BAB 17

1280 Words
“Arka, akuu—,” Kanya menggeliat, berusaha melepaskan diri tapi Arka memeluk kuat. Tangan pemuda itu dari d**a kini turun ke paha dan menyelinap masuk melalui rok-nya yang pendek. “Kamu tahu, Kanya? Kamu bikin aku marah,” bisik Arka di telinganya. “Apa? Ke—kenapa?” rintih Kanya shock. Ia merasa ketakutan dengan ucapan Arka. “Marah, karena aku merasa tak berdaya saat melihatmu menari bersama laki-laki lain. Aku marah, aku cemburu, dan jika tidak ingat tempat, ingin rasanya membunuh laki-laki itu. Tapi, aku sadar kalau aku nggak ada hak untuk cemburu.” Lidah dan mulut Arka kini bergerak liar menjelajahi leher, cuping telinga, hingga bahu Kanya yang polos. Di saat yang sama, jemarinya menyelinap masuk lebih dalam, membelai intens hingga menyentuh area paling intim. Kanya mengerang saat Arka mulai melakukan gerakan keluar masuk yang menuntut dan begitu nyata di sana. “Aku ingin berteriak pada orang-orang itu, kalau kamu milikku. Tapi, aku takut. Bagaimana jika kamu tidak menerimaku, bagaimana kalau kamu hanya menganggapku sampingan. Bukan sesuatu yang harus kamu pikirkan. Aku takut,” bisik Arka dengan suara bergetar. Bisa jadi karena pengaruh minuman beralkohol atau karena bisikan Arka di telingannya, Kanya merasa tubuhnya kini melayang. Gelenyar gairah ia rasakan naik perlahan dari jemari kaki dan berpusat di area intimnya yang dijamah mesra oleh Arka. Tanpa sadar, ia mengerang nikmat. “Kamu basah sekali,” bisik Arka dengan bibir menggigit telinganya. “Ini di tempat umum,” rintih Kanya. “Nggak ada yang lihat. Sepi.” Dengan menggigit bibir bawah, Kanya menoleh. Menatap wajah Arka yang terlihat murung dalam keremangan malam. Entah kenapa hatinya terasa pilu. Selama beberapa minggu, ia berusaha mengingkari perasaannya pada Arka. Selalu menganggap dirinya tidak cukup pantas untuk bersanding dengan laki-laki muda itu. Di lain pihak, ia masih takut menaruh harapan pada laki-laki. Peristiwa masa lalu masih menghantui. Namun, saat melihat Arka yang tertekan seperti sekarang, perasaannya tersentuh. “Arka ...” Ia meraih kepala Arka dan memiringkan kepala untuk mengecup bibir pemuda itu. “Aku mencintaimu.” Dalam kegelapan, Arka terlihat kaget. “Apa? Kamu bilang apa?” “Aku mencintaimu.” Kanya mengulang pernyataan cintanya. Tubuh Arka seketika menegang hebat. Jemarinya yang semula bergerak intens di area intim Kanya sempat terhenti sejenak sebelum ia menarik paksa celana wanita itu hingga sebatas lutut. Tanpa membuang waktu, Arka mencengkeram pinggang Kanya, memaksanya membungkuk dalam posisi yang sangat provokatif. Suara ritsleting yang terbuka memecah keheningan saat ia mengeluarkan kejantanannya yang sudah mengeras sempurna, siap untuk menembus pertahanan Kanya yang kini sudah basah dan sangat menginginkannya. “Arka, kamu mau apa?” desah Kanya saat merasakan kejantanan Arka di pinggulnya. “Merasakanmu,” bisik Arka. Dengan tenang, Ia menyatukan tubuhnya dengan Kanya dan mulai bergerak untuk menebarkan gairah. “Untuk memberimu cinta. Kanya, aku mencintaimu.” Kanya benar-benar kehilangan kemampuan untuk bersuara. Ia hanya mampu melenguh tertahan, membiarkan suaranya tenggelam dalam keheningan yang mencekam saat tubuh Arka mulai bergerak keluar masuk menembus pertahanannya dari arah belakang. Sensasi yang menjalar di sekujur sarafnya terasa begitu mengejutkan dan liar, terutama dengan kesadaran penuh bahwa mereka sedang melakukan ini di tempat umum. Ketakutan akan kemungkinan seseorang memergoki mereka justru memacu adrenalinnya hingga ke titik tertinggi. Namun, bukan hanya risiko itu yang membuatnya terus mengerang rendah. Gerakan Arka yang semakin cepat dan bertenaga seolah sedang menguras seluruh hasrat yang tersimpan di dalam dirinya. Setiap hentakan terasa begitu nyata dan dalam, membuat lutut Kanya bergetar hebat hingga nyaris lemas. Namun, setiap kali ia hampir terjatuh, tangan Arka yang kuat segera mencengkeram bahu dan pinggulnya, menarik tubuhnya kembali untuk menyambut penyatuan yang lebih intim. Keduanya benar-benar larut dalam gairah yang tidak tertahankan. Rambut Kanya yang panjang terburai berantakan seperti tirai yang menutupi wajahnya yang memerah, sementara gaun merahnya sudah tersingkap tinggi hingga ke d**a, mengekspos kulitnya yang panas. Suara napas yang menderu berat berpadu dengan bunyi gesekan kulit yang bertemu secara intens di tengah udara yang terasa semakin sesak. Dalam beberapa hentakan terakhir yang sangat dalam dan presisi, keduanya mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan. Tubuh mereka menegang, saling memeluk erat di sela bulir-bulir keringat yang membasahi kulit. Saat sisa-sisa gairah masih menggantung di udara, Arka merapatkan tubuhnya, lalu berbisik mesra tepat di telinga Kanya yang masih berusaha mengatur napasnya. “I love you so much.” Setelah pengungkapan perasaan malam itu, hubungan keduanya makin intens. Kini, Kanya tidak lagi malu-malu memamerkan kemesraan mereka. Bisa dibilang Arka kini bahkan pindah ke unitnya, karena hampir tiap malam pemuda itu tidur bersamanya. Saat ia bahagia, Kanya juga ingin sahabatnya merasakan hal yang sama. Dengan senang hati, ia mengundang Angela datang ke rumah untuk makan malam, sekaligus memperkenalkan kekasihnya dengan sang sahabat. Kaget, terpana, dan shock karena tidak percaya, Angela hanya bisa mematung saat Kanya memeluk Arka dan mengatakan kalau pemuda itu adalah kekasihnya. Sedangkan selama ini yang dia tahu, Kanya sedang tidak dekat dengan siapa pun. Lalu, mendadak Arka datang dan mereka tinggal bersama. Angela kagum dirinya tidak terkena serangan jantung karena kaget. “Kalian kenal di mana?” tanya Angela saat dia sudah bisa menguasai diri. Kanya tersenyum. “Dia, brondong kamar sebelah.” Dengan dagu ia menunjuk ke arah Arka yang sedang menyiapkan peralatan makan. “Wow, berapa lama kalian bersama?” “Bisa dibilang belum lama. Kami bergerak cepat dari ciuman, ke tidur bersama lalu kini tinggal bersama.” Menggeleng tak percaya, Angela menatap bergantian ke arah Arka yang menunduk di atas meja makan lalu berganti pada Kanya yang sedang mengolah sesuatu di atas kompor. “Selain aku, apa ada yang tahu hubungan kalian?” “Nggak ada!” Kali ini Arka yang menjawab. “Kakak adalah orang pertama yang tahu.” Angela meraba d**a sambil memutar bola mata. Ia merasa senang tapi sekaligus sebal karena baru tahu jika sahabatnya jatuh cinta. “Wow, aku tersanjung.” “Jangan ngambek,” ucap Kanya sambil mencolek dagunya. “Hubungan kami berjalan terlalu cepat, bagaikan petir yang menyambar. Pyaaar! Lalu, kami lupa diri.” “Iyaa, iyaa, terserah katamu saja.” “Nah gitu, dong. Ayo duduk, udah selesai nih.” Mereka bertiga duduk di meja makan yang kecil tapi penuh berisi makanan. Untuk malam ini, Kanya membuat ayam panggang kesukaan Angela, dengan kangkung dan juga omelet. Mereka makan sambil mengobrol dan bersenda gurau. Diam-diam Angela mengamati sikap Arka. Pemuda itu bersikap amat sopan dan terlihat sangat menyayangi Kanya. Bagaimana mereka tidak berhenti untuk saling menyentuh satu sama lain, adalah bukti yang tidak terbantahkan. “Aku dengar Sasha mencabut bandingnya,” ucap Angela dengan mulut sibuk mengunyah daging ayam. Kanya mengangguk. “Memang, udah dari beberapa hari yang lalu.” “Kok bisa? Bukannya dia dulu kekeh banget mau naik banding?” “Jadi gini.” Kanya meletakkan sendoknya. Mengelap tisu dengan mulut lalu menatap bergantian pada kekasih dan sahabatnya. “Dia sebenarnya tidak terlalu ambil pusing masalah uang. Karena, suaminya yang sekarang sudah kaya raya. Tapi, dia nggak bisa lupa begitu saja masalah hati.” “Maksudnya?” sela Angela. “Yah, dia naksir Bobby Monti dan mengatakan kalau Bobby Monti naksir aku. Yang diminta olehnya adalah pembuktian kalau aku tidak suka dengan Bobby Monti, jadi aku buat begitu.” “Tunggu-tunggu! Aku nggak ngerti, nih.” Angela mengernyit. Menghela napas panjang, Kanya melanjutkan ceritanya. Dimulai dengan pertemuannya dengan Sasha dan permintaan wanita itu. Lalu, dirinya yang menyetujui demi nama produknya kembali pulih dan berakhir dengan ia berdansa dengan Bobby Monti dan meninggalkan laki-laki itu. Selesai mendengarnya bercerita, Angela hanya menggeleng dan berkomentar singkat. “Nekat.” Namun, sebagai sahabat dia selalu mendoakan yang terbaik bagi Kanya dan Arka. Berharap jika keduanya bisa bahagia meski tidak terikat dalam pernikahan. Karena, ia tahu Kanya tidak akan semudah itu mengikatkan dirinya dalam sebuah hubungan. Jika dia melakukan itu berarti memang benar-benar cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD