BAB 16

1199 Words
Sasha menuntut penampilan yang berani; seksi, cantik, sekaligus provokatif. Karena lemari pakaiannya hanya berisi gaun-gaun formal yang kaku, Kanya akhirnya menyerah pada sebuah butik mewah. Ia menjatuhkan pilihan pada sehelai gaun merah berbahan satin tanpa lengan yang membungkus lekuk tubuhnya dengan sangat ketat. Kain sutra itu terasa dingin namun menggoda saat bersentuhan dengan kulitnya. Potongan d**a yang sangat rendah mengekspos bagian atas payudaranya secara terang-terangan, sementara ujung gaun itu berakhir jauh di atas lutut, memamerkan tungkai kakinya yang jenjang. Saat menatap pantulan dirinya di cermin, Kanya merasa asing. Ia merasa seperti seorang p*****r yang sengaja bersiap untuk menjajakan diri pada siapa pun yang mampu membayar mahal untuk malam itu. Arka sempat melongo tanpa kata saat melihat penampilannya untuk pertama kali. Pemuda itu mengernyit dan jelas terlihat tidak suka. “Nggak ada gaun lain?” Itu adalah hal pertama yang diucapkan Arka saat melihatnya keluar dari kamar. “Kenapa? Nggak cantik?” tanyanya sambil berputar di depan pemuda itu. Ia tersenyum untuk menyamarkan rasa gugupnya. “Cantik, terlalu cantik malah tapi terlalu terbuka juga.” Protes dari Arka membuatnya tertawa lirih. Ia meraih lengan pemuda itu dan menggandengnya menuju pintu. “Sudah, jangan ngambek gitu. Kita mau ke pesta sekarang.” Mereka beriringan menuju lobi. Sepanjang jalan yang mereka lewati dan juga di dalam lift, semua mata laki-laki yang mereka temui, memandang Kanya tak berkedip. Apa yang dilihatnya, membuat Arka menahan geram. Saat mereka tiba di tempat Sasha, pesta sudah dimulai. Acara dilakukan di sebuah kafe yang berada di pinggir laut. Mobil-mobil diparkir berjajar di bawah pohon kelapa yang rindang, dikelilingi oleh pagar pendek. Dengan menggandeng Arka, Kanya memasuki tempat pesta. Musik salsa menggema dari sekelompok pemusik di ujung halaman. Meja-meja dari kayu dengan kursi- kursi pendek, terisi oleh orang-orang yang datang lebih dulu. Banyak para tamu yang menari salsa. Menambah keceriaan pesta. “Ah, akhirnya kalian datang,” sapa Sasha dengan senyum tersungging. Wanita itu menggandeng laki-laki setengah baya yang dikenal Kanya sebagai suaminya. “Silakan bersenang-senang.” Sasha meninggalkan mereka tanpa banyak basa-basi. Kanya mengedarkan pandangan sekeliling untuk mencari sosok Bobby Monti. “Mau minum atau makan sesuatu? Aku ambilkan,” tanya Arka padanya. “Terserah kamu.” Kanya tersenyum lalu memalingkan wajah saat melihat sosok Bobby Monti. Laki-laki itu berdiri di dekat bar minuman dikelilingi sejumlah orang. Saat Arka meninggalkannya, Kanya dengan tergesa-gesa menghampiri Bobby Monti. Ia sempat terhenti beberapa meter dari tempat mereka berdiri, sebelum akhirnya menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Membaca mantra berkali-kali dalam pikirannya, jika yang ia lakukan demi nama baik usahanya. Setelah cukup tekad, ia maju dan menyapa ceria. “Bobby, bisa tolong ambilkan aku minuman?” Bobby Monti menatapnya dengan pupil melebar. Bisa dilihat jika laki-laki itu kaget dengan penampilannya. Orang-orang di sekitar Bobby Monti pun ikut memandangnya ingin tahu. Kanya merasa dirinya ditelanjangi. Ia merasa risih tapi harus menguatkan diri. “Well, si cantik Kanya. Malam ini terlihat sexy. Mau minum apa, Sayang?” Bobby Monti mendekat, sambil mengulurkan minuman dalam gelas cantik. “Bagaimana dengan cocktail ini?” Kanya menerima gelas dengan senyum tersungging. “Cocktail enak.” Tanpa ragu ia meneguk minuman dalam gelas, menahan rasa terbakar dalam tenggorokan. Ia tidak pernah suka minum alkohol, tapi malam ini terpaksa dilakukan. Yang bisa diharapkan adalah kandungan alkohol dalam minumannya tidak terlalu besar. “Mau lagi?” Bobby Monti menawari, matanya menyusuri tubuh Kanya dengan kurang ajar. “Nggak, cukup! Bagaimana kalau kita dansa?” “Kamu bisa salsa?” “Lumayan, pernah belajar dulu.” “Menarik! Baiklah, kita menari.” Hentakan musik bertempo cepat terdengar di riuh dan membahana. Kanya mengangkat tangan dan membungkuk ke arah Bobby Monti. Detik berikutnya, ia mulai menggerakan kakinya yang memakai sepatu hal tinggi. Sudah lama ia tidak menari salsa, terakhir kali saat Sasha yang kebetulan juga menyukai salsa, mengajaknya ke sebuah klub malam khusus penari salsa. Namun demikian, ia masih ingat gerakannya. Dari mulai tangan untuk memberi kode, hingga gerakan kaki yang cepat dan lincah. Tubuhnya meliuk-liuk di depan Bobby Monti dan membuat laki-laki itu tertawa gembira. “Wow, Sayang. Nggak salah pilih aku menyukaimu,” teriak Bobby Monti saat Kanya menempelkna tubuhnya lalu bergerak menjauh sambil menggoyangkan kaki. "Benarkah kamu menyukaiku? Aku tidak menyadarinya," bisik Kanya seraya meliukkan tubuhnya, sengaja memamerkan lekuk pinggangnya yang sintal. Ia tersenyum tipis saat menyadari pandangan Bobby Monti terkunci pada belahan dadanya yang terekspos rendah, seolah pria itu benar-benar terhipnotis oleh gairah. “Aku selalu menyukaimu, Kanya. Sayangnya,kamu terlalu angkuh dan dingin!” Sedikit mengangkat tubuh, Kanya memutari Bobby Monti dan menyentuh lembut d**a laki-laki itu. Dari ujung matanya, ia melihat Sasha menatap mereka tidak berkedip. Ia mengulum senyum, menghentikan tariannya dan berbisik mesra. “Bobby Monti, aku hanya menyukaimu sebagai teman.” “Benarkah? Setelah kamu menggodaku?” sentak Bobby Monti keras. Dia meraih tubuh Kanya dan menempelkan pada tubuhnya. “Kamu membuatku b*******h malam ini lalu ingin meninggalkanku?” Kanya menggeliat untuk melepaskan diri. “Sayangnya, kita hanya berteman. Terima kasih sudah menemaniku menari.” Ia bergerak menjauh tapi Bobby Monti menarik tangannya kembali. “Mau ke mana, Manis? Aku belum selesai.” “Aku sudah. See you next time. Lepasin tanganku.” “Jangan main-main denganku! Ayolah!” Saat Kanya mulai panik karena cengkeraman Bobby Monti di tangannya. Sebuah lengan yang kokoh terulur untuk membantunya melepaskan diri dari cengkeraman Bobby Monti. Ia terpana, menatap Arka yang memandang bergantian ke arahnya dan Bobby Monti. “Kita pulang,” ucap pemuda itu dingin. Menyentakkan tangan Bobby Monti dari tubuh Kanya, setengah memaksa Arka menyeret wanita itu keluar dari tempat pesta. Ia tidak peduli meski Kanya mengatakan kalau ia jalan terlalu cepat. “Arka, aku pakai hak tinggi. Bisa jatuh nanti. Pelan-pelan napa?” Arka bergeming, wajahnya mengeras. Ia bahkan tidak tersenyum saat beberapa orang menyapa mereka. “Arka, kamu kenapa? Sakit tanganku!” teriak Kanya. Mereka menembus kegelapan jalan berpasir, hingga tiba di tempat mobil mereka diparkir. Suasana sepi, tidak ada orang lain di sana selain mereka berdua. Dengan sedikit kasar, Arka menghimpit Kanya ke bodi mobil dan mengangkat dagu wanita itu. “Apa kamu sengaja memakai gaun ini untuk memprovokasi laki-laki?” desisnya dengan suara rendah. “Apa maksudmu?” “Kamu sexy, menggairahkan dan dengan sengaja mengajak bercinta laki-laki lain di depan mataku!” Kanya melotot, berusaha melepaskan tangan Arka dari dagunya tapi susah. “Aku berdansa, bukan bercinta!” “Hah, apa kamu nggak sadar kalau daya menarimu seperti mengajak orang bercinta?” Arka mengecup lembut bibir Kanya. “Dengan lembut kamu menawarkan pada mereka kemolekan tubuhmu. Bisa kulihat para laki-laki itu meneteskan air liur saat melihatmu memancing gairah mereka.” Kali ini, Ia menggigit mesra bibir bawah wanita di pelukannya. “Bu—bukan begitu, aku hanya menari,” jawab Kanya lemah. Ia merintih saat tangan Arka kini membelai dadanya. “Benarkah? Tapi bukan itu yang kulihat. Kamu sengaja membuatku cemburu?” Kanya mencoba menggeleng, namun bantahannya langsung dibungkam oleh lumatan bibir Arka yang terasa begitu panas dan menuntut. Kesadarannya perlahan terkikis, entah karena pengaruh alkohol yang mulai menguasai kepalanya atau karena sensasi nyata dari jemari Arka. Tangan pemuda itu kini menyelinap masuk ke balik pakaiannya, membelai puncak dadanya dengan gerakan yang sangat intens. Kanya memejamkan mata, membiarkan sentuhan kasar namun presisi itu membakar habis sisa logikanya dalam sekejap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD