BAB 18

1399 Words
Setelah insiden di pesta yang berakhir dengan Kanya meninggalkan Bobby Monti, Sasha memenuhi janjinya. Wanita itu menarik tuntutannya dan menyatakan jika permasalah antara dirinya dan Kanya telah diselesaikan dengan baik. Apa yang dilakukan wanita itu membuat Kanya bisa bernapas lega. “Rupanya, aku hanya perlu menjual tubuhku di lantai dansa untuk terbebas dari masalah hukum,” desah Kanya suatu malam. Arka yang mendengar gumamannya, mengernyit tidak suka. “Jangan ngomong sembarangan! Siapa yang bilang kamu harus jual tubuh?” Perkataan yang keras dari kekasihnya membuat Kanya terkikik. Ia menghampiri pemuda itu dan duduk di pangkuannya. “Aku sudah pernah bilang belum? Kalau tujuanku menggoda Bobby Monti demi menghindari tuntutan Sasha?” “Sepertinya sudah,” jawab Arka samar-samar. “Bukannya kalian menang seandainya Sasha naik banding?” Mengalungkan tangan ke leher Arka, Kanya tersenyum. “Memang, Raphael pun bilang gitu. Tapi, tetap saja harus keluar uang, Sayang. Biar pun Raphael mengatakan akan memberiku bantuan cuma-cuma alias gratis.” “Baik sekali dia? Yakin nggak ada niat tersembunyi?” Untuk sesaat Kanya terdiam, teringat dengan pernyataan cinta dari Raphael untuknya. Ia sengaja tidak ingin bercerita pada Arka, karena tidak mau dianggap membanding-bandingkan. Cukup hanya dia sendiri yang tahu masalahnya. Bagaimana pun Arka masih terlalu muda dan keadaan emosinya tidak cukup stabil. “Kok diam?” Kanya tersenyum simpul. “Nggak ada apa-apa, karena Raphael tahu keadaan keuanganku tidak cukup baik. Terutama dengan adanya statemen Rachelia, sedikit banyak berpengaruh.” “Lalu, apa kamu sudah menemukan jalan keluar?” “Iya, Rachelia meminta maaf dan bersedia menerima endors. Tentu saja berkat campur tangan Sasha.” Arka terdiam, mengelus punggung Kanya dan mengecup pipi wanita itu. “Kenapa Rachelia begitu menuruti ucapan Sasha?” “Ehm, uang dan koneksi. Suami Sasha orang kaya berpengaruh.” “Lalu, kenapa Sasha masih memintamu menjauhi Bobby Monti? Bukankah dia sudah bersuami. Jalan pikirannya sungguh nggak mudah dipahami.” Meleparkan tawa kecil disertai decakan, Kanya mencolek dagu kekasihnya. “Sebenarnya, urusan mereka itu sangat rumit. Sasha naksir Bobby Monti dan dia mengira laki-laki itu naksir aku. Memang awalnya, aku tolak. Sasha nggak terima lalu merencanakan balas dendam karena mengira, akulah penyebab Bobby Monti tidak menyukainya.” “Lalu, suaminya?” “Sekadar status.” “Ooh, aneh duniaaa. Benar-benar aneh. Apa yang dicari sebenarnya?” “Entahlah” Mencari posisi yang nyaman, Kanya kali ini benar-benar merebahkan tubuhnya ke atas Arka. Mereka berbagi kehangatan dalam dekapan. “Besok kamu ada sidang skripsi lagi?” “Ditunda Minggu depan.” “Oh, jam berapa sekarang?” Arka meraih ponsel dan melihat jam di layar. “Udah jam 6.30.” “Ah, masih sore. Ayo, bangun! Kita ke supermarket buat belanja.” “Masih mau peluk kamu.” Arka mendekap Kanya yang berusaha melepaskan diri. “Jangan gitu, kulkas kosong. Buruan!” Meski berat hati, pada akhirnya Arka memilih untuk mengalah. Ia perlahan merenggangkan pelukannya, memberikan ruang bagi Kanya untuk melepaskan diri dari keintiman sejenak dan melesat masuk ke dalam kamar demi mengganti pakaian. Setelah pintu tertutup, Arka menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa, membiarkan punggungnya bersentuhan dengan kain yang dingin sementara pikirannya mulai melayang jauh. Ia terdiam cukup lama, mencoba menghitung secara detail berapa banyak saldo yang tersisa di dalam tabungannya. Selama mereka menghabiskan waktu dan tinggal bersama di unit ini, Kanya memang selalu menjadi sosok yang memenuhi segala kebutuhan hidupnya tanpa banyak bicara. Kali ini, ego dan harga diri Arka sebagai laki-laki mulai terusik; ia benar-benar berniat untuk mengganti setiap rupiah yang telah dikeluarkan wanita itu. Meski statusnya masih sebagai mahasiswa tingkat akhir, Arka tidak sepenuhnya berpangku tangan atau menganggur. Setiap hari, ia menghabiskan waktu di sebuah pabrik kaca, bekerja keras sebagai tenaga magang yang terjun langsung ke lapangan. Gajinya memang belum bisa dikatakan besar, bahkan mungkin terasa kecil jika dibandingkan dengan gaya hidup Kanya, namun Arka menyerap banyak hal di sana. Ia mempelajari setiap detail proses produksi, mencoba memahami karakter material kaca, hingga merancang inovasi kecil pada produk-produk baru. Arka memiliki rencana besar, ia akan mengambil posisi di balik meja kantor jika ia sudah benar-benar menguasai seluk-beluk produksi dari akarnya. Sepuluh menit berlalu, pintu kamar terbuka dan Kanya melangkah keluar. Kali ini ia hanya mengenakan celana pendek yang sangat ketat dan kaus putih tipis yang melekat sempurna pada kulitnya. Pilihan pakaian yang sangat kasual itu justru secara tidak sengaja semakin mempertegas lekuk pinggangnya yang kecil serta busur pinggulnya yang padat. Kaus tipis itu bahkan samar-samar menonjolkan siluet dadanya yang berisi, membuat gairah Arka kembali terusik. Arka sempat berdecak tidak suka, merasa posesif karena keindahan itu terlalu nyata untuk diabaikan, namun Kanya hanya membalasnya dengan tawa lirih yang terdengar sangat menggoda di telinga Arka. “Ini masih sopan, santai aja kamu.” “Memang sopan tapi mata laki-laki lain?” “Hadeuh, cemburuan deh kamu.” Kanya dan Arka melangkah beriringan memasuki supermarket, menciptakan pemandangan yang kontras di antara rak-rak barang. Sepanjang menyusuri lorong, Arka harus berulang kali mengeraskan rahang, menahan dorongan untuk memukul setiap laki-laki yang terang-terangan menatap lapar ke arah Kanya. Gaun merah yang membungkus ketat lekuk tubuh wanita itu memang memancing perhatian, membuat para pria di sana nyaris tak berkedip melihat kemolekan yang terekspos. Namun, Arka mencoba meredam amarahnya, ia justru membusungkan d**a, membiarkan harga dirinya melambung karena memiliki sosok kekasih sesempurna Kanya di sisinya. Ketegangan muncul saat mereka tiba di depan kasir. Kanya dengan santai meminta sebungkus rokok kepada petugas, namun Arka langsung mencegatnya dengan tatapan tajam. Perdebatan kecil terjadi di tengah antrean yang padat. Arka bersikeras melarang, suaranya rendah namun penuh penekanan yang tidak bisa dibantah. Kanya sempat mencoba melawan, namun ketegasan Arka akhirnya meruntuhkan pertahanannya. Dengan desahan pasrah, Kanya mengalah dan mengembalikan bungkusan itu, membiarkan Arka memenangkan ego kecil mereka sore itu. “Kenapa melarangku membeli rokok. Sudah lama aku nggak menikmati asapnya,” protes Kanya saat mereka keluar dari area supermarket. “Sudah bagus mau berhenti, kenapa malah pingin ngrokok lagi?” “Hei, baru niat.” “Bagus, ditekuni.” Kanya melirik gemas pada kekasihnya. “Baru pacar, belum juga suami sudah nglarang-nglarang.” Arka mengangkat sebelah alis, meletakkan kantong belanjaan di tangan kiri lalu merangkul pundak Kanya dengan tangan kanan. “Oh, jadi kamu mau kita jadi suami istri?” “Dih, jangan GR kamu.” “Tadi, ngasih kode-kode gitu.” “Siapa?” Sambil berbisik manja, keduanya berangkulan menyeberangi lobi menuju lift. Sebuah teguran yang tidak diduga menghentikan langkah mereka. “Arka !” Secara bersamaan keduanya menoleh bersamaan ke arah belakang dan melihat Heribawa menatap tajam dengan wajah memerah. Laki-laki setengah baya itu mendekat lalu mendesis sambil berkacak pinggang. “Siapa dia? Dari mana saja kamu? Papa telepon nggak diangkat. Kamu tahu, sudah sejam aku tunggu di sini!” Arka melepaskan pelukannya, menatap sang papa dengan enggan. “Ada apa, Pa. Ponsel Arka ada di atas. Lupa bawa.” “Lalu, siapa wanita ini?” tunjuk Haribawa pada Kanya. “Dia adalah keka—,” “Saya tetangganya!” sela Kanya, memotong perkataan Arka. “Tetangga?” tanya Heribawa. Kanya tersenyum. “Iya, tetangga sebelah unit.” “Oh, mana ada tetangga peluk-pelukan kalau bukan karena ada hubungan. Jangan-jangan, kamu pacar gelap anakku.” “Papa!” teriak Arka cukup keras. Ia menoleh ke arah Kanya dan berucapa pelan.” Kamu naik dulu, nanti kususul.” Tanpa membantah, Kanya mengangguk. “Baiklah.” Ia mengangguk sopan ke arah Haribawa dan meninggalkan bapak anak itu berdua. Sepeninggal Kanya, Arka mengalihkan pandangan pada sang papa. “Ada apa, Pa? Tumben sekali akhir-akhir ini sering datang kemari?” “Apa itu p*****r yang kamu sewa untuk memuaskan hasratmu?” Perkataan sang papa membuat menahan geram. “Dia kekasihku, bukan pelacur.” “Setahuku hanya p*****r yang berpenampilan seperti itu.” Menarik napas panjang untuk meredakan amarah, Arka menatap papanya tajam. “Mau Papa apa datang kemari?” Haribawa menyunggingkan senyum kecil, menatap anaknya dari atas ke bawah. “Aku pikir, kamu pemuda yang kalem Arka. Ternyata, doyan wanita juga. Tapi, itu manusiawi. Lebih baik dijaga, jangan sampai aku punya menantu wanita seperti itu!” “Papa nggak ada hak melarangku!” “Selama ada darahku mengalir dalam darahmu, aku ada hak itu!” desis Haribawa. “Hakmu hilang, saat kamu melemparku dalam asuhan Nenek dan kamu asyik dengan istri keduamu.” “Ckckck, demi wanita seperti itu kamu menentangku. Kita lihat, mana yang lebih kamu pilih, posisimu di kantor atau p*****r itu!” Selesai berucap, Heribawa membalikkan tubuh dan meninggalkan Arka yang mematung dengan wajah memucat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD