BAB 20

1208 Words
Kanya dan Raphael terus berbincang di tengah denting sendok yang beradu dengan piring porselen, namun suasana di antara mereka terasa jauh lebih berat dari biasanya. Meskipun ada gurat kekecewaan yang sangat nyata di wajah Raphael setelah penolakan halus yang diterimanya, pengacara itu memiliki ketahanan mental yang luar biasa untuk menyembunyikannya di balik senyum tipis yang dipaksakan. Kanya, yang duduk tepat di hadapannya, bisa merasakan ketegangan yang merambat di udara. Rasa bersalah mulai menggerogoti dadanya, membuat kerongkongannya terasa sempit hingga ia tidak mampu lagi menelan sisa makanan di piringnya. Selera makannya mendadak hilang sepenuhnya, tersapu oleh rasa tidak enak hati karena telah mematahkan harapan laki-laki yang selama ini selalu ada untuknya. Beberapa saat kemudian, mereka melangkah kembali menuju kantor dalam keheningan yang terasa canggung. Meski sepanjang jalan mereka masih berusaha bersikap ramah dan menjaga keakraban lewat obrolan-obrolan ringan yang tidak berarti, Kanya menyadari satu hal pahit dalam hatinya. Hubungan mereka tidak akan pernah sama lagi. Ada garis pembatas yang kini telah ditarik dengan tegas, dan kenyataan bahwa Raphael memiliki perasaan lebih darinya telah mengubah dinamika persahabatan mereka selamanya. Kehangatan yang dulu terasa tanpa beban kini berganti dengan kewaspadaan yang menyesakkan. Enggan membiarkan dirinya terus tenggelam dalam perasaan bersalah karena telah bersikap "jahat" pada Raphael, Kanya memilih untuk menenggelamkan seluruh fokusnya ke dalam tumpukan pekerjaan. Ia segera menyalakan laptop, menyibukkan diri dengan melakukan pembukuan yang mendetail dan melakukan riset pasar yang intens melalui internet. Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard saat mengecek akun media sosial produk kecantikannya, memantau setiap komentar dan interaksi pelanggan dengan teliti. Di tengah kesibukan yang ia ciptakan sebagai pelarian, muncul secercah optimisme yang kuat. Ia yakin bahwa dalam beberapa bulan ke depan, perusahaan kecilnya akan mampu meraup tambahan keuntungan minimal 10% dibandingkan pencapaian bulan lalu. Strateginya sudah bulat, ia akan menggenjot pemasaran secara habis-habisan dan memastikan setiap produk barunya mendapat perhatian maksimal di pasar digital. Bagi Kanya, bekerja adalah satu-satunya cara untuk membungkam kebisingan emosi yang sedang berkecamuk di dalam kepalanya. Pukul tujuh malam, ia sudah tiba di mall. Langsung menuju lobi bioskop dan mendapati Arka sudah di sana menunggunya. “Sudah beli tiket yang jam berapa?” tanyanya saat mereka mengantri di depan konter minuman. “Jam 7.30, beberapa menit lagi mulai.” Kanya membeli lemon tea untuknya dan minuman bersoda untuk Arka. Ditambah seporsi kentang goreng dan popcorn ukuran besar untuk mereka berdua. “Nggak terlalu rame hari ini,” ucap Kanya, mengedarkan pandangan ke sekeliling bioskop. “Mungkin karena bukan weekend.” “Bisa jadi.” “Enak malah, jadi bioskop serasa milik kita berdua.” Arka mendekatkan mulut ke telinga Kanya dan berbisik sambil mengigit mesra. “Iiih, geli tahu.” Satu per satu penonton berdatangan. Lampu diredupkan dan iklan mulai tayang di layar. Tak lama film aksi mulai diputar. Sepanjang pemutaran film, Arka tidak melepaskan pelukannya dari Kanya. Sesekali ia mencondongkan tubuh untuk mengecup pipi atau bibir wanita itu. Tanpa terasa, hampir dua berlalu dan tayangan berakhir dengan mereka bermesraan sepanjang film diputar. “Mau makan atau langsung pulang?” tanya Kanya. “Kamu maunya apa?” Arka menggenggam tangan Kanya, beriringan di tangga jalan. “Gimana kalau kita makan di luar, karena ini udah malam pasti banyak restoran yang udah tutup. Kamu anterin aku beli celana dalam sama bra gimana?” Menimbang sejenak, Arka mengangguk tanpa kata. Keduanya melangkah bergandengan di sepanjang lobi mall dan masuk ke sebuah toko yang khusus menyediakan pakaian dalam wanita. “Eh, aku nunggu di luar aja, ya?” ucap Arka dengan mata berkeliling. Ia merasa aneh berada di ruangan yang penuh dengan pakaian dalam berwarna lembut. Ada banyak renda di sana sini. “Ngapain, nanti yang ngasih tahu cocok atau nggak siapa?” tanya Kanya. “Kamu pasti bisa sendiri itu. Oke, Sayang. Aku tunggu di luar.” Tidak dapat dicegah, Arka melesat keluar dan meninggalkan Kanya dalam keheranan. Mengedikkan bahu, Kanya berbalik ke salah seorang pegawai wanita dan mulai bertanya-tanya tentang yang ia butuhkan. Dengan tubuh bersandar pada pagar pembatas, Arka menatap orang yang berlalu-lalang di depannya. Ia melihat, Kanya mengambil beberapa pasang pakaian dalam dan menghilang ke dalam kamar mandi. Ia tidak tahu, jenis pakaian dalam seperti apa yang akan dibeli oleh wanita itu. Apa pun itu, pasti menambah keseksiannya. “Lain kali aku mau beli lingerie yang sexy dan bikin kamu maki tergoda.” Suatu malam, saat mereka selesai bercinta Kanya mengungkapkan keinginannya. “Kamu mau pakai kaos atau lingerie, buatku nggak masalah. Ujung-ujungnya juga aku lepas.” “Hei, pakai lingerie sexy tahu!” “Kamu lebih sexy nggak pakai apa pun.” Perdebatan mereka berakhir dengan Kanya akhirnya mengalah. Wanita itu menggodanya tidak akan membeli lingerie sexy karena ia menyukai apa adanya. Bagi Arka, adanya pakaian sexy atau tidak, nggak ada bedanya. Karena, ia lebih menyukai Kanya yang apa adanya. Memikirkan tentang Kanya dan tubuh bugilnya yang sexy, membuat darah Arka berdesir. Ia meneguk ludah, berusaha menahan hasrat yang tiba-tiba naik. Bisa ia rasakan, alat kelaminnya pun menegang. Ia berusaha menenangkan diri dengan menarik napas panjang berkali-kali untuk meredakan gairahnya. Pikirannya teralihkan saat seorang laki-laki tinggi dan tampan masuk menggandeng seorang wanita muda. Laki-laki itu berpenampilan mencolok dengan jas hitam dan kacam mata berwarna senada. Yang membuatnya berbeda adalah wanita muda di sampingnya berpakaian amat mini dengan bagian d**a terbuka. Sepertinya, mereka sepasang kekasih jika melihat bagaimana mesranya laki-laki itu merangkul pundak sang wanita muda. Arka tidak tahu, kenapa ia begitu tertarik pada pasangan itu. Ada sesuatu dari dalam diri laki-laki itu yang tidak ia suka. Bisa jadi bagaimana aroganya laki-laki itu saat menunjuk dan memberi perintah pada pegawai atau juga sikapnya yang genit. Tidak peduli jika mereka berada di tempat umum, laki-laki itu menciumi sang wanita muda dengan penuh nafsu. Arka menegakkan tubuh saat melihat Kanya keluar dari ruang ganti. Ia tahu ada yang salah saat melihat kekasihnya mematung di depan pasangan yang baru saja masuk. “Dodi?” Kanya terkesiap kaget. “Kanya? Wah, ternyata masih hidup kamu,” ucap Dodi tanpa sopan santun. Laki-laki itu mencopot kacamata hitamnya dan menatap Kanya yang berdiri di depannya. “Hampir sepuluh tahun berlalu, dan kamu makin cantik dari terakhir kali aku mengingatmu. Well-well, sebuah kejutan kita berjumpa lagi, Kanya.” Arka yang bergerak masuk, berusaha menggapai tempat Kanya berdiri. Ia melangkah memutar hingga berada di belakang wanita itu. “Siapa dia, Sayang?” Sang wanita muda berbaju mini bertanya pada kekasihnya dengan suara manja yang dibuat-buat. “Dia? Mantan kekasihku,” ucap Dodi sambil meringis. “Yang tidak rela aku putuskan dan bisa jadi belum move on sampai sekarang. Karena aku dengar dia belum menikah. Benar Kanya?” Dodi tertawa keras, sedangkan wanita muda di sampingnya terkikik menjengkelkan. Kanya menatap bergantian pada dua orang di hadapannya. Perasaannya campur aduk, antara jengkel dan tidak percaya. Jakarta begitu luas, kenapa pada akhirnya ia harus bertemu laki-laki b******k yang pernah menghancurkan hidupnya. Saat ia berdiri gamang, dengan sepasang manusia laknat yang masih tertawa tidak jelas, terasa ada yang menyentuh lembut bahunya. “Sayang, kamu baik-baik saja?” Kanya mengangguk. Menggenggam tangan Arka. Dengan pemuda itu di sampingnya, ia akan sanggup menghadapi apa pun, termasuk laki-laki sialan yang pernah menjadi kekasihnya. “Apa kabar, Dodi?” Dengan mulut mengulum senyum ia bertanya lembut. Bisa dilihat jika Dodi kaget mendengar sapaannya. Laki-laki itu menegakkan tubuh dan mereka bertatapan dalam diam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD