Arka memejam, merasakan kemarahan kecil yang makin lama makin membesar seiring perkataan sang papa. Pada akhirnya, ia tak mampu lagi mengontrol emosi. Terlebih saat mendengar tentang rencana sang papa. Menatap Haribawa tak berkedip, Arka berucap lantang. “Apartemen itu milik almarhum mama. Diwariskan langsung ke aku. Langkahi dulu mayatku kalau Papa ingin menjualnya. Karena, apa pun yang terjadi aku tidak akan pernah menjual apartemen itu!” Membalikkan tubuh, Arka membuka pintu dan melangkah keluar. “Hei, anak kurang ajar! Kembali kamu. Aku belum selesai ngomong!” Teriakan Haribawa terdengar samar-samar saat pintu menutup di belakangnya. Ia melangkah gontai ke arah pabrik dengan perasaan terpukul. Sama sekali tidak menduga akan rencana Haribawa. Tadinya, ia tidak terlalu peduli dengan
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


