BAB 19

1259 Words
Arka benar-benar buta mengenai rencana apa yang sedang disusun di balik kepala papanya, terutama perihal hubungan asmaranya dengan Kanya yang kian intim. Dalam diamnya, Arka hanya berharap agar Haribawa tidak pernah berani mengusik ketenangan kekasihnya. Jika selama bertahun-tahun ia memilih bungkam saat papanya tidak mengindahkannya, bahkan tega membuangnya untuk diasuh oleh sang nenek, itu semua karena ia harus menjaga perasaan mamanya yang butuh perhatian penuh. Ia menelan semua pengabaian itu mentah-mentah demi keutuhan mental wanita yang melahirkannya. Namun, keadaan sekarang telah berubah total. Arka bukan lagi anak laki-laki kecil yang malang, yang setiap hari mematung di depan pintu dengan mata sembap hanya karena mengharapkan kedatangan sang papa. Ia telah tumbuh menjadi pria dewasa dengan tubuh yang kuat dan pikiran yang mandiri. Ia kini mampu menentukan arah masa depannya sendiri tanpa perlu meminta izin pada siapa pun. Karena dulu Haribawa memilih untuk tidak peduli dan lepas tangan dalam mengurusnya, maka sekarang laki-laki itu tidak memiliki hak sedikit pun untuk mencampuri urusan hidupnya. Arka telah membangun benteng pertahanannya sendiri, dan ia tidak akan membiarkan Haribawa meruntuhkan kebahagiaan yang baru saja ia temukan bersama Kanya. “Apa yang dikatakan papamu soal aku?” tanya Kanya pagi itu, saat mereka berangkat bersama. Kanya ingin ke kantor sedangkan Arka ke kampus. “Nggak ngomong apa-apa,” jawab Arka. “Malam ini kita nonton mau?” Ia berusaha mengalihkan pembicaraan. Kanya tidak langsung mengiyakan ajakan Arka. Ia tahu, ada yang disembunyikan pemuda itu darinya. Terutama perihal Haribawa. Dalam pikirannya, tidak mungkin Haribawa tidak mengatakan sesuatu tentang dirinya, karena tadi malam saat Arka naik, wajah pemuda itu muram. “Baiklah, kita nonton malam ini. Ketemu langsung di bioskop, ya. Aku bawa mobil soalnya.” Arka melingkarkan lengannya dengan erat, merangkul pundak Kanya yang terasa begitu pas dalam dekapannya. Sambil menarik napas dalam, ia mengecup puncak kepala wanita itu, menghirup aroma sampo yang bercampur dengan kehangatan kulit Kanya. Perasaan cintanya benar-benar sedang meluap-luap, menciptakan debaran yang terasa nyata di rongga dadanya setiap kali mereka bersentuhan. Jika ada yang bertanya mengapa ia bisa jatuh cinta begitu dalam pada wanita yang usianya jauh di atasnya, Arka tidak akan pernah bisa memberikan jawaban yang logis. Baginya, logika tidak lagi relevan ketika setiap inci kehadiran Kanya mampu memberikan kebahagiaan yang begitu utuh. Ia sudah memantapkan hati bahwa wanita di sampingnya ini adalah milik yang tidak akan pernah ia lepaskan, apa pun rintangannya. Momen intim itu harus terjeda saat mobil yang mereka tumpangi menepi di dekat halte busway. Karena hari ini Arka sengaja tidak membawa motor, ia meminta diturunkan di sana agar Kanya bisa langsung melanjutkan perjalanan ke kantor. Setelah sebuah kecupan perpisahan yang terasa hangat, Kanya mengambil alih kemudi, memacu kendaraannya membelah kemacetan jalanan. Fokus Kanya perlahan beralih pada tumpukan tanggung jawab yang sudah menanti di meja kerjanya. Hari ini jadwalnya sangat padat; ia harus berkoordinasi dengan pihak distributor untuk memastikan pengambilan barang berjalan lancar. Selain itu, ada beberapa sampel produk baru yang baru saja lolos pengujian laboratorium dan siap untuk diluncurkan ke pasar. Di dalam kepalanya, Kanya sibuk memilah dan memilih strategi pemasaran yang paling efektif. Ia menimbang-nimbang produk mana yang paling pas untuk dipromosikan melalui jasa endorsement Rachelia agar mendapatkan perhatian maksimal. Setelah berpikir cukup lama, pilihannya jatuh pada varian parfum dengan aroma terbaru yang terasa sangat mewah dan menggoda, sebuah pilihan yang ia yakini akan meledak di pasaran. Menjelang makan siang, ia menerima pesan dari Raphael. Laki-laki itu ingin mengajaknya makan di luar. Berniat untuk menyampaikan ucapan terima kasih, tanpa ragu ia setuju. Demi menghindari keramaian makan siang, mereka sengaja mencari restoran yang berada di dalam mall dan agak jauh dari lokasi kerja. Sebuah tempat yang menyediakan makanan khas sunda dengan design minimalis menjadi pilihan. Mereka memesan nasi liwet, pepes ikan, dan beberapa macam sayuran. Kanya menyantap makanannya dengan gembira. “Kanya, aku sebenarnya kepo,” tutur Raphael membuka percakapan. “Apa yang kamu bicarakan sama Sasha, sampai akhirnya dia mau menarik tuntutan?” Kanya mendongak dari atas piringnya. “Oh, bicara masa lalu. Bagaimana pun kami berteman dulu.” “Hanya itu?” “Iya, hanya itu. Terus dicapai kesepakatan bersama mengingat hubungan baik kami dulunya.” “Ckckck kalau begitu kenapa kalian bersiteru di pengadilan sebelumnya?” Senyum keluar dari mulut Kanya. Ia menatap laki-laki tampan yang memandangnya dengan tatapan tidak puas. “Namanya juga wanita labil, begitulah Sasha.” Raphael mengambil sepotong tempe dan mencocolnya dalam sambel. Ia menggigit perlahan dan mengunyah penuh kenikmatan. “Bagaimana dengan selebgram yang kamu bilang nyindir di medsosnya?” “Itu juga sudah beres. Besok dia mulai memposting barang-barangku di akunnya.” “Gara-gara Sasha?” Kanya mengangguk. “Yes, gara-gara dia.” Tidak mampu menahan keheranan, Raphael berdecak tak percaya. Ia memandang Kanya yang terlihat asyik menikmati makanannya. “Wanita memang aneh,” gumamnya sesaat kemudian. “Kenapa?” “Nggak ada yang bisa menebak jalan pikiran kalian. Saat berantem, kalian bisa saling memaki hingga nyaris membunuh. Tapi, saat emosi mereda dan kembali baikan, hal-hal yang tidak terduga pun kalian lakukan.” Terkikik geli, Kanya mengangkat bahu. “Begitulah kami. Sebagai wanita memang agak repot.” “Bukan agak tapi sangat.” “Terima kasih, aku anggap pujian.” Raphael meraih gelas berisi teh manis dan meneguknya. Tenggorokan yang panas karena rasa pedas mulai mereda. Ia berdehem untuk meredakan kegugupan. Memandang Kanya yang sedang makan dengan serius. Ia ingin berucap dengan tenang dan gamblang. Layaknya seorang pengacara professional sedang mengahadapi klien atau lawan di pengadilan. Namun, ia merasa mati kutu saat berhadapan dengan Kanya. Menarik napas panjang, ia memulai percakapan. “Kamu sudah pikirkan perkataanku?” Kanya mengernyit. “Yang mana?” “Soal itu ... tawaranku.” Menelengkan kepala dengan bingung, Kanya mengulang pertanyaan. “Yang mana Pak Pengacara?” “Ehm ... soal perasaanku. Tentang hubungan kita.” Kali ini giliran Kanya yang merasakan sekujur tubuhnya menegang hebat. Ia sudah lama menduga bahwa cepat atau lambat, Raphael akan memaksanya untuk membicarakan topik sensitif ini. Di balik raut wajahnya yang berusaha tetap tenang, hatinya diliputi rasa khawatir yang sangat nyata. Selama hampir dua tahun terakhir, laki-laki itu telah menjadi sandaran utamanya sebagai pengacara, memberikan bantuan hukum tanpa lelah, termasuk saat ia harus menghadapi tuntutan pelik dari Sasha. Jauh di dalam lubuk hatinya, Kanya mengakui bahwa ia sangat menyukai dan menaruh hormat yang besar kepada Raphael. Tetapi, perasaan itu murni karena persahabatan, sebuah ikatan yang tulus tanpa sedikit pun gairah asmara. Sebenarnya, Raphael sudah berulang kali memberikan kode-kode yang sangat jelas mengenai ketertarikannya. Ada tatapan yang bertahan terlalu lama di matanya, atau sentuhan ringan di pundaknya yang terasa lebih dari sekadar dukungan profesional. Selama ini, Kanya memilih untuk berpura-pura tidak tahu dan bersikap tidak peka, karena ia sangat takut jika kejujurannya akan menghancurkan hati laki-laki yang begitu baik itu. Namun sekarang, saat suasana menjadi begitu intens dan Raphael menuntut kejelasan secara langsung, ia tidak lagi memiliki tempat untuk bersembunyi. Mau tidak mau, ia harus berterus terang tentang batas-batas perasaan yang ia miliki. “Pak Pengacara ... itu.” Kanya meneguk ludah. “Sebenarnya, aku—” “Tunggu!” Raphael mengangkat tangan, menghentikan ucapan Kanya. “Aku ingin tanya terus terang. Apa aku ditolak?” Mengulum senyum, Kanya menggeleng. Ia merasa salut dengan keterusterangan laki-laki itu. “Bukan ditolak hanya saja, aku sudah ada orang lain.” “Benarkah?” Kali ini Raphael yang kaget. “Kamu sudah punya kekasih?” “Iya, itulah yang membuatku nggak bisa menerima perasaan kamu.” “Hubungan kalian sudah lama?” Tidak ingin berbohong, kali ini Kanya juga menggeleng. “Nggak, baru beberapa bulan.” “Aku telat ternyata. Seandainya dari awal aku mengatakan perasaanku, bisa jadi kamu akan menerimaku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD