulai tidak sabar. Vi*br*at*or, s*ex to*ys kesukaan Jonathan. Karena dia enggak ada di sini, gimana kalau v*ib*ra*to*r ini yang menggantikannya?"
"A—ARGHH!"
Seluruh tubuhku mengejang tak terkendali.
Samuel memasukan v*ib*ra*tor itu ke dalam lubang va*gi*na*ku, menyalakan kecepatan tertinggi lewat remote di tangannya. Getarannya sangat intens, paru-paruku kesulitan bernapas. Berkali-kali aku tersedak air liur sendiri, tidak biasa dengan ran*gsa*ngan sebesar ini.
Kutarik seragam putih Samuel—memohon lewat mata, segera melepaskan alat ini. Dia, hanya diam. Mata itu seperti cermin yang penuh dengan kebencian. Semakin aku bersujud meminta ampun, semakin alat itu bergetar hebat di kema*lua*nku.
Air wajahnya terlihat mengeras, di atasku, dia mencibir. "Ini yang kau mau, bukan? Jonathan. Aku sudah memberikannya. Kenapa masih komplain?"
"B-bukan ... bukan itu maksud—ARGH!"
Aku kl*i*ma*ks.
V*ib*ra*tor dengan getaran tertinggi, dipadu dengan efek obat per*ang*sang, keduanya menekan-nekan G-spot ku hingga aku org*as*me kelaparan.
Benda transparan itu masih meliuk-liuk di lia*ngku, tapi aku mengejang pasrah. Sengatan or*ga*sm*e begitu kencang sampai tubuhku sulit digerakkan, membusur di ranjang dengan kedua mata terbuka. Samuel, di sampingku, menarik senyum puas dengan mahakaryanya. Dengan kasar, tangannya menarik kabel vi*b*ra*to*r itu. Dan, membuka kedua pa*haku yang sudah basah oleh air ke*nci*ng.
"Damn." Samuel mendengus ejek. Tapi matanya, tak berkedip melihat ce*l*ana da*la*mku. "Jangan bilang ... kau squ*ir*ti*ng? Hanya dengan vi*br*at*or kecil, kau terkencing seperti ini?"
Aku masih mengejang. Air liur bekas de*sa*han kenikmatanku, mengalir ke sudut bibir. Dalam hati aku mencibir, 'Ini salah kau, bodoh.' Tapi aslinya, aku lega juga. Finally, efek obat per*ang*sang ini sedikit mereda.
Kerasukan setan atau apa, Samuel tiba-tiba menyentuh cel*ana dal*amku yang sudah basah. Lalu, menjilat jarinya. Aku tak bisa tak melotot kaget. Samuel menyecap jemari basahnya, seolah sedang merasai air ke*nc*in*gku bagai kehausan.
Alarm tanda bahaya di kepalaku berdering lagi. Aku merangkak kabur, tapi lupa dengan rantai yang masih mengikatku. Samuel terkekeh pada momen aku terpeleset di kasur, gagal melarikan diri.
Bukan berhasil kabur, terpelesetku justru membuat posisi bok*ong*ku terekspos sempurna di hadapan Samuel. Seolah, aku sengaja menung*ging untuk dilihatnya.
Dengan wajah memerah, kutarik rok*ku untuk menutupi bo*ko*ng. Terlambat, Samuel sudah lebih dulu mencengkeram. Memijit bongkahan daging bo*ko*ngku kasar.
Tubuhku dibaliknya bagai guling, oleh tangan kekar itu. Cel*ana dal*am basahku, dirampas kasar. Dilempar asal tanpa bisa kucegah. Gerak tangannya begitu cepat, tidak sabar. Aku berteriak lagi. Kali ini, yang masuk ke lubang sempit ku adalah sesuatu yang panjang dan kekar.
Jemarinya. Samuel memasukkan jari telunjuknya pada lu*ba*ngku yang masih basah.
"Katakan." Tanpa melepaskan pandangannya, Samuel terus menggerak-gerakkan jemarinya. "Katakan, berapa banyak pe*n*i*s yang sudah masuk ke sini? Jonathan, siapa lagi?"
"T-tidak ada, bodoh!" gertakku, marah. Kalau saja gerakkan jarinya hanya terasa sakit, aku masih bisa tahan.
Tapi seolah sangat putus asa mencari G*-sp*ot ku, Samuel terus menumbukkan ujung jemarinya pada titik yang sama. Aku mengejang lagi. Kali ini, bukan kesakitan. Melainkan, aku mulai merasa sensasi ingin pi*pis lagi. Kugigit punggung tanganku, agar tidak men*de*sah keenakan secara memalukan di bawahnya.
"Kenapa diam?" Samuel bertanya sarkas. Lengannya menopang wajahku yang sudah tak keruan. Jemarinya sekarang, mengaduk lub*an*gku bagai cakar kucing ingin mencari sesuatu. Aku bisa merasakan cai*ran cinta-ku mulai tumpah ruah. Sensasinya beda, jauh jelas berbeda dari vi*br*at*or tadi.
Jemari Samuel, sangat lentur dan kekar. Rasanya seperti ada tentakel yang hidup di dalam vaginaku. Bagian yang tak terjangkau vibrator, dengan mudah diraihnya. Perutku mulai terasa penuh lagi.
"S-samuel ... s-stop." Mataku mulai mengerjap-ngerjap. Aku tidak tahan. Kutarik seragam putih Samuel yang basah oleh keringat, kugigit ujungnya demi meredam de*sa*han. Tanpa kusadari, kepalaku bersandar pada pa*hanya. Bisa kurasakan sesuatu yang keras dan te*ga*ng, tersembunyi di balik cela*nanya, menyentuh pipiku.
Samuel ... Dia juga ter*ang*sang.
Namun sebelum aku bisa berpikir, gerakkan tangannya semakin cepat. Lalu sensasi kebelet pi*pis itu meledak. Aku mengejang untuk kesekian kali.
Saat Samuel mencabut jari telunjuknya, cairan bening menyembur kencang dari lubang va*gi*naku. Membasahi seisi kasur. Diiringi oleh teriakkan keni*kma*tan.